
"Kakek, mau makan siang sama kami?" Tawar Abigail saat tamu sudah pergi.
Kakek tersenyum. "Inginnya seperti itu. Tapi kakek sudah terlanjur buat janji dengan salah seorang rekan bisnis."
Abigail mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
"Kamu makan berdua saja dengan Darren, lain kali kakek bergabung." Imbuh kakek lagi sambil mengusap lengan Abigail.
"Baik kek."
Keduanya lantas berpisah jalan, Abigail segera menuju ruangan Darren meski kini ia enggan. Jika saja tidak ada kakek, ia sudah meninggalkan gedung itu setelah Tara dan Papanya pergi.
Darren menunggu Abigail di dalam ruangannya dengan tidak sabar. Saat pintu terbuka dan Abigail masuk, ia tersenyum lebar dan merentangkan tangan hendak memeluk calon istrinya itu.
Namun respon Abigail bertolak belakang dengan yang Darren bayangkan. Gadis itu memasang wajah permusuhan.
"Sayang, mukanya kok begitu? Kamu kenapa?" Darren keheranan dengan raut wajah Abigail yang masam.
"Tidak apa-apa." Jawab Abigail ketus.
Darren menggaruk kepalanya. "Kalau tidak apa-apa kenapa ketus begitu?"
Abigail meletakkan kotak makanan yang sudah ia bawa dengan kasar. "Tidak usah tanya-tanya. Pikir saja sendiri."
Darren melebarkan matanya, ia menatap Abigail tidak percaya. Begitu banyak hal yang terjadi, bagian mana yang harus ia pikirkan? Pemuda itu segera mendekat.
"Jangan berani-berani menyentuhku!" Larang gadis itu dengan tegas.
"Sayang, kita sudah lama tidak bertemu. Apakah aku tidak boleh memelukmu?" Darren memasang wajah memelas.
Abigail semakin kesal, Darren tidak merasa ada sesuatu yang salah. Pemuda itu berpikir semuanya baik-baik saja.
"Setelah kau berpelukan dengan perempuan gatal tadi kau ingin memelukku?!" Abigail meradang. "Tidak! Aku tak sudi! Lebih baik sekarang anda makan saja sendiri Tuan Muda Zee." Abigail berbalik.
"Eh sayang…sayang…" Darren panik. Ingin menahan Abigail, namun ia takut terkena bogem mentah dari gadisnya jika nekat menyentuh Abigail. "Jangan pergi. Ok? Please." Rayu Darren.
Ternyata Abigail marah karena tadi Tara sempat menyentuhnya.
__ADS_1
"Ak..aku akan mandi." Imbuh pemuda itu lagi. Dan tawaran itu sukses membuat Abigail kembali berbalik menatapnya meski dengan raut wajah kesal.
"Aku tidak akan lama. Aku janji." Secepat kilat Darren masuk ke dalam kamar istirahatnya dan segera mandi serta berganti baju. Dalam hatinya Darren merutuki Tara yang agresif dan membuatnya risih. Bayangan makan siang yang menyenangkan pupus sudah.
Baru kali ini Abigail meradang akibat seorang gadis. Jadi Darren tidak bisa memprediksi bagaimana nasibnya untuk beberapa menit ke depan. Dan ada hal baru yang ia ketahui, terkadang Abigail tidak akan repot-repot menahan atau menutupi emosinya.
Darren melesat keluar dari ruang istirahatnya begitu sudah siap. Ia takut kalau Abigail benar-benar pergi. Namun akhirnya ia bisa bernapas lega setelah melihat Abigail tetap duduk di tempatnya sambil membaca majalah.
"Say…."
"Ayo makan, sebelum semua makanan benar-benar dingin." Ucap Abigail memotong perkataan yang akan Darren sampaikan.
Pemuda itu menarik nafas dalam-dalam dan duduk di depan Abigail. Ia tidak berani mengambil resiko untuk duduk di samping Abigail meski ingin.
Meski marah, Abigail melayani Darren dengan baik. Gadis itu mengatur piring dan makanan Darren dengan seksama. Bahkan menyiapkan air mineral untuk diminum sebelum makan.
Mereka menyantap makan siang dalam diam. Darren benar-benar tidak ingin ambil resiko. Bahkan sampai semua makanan habis tidak tersisa, ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Darren membiarkan Abigail bergulat dengan emosinya sendiri. Ia ingin melihat sejauh apa kemarahan kekasihnya.
Abigail menghela nafas. "Jika memang kau tidak menyukai perlakuannya, buat batasan yang tegas! Jangan beri celah pada perempuan seperti itu." Ucap Abigail setelah membereskan peralatan makan mereka berdua.
Darren terdiam, ia sudah memilih sikap yang salah. Ia takut membuat Tuan Benedict tersinggung, tapi kini malah dia yang terkena masalah karena Abigail merasa cemburu.
"Si…siapa yang cemburu?!" Abigail membuang pandangan menatap ke arah lain.
Kedua alis Darren terangkat, detik berikutnya pemuda itu menyeringai.
"Kamu marah karena ada gadis lain berusaha menyentuhku. Itu tandanya kamu cemburu." Darren tersenyum jahil. Namun ia buru-buru memasang wajah serius saat Abigail berbalik.
"Ak…"
"Tidak apa-apa sayang. Cemburu itu tanda cinta. Berarti kamu sangat mencintaiku." Darren tidak memberi celah dan terus menggoda Abigail.
"Ak…aku…" Abigail gelagapan, ia tidak tahu harus mengucapkan apa. Wajahnya pun sudah memerah dan mulai salah tingkah. Akhirnya ia mengambil bantal sofa dan mengarahkan benda itu ke kepala Darren.
"Dasar pria menyebalkan!!!" Rutuknya sambil terus memukul.
Darren berusaha mengelak sambil terus terkekeh. Akhirnya ia berdiri dan menjauhi Abigail. Namun gadis itu belum puas, ia kembali mendekati Darren dan terus menyerang menggunakan bantal sofa.
__ADS_1
"Aku benci padamu!" Seru Abigail.
Darren semakin tergelak, sebab ia tahu jika Abigail sungguh-sungguh dengan ucapannya, saat ini ia pasti sudah meregang nyawa.
Akhirnya Darren terpojok, ia sudah tidak bisa mundur karena tubuhnya sudah menyentuh dinding. Lalu ia mendapatkan sebuah ide. Ketika Abigail kembali menyerangnya, alih-alih menangkis atau menghindar, Darren malah menangkap tangan Abigail yang memegang bantal. Dan dengan sekali gerakan ia memutar posisi sehingga kini Abigail bersandar di dinding.
"Hei!!!" Abigail tidak terima.
Darren tidak peduli, ia mengunci pergerakan Abigail kemudian menarik bantal yang digunakan gadis itu. Kini tidak ada lagi penghalang antara mereka berdua. Darren segera memeluk Abigail dengan erat.
"Maafkan aku." Ucap Darren dengan lirih. "Aku sangat merindukanmu." Imbuhnya lagi dengan penuh perasaan.
Abigail terdiam, ia tidak meronta dan membiarkan Darren memeluknya. Sebenarnya Abigail pun sadar, Darren tidak sepenuhnya bersalah. Namun karena kesal dan tidak bisa melampiaskan itu pada Tara, akhirnya ia lampiaskan pada Darren.
Setelah beberapa saat, tanpa sadar tangan Abigail terangkat dan membalas pelukan Darren. Ia bahkan memperbaiki posisi tubuhnya dan menyandarkan kepala dengan nyaman dan memejamkan mata.
"Aku merindukanmu." Bisik Darren lagi.
Abigail tersenyum tanpa membuka mata, ia pun tidak merespon ucapan kekasihnya. Namun tangannya semakin erat memeluk Darren.
"Sayang." Panggil Darren.
"Hmmm."
"Aku merindukanmu."
"Hmmm… Aku tahu."
Darren terkejut mendengar jawaban gadisnya. Ia kemudian berusaha menjauhkan tubuh Abigail, ia ingin melihat wajah gadis itu. Namun Abigail malah semakin mempererat pelukannya.
Semakin Darren berusaha untuk menjauhkan tubuh Abigail, semakin Abigail memeluk Darren sekuat tenaga. Hingga akhirnya mereka berdua terkekeh menertawakan tingkah mereka sendiri.
Abigail membuka matanya dan menjauhkan tubuh dari tubuh Darren.
"Aku juga rindu." Ucapnya sambil menahan malu. Namun sedetik kemudian dengan berani Abigail mengecup pipi Darren sekilas. Membuat Sang pemilik pipi ternganga tak percaya.
Darren mengerjap, dengan cepat ia kembali memeluk Abigail.
__ADS_1
"Kau penuh dengan kejutan." Ujar Darren diiringi dengan tawa.
...****************...