
mendengar penuturan warga tentang suami Umaya membuat Bu sedikit terkejut.
pasalnya keluarga ini terkenal baik dan terhormat.
"ayo kita pulang" ucap Adit
aku tertegun mendengar ucapan Adit. pasalnya aku tengah sedikit melamun
"Ayo"
aku dan adit pun berjalan pulang. tak lupa aku berpamitan dengan keluarga dan Umaya juga.
"maafin ucapan keluargaku ya" ucap Adit mencairkan kebisuan kami
"Iya gak apa apa kok"
"budhe memang begitu orang nya. mulut nya sedikit lemes"
"iya gak apa apa kok. aku gak terlalu memikirkan nya"
kebisuan kembali meliputi perjalanan kami.
jujur aku sedikit terganggu akan ucapan ibu mertua ku.
rasanya dia bisa menjadi belati yang siap menghujam jantung ku kapan saja.
belum apa apa saja ucapan nya sudah pedas. apalagi jika dia tahu yang sebenarnya.
beberapa saat kami pun tiba di rumah.
"Ehh pasangan pengantin dari mana?" ucap ibu penjual nasi.
"dari rumah bapak Bu" jawabku.
aku pun masuk ke rumah.adit telah lebih dulu masuk ke dalam.
aku pun masuk dan bergegas ke kamar ku.
aku bergegas bersiap untuk mandi.
*****
beberapa saat setelah aku mandi dan membersihkan diri.
aku mendapati telpon dari Anita.
"hallo'..." ucap ku
"Iya Tar aku boleh minta tolong?" ucap nya dari sebrang telpon
"Iya tolong apa Nit?"
"mau antar aku cek kandungan gak?"
"Iya nanti aku kesana"
aku pun bergegas ganti baju. karna sebelumnya aku hanya memakai piyama.
"Aku boleh pinjam motor?" ucap ku pada Adit
"Boleh. mau kemana?"
"Aku mau antar teman"
"Iya boleh"
aku pun membawa tas dan ponsel ku.
"Hati hati ya" ucapnya kala aku hendak pergi.
aku pun menghidupkan motor. dan bergegas ke rumah Anita
beberapa saat motor ku pun tiba di rumah Anita.
"Assalamualaikum.." ucapku dari luar
"Waalaikumusallam.." jawabnya dari dalam.
"Tar. maaf ya merepotkan. cuma aku bingung mau minta tolong pada siapa?"
"Iya gak apa apa ayo sudah siap?"
"Iya aku tutup pintu dulu ya"
aku dan Anita pun bergegas pergi ke tempat USG.
__ADS_1
sepanjang perjalanan aku selalu bertanya tentang suami Anita.
pasal nya dalam kondisi seperti ini. mengapa dia tidak pulang? bukan kah ini juga kewajiban nya.
beberapa saat kemudian kami pun sampai di sebuah klinik.
Anita nampak pergi ke bagian pendaftaran.
dan aku memilih duduk di bangku yang memang di sediakan untuk para pasien.
tak lama Anita pun menghampiri ku.
"Maaf ya Tar. aku jadi merepotkan mu"
"Iya gak apa apa"
"Eemm kalau boleh tahu. suami kamu kerja?"
aku sengaja bertanya. karna rasanya aku sudah tidak bisa membendung lagi.
"Dia kerja di kota"
"berapa bulan sekali dia pulang?"
"kadang pulang kok. cuma gak tiap hari"
"Harusnya dia ada saat seperti ini. kehamilan kamu sudah besar. kalau tiba tiba mau lahiran gimana?"
Anita hanya diam. dia tak menjawab ucapan ku.
mungkin dia sedikit terbebani atas ucapan ku. tapi aku sungguh kesal dengan suaminya.
"Kamu udah berapa lama menikah?"
tiba tiba dia bertanya. pertanyaan yang sudah pasti tak ku sukai.
"baru menginjak 4 bulan nan"
"suami kamu pasti baik dan sayang sama kamu ya"
"Eemm mungkin" mana ku tahu Adit seperti itu atau tidak?
"Dia pasti sayang sama kamu. buktinya kamu bisa bebas melakukan apapun. lain dengan aku. yang hanya boleh diam di rumah"
Anita nampak termenung kala menceritakan hal tersebut.
"Iya"
"kenapa?"
bukan nya menjawab Anita malah diam.
entah kenapa aku merasa bahwa Anita menyimpan rahasia dengan ku.
tak berapa lama. nama Anita pun di panggil.
dia masuk ke ruang pemeriksaan
aku memilih tetap menunggu nya.
setelah beberapa lama Anita pun keluar. dengan amplop coklat di tangan nya.
"Ayo Tar."
"Sudah?"
"Iya"
ku lajukan motor menuju kediaman Anita. dalam perjalanan tak banyak perbincangan antara kami.
aku merasa ada hal yang di sembunyikan oleh nya.
mungkin tidak ada salah nya jika aku mencari tahu. mungkin saja Anita dalam kesusahan dan aku bisa membantunya.
motor pun tiba di pekarangan rumah nya.
"Ayo masuk dulu Tar"
"Eemm tidak untuk sekarang kayak nya. aku ada perlu ingin ke rumah Ayah" ucap ku berbohong.
"Oh. Iya makasih ya Tar. maaf sudah merepotkan"
"Iya gak apa apa"
aku pun pergi melajukan motor ku.
__ADS_1
dan aku tidak langsung pulang. atau pergi ke rumah Ayah. aku justru berhenti di sebuah warung. yang letak nya tak jauh dari rumah Anita.
ku pesan sebuah es campur. kebetulan cuaca sangat panas hari ini. walau jam menunjukan pukul tiga sore. tapi matahari masih saja menembus kepala ku.
"Ini neng es campur nya" ucap ibu si penjual
"Makasih banyak Bu"
"kayak nya neng bukan orang sini ya?"
"Iya bu saya orang kampung sebelah"
aku pun menyeruput es yang ku pesan.
"Tari" terdengar suara yang tak asing di telingaku.
saat ku lihat. Desi sudah ada di belakang ku.
"Oh Desi"
"Kamu sedang apa?"
"Lagi minum es campur."
"maksud ku kamu ngapain di kampung ku"
aku tertegun kenapa aku lupa. pasalnya nya ini kan kampung Desi.
apa sebaiknya ku tanyakan pada Desi saja.
"Oh aku sedang istirahat. tadi habis jalan jalan"
"Sendiri?"
"Iya"
Desi pun duduk di depan ku.
"Kamu pesan aja kalau mau" tawarku padanya.
"Makasih"
"Des. kamu tahu yang namanya Anita gak?"
pertanyaan ku nampak membuat mantan pembuly ku ini terkejut.
"Anita?"
"Iya. yang tinggal di belakang warung ini. mungkin hanya terhalang 3 rumah?"
"Kamu kenal dia?"
"nggak. tadi bertemu di jalan. dia sedang jalan kaki karna kasihan ku antar kan. habis kasihan dia hamil besar tapi jalan kaki"
ucapku berbohong pada Desi.
"Kenal lah. dia kan yang hamil tanpa suami."
kali ini aku yang di buat kaget oleh penuturan Desi.
"maksud nya?"
"Iya dia bilang dia sudah menikah siri. tapi suaminya gak tinggal disini. dan kalau pulang cuma beberapa jam saja.
malah banyak yang gak tahu siapa suaminya."
"Apa itu benar?"
"Benar lah. seluruh warga di sini sudah tahu
mungkin dia jadi istri simpanan"
ucap Desi yang membuat ku melongo
mungkin itu sebabnya suami Anita tidak tinggal di rumah.
"Suaminya orang mana?"
"mana ku tahu. warga disini saja tidak tahu.
tapi dulu aku pernah lihat ada lelaki masuk rumah nya pas malam malam. waktu itu aku baru pulang dari pasar malam.
aku hanya sepintas melihatnya tapi jika bertemu lagi aku pasti kenal"
penuturan Desi ku rasa cukup. tak baik jika terlalu dalam mencari tahu kehidupan orang lain.
__ADS_1
aku kembali berbincang dengan Desi.