
setelah aku selesai membersihkan diri. tiba tiba pintu depan di buka. dan terdengar suara Adit dan ibu nya.
nampak nya ibunya benar benar mencari keberadaan anak nya di warung itu. gegas aku berbaring di kasur dan pura pura tidur.
tak lama terdengar pintu kamar di buka.
"Enak banget ya istri kamu. Jam segini udah tidur dasar malas"
"Iya Bu."
"Kamu yang tegas Dong sama dia. biar gak seenaknya. masa ngelawan terus kalau di nasehatin"
"Nanti Adit bilangin Bu"
"jadi gimana? mana uang nya. ibu butuh buat biaya berobat bapak mu"
oh rupanya ibu mertuaku sedang meminta uang pada anak nya. dan iya. apa bapak mertua benar benar sedang sakit. jika ia aku harus menjenguk nya.
"Nanti Bu. nanti biar adit saja yang antar"
"Kamu bener ya. soalnya sakit bapak mu sudah parah"
"Iya Bu"
tak berapa lama. terdengar suara motor pergi dari rumah. nampaknya Adit mengantarkan ibunya pulang.
entah kenapa? aku ingin sekali menyimpan uang hasil dari toko ku simpan yang rapih.
akhirnya ku ambil dari tas. dan menyimpan nya di dalam koper yang terletak di atas lemari.
ku simpan uang tersebut beserta buku tabungan yang sebelumnya ku simpan.
tak berapa lama terdengar suara motor kembali ke rumah. nampak nya Adit tidak akan kumpul kumpul. terdengar dia memasukan motornya.
aku pun melanjutkan untuk pura pura tidur.
hingga terdengar pintu kamar di buka lagi. dan ada gerakan di kasur sebelahku.
"Tar. kamu sudah tidur?"
aku tak menjawabnya untuk beberapa lama.
hingga dia menggoyangkan bahu Ku.
"Tar, "
"Eemm apa?" jawabku sambil pura pura mengantuk.
"Aku mau bicara"
aku pun duduk dan menghadap Adit.
"Apa?"
"Kamu ada uang simpanan gak? aku mau pinjam"
ku kira dia mau bicara apa? ternyata mau meminjam uang. lalu kemana uang nya selama ini?
"Gak ada. kan kamu tahu gajih aku hanya 3 ratus ribu.itu pun untuk makan sehari hari dan bayar listrik"
__ADS_1
"Ya masa kamu gak ada simpanan gitu?"
"Gak ada"
"Aku pinjem dulu buat biaya bapak berobat"
aku tak menjawab ucapan Adit. ada rasa kesal padanya. bukan nya selama ini dia tidak memberiku uang. lalu kemana uang hasil kerjanya.
tapi. aku tak bisa membiarkan bapak mertuaku sakit sampai tidak bisa berobat.
aku harus memikirkan cara agar bisa menolong bapak mertuaku itu.
*******
keesokan paginya. aku masih bersikukuh untuk tidak memberikan pinjaman pada Adit.
semua ku lakukan. semata mata untuk memberinya satu pelajaran.
agar dia tidak selalu bergantung pada orang lain. dan harus belajar bertanggung jawab. sudah lah dia tidak bertanggung jawab atas rumah tangga nya.
setidaknya uang hasil keringatnya ia kumpulkan untuk hal yang positif.
atau untuk membantu orang tuanya.
"Tar. coba kamu pinjam ke bos kamu"
"Kalau aku pinjam uang. itu artinya bulan ini aku gak akan dapat gajih. dan artinya kita tidak akan bisa makan"
"Gak apa apa kok"
ya ampun. mudah sekali dia bilang gak apa apa? sedangkan selama ini semua kebutuhan aku yang tanggung.
"Itu artinya kamu gak peduli sama bapak aku?"
"Kamu kan anak nya. dan lagipun selama ini kamu gak memberikan uang padaku. lalu di kemana gajih kamu selama ini?"
Adit tidak menjawab ucapan Ku. dia terdiam sampai akhirnya dia pergi setelah sarapan.
hari ini aku akan membuka toko agak siangan. rencana ku aku akan membawa dokter saja ke rumah ayah mertua. dengan alasan ada pemeriksaan dari kantor kelurahan.
namun. belum sempat aku membuka toko. baru saja aku melangkah menaiki tangga toko. tiba tiba ponsel ku berdering. menandakan ada panggilan masuk.
saat ku lihat nampak ada kata Ayah di layar ponsel ku.
lekas ku angkat panggilan dari ayah.
"Assalamualaikum.Yah ada apa?"
"Waalaikumusallam. kamu di mana?"
kenapa ayah bertanya begitu ya? apa ada yang terjadi.
"Tari sedang berada di tempat kerja yah"
"Bisa kesini sebentar. ke rumah Ayah"
"Baik Yah Tari kesana sekarang"
panggilan pun berakhir. ada apa sebenarnya. tidak biasanya ayah memintaku untuk datang ke rumah dengan buru buru begitu?
__ADS_1
saat aku hendak mencari ojek. Desi nampak datang.
"Des. aku mau ke rumah Ayah dulu. kamu jaga toko ya" ucapku pada Desi seraya memberikan kunci toko.
"Oh iya Tar"
aku pun memanggil satu ojek. dan meminta untuk di antarkan ke rumah ayah.
sepanjang perjalanan pikiran ku berkelana. mudah mudahan tidak terjadi apa apa?
sesampainya di rumah. nampak ada motor Adit di halaman rumah Ayah.
Ah apa Adit bicara yang tidak tidak?
"Assalamualaikum"
"Waalaikumusallam . masuk Tar" titah ayah.
nampak ada Adit dan ibu mertuaku juga.
kenapa mereka ke sini. apa ibu mertua ku mengadukan perdebatan kami kemarin?
"Ada apa yah?"
"Begini. Ibu mertua kamu kesini meminjam uang. kebetulan ayah sedang tidak ada. karna habis di pakai modal. kamu kan ada uang pemberian Roni dulu. kamu bisa pinjamkan pada mereka"
Hah. benar benar suamiku ini. ku beri dia pelajaran untuk bertindak baik. malah dia datang kesini dan meminjam uang pada Ayah. yang lebih parah dia kesini dengan ibunya. yang selalu membenciku.
"Tapi kan Yah. itu bukan uang Tari itu uang Roni"
"Ya tapi kan uang itu sudah di berikan ke kamu"
"Ibu mohon Tari. ibu sedang butuh uang untuk biaya bapak berobat. nanti ibu akan ganti uang nya. kamu kan baik makan nya ibu sayang banget sama kamu"
ih dasar penjilat. di depan orang tuaku dia berucap begitu lembut. tapi di rumah sana. jangan kan berkata lembut. setiap perbuatan baik yang aku lakukan pun dia selalu menyalahkan nya.
"Iya Tar. tolong bantu kami. nanti sehabis gajih han kamu ambil saja uang ku semua"
dasar ibu dan anak rupanya sama saja. mereka seperti bunglon yang bisa berubah warna sesuai tempat.
"Maaf yah. tapi uang itu udah Tari pakai buat keperluan sehari-hari. selama ini Tari gunain uang itu buat makan dan bayar listrik"
nampak Adit dan ibu mertua memandangku tak suka.
"Kenapa kamu pakai uang itu Tar? memang nya sebesar apa biaya kalian?" kali ini ibuku mulai bertanya.
"Gak begitu besar Bu. hanya uang tiga ratus ribu tidak cukup. itu sebab nya tari pakai uang itu untuk keperluan rumah"
"Maksud nya tiga ratus ribu itu apa Tar?" ibu terus saja bertanya.
membuat Adit dan ibu nya pucat pasi.
mereka pasti terganggu akan pertanyaan ibu. dan mereka pasti takut aku bicara yang sebenarnya.
"Iya Tari kan kerja di teman Bu. dan gajih Tari tiga ratus ribu"
" Ya sudah. sekarang apa uang itu ada sisanya Tar" Ayah masih saja menanyakan uang itu.
"Ada Yah cuma tinggal satu juta"
__ADS_1
"Ya sudah ambil sini"