Bahagiaku Setelah Berpisah

Bahagiaku Setelah Berpisah
"SIKAPKU"


__ADS_3

"Lalu kemana dia?" ucapku tanpa melihat ke arah Anita.


"Aku gak tahu Tar" ucapnya sambil menunduk


"Disaat seperti ini harusnya dia ada"


Anita hanya melirik ke arah ku. mungkin dia kaget atas perubahan sikap ku.


aku hanya tak habis pikir. sudah tahu anak nya sakit bukan nya pulang malah tak tahu di mana keberadaan nya.


sungguh malang nasib Adinda.


dia memiliki ibu yang dengan rela nya membiarkan dirinya berjuang untuk hidup.


dan ayah yang tak tahu di mana keberadaan nya. bahkan memberi makan keluarganya pun sepertinya tidak.


semoga aku tak di pertemukan dengan lelaki itu. karna entah apa yang akan aku ucapkan jika sampai bertemu dengan dirinya.


sudah satu jam dokter belum juga keluar.


entah apa yang mereka lakukan di dalam sana. semoga mereka memberi kabar baik padaku.


jam menunjukan pukul 07,00 malam. dan dokter masih belum keluar. ku lihat Anita masih duduk menunduk.


"Ambil ini. kamu makan dulu di luar biar aku yang menunggu disini. karna aku akan pulang" ucapku sambil memberikan uang.


"Aku gak laper Tar"


"Makan dulu walau sedikit. kalau kamu sakit akan tambah repot nanti"


Anita hanya memandangku. entah apa yang dia pikirkan tentang ku. aku tak peduli.


entah kenapa aku kecewa akan sikap nya pada anak nya sendiri.


Anita pun mengambil uang dariku. dan berjalan keluar rumah sakit.


sekitar 15 menit Anita pergi. dia pun kembali


saat aku bangun dari duduk ku hendak pulang. dokter yang menangani adinda keluar.


"Dok. bagaimana?" tanyaku tak sabar.


"Begini Bu. kondisi putri ibu amat lemah.terlebih tidak ada makanan yang masuk dalam waktu cukup lama. saat saya memeriksa lambungnya. untuk semetara kita akan pindahkan ke ruang ICU. untuk mendapat penanganan yang lebih akurat."


"Baik dok. lakukan yang terbaik"


"Baik Bu. silahkan urus pemindahan nya"


aku pun membawa Anita ke bagian pendaftaran untuk memindahkan Adinda. karna kebetulan Anita lah yang tahu data diri mereka.


setelah semua di rasa selesai. dan ku lihat Adinda pun di bawa beberapa perawat untuk di pindahkan.

__ADS_1


ku lihat gadis kecil itu hanya terpejam tak berkutik.


dengan selang infus yang menempel di tangan nya. dan selang oksigen yang membantunya bernafas.


tak bisa ku bayangkan. seberapa sakit nya yang dia rasakan. harus menahan lapar selama 3 hari. sebelum dia sakit dan harus bertahan antara hidup dan mati selama 7 hari.


setelah mengantarkan Adinda ke ruang ICU. aku pun pamit pulang pada Anita.


"Aku mau pulang. kamu jaga disini dan aku harap kamu gak tinggalin Adinda"


"Aku gak akan pergi Tar. makasih banyak dan maaf aku selalu merepotkan mu"


"Ya"


aku pun berjalan pulang. saat keluar rumah sakit. aku bingung mencari angkutan umum. sekitar 5 menit berjalan mencari ojek yang bisa mengantarku pulang.


akhirnya penantian ku pun tiba. ku lihat ada beberapa ojek yang sedang mangkal di persimpangan jalan.


tak butuh waktu lama aku pun menghampiri mereka dan memesan untuk di antarkan pulang.


sepanjang perjalan pikiran ku masih terganggu akan nasib Adinda. entah seberapa penderitaan yang dia alami di usia yang teramat belia.


saat aku melewati pasar. ku lihat Adit berada di warung itu bersama dengan beberapa orang. ada pria dan wanita di sana.


ku hentikan laju motor di sebrang jalan agar mudah melihat mereka.


dan beruntung nya Adit tidak menyadari keberadaan ku. karna posisinya membelakangi Ku.


namun saat ku perhatikan sampai 3 menit. tak ku dapati ada tanda tanda minuman keras di sana.


Ah mungkin penglihatan ibu ibu itu salah. atau mungkin mereka salah prediksi. karna ku lihat Adit hanya mengobrol dan tertawa.


ku lajukan kembali ojek yang ku sewa.


hingga tiba di pekarangan rumah.


dan setelah ku bayar ojek tersebut dan hendak masuk tiba tiba langkahku terhenti kala ada suara yang memanggilku.


"Neng.. " panggil ibu penjual nasi.


ku lirik beliau sedikit berlari menghampiri ku.


"Iya Bu ada apa?"


"Tadi ada mertua neng yang perempuan kesini. tapi gak ada siapa siapa"


waduh. jadi tadi ibu mertua datang.


sudah pasti ini akan menjadi senjata yang siap menghujam ku. pasti dia akan berucap yang lebih menyakitkan lagi.


"Oh iya Bu. lama tadi kesini nya?"

__ADS_1


"Lumayan lama. tadi nunggu di warung ibu"


"Oh iya bu kebetulan tadi saya habis ngantar teman saya. anak nya kritis"


"Oh ya ampun neng. Tapi sepertinya mertua neng suka ngomong ya?"


Apa maksud ibu ini? mengapa beliau berkata sedemikian? apa jangan jangan ibu mertua membuat ulah disini.


ya ampun begini kah rasanya memiliki mertua. jika ku tahu begini. tak akan ku turuti keinginan ayah untuk menikah.


"Gimana maksud nya Bu?" tanya ku tak paham


"Iya jadi tadi tuh mertuanya neng. ngomongin neng terus"


tuh kan sudah ku duga. pasti ibu mertuaku itu suka membicarakan ku di belakang. jika sikap nya di depan saja begitu. apa lagi di belakang.


"Ngomong gimana Bu?"


"Maaf ya neng. katanya neng itu pelit sama suami. sampai suami neng gak pegang uang buat benerin motor"


ya ampun bisa bisanya dia memutar fakta


. bilang kalau aku pelit. padahal anak nya yang pelit yang memberiku nafkah 300 ribu tiap bulan nya.


"Biarin saja Bu. mungkin beliau sedang banyak masalah" ucapku berusaha bijak.


"Iya neng."


aku pun berjalan masuk ke rumah. dan meninggalkan ibu penjual nasi tersebut.


takutnya jika lama lama aku di luar. aku akan terpancing. apalagi emosi ku sedang tidak baik baik saja.


saat masuk rumah. segera ku nyalakan semua lampu. karna kebetulan sebelum aku pergi tadi. belum ada yang ku nyalakan.


aku pun langsung membanting tubuh ku ke kasur. rasanya hari ini begitu lelah.


lelah raga dan pikiran jika di perjelas.


setelah di rasa cukup menenangkan diri. aku pun berjalan ke kamar mandi untuk mandi.


berharap guyuran air ini bisa menghilangkan semua yang ku lihat dan dengar di hari ini. berharap aku bisa melupakan semua nya.


mengapa ibu mertua sampai segitunya membenci ku. sampai sampai dia menjelek jelek kan ku pada orang sini. apa maksud dirinya?


apa beliau ingin jika aku di benci dan di pandang rendah oleh warga sini.


entah bagaimana pemikiran dirinya. jika dia memang tak suka padaku. mengapa sebelumnya dia mengijinkan anak nya di jodohkan dengan ku?


harusnya dari awal dia menolak perjodohan ini. bukan malah menghakimi ku setelah nya!.


memikirkan ibu mertuaku ini membuat kepala ku semakin pusing saja. aku pun menyudahi mandi ku ini. dan berjalan ke kamar.

__ADS_1


__ADS_2