
tak lama dia datang dengan sambal yang langsung dengan cobek nya, dan dia membawa beberapa lalapan di atas nampan kecil.
namun ia masih pergi ke dapur, dan ku lihat ia membawa air untuk kobokan.
ya ampun sebegini nya dia melayani ku, sampai rasanya untuk sekedar mencuci tangan pun sudah dia sediakan.
dia pun duduk di depan ku, jarak kami hanya terhalang makanan.
dia melihat ku dan tersenyum.
"Ayo di makan" ucap nya sambil tersenyum.
"Iya"
aku pun menyendok nasi di atas piring, dan mengambil sambal yang nampak sangat pedas. aku pun mengambil timun untuk lalapan nya.
dia pun mengambil nasi di atas piring nya, melakukan hal yang sama seperti apa yang aku lakukan.
aku pun mengambil ikan bakar, yang nampak sangat enak. apalagi ikan nya masih segar pasti rasanya masih manis.
ku ambil sedikit, dan memakan nya, mataku terbuka kala mencoba ikan bakar buatan Adit.
rasanya benar benar enak ternyata dia pandai memasak.
aku pun mengambil kembali ikan dan memakan nya dengan sambal yang dia buat, rasa manis dan segar dari ikan dan kecap nya di campur dengan sambal yang gurih pedas.
aku rasa ini akan menghabiskan nasi dalam bakul.
aku memakan nya dengan sangat lahap.bahkan aku sampai nambah nasi
saking enak nya.
Adit nampak makan dengan lahap juga, sesekali ku lihat, bahwa dia sedang memperhatikan ku. namun rasa nikmat dari makanan di depan ku membuat ku tak peduli.
saking enak nya, aku sampai memunguti daging ikan yang tersisa di balik tulang tulang nya.
setelah semua habis tak bersisa, aku sadar bahwa Adit hanya makan sedikit dan tersenyum padaku.
aku yang merasa risih di perhatikan pun, membuang muka.
"Kenapa kamu liatin aku?" tanya ku.
"Gak apa apa, aku senang lihat kamu makan lahap kaya tadi" jawab nya ringan.
"Ikan memang makanan favorit ku"
__ADS_1
"Aku tahu, makan nya tadi aku bawa ikan cukup banyak, dan ambil yang paling besar. sengaja untuk kamu" jawab nya sambil tetap memandangku.
"eemm makasih. ikan bakar nya lumayan enak" jawab ku.
"Aku senang kamu suka masakan ku"
"Dari mana kamu tahu kesukaan ku?"
"Dari ayah, aku bertanya banyak hal tentang apa yang kamu suka dan tidak"
" oh Sama ayah"
"Dan bahkan aku tahu apa yang kamu gak suka"
"eemm apa?"
"Kamu gak suka barang pribadi mu di pegang orang lain,dan gak suka di campuri urusan mu. kamu juga gak suka kalau ada orang bahas masa lalu kamu, dan salah satunya aku"
jawaban yang terakhir, membuat ku tersedak. apa maksud dia bilang gitu.
walau memang benar yang dia katakan,bahwa salah satu yang tidak ku suka adalah dia.
namun ke tidak suka an ku padanya karna dia mau mau nya di nikahkan dengan ku.
"Kenapa kamu bilang begitu?" tanya ku.
"Aku gak bisa sembarangan memilih teman"
"Kenapa?"
"Karna dengan teman lah kita bercerita, menumpahkan suka duka aku gak mau salah pilih teman"
"Aku akan tetap setia nunggu jadi teman kamu"
" baik lah"
setelah berbincang cukup panjang, aku pun membawa piring bekas makan dan di susul oleh Adit yang membawa beberapa alat dapur.
aku mencuci piring kotor, dan dia membersihkan dapur dan halaman depan.
setelah selesai dengan tugas kita masing masing, tak terasa waktu sudah malam.
aku pun berniat berjalan ke kamar ku,
Adit nampak tengah duduk di ruang tv.
__ADS_1
apa ucapan ku menyakitinya?
aku tetap melangkah kan kaki,dan berjalan ke kamar ku tutup pintu secara perlahan.
dan mulai berbaring di atas kasur ku, aku masih memikirkan ucapan ku tadi.
sebenarnya bukan aku tak mau menerima dia sebagai teman.
hanya saja aku belum bisa menerima semua ini, lagi pun aku baru beberapa hari mengenal nya.
aku belum tahu seperti apa dia, sikap nya apa benar dia baik atau tidak.
saat tengah berbaring otak ku bertraveling ke segala arah, apa selama ini aku terlalu kasar pada Adit?
apa yang aku lakukan justru kesalahan yang fatal.
tapi tidak bisa ku pungkiri juga, bahwa kenyamanan tidak lah mudah di dapatkan hanya karna ucapan orang tentang dirinya?
memang selama aku mengenal dia, walau tak lebih dari satu Minggu ini, ia menunjukan sikap yang baik dan budi pekerti yang bagus.
tapi, apa sikap dan sifat seseorang bisa di ukur dari luar nya?
aku yang masih bingung, karna aku takut karna sikap ku ini justru takut malah menyakiti banyak pihak.
apa sebaiknya aku mulai bersikap baik pada Adit?
dan tidak terlalu cuek dan kasar padanya.
tapi aku belum bisa.
di saat aku tengah melamun dengan pandangan menuju atas.
tiba tiba aku malah terbayang sosok Roni,
entah mengapa aku merasa bahwa dia ada di sini.
ku cari dia ke segala arah, dan tidak ku temukan sosok yang ku cari.
entah mengapa di sela aku tengah memikirkan kehidupan ku dengan Adit,
aku justru merindukan Roni kembali?
aku pun mengirimkan Roni doa, dan memutuskan untuk tidur karna waktu memang sudah malam.
*****
__ADS_1
beberapa hari berjalan, aku yang mulai mengurangi emosiku kala berhadapan dengan Adit, berharap dengan begini rasa sakit ku mulai berkurang.