
Satu Minggu setelah kepindahan ku ke rumah baruku. aku sengaja menonaktifkan nomor ponsel ku. semua itu bertujuan agar aku lebih tenang dan tidak selalu memikirkan masalahku.
Masalah toko Desi yang mengatur semua nya. aku hanya memesan barang pada Anggi lewat rumah.
Alhamdulilah, Desi teman yang baik. dia bisa di andalkan dalam segala Hal.
Kebaikan nya juga tak di ragukan lagi. Aku banyak berhutang Budi padanya.
Tepat hari ini aku memutuskan untuk masuk ke toko melihat lihat bagaimana kondisi disana.
Namun setelah ku aktifkan no ku. entah ada berapa ratus panggilan tak terjawab dari Adit. beberapa pesan masuk pun tak terelakan.
"Tari kamu kemana?"
"Tar, Jawab teleponku?"
"Tar, Maafkan aku sayang. kamu kemana?"
"Sayang"
"Tar, ayolah jangan begini"
"Angkat telpon ku"
"Tar, Berani kamu ya!"
Aku hanya membaca beberapa pesan yang Adit kirim. sengaja tak ku balas. rasanya aku sudah tidak ingin berhubungan dengan dia dan keluarganya.
keputusan ku sudah bulat. setelah melahirkan aku akan menggugat cerai Adit. tak apa lah jika Ayah marah atau pun Murka. lagipun memang saat ini dia tengah marah padaku.
beberapa saat di perjalanan aku pun tiba di toko. dari jauh ku lihat Toko lumayan ramai.
Alhamdulilah Ya Allah, tak henti henti nya aku mengucap syukur.
"Assalamualaikum" ucapku kala memasuki toko.
"Waalaikumusallam" jawab serentak.
Aku bergegas duduk di kursi. dengan usia kehamilan yang sudah membesar. membuatku mulai kehabisan tenaga.
Jalan sedikit saja sudah lelah sekali rasanya.
Ku lihat buku pesanan dan catatan penjualan.
semua nya baik. tidak ada kendala
"Kamu sudah sehat Tar?" ucap Desi menghampiriku.
"Alhamdulilah, aku sudah membaik"
"Syukur lah, kamu sudah makan? mau aku belikan sesuatu?"
"Tidak usah Des, terima kasih"
"Baik, aku beresin itu dulu ya"
"Iya"
Hari pun berjalan dengan lancar. sedikit sedikit aku membantu Desi melayani beberapa pengunjung.
tentunya dengan perut yang besar. membuatku sedikit kesulitan bergerak seperti dulu.
"Eh," ucapku yang membuat Desi bergegas menghampiriku.
"Ada apa?"
"Hhee, gak apa apa Des. ini Dia gerak gerak"
"Masa sih"
"Iya" .
__ADS_1
Desi pun memegang perutku dan memastikan apa yang aku ucapkan benar.
"Ih, iya ini kayaknya tangan nya deh" Desi teramat antusias. terima kasih Ya Allah, engkau masih memberiku teman yang baik seperti Desi.
"Iya,"
"Ih lihat, sampai menonjol begini, Gak sabar deh aku mau gendong dia"
"Sabar ya, tunggu dua bulan lagi"
"Iya Tar, Kamu yang tenang ya Dek, nanti Tante akan jagain kamu kalau mamah mu repot" ucap Desi sembari mengelus perutku.
"Iya Tante" aku pun menjawab nya.
Saat kami sedang bercanda gurau tiba tiba ibu mertua datang ke toko.
"Oh, disini rupanya kamu. dasar Istri gak ada adab, ninggalin rumah tanpa pamit"
Desi hendak menghampiri mertuaku. langsung ku tahan aku tak mau ada keributan disini.
"Ibu mau apa kesini?" tanyaku berusaha tetap tenang.
"Mau apa? pergi kemana kamu. Oh jangan jangan ke rumah selingkuhan kamu ya"
"Itu bukan urusan ibu"
"Berani kamu ya, cuma jadi kacung disini saja sudah belagu. sampai pergi dari rumah"
"Saya bebas mau tinggal dan pergi"
"Pulang kamu"
"Untuk apa? Untuk ibu Hina lagi, atau ibu peras lagi"
Wajah ibu mertuaku sudah mulai memucat. amarah sudah mulai menguasainya.
"Kalau kamu tidak pulang, saya adukan pada Ayah kamu"
Plak..
Satu tamparan mendarat di pipiku. perih sudah pasti. setelah satu Minggu kepergian ku dari rumah itu. ini kali pertama ku mendapat tamparan kembali.
Plak..
Tanpa di sangka. Desi menampar ibu mertuaku. aku tak menyangka dia akan tersulut emosi sampai berani menampar wanita tua.
"Siapa kamu, berani beraninya menampar saya?" ucap mertuaku pada Desi.
"Itu belum seberapa, di banding apa yang kalian lakukan pada Tari"
"Oh, jadi wanita ****** ini mengadu pada kamu"
"Iya, beruntung lah kamu. karna saya tidak melaporkan perbuatan kalian"
Mertuaku menatap Desi dengan mata yang hampir keluar sempurna.
Aku terus berusaha menenangkan Desi. namun Desi masih tak bergerak dari tempatnya berdiri. dia masih berdiri di depan ku.
"Saya akan buat perhitungan pada kalian"
"Silahkan, sekarang pergi dari sini. dan jangan pernah berani menginjakan kaki Anda ke sini"
Sebelum pergi. ibu mertua menatap kami dengan penuh kebencian.
Desi pun menyuruhku duduk kembali di kursi kasir.
"Kamu gak apa apa Tar?" tanya nya memastikan.
"Tidak apa apa, ini sudah terbiasa aku terima" .
"Kamu gak bisa begini, kamu jangan diam saja kalau nenek lampir itu menamparmu"
__ADS_1
"Aku gak mau melawan orang yang lebih tua Des"
"Huh, jika orang yang lebih tua seperti itu. kamu berhak melawan agar merek tak menanggap kamu lemah"
"Maaf ya Des, kamu jadi terlibat karna aku"
"Itu bukan masalah,"
***************
Sore itu Aku masih tak menghiraukan ucapan mertua yang masih mendatangai toko. hanya sekedar menyuruhku pulang dan memaki ku.
perdebatan selalu terjadi antara ibu mertua dan Desi.
saat aku dan desi selesai menutup toko. kami memutuskan untuk makan sebentar.
"Eh Tar, aku lupa kunci gembok nya belum di ambil masih menggantung" Desi kembali ke toko.
"Aku duluan ke warung nasi yah, nanti ku pesan kan" ucapku pada Desi.
"Iya," Desi pun berjalan beberapa langkah di belakangku. setelah mengambil kunci toko.
Brruukk..
Tiba tiba Rasa sakit menyelimuti ku. Ada cairan hangat yang ku rasakan keluar deras di bagian terlarang.
Ku lihat Adit tengah melihat ku di atas motornya.
Kenapa dia tega menabrak ku?
Sekilas ku lihat Desi menangis memeluk ku. dan orang orang berdatangan. Samar samar Adit meninggalkan ku. melaju dengan sepeda motornya.
hingga gelap tak terelakan....
********
Entah berapa lama aku berbaring di rumah sakit. kepala ku masih pusing. ku lihat Desi tengah duduk sambil memainkan ponselnya.
dia masih tak menyadari aku tengah sadar. namun ada satu keanehan yang ku rasakan.
Perut ku, ku raba perut ku tidak, tidak ada apa apa? kemana bayiku. apa aku sudah melahirkan?
Aku sudah tidak sabar ingin memeluk dan menciumnya.
"Des,"
"TARI, Alhamdulilah kamu sudah sadar"
"Dimana anak ku Des, apa aku sudah melahirkan? aku sudah tidak sabar ingin memeluknya"
Desi tak menjawab pertanyaan ku. dia hanya menunduk tanpa berucap sepatah katapun.
"Des?"
"Kamu yang sabar ya, Maaf aku gak bisa Jaga keponakan ku"
Desi malah terisak menangis sambil terus meminta maaf padaku. sebenarnya apa yang terjadi? kenapa Desi menangis dan kemana bayiku.
"Apa maksud kamu Des? dimana bayiku"
"Kita telah kehilangan dia Tar, kecelakaan itu membuat kandungan mu keguguran"
Jleb..
Seperti ada petir yang menyambar ku tepat di bagian jantung. sakit sakit sekali.
ucapan Desi rasanya membuat dunia ku benar benar runtuh...
Se berdosa apa kah aku?
sampai aku tak di ijinkan merawat buah hatiku walau sebentar. malah aku sampai tidak mendapat kesempatan melihat nya...
__ADS_1