
Tiga Minggu berada dalam sel. tidak luluh membuat Adit berubah menjadi lebih baik. dia tetap merasa lebih dari yang lain.
sedangkan Anita. terus menerus menyalahkan Tari, dan berusaha menuntut balas pada wanita yang dia bunuh anak nya. dan bahkan telah dengan suka rela mengurus anak nya.
Sedangkan Ibu. semenjak perkelahian itu. dia menjadi struk. sebagian tubuh nya lumpuh
hanya bagian wajah yang tidak.
Tari, Ayah, Desi Bapak dan Umaya.
mereka memutuskan untuk pergi ke penjara. dan melihat apa mereka sudah berubah atau tidak.
Melihat beberapa hari yang lalu saat ia berkunjung ke rumah bapak mertuanya karna sakit.
dia merasa Iba. karna mertuanya sakit karna memikirkan istrinya.
bahkan beberapa orang di sekitar rumah nya telah kehilangan empati pada keluarga itu.
hingga membuat Tari kasihan dan akan membebaskan Ibu mertuanya.
dengan Catatan. jika mertua nya telah berubah dan bersikap baik padanya.
Hari ini. mereka pergi ke kantor polisi untuk melihat perubahan itu?
saat berada di ruang tunggu. Ibu,Adit dan Anita di giring untuk bertemu mereka.
Mereka tidak merasa kaget dengan ibu yang duduk di kursi roda. karna mereka telah mendapat kabar sebelumnya.
dan saat Tari dan Desi menjenguk ibu mertuanya di rumah sakit khusus tahanan. tanpa sepengetahuan yang lain bukan perlakuan baik yang dia dapatkan. melainkan umpatan dan sumpah serapah yang dia dapatkan.
Dia ingin membuktikan pada bapak mertua. bahwa Istrinya tidak akan pernah berubah, menyayangi Tari hanya sebuah angan yang terlalu tinggi.
"Pak, Ibu sakit" rengek ibu pada bapak.
"Pak, Adit gak betah disini. mereka sering memukulku"
"Iya pak, Ibu juga di paksa buat pijitin kaki mereka, ibu gak betah pak"
"Adit juga, Adit mau keluar"
Tanpa menghiraukan keberadaan Tari dan Ayah nya. adit malah bersikap sesuka nya.
itu membuat Ayah Tari beberapa kali berusaha menarik tangan anak nya keluar,
namun Tari hanya ingin membuktikan. pada Umaya dan bapak. bahwa sikap anak dan istrinya tidak bisa berubah. apa lagi di maafkan.
"Pak, ayo kita pulang" ucap ibu
"Iya pak, kita pulang sekarang" jawab Adit.
Bapak masih belum menjawab ucapan mereka.
"Bapak tidak bisa berbuat apa apa, hanya Tari yang memiliki wewenang untuk membebaskan kalian" jawab bapak.
"Tari? wanita ini. pak dia wanita jahat dia sudah memasukan ibu kesini. ibu sangat membenci wanita ini. dan jika ibu sudah keluar. ibu akan membuat perhitungan!" ucap ibu.
jawaban yang di lontarkan istrinya membuat bapak kaget bukan main. rupanya dia masih belum berubah. terlebih setelah mendapat teguran dengan struk yang di alaminya.
"Apalagi Adit, Cuih. " jawab Adit yang meludah ke sembarang arah .
Umaya hanya menggeleng kepala. melihat kelakuan dari kakak dan Ibu nya.
__ADS_1
"Kalian tahu? Tari yang kalian sakiti. sampai kalian berada disini" ucap bapak.
"dia berhutang banyak pada ibu dan Adit. karna dia kami harus mendekam disini" jawab ibu
"Iya, ibu benar pak" sela Adit.
"Kalian masih mearasa tidak bersalah?"
"Tidak,"
"Apa kalian tidak akan meminta maaf pada Tari?"
"Ibu lebih baik mati dari pada harus meminta maaf pada wanita jahat ini!"
"Adit juga, lebih baik Adit berada disini dari pada harus meminta maaf pada wanita seperti dia!"
Bukannya meminta maaf. mereka malah bersikap sesuka hati.
Ayah yang melihat sikap kedua orang ini sudah sangat emosi. terlebih mereka masih bisa menghina Anak nya yang mereka siksa.
Tari hanya diam tak berucap. dia hanya melihat ke arah bapak.
"Kalau begitu. bapak pasrah Nak, mereka masih tidak berubah!" ucap bapak pada Tari.
"Baik pak," jawab Tari.
"Apa ini, kenapa bapak malah meminta saran pada wanita hina seperti dia? ayo bebaskan ibu pak, ibu akan buat perhitungan pada dia"
"Dengar ya Tari, aku akan buat kamu membayar semua yang aku dan ibu dapatkan disini! aku akan segera bebas." ucap Adit.
"iya, Ibu pun akan buat kamu menderita Tari!"
"Bapak harus bebaskan Ibu, Adit dan saya, ingat saya memiliki anak dari anak bapak dan cucu yang harus saya urus pak" Anita pun berucap.
"Kenapa bapak saya harus membebaskan kamu?" jawab Umaya.
"Diam kamu!" sahut Anita.
"Kenapa? Memang nya kamu siapa. keluarga juga bukan" jawab Umaya.
"Jaga bicaramu!" sentak Anita.
"Kenapa? kamu memang bukan bagian dari kami. kenapa kami harus membebaskan kamu?" kelak Umaya.
"Adit, lihat adikmu. dia sama sekali tidak bisa menjaga bicaranya" rengek Anita.
.
Bukan nya membela. adit hanya diam tak menghiraukan ucapan Anita.
Melihat itu semua. membuat Tari merasa ingin tertawa.
"Hey, Tari. dengar ucapan Ku. aku akan membuat kamu lebih tersiksa dari kemarin. setelah aku bebas!" ucap Anita.
"Memang nya kamu yakin akan bebas?" jawab Tari.
"Aku, Adit dan Ibu akan keluar dari sini. Lihat bapak akan membebaskan kami. dan aku akan membuat perhitungan pada kamu?"
"Rupanya kamu tidak berubah, walau sudah mendapat karma" jawab Tari.
Anita memang mengalami penyakit kulit. dia mengeluarkan luka di kulit yang mengeluarkan nanah dan berbau. yang membuat orang orang enggan satu sel dengan nya.
__ADS_1
sedangkan Adit. tangan nya sering merasa sakit dan dia juga sering susah buang air kecil. bahkan berhari hari dia baru bisa buang air kecil. yang membuatnya sakit di bagian perut.
Mendengar ucapan Tari. mereka hanya diam. tidak ada yang menjawab ucapan Tari.
"Dengar Ya, Setelah saya bebas. akan ku bunuh kamu" ucap Adit.
"Oh ya? kalau begitu buktikan!" jawab Tari.
"Adit, habisi saja wanita ini, Ibu benar benar merasa jijik melihatnya!"
Mendengar ucapan mereka. ayah sampai mengepalkan tangan nya.
"Tenang saja, kalian tidak akan melihat saya lagi setelah Minggu depan!" ucap Tari.
yang membuat bapak seketika tertunduk. begitupun Umaya.
mereka tidak membebani Tari supaya membebaskan Adit dan ibunya. Tari bisa membebaskan mereka jika mereka berubah dan bersikap baik. namun melihat ucapan dan sikap mereka. mereka pasrah karna sudah tidak ada jalan lain.
"Minggu depan? pak, kenapa harus menunggu Minggu depan. Ibu dan Adit mau pulang sekarang" ucap ibu.
"Iya pak Adit juga mau pulang sekarang" .
"Umaya, bilang pada bapakmu. supaya membebaskan ibu sekarang"
"Iya, Abang juga mau pulang sekarang"
"Kalian jangan lupain aku. aku juga mau keluar dari sini" ucap Anita.
Tidak ada jawaban dari bapak dan Umaya.
"Bapak merasa menyesal. bapak kira kalian sudah berubah. rupanya tidak" ucap bapak.
"Apa yang bapak katakan? " Jawab ibu.
"Bapak datang kesini. bersama Tari untuk membebaskan kalian.namun sikap kalian malah membuat bapak menyesal meminta Tari melakukan itu!"
Seketika mereka bertiga membulatkan matanya. jika mereka tahu mereka akan berpura pura bersikap baik pada Tari.
"Maaf pak, kita sudah Melihat jawaban nya. sekali lagi Tari minta maaf Tari tidak bisa membantu banyak" ucap Tari yang seketika menjadi cambuk pada tiga manusia itu.
"Maaf pak, Saya rasa anak saya tidak bisa mengabulkan keinginan anda!" ucap Ayah.
"Ini bukan salah kamu Nak, maaf bapak sudah merepotkan mu"
"Kalau begitu, Tari mohon pamit"
"Iya,"
"Dan Maaf, Ibu dan kalian berdua. saya tidak bisa berbuat apa apa lagi. semoga hakim nanti bisa meringankan hukuman kalian semua!" ucap Tari.
Tari pun pergi bersama Ayah dan Desi. mereka memutuskan untuk pulang.
"Pak, apa maksud bapak Tadi?" tanya Ibu.
"Ya, bapak meminta Tari untuk membebaskan kalian. jika kalian berubah dan bersikap baik. tapi, rupanya kalian tidak pantas mendapatkan kebaikan itu!" jawab bapak.
"Ayo pak. kita pulang. kak Tari pasti sudah menunggu di depan. kita kesini lagi nanti Minggu depan, saat hakim membicarakan keputusan nya" ucap Umaya. seraya menarik tangan bapak nya.
bapak dan Umaya pun pergi meninggalkan mereka dengan penuh penyesalan. jika mereka tahu tujuan mereka kesini untuk kebebasan. tentulah berpura pura sebentar tidak lah sulit. namun mereka malah mengacaukan semua nya.
mereka hanya berharap. Minggu depan hakim akan membebaskan mereka. tidak apa menunggu satu Minggu lagi untuk bebas. karna setelah itu mereka akan menuntut balas....
__ADS_1