ASISTEN CULUN

ASISTEN CULUN
Bab 59. Mantan!


__ADS_3

Robert tidak terlihat tegang, padahal hari ini adalah puncak dari perjuangannya dalam mendapatkan kepercayaan masyarakat. Segala cara sudah ia tempuh baik itu melalui kampanye resmi, safari politik, kegiatan-kegiatan sosial, hingga black campaign.


Pria itu terlihat penuh percaya diri akan menang mengalahkan satu-satunya lawan dalam pertarungan memperebutkan kursi nomor 1 di negara ini. Bahkan dengan angkuhnya ia melarang asisten pribadinya untuk tidak melihat siaran berita.


Mereka menuju pusat kota yang menjadi salah satu tempat pemungutan suara. Ia sengaja memilih tempat itu agar dapat merayakan kemenangan setelah hasil hitung cepat keluar. Meskipun itu adalah hasil sementara, tapi Robert tidak cemas sebab sudah menempatkan orang-orang kepercayaannya di dalam lembaga pemilihan negara.


Robert tidak peduli lagi, selama ia bisa jadi penguasa, ia sanggup melakukan semuanya. Hanya memanipulasi bukanlah hal sulit. Membunuh penghalangnya saja bisa ia lakukan, apalagi hanya menggelontorkan sejumlah uang, bukan hal yang menyusahkan bagi Robert.


Setelah mobil berhenti, Venus dan Morgan beserta anak buahnya yang berada di mobil lain segera keluar. Robert tidak tahu jika Morgan telah melumpuhkan seluruh bagian keamanan yang bekerja padanya dan mengganti dengan anak buah Morgan.


"Kami akan melihat situasi terlebih dahulu." Ucap Venus sebelum meninggalkan mobil.


Robert mengangguk dengan tenang. Ia mengamati keadaan di luar, tampaknya massa yang datang sedikit lebih banyak dari yang ia bayangkan. Namun anehnya, mereka tampak sedang menyaksikan sesuatu melalui sebuah videotron.


"Sambil menunggu, aku ingin menonton berita pagi ini." Robert meminta Asistennya untuk menyalakan tablet dan menonton berita dari benda itu.


Sebuah video menjadi berita yang sedang panas sampai menutupi berita pemilihan ulang. Robert membuka aplikasi terkenal khusus berbagi video dengan dahi mengernyit. Video dengan judul 'The Truth' itu memenuhi laman pencarian.


Pria itu lantas memilih salah satu kanal resmi milik sebuah stasiun televisi. Dan ia terkejut karena video tersebut juga diunggah di kanal yang ia tuju.


"Video apa ini? Kenapa bisa se-viral ini?" Robert semakin penasaran hingga memutuskan untuk menyaksikan berita tersebut.


Begitu diputar, tubuh Robert menegang. Ia tidak menyaksikan video tersebut hingga selesai. Wajah Robert memerah karena marah, Asisten yang duduk di depannya menelan salivanya dengan susah payah. Ia sempat ikut mendengar video tersebut sebelum Robert menutupnya.


Dari dalam terlihat Venus terburu-buru mendekati mobil. Begitu Venus masuk, Robert segera mencengkram tangannya.


"Lihat!" Robert menyerahkan tablet itu pada Venus. "Abigail menggunakan kamera tersembunyi di tubuhnya." Ujar Robert dipenuhi kemarahan.


"Aku sudah menggunakan detektor kamera. Itu sangat tidak mungkin." Venus berkilah.


"Kalau tidak mungkin, bagaimana bisa video itu ada bahkan tersebar?!" Intonasi nada bicara Robert mulai meninggi.


"Kau! Cepat susun narasi yang meyakinkan masyarakat bahwa aku telah difitnah." Dalam kemarahannya Robert meminta Sang Asisten untuk membersihkan nama baiknya.


"Apa kau sudah membunuh gadis itu?" Kali ini Robert menatap Venus dengan cemas.


"Anda ingin melihatnya?" Venus menjawab pertanyaan Robert dengan kalimat tanya yang ambigu.


"Sudahlah!" Robert mengibaskan tangannya. "Yang penting gadis itu sudah mati."


Robert terdiam beberapa saat sampai akhirnya ia memukulkan kepalan tangan ke langit-langit mobil. "Luo Li brengsek! Sudah mati tapi tetap saja merepotkan!"

__ADS_1


"Tu….Tuan…" Cicit Asisten Robert.


"Apa lagi?!" Robert menatapnya nyalang.


Pria di depan Robert tidak menjawab. Ia menatap ke luar jendela dengan tegang dan terus menunjuk keluar dengan jari telunjuk yang bergetar.


Robert mengikuti arah jari asistennya dan terperangah karena massa yang ada di luar sudah menyerbu ke mobilnya.


"Cepat……" Lidah Robert terasa kelu sebab ia tidak lagi melihat Venus duduk di sampingnya. Bahkan supir mobil pun sudah tidak ada di tempatnya.


☘️☘️☘️


Di sudut lain tidak jauh dari mobil Robert terparkir.


Sarah sudah dipaksa keluar dari mobil oleh Rayn. Dengan kaki gemetar, Sarah berdiri di apit oleh Rayn, Zico, Abigail dan juga Darren.


Ia menutup mulut dengan kedua tangan saat menyaksikan video melalui sebuah videotron. Dan tiba-tiba saja video tersebut berganti dengan tayangan langsung.


Tampak seseorang yang mengenakan kamera tersembunyi di tubuhnya berjalan mendekati sebuah mobil.


"Lihat!" Robert menyerahkan tablet itu pada orang yang memakai kamera tersembunyi itu. "Abigail menggunakan kamera tersembunyi di tubuhnya." Ujar Robert dipenuhi kemarahan.


"Aku sudah menggunakan detektor kamera. Itu sangat tidak mungkin." Suara seorang wanita terdengar menanggapi Robert.


"Kau! Cepat susun narasi yang meyakinkan masyarakat bahwa aku telah difitnah." Robert memberi perintah pada Asistennya yang terlihat mulai ketakutan.


Semua keadaan di dalam mobil Robert terlihat dengan jelas dari kamera yang dipasang di tubuh wanita itu.


"Apa kau sudah membunuh gadis itu?"


Pertanyaan Robert sukses membuat Sarah menjerit sambil membekap mulutnya sendiri. Siaran langsung ini ternyata dilakukan untuk menguatkan kebenaran video pertama hingga pihak Robert tidak dapat mengelak lagi.


Jantung Sarah bertalu, ia begitu ketakutan hingga kakinya terasa tidak kuat lagi untuk menopang tubuhnya. Nafasnya menjadi pendek-pendek dan memburu. Keringat dingin mulai keluar membanjiri tubuhnya. Berkali-kali ia meremat gaunnya sendiri hingga buku-buku jarinya terlihat memutih.


"Anda ingin melihatnya?" Pemilik kamera balas bertanya tanpa menjawab pertanyaan Robert.


"Sudahlah!" Robert terlihat mengibaskan tangannya. "Yang penting gadis itu sudah mati."


Kemudian pria itu terdiam beberapa saat sampai akhirnya ia memukulkan kepalan tangan ke langit-langit mobil. "Luo Li brengsek! Sudah mati tapi tetap saja merepotkan!"


Dan detik berikutnya pembawa kamera melesat dengan cepat keluar dari mobil meninggalkan Robert dan Asistennya. Tayangan pun berakhir.

__ADS_1


Sarah menangis sejadi-jadinya saat melihat massa mengerumuni mobil Robert. Tubuhnya merosot ke tanah. Kemudian dengan tangan yang bergetar ia memegang kaki Rayn.


"Tolong aku, maafkan aku." Sarah memohon dengan suara tangis yang pilu.


Tiba-tiba terdengar sorakan yang membahana. Mereka semua serentak menoleh ke sumber suara.


Sarah terkesiap, terlihat jelas mobil Robert sudah terguling dan tubuh pria itu bersama Asistennya diangkat ke atas oleh massa dan diarak. Sarah semakin menjerit karena ditubuh Robert hanya tertinggal pakaian dalam.


Tidak lama kemudian polisi dan tentara nasional tiba menggunakan banyak sekali kendaraan. Mereka diutus untuk mengamankan situasi yang kian memanas hingga membuat petugas yang sudah ada kewalahan.


Abigail menatap semua peristiwa itu dengan hati yang remuk redam. Darren yang berada disisinya tidak melepaskan pelukan sedikitpun. Abigail semakin membenamkan pipinya di dada Darren sambil menyaksikan bagaimana tubuh Robert yang setengah telanjang diarak massa.


Air matanya perlahan turun, ia tidak tahu harus sedih atau senang. Ia tidak tahu haruskah ia merasa lega. Ia tidak tahu apakah langkah yang ia ambil ini benar atau salah. Yang ia rasakan hatinya kembali sakit, rasanya nyeri.


Abigail berusaha untuk menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa kekurangan oksigen. Dadanya bahkan semakin sesak diiringi kepala yang berdenyut nyeri. Hingga seluruh tubuhnya ikut merasakan sakit.


Darren semakin mengeratkan pelukannya. Ia memalingkan wajah Abigail agar gadis itu tidak lagi menyaksikan peristiwa tidak menyenangkan tersebut. Dan sedetik kemudian Abigail menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Darren.


Tak berselang lama terlihat beberapa orang berseragam polisi menghampiri mereka.


"Selamat pagi. Maaf atas ketidaknyamanan ini. Nyonya Sarah Zee, anda harus ikut kami ke kantor. Anda akan kami periksa sebagai saksi atas peristiwa pembunuhan Tuan Luo Li, Tuan Jonas Li dan Nyonya Bella." Salah seorang petugas menyerahkan selembar kertas pada Rayn.


Pria itu mengangkat Sarah yang semakin memeluk kakinya.


"Tidak! Tidak! Aku tidak mau!" Jerit Sarah histeris.


Beberapa orang polisi wanita turun tangan. Zico, Abigail dan Darren menepi untuk memberi mereka ruang.


"Jangan bawa aku! Aku tidak bersalah!" Jerit Sarah lagi.


"Hanya sebagai saksi." Rayn berusaha membujuk.


"Tidak! Tidaaaaakkkkk!"


Sarah meraung saat beberapa polisi wanita memeluknya kemudian menariknya dengan keras. Bahkan Rayn sampai terhuyung sampai seorang polisi menopang pria tersebut.


"Aku mohon! Abigail, tolong! Maafkan aku! Tolong aku! Aku adalah sahabat mamamu." Sarah menatap Abigail dengan air mata yang terus jatuh berderai.


Abigail menjauhkan wajah dari dada bidang Darren dan menatap Sarah dengan enggan.


"Mantan!" Ucapnya penuh penekanan.

__ADS_1


Tubuh Sarah semakin melemah mendengar jawaban Abigail. Tenaganya juga tidak sebanding dengan orang-orang yang menariknya. Ia akhirnya tidak sadarkan diri.


...****************...


__ADS_2