ASISTEN CULUN

ASISTEN CULUN
Bab 64. Tidak Mudah


__ADS_3

Abigail merenung, ia menatap hampa ke arah taman yang basah akibat guyuran hujan. Beberapa kali terdengar ia menghela nafas panjang. Suara hujan yang cukup deras seakan menyaingi helaan nafasnya. Coklat hangat yang sudah disediakan pun sudah menjadi dingin karena tidak ia sentuh sedikitpun.


Mikha yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya segera mendekati Abigail. Ia menatap ke arah meja kecil yang berada di depan Sang Adik. Minuman dan makanan ringan yang disediakan tidak disentuh gadis itu sama sekali.


Mikha lantas menghampiri dan duduk tepat di samping Abigail. Namun Mikha memilih untuk diam, meski ia sangat ingin bertanya. Mikha menunggu Abigail berinisiatif menceritakan persoalan yang mengganggunya tanpa ditanya.


Keduanya duduk dalam diam, membiarkan suara hujan yang mulai reda mendominasi. Sekali lagi Abigail menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar sebelum akhirnya ia membuka mulut untuk berbicara.


"Kak." Ucapnya tanpa menoleh pada Mikha. "Aku takut."


Dua kata yang meluncur dari bibir Abigail membuat dahi Mikha berkerut. Ia menatap Abigail dengan seksama. Wajah cantik Sang adik terlihat sendu. Ada banyak hal yang ia takutkan dan itu tergambar dengan jelas. Sinar bahagia di matanya yang indah tidak lagi nampak.


"Apa yang kau takutkan?" Tanya Mikha dengan lembut. Tangan kirinya terulur untuk merapikan anak rambut yang jatuh di pipi Sang Adik.


Abigail tidak langsung menjawab. Ia memilih beringsut mendekat pada Mikha dan menyandarkan kepalanya di lengan Sang Kakak. Sebenarnya ia merasa ragu untuk menceritakan masalah yang mengganjal di hatinya. Namun jika tidak diungkapkan, hal itu bisa 


"Aku takut setelah menikah dan memiliki anak. Aku dan Darren tewas lalu meninggalkan anakku sebatang kara." Lirih Abigail.


Wajah Mikha memucat, dengan kasar ia menyentak lengannya hingga Abigail terperanjat dan kemudian duduk dengan benar.


"Jangan berpikiran yang aneh-aneh Ai!" Hardik Mikha. Wajahnya pun terlihat marah.


Namun Abigail tidak terlihat takut, ia menatap Mikha dengan datar. Trauma masa lalu seolah-olah sudah menguasai otaknya.


"Darren adalah pewaris Zico Petroleum. Itu adalah perusahaan yang besar bahkan begitu terkenal. Pesaing mereka pasti akan menggunakan berbagai macam cara untuk……"


"Hentikan!!!" Mikha sudah beranjak dan berdiri di depan Abigail. Kedua telapak tangannya pun terarah ke depan meminta Abigail diam. "Kakak mohon hentikan!!!"


Mikha pun sampai terengah-engah menahan gejolak di hatinya. Abigail menunduk, tidak lama kemudian ia mulai terisak. Cuaca hari ini benar-benar mempengaruhi Abigail. Awan gelap menaungi hatinya.


"Ada apa ini?" Venus yang baru tiba dibuat heran dengan situasi yang ada.


Abigail yang sedang menangis, dan Mikha yang terlihat marah hingga mencengkram rambut dengan kedua tangannya.


Meski bingung, Venus segera duduk dan mengusap punggung Abigail untuk menenangkan gadis itu.

__ADS_1


"Selama aku masih hidup, aku akan mengerahkan seluruh tenaga dan apapun yang aku miliki untuk melindungimu. Akan aku pastikan kamu tidak bernasib sama dengan orang tuamu!" Ucap Mikha dengan penuh ketegasan. Matanya pun sudah berkaca-kaca. Akan tetapi dengan sekuat tenaga ia menahan perasaannya.


Venus terkejut, ia melebarkan matanya. "Ada apa? Siapa yang mengancammu Ai?"


Abigail belum juga menjawab, ia masih saja terisak.


"Mikha?!" Venus kembali meminta penjelasan.


Mikha menghela nafas dengan kasar. Ia menatap Abigail sejenak kemudian ganti menatap Venus.


"Ai takut, setelah ia dan Darren menikah dan memiliki anak. Akan ada orang yang datang membantai mereka seperti….." Mikha tidak dapat meneruskan kalimatnya. Rahangnya mengatup dengan kuat, dadanya berdebar lebih cepat menahan gejolak perasaannya.


Ada rasa sakit yang muncul akibat kalimat Abigail. Kenangan menakutkan malam itu kembali melintas di kepalanya.


Venus terperangah, matanya terpejam untuk beberapa saat. Venus pun merasakan hal yang sama dengan yang Mikha rasakan. 


"Ai, apakah ini karena Darren pewaris Zico Petroleum?" Suara Venus terdengar bergetar.


Abigail hanya bisa mengangguk saat menjawab pertanyaan Venus.


"Kami sudah berjanji pada Tuan Besar Li, kami berdua akan menjagamu dengan nyawa kami. Sampai kapanpun, sampai tarikan nafas terakhir kami. Kami akan terus mengupayakan keamanan keluargamu." Ujar Venus meyakinkan Abigail.


"Memang, tidak ada ciptaan manusia yang sempurna. Semua sistem yang dibuat pasti ada kelemahannya. Namun jika kita berusaha dan mengupayakan semua itu untuk kebaikan, masakan Tuhan akan menutup mata?" Sambung Mikha lagi yang kini sudah berlutut menyamakan tinggi dengan Abigail yang tengah dipeluk Venus.


Abigail bergerak menjauhkan diri dari Venus. Ia kemudian meraih tisu untuk membersihkan wajahnya.


"Aku ke kamar kecil dulu." Pamitnya dan segera meninggalkan Mikha dan Venus.


Selepas kepergian Abigail, kedua wanita itu saling pandang sejenak kemudian berpelukan. Melihat Abigail yang menangis ketakutan seperti itu membuat hati keduanya bagai diiris-iris.


"Aku tidak ingin gagal lagi." Lirih Mikha dalam pelukan Venus.


Tubuh Venus menegang sesaat, ia kembali teringat akan kejadian itu. Venus sampai menggigit bibir berusaha mengendalikan diri.


"Tidak akan terjadi hal buruk apapun pada mereka." Ujar Venus sembari menepuk punggung Mikha. Ia mengatakan hal itu setelah bisa meyakinkan dirinya sendiri.

__ADS_1


Mikha menarik nafas dalam-dalam dan mengurai pelukan mereka.


"Aku yakin Tuan Zico sudah mengatasi pesaing mereka dengan cara yang baik. Aku bahkan sudah menyelidikinya." Ujar Mikha sambil berdiri. "Tapi jujur saja, mendengar perkataan Ai, keraguan itu menyeruak begitu saja."


Venus terdiam beberapa saat. "Sebaiknya kita menceritakan ini pada Tuan Besar Zico. Beliau harus tahu apapun yang Ai pikirkan dan rasakan saat ini."


Mikha memikirkan ucapan Venus kemudian mengangguk. "Kau benar."


"Apa yang benar?" Abigail telah kembali dengan wajah yang lebih baik setelah membasuh muka.


Venus dan Mikha tidak menjawab, mereka menatap Abigail dengan penuh kasih. "Bagaimana keadaanmu?"


Abigail menarik nafas dalam-dalam sebelum kembali duduk ke tempatnya.


"Sudah lebih baik." Jawabnya sambil tersenyum kecut. "Maaf membuat kalian marah. Aku belum bisa mengendalikan traumaku."


Venus meraih jemari Abigail dan menepuk punggung tangannya dengan pelan. "Tidak ada yang bisa mengendalikan keadaan itu, kami berdua pun tidak. Tapi kita bisa hidup dengan menerima kenyataan bahwa itu semua pernah terjadi."


"Tidak mudah." Lirih Abigail.


"Tapi bukannya mustahil." Sahut Mikha.


"Kita bertiga bisa hidup layaknya orang normal saja sudah bagus. Karena tidak semua orang bisa melalui ini." Venus mencoba membesarkan hati Abigail. "Jangan terlalu keras pada diri sendiri."


Ucapan Venus dan Mikha seakan menyingkap kabut tebal yang menyelubungi hati Abigail. Dalam hatinya ia merutuki kebodohannya sendiri yang sudah memikirkan hal sia-sia.


Abigail menatap kedua wanita itu bergantian dan tersenyum. "Aku akan memperbanyak bersyukur, agar mengecilkan semua ketakutanku."


"Ide bagus."


"Brilliant."


Puji kedua wanita itu setelah mendengar keputusan Abigail.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2