
Abigail berusaha mengendalikan perasaannya yang kacau. Ia harus tetap bisa berpikir jernih, bola matanya liar memindai kesana kemari. Meski tempat itu sudah dijamin aman oleh Mikha, namun ia tidak boleh menurunkan kewaspadaan sedikit pun. Apalagi Mikha tidak memberitahunya perihal area padang rumput yang dijadikan lokasi syuting.
"Melepaskanmu? Kau tidak tahu bagaimana aku merindukanmu setiap hari. Aku sangat ingin bertemu, bahkan aku sering memimpikan dirimu. Perasaan ini bisa membunuhku. Jangan buat aku jadi gila Abigail!!!"
Kalimat-kalimat yang diucapkan Darren memantik api dalam diri Abigail.
"Kau pikir aku seperti apa hah?!" Abigail menatap lurus ke manik mata Darren yang terlihat berapi-api menahan rindu. "Setiap hari aku memikirkanmu, aku juga merindukanmu, bahkan aku hanya bisa menatapmu dari jauh. Kau pikir hanya kau saja yang tersiksa? Aku pun merasakan sakit yang sama Darren Wang!"
Abigail terengah-engah saat selesai mengucapkan semua itu. Berbagai macam emosi yang ia pendam selama ini dimuntahkan begitu saja tanpa berpikir panjang.
"Setelah malam itu kau malah menyetujui penarikanku begitu saja. Bahkan saat aku pergi tidak sedikit pun kau menampakkan wajah. Kau kira bagaimana perasaanku?!" Lanjut Abigail dengan emosi yang meluap-luap.
Ia melempar ransel yang tersampir dipundaknya dan meraup wajah dengan kasar. "Sudah berminggu-minggu, aku mengira bisa melupakanmu, aku mengira aku bisa menepis perasaan ini, aku mengira aku…aku…." Tangis Abigail hampir pecah.
Darren tidak membiarkan gadis itu melanjutkan kalimatnya. Ia segera menarik Abigail untuk masuk ke dalam dekapannya. Bahkan glow stick yang Darren pegang sudah terlepas dari genggamannya.
Tubuh Abigail menegang untuk sesaat. Apalagi saat Darren memegang kepalanya dan menjauhkan wajah Abigail dari dada bidang Darren.
Jemari pemuda itu mengusap wajah Abigail dengan lembut. Mengunci pergerakan Abigail dan segera mendekatkan wajah kemudian m*lum*t bibir gadis dalam pelukannya itu.
Abigail mengerjap, ia terlampau terkejut dengan setiap gerakan yang terjadi dengan sangat cepat itu. Bibir Darren masih terus m*lum*t bibirnya dengan lembut dan penuh perasaan. Abigail diam, ia tidak membalas. Namun hal itu tidak menjadi masalah bagi Darren. Ia masih terus menikmati cium*n mereka hingga ia semakin menekan tengkuk Abigail untuk memperdalam c*um*nnya.
Tanpa sadar Abigail melingkarkan kedua tangannya di leher Darren. C*um*n pemuda itu membuatnya hanyut. Mata Abigail terpejam, ia bahkan mulai membalas c*um*n Darren meski masih kaku.
Abigail mulai terengah dan tanpa sadar mel*nguh dengan pelan. Perlahan Darren melepas ci*m*n mereka dengan dahi yang masih saling menempel. Keduanya terengah-engah, Abigail memejamkan mata, ia terlampau malu untuk menatap Darren.
Dengan menggunakan ibu jarinya, Darren mengusap sisa saliva yang berada di bibir bawah Abigail. Dengan mengandalkan cahaya dari glow stick, Darren dapat melihat raut wajah Abigail yang malu-malu.
Sekali lagi ia mendekatkan wajahnya dan m*lum*t bib*r Abigail. Hal yang sudah lama ingin ia lakukan. Tangan kanan Darren menekan pinggang Abigail hingga tubuh keduanya semakin rapat. Saat ini mereka bahkan bisa merasakan debaran dada satu sama lain.
Abigail merasakan tangan kanan Darren mer*mas pinggangnya, membuat gadis itu tanpa sadar membuka mulutnya. Rupanya Darren sengaja melakukan itu agar lid*hnya dapat menerobos masuk dan mulai mengabsen setiap inci bibir Abigail yang lembut, hangat dan terasa manis baginya.
__ADS_1
Ciu*an Darren semakin bergair*h dan menuntut, Abigail bahkan kewalahan menerima serangan Darren. Akhirnya Abigail melepaskan tangannya dari leher Darren dan beberapa kali memukul lengan pemuda itu dengan pelan.
Darren yang sadar segera mengakhiri cium*nnya. Ia tersenyum saat melihat Abigail yang kesal dengan nafas terengah-engah.
"Maaf bi, aku…"
Kkuuurrrkkkkk
Suara perut Abigail membuat keduanya tersentak kaget. Saat itu juga Abigail merasa ingin menguburkan tubuhnya ke dalam tanah karena malu.
"Aku…lapar." Ucapnya malu-malu.
Ia teringat akan kelinci yang berhasil ia buru tadi. Abigail menatap ke belakang tubuh Darren. Terlihat Trias sedang membakar tumpukan kayu kering, di dekatnya terongok kelinci yang sudah ditusuk dengan sebilah kayu.
"Eh, Kak Trias." Abigail bergegas menghampiri Trias dan diikuti oleh Darren.
"Aku tidak mampu melihat pemandangan tadi. Daripada aku ******* mulut kelinci ini, lebih baik aku memanggangnya." Ujar Trias saat melihat Darren dan Abigail berjalan mendekatinya.
Darren terkekeh dan menarik Abigail ke dalam pelukannya. Ia mengusap kepala gadis itu kemudian mengecup dahi Abigail bertubi-tubi.
Abigail meremang saat merasakan nafas Darren di telinganya.
"Apakah aku yang pertama?" Darren berbisik.
Abigail tidak menjawab, ia malah semakin membenamkan wajah di dada Darren, namun jarinya mencubit lengan pemuda itu.
"Awww….sakit sayang."
Abigail merasakan bulu tangan dan kuduknya meremang mendengar panggilan Darren kepadanya. Pemuda itu selalu saja bisa menjungkir balikkan hatinya.
"Hentikan Darren, jangan menggodanya lagi. Aku tidak akan bertanggung jawab jika Mikha memenggal kepalamu." Trias memperingatkan. "Aku tidak memiliki andil atas apa yang terjadi disini Miss Mikha, kau bisa melihatnya sendiri." Imbuh Trias sambil menatap ke atas tanpa arah yang pasti.
__ADS_1
Abigail tersentak, ia melupakan kenyataan kalau Mikha selalu mengawasinya melalui kamera yang sudah mereka pasang.
"Ya ampun, malunya. Bagaimana aku akan menampakkan wajahku nanti." Abigail menutup wajah dengan kedua tangannya. Bagaimana ia bisa melupakan hal penting seperti itu. Ia yakin saat kembali nanti ia pasti akan terkena amukan Mikha.
Darren tersenyum dan kembali memeluk gadis itu.
"Berhenti memelukku." Tolak Abigail.
"Tidak, aku tidak bisa." Darren mempererat pelukannya.
"Darren, hentikan." Rengek Abigail lagi. Ia merasa jantungnya berdetak tidak karuan.
"Baiklah, maaf." Darren melapaskan pelukannya dan duduk di dekat Trias.
Mau tidak mau, Abigail pun melakukan hal yang sama. Namun ia memilih menjaga jarak dengan Darren. Ia duduk di sisi lain Trias, membuat manager Darren menjadi pembatas.
"Abi, jangan jauh dariku." Pinta Darren.
Abigail membulatkan mata. "Ya ampun, apa dia sering tidak tahu malu seperti ini Kak?"
Trias terkekeh geli. "Tidak, baru kali ini aku melihatnya. Jadi ya, dia bertingkah memalukan hanya saat bersamamu seperti ini."
Abigail menipiskan bibir mendengar jawaban Trias. Sedangkan Darren tersenyum lembut menatap Abigail.
"Ia bahkan rela berlatih menembak dan bela diri setiap hari sampai beberapa kali mengalami cedera otot. Itu semua ia lakukan agar dia juga bisa melindungimu." Kali ini Trias menatap Abigail dalam-dalam. Ia ingin gadis di hadapannya ini mengetahui kebenarannya.
Abigail menatap Darren yang dari tadi tidak mengalihkan pandangan. Perlahan Abigail tersenyum, hatinya terasa hangat mendengar tindakan berani Darren. Pemuda itu bahkan rela menambah panjang jadwal kegiatannya setiap hari.
Melihat senyuman tulus Abigail pada Darren, Trias menjadi semakin kagum pada Abigail. Meski kemampuan menembak dan beladiri gadis itu jauh di atas Darren, namun ia terlihat sangat menghargai usaha pemuda itu. Trias memiliki keyakinan, kali ini pilihan Darren tidak salah.
...****************...
__ADS_1