
Darren bergidik ngeri, ia tak menyangka Rosalin begitu santai mengatakan hal mengerikan seperti itu.
"Ternyata kau seorang pembunuh berdarah dingin."
"Hei bung! Bukan aku yang menusuk wanita itu sampai mati." Rosalin membela diri, ia menatap Darren dengan tajam.
"Sudahlah, jangan dibahas lagi." Brody kembali memasukkan pistol ke balik punggungnya. "Lakukan saja apa yang kau mau." Ujarnya lagi sambil berbalik hendak pergi.
Namun baru beberapa langkah, tiba-tiba Brody berhenti dan membalikkan tubuhnya. "Atau, berikan saja kepada anak buahku agar mereka menikmati tubuhnya?"
Rosalin terlihat senang mendengar ide Brody, bahkan ia memberi kode pada seseorang agar membawakan dua buah kursi untuknya dan Brody. Sedangkan Abigail, ia teralihkan oleh sinar laser hijau yang tiba-tiba mengenai matanya walau hanya sesaat.
"JANGAN!!! JANGAN SENTUH ABIGAIL!!!" Darren dan Trias mulai panik bahkan memberontak saat dua orang pria mendekati mereka dan menambahkan tali pengikat pada tubuh keduanya.
Abigail dipaksa berdiri oleh dua orang anak buah Brody dan dibawa ke depan Darren serta Trias.
"Aku ingin kalian berdua menyaksikan pertunjukan menarik." Ujar Rosalin sambil duduk di samping Brody. "Beri penghormatan untuk Ron, dia adalah pemimpin gangster ini, jadi biarkan dia yang pertama mencicipi gadis itu."
Permintaan Rosalin segera ditanggapi oleh Brody, ia mengambil ponselnya dan menelepon pemimpin gangster Son of ***** tersebut.
"Aku tidak akan memaafkanmu!!!" Desis Darren penuh amarah.
Rosalin tergelak mendengar ucapan Darren. "Aku tak membutuhkan kata maaf darimu."
Trias menatap Abigail dengan heran, gadis itu hanya berdiri dengan tenang. Tak sedikitpun ia menangis atau terlihat ketakutan. Abigail hanya menunduk menatap lantai.
"Buka ikatannya, biarkan dia melawan." Titah Brody.
Seorang pria menghampiri Abigail dan membuka ikatan di tangan gadis itu. Dan dengan gerakan yang cepat ia menyusupkan sebuah benda yang segera digenggam oleh Abigail.
"Semakin kau melawan, permainan akan semakin menarik, nona." Ucap pria tersebut dengan nada merendahkan.
Abigail menatap pria tersebut, dan untuk sejenak ia menaikkan alisnya. Wajah pria itu terlihat pucat dengan tompel aneh di dagunya.
Ingin rasanya Abigail tertawa terbahak-bahak. Namun hal itu ia urungkan. Abigail mengalihkan pandangan dan menatap lantai.
"Kau jelek sekali kak." Desisnya pelan saat pria di depannya kembali memasukkan sesuatu ke saku celana Abigail.
"Hei orang baru! Kau benar-benar licik ya. Curi-curi kesempatan meraba-raba gadis jelek itu." Tegur seorang temannya.
"Biar jelek tapi tubuhnya bagus." Jawab pria tersebut sembari mengerling pada Abigail dan meninggalkan gadis itu.
"Kau dan Darren sama-sama mempunyai selera yang buruk soal wanita." Timpal Rosalin dengan pandangan mencemooh.
Tiba-tiba Rosalin teringat dengan make up remover yang ia bawa. Dengan segera ia berdiri menghampiri Abigail.
Tepat sebelum kapas pembersih itu menyentuh wajah Abigail, gadis itu menahan tangan Rosalin. Namun karena beberapa orang segera menodongkan pistol kepadanya, Abigail melepaskan tangan Rosalin dengan terpaksa.
"Pegangi dia!"
Dua orang pria segera mendekat dan memegang kedua lengan Abigail.
"Hentikan!!!" Abigail menggeram.
__ADS_1
"Kau berani membentakku?" Tangan Rosalin terangkat dengan cepat.
"Akhhh!!!" Sebuah tamparan membuat luka disudut bibir Abigail berdarah.
"Disini, aku yang berkuasa." Ucap Rosalin dan menjepit rahang Abigail dengan tangan kirinya.
Abigail menatap tajam, namun sesaat ia mengubah cara pandangnya. Meski bisa menjatuhkan Rosalin dalam sekali pukulan, namun ia harus menahan diri dan tidak bertindak gegabah jika ingin menjatuhkan mangsa yang lebih besar.
"Bibirmu jelek sekali." Ucap Rosalin sambil mengusap bibir Abigail dengan kuat dan kasar.
"I..ini.." Rosalin terkejut dengan lapisan aneh yang menempel pada kapas pembersihnya.
Matanya semakin membola ketika melihat bibir berwarna merah muda milik Abigail.
Cepat-cepat Rosalin mengambil kapas baru dan mengusap seluruh wajah Abigail dengan kasar.
Habislah aku! Rutuk Abigail dalam hatinya.
Lapisan aneh yang menempel di hidung serta bintik hitam buatan di seluruh wajahnya telah menghilang.
Rosalin terkesiap, ia bahkan sampai menarik napas dan mundur beberapa langkah ke belakang. Kedua tangannya bahkan menutup mulutnya.
Karena posisi Rosalin yang kini menjauh dari tubuh Abigail, maka Darren dan Trias dengan mudah dapat melihat wajah Abigail.
"Abigail?" Trias bergumam tak percaya.
Sedangkan Darren hanya terdiam dan terpana melihat wajah asli asistennya. Jantungnya berdetak lebih cepat. Bahkan ia jadi teringat akan mimpinya beberapa waktu lalu tentang gadis cantik yang berada di kamarnya sebelum mimpi itu berubah menjadi mimpi buruk.
"Si…siapa kau sebenarnya?" Rosalin mengerjapkan matanya beberapa kali.
Hal itu membuat rasa iri Rosalin semakin besar. Tanpa make up sedikitpun Abigail sukses membuat hampir semua pria di ruangan itu terpesona.
"Ada apa?" Brody berdiri karena penasaran. Posisinya yang membelakangi Abigail membuatnya jadi tidak bisa melihat apa yang terjadi.
Namun belum sempat melangkah, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Setelah melihat siapa yang menelepon ia memutuskan untuk kembali duduk.
"Ada apa memanggilku?" Seorang pria bertubuh atletis mendekati Rosalin.
"Ini hadiah untukmu, setelah puas kau bisa memberikannya pada anak buahmu." Jawab Rosalin.
Ron menatap Abigail dan terpukau. "Dia, benar untukku? Wahh, mimpi apa semalam hingga aku mendapat peri cantik?"
Ron mengulurkan tangannya hendak memegang dada Abigail, namun dengan cepat seseorang memegang tangannya dan menariknya menjauh.
"Anda belum cuci tangan, tuan."
"Hei anak baru! Berani sekali memegang tangan pemimpin tertinggi kita!" Hardik yang lain.
"Orang baru?" Ron mengernyit. "Tapi aku tak mengeluarkan emblem untuk orang baru selama beberapa bulan ini."
Di sudut lain, Brody yang telah selesai menerima panggilan telepon pun mendekati Rosalin.
Ia begitu terkejut saat melihat wajah Abigail.
__ADS_1
"Kau!!! Bukankah kau yang….Aaagghhhh!!!" Secepat kilat Abigail mengayunkan tangannya mengenai wajah Brody.
Mendengar jeritan itu Liam pun segera beraksi dengan menyerang Ron. Seorang anak buah Liam yang berada di ruangan itu menggunakan senjata tajam dan melumpuhkan dua orang pria di sekitar Darren dan Trias.
Suasana menjadi kacau, dan saat anak buah Brody yang lain hendak menembak tiba-tiba mereka tumbang terkena terjangan peluru dari beberapa penembak jitu. Dari luar gedung pun terdengar suara tembakan sahut menyahut.
Rupanya Brody bukanlah pria yang mudah menyerah apalagi jika berhadapan dengan seorang gadis. Dia terus melawan dan mengarahkan pukulan ke titik vital Abigail. Dengan tenang Abigail menangkis dan berkelit menunggu momen yang tepat.
Brody berusaha menendang Abigail, dengan sigap gadis itu berkelit dan memukul kaki Brody dengan sangat kuat.
"******!!!" Umpat Brody. Ia kembali melepaskan beberapa pukulan dengan cepat dan salah satunya berhasil mengenai lengan Abigail.
Gadis itu meringis kesakitan dan mundur sedikit sambil memegangi lengannya. Brody menyeringai puas dan kembali menyerang. Abigail memasang kuda-kuda dan fokus. Ia memutuskan untuk lebih cepat menghindari pukulan Brody yang terlihat liar dan tidak terarah.
Saat Brody mulai terlihat kelelahan dan serangannya tidak sekuat pertama, Abigail melihat celah dan dengan cepat menyarangkan tinju mengenai dada Brody.
"Uuhhggg!!" Brody terhuyung sambil memegangi dadanya.
"Hentikan! Angkat tangan atau ku tembak!!!" Rosalin yang tidak pernah memegang senjata sedikit pun terlihat gemetaran. Ia nekat mengambil pistol seseorang yang telah tergeletak.
Abigail mengangkat tangannya, begitu juga Trias dan Darren. Sedangkan Liam, ia baru selesai menjatuhkan lawannya. Dengan perlahan melangkah mendekati Rosalin.
"Kkkaau…kau…aku tak peduli siapa dirimu. Ak..aku akan membunuhmu!" Ucap Rosalin bergetar sambil memutar tubuh mengancam semua musuhnya. Bahkan pistol yang ada di tangannya berguncang, tidak stabil.
"Pintar, itu baru wanitaku." Brody tersenyum penuh kemenangan.
Namun tiba-tiba terdengar suara dentuman hebat di luar. Bahkan tanah sempat bergetar meski hanya sesaat. Suara itu pun mengejutkan semua orang yang berada di dalam.
Abigail bahkan sampai menutup kedua telinganya dan menunduk selama beberapa saat.
"Ro..Rosalin." Suara Brody yang terbata membuat semua perhatian terarah kepadanya.
Pria itu berjalan dengan pelan sambil menekan perutnya. Darah mulai mengucur dari celah-celah jari pria itu.
Rosalin pucat, ia segera membuang pistol di tangannya dan berlari mendekati Brody yang tiba-tiba jatuh.
"Ma..maaf.. ak..aku tidak sengaja." Rosalin menangis dan menjerit histeris.
Rupanya suara ledakan telah mengejutkannya dan membuat Rosalin menarik pelatuk. Moncong pistol yang tidak terarah sebab tangannya yang bergetar membuat tembakan Rosalin bisa mengenai siapa saja.
Tak lama kemudian Morgan dan pasukannya serta pasukan Liam masuk. Mereka melakukan pembersihan dan memisahkan korban yang masih hidup dan yang sudah tewas.
"Kau tidak apa-apa?" Liam mendekati Abigail yang masih terpaku menatap Rosalin.
"Iya."
"Ayo, ledakan tadi pasti akan mengundang kedatangan pihak kepolisian." Ujar Liam sambil menarik tangan Abigail untuk mengikutinya.
Di luar Abigail segera masuk ke dalam sebuah van khusus, terpisah dari Darren dan Trias.
...****************...
Hai good readers.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan hadiahnya☺️