Bahagiaku Setelah Berpisah

Bahagiaku Setelah Berpisah
"KEBENARAN AYAH"


__ADS_3

Karna rasa sesak di dada begitu menyiksa ku. terlebih aku tak tahu harus mengutarakan nya pada siapa. akhir nya Desi lah yang menjadi tempat ku mengutarakan semua nya.


Semua hal ku ceritakan pada Desi. termasuk kelakuan yang Adit lakukan semalam di rumah.


Desi nampak memasang wajah kesal dan tak percaya dengan apa yang aku bicarakan. berkali kali dia menggelengkan kepala nya.


"Ya Ampun Tar, aku gak menyangka suami mu sampai berbuat zina!"


"Aku pun masih tak percaya"


"Ku kira dia hanya minum di sana, tidak sampai bermain perempuan"


"Iya Des"


"Terus apa yang akan kamu lakukan sekarang?"


"Entah lah, Aku ingin bercerai dengan Suamiku namun aku tak bisa mengorbankan anak ku"


Desi terdiam sejenak. mungkin dia bingung harus berbuat apa?


pasal nya aku juga tak tahu harus berbuat apa, meneruskan rumah tangga ku. dengan kenyataan yang ku tahu bahwa suami ku tidak lah sebaik yang ku lihat,


atau memilih berhenti, melanjutkan hidupku bersama buah hatiku yang belum lahir, namun bagaimana jika anakku suatu saat nanti menanyakan keberadaan Ayah nya?


Terlebih apa Ayah akan mempercayai ucapan ku? rasanya dia tidak akan dengan mudahnya menerima perceraian ku dengan Adit.


"Biar ku pikirkan nanti Des, rasanya kepala ku pusing sekali"


"Iya udah, kamu jangan banyak pikiran. ingat sekarang kamu gak sendiri tapi ada bayi di perut kamu yang harus kamu jaga"


"Iya Des,"


Jam menunjukan pukul 11,00 siang. dan aku di perbolehkan untuk pulang, di antar oleh Desi menggunakan motor matic nya. kami pun sampai di rumah,


entah kenapa? dada ku terasa sesak kembali setelah kembali dan memasuki rumah.


dengan sekuat tenaga. aku berusaha melupakan kejadian yang ku lihat semalam.


"Des, Bisa bantu aku sekali lagi"


"Iya, apa?"


"Aku ingin memindahkan semua barang-barang ku ke kamar sebelah, aku merasa jijik jika harus tidur di tempat itu"


"Iya, aku paham. baik aku bantu kamu"


Kami pun memindahkan semua pakaian ku ke kamar sebelah, dan membawa semua barang barang ku ke kamar baruku.


sekitar 2 jam pekerjaan kami selesai. rasanya aku sudah banyak sekali merepotkan Desi,


"Terima kasih banyak ya Des, kamu sudah banyak membantu"


"Iya sama sama, jangan sungkan kalau butuh apa apa?"


"Oh iya Des, bisa tolong Carikan aku motor matic? terserah merk apa, asal masih bagus dan tidak begitu mahal"


"Untuk apa?"

__ADS_1


"Untuk mengantarku kemana mana, aku gak bisa terus berjalan walau hanya ke toko"


"Oh iya, baik nanti ku Carikan ya"


"Iya"


setelah kepulangan Desi. kini hanya ada aku di rumah ini sendirian. hanya berteman kan dengan kesunyian. yang terus saja membawaku mengingat kejadian semalam.


Aku harus ke rumah Ayah, dan menanyakan apa kah benar Ayah yang meminta Adit untuk menikahi ku?


semua rahasia ini harus terungkap, aku tak mungkin bisa tenang jika mengetahui kebenaran yang tertutup di belakang ku.


setelah membereskan diri, aku sudah menelpon ojek yang biasa mengantarku.


sepanjang perjalanan, apakah Ayah akan marah jika aku bertanya?


tapi, aku harus membuktikan ucapan ibu mertua. apakah yang dia katakan benar!


sesampainya aku di rumah, ku lihat Ayah tengah duduk di teras. dengan pandangan sedikit tidak suka,


mengapa Ayah berubah begini?


dia lebih memilih menjauhi putrinya dan memusuhinya. dari pada mencari kebenaran ucapan menantunya.


"Assalamualaikum " ucapku seraya menghampiri ayah, dan menyambut tangan nya.


"Waalaikumusallam, Kenapa kamu kesini?" jawab nya ketus.


"Ada yang ingin Tari tanyakan pada Ayah?"


"Apa?"


Ayah pun masuk terlebih dahulu, dan memanggil ibu yang berada di dapur.


"Bu, Bawakan air minum ada tamu"


Ya Allah, sebegini kah kebencian Ayah padaku, dan sebesar apakah fitnah yang suamiku dan mertuaku ciptakan. sampai memutuskan tali kasih sayang antara Ayah pada putrinya.


Ku coba menahan sesak yang mulai terasa di dada. Ayah menganggap ku tamu, lebih tepat nya. tamu tak di undang.


Ibu pun datang dengan membawa air, mungkin dia kira ucapan Ayah benar, yang datang adalah Tamu dan bukan aku?


Ibu hanya bengong mengetahui aku lah tamu yang di maksud Ayah tadi.


ku sambut ibu dan mencium tangan nya.


"Sudah lama Tar? kamu sudah makan"


"Dia tidak akan lama Bu, hanya ada keperluan sebentar"


Belum sempat ku jawab pertanyaan ibu. Ayah sudah lebih dulu menjawab nya.


Rupanya Ayah tak suka aku berada lama lama di sini.


"Tidak apa apa Bu, Tari sudah makan dan hanya ada keperluan yang harus Tari Tanyakan?"


Ibu pun hanya duduk,

__ADS_1


"Maaf sebelumnya Yah, jika kedatangan Tari mengganggu, Tari hanya ingin menanyakan apakah benar Ayah yang meminta Adit menikahi Tari. dengan datang ke rumah mereka?"


Rasanya pertanyaan ku cukup,


Ayah hanya diam tak berbicara apa pun.


beberapa menit berlalu. hanya ada kebisuan disini. Ayah sama sekali tidak menjawab pertanyaan ku.


"Tolong jawab Yah"


Ibu hanya bingung dengan pertanyaan ku. mungkin ibu pun tidak tahu kebenaran nya.


ibu menatap Ayah sama lekat nya dengan ku.


"Iya, kenapa? kamu mau mempermasalahkan itu, dan kamu mau menjadikan itu sebagai alasan untuk menjadi istri dan menantu yang durhaka?"


"Jadi benar, Ayah sampai mengemis meminta Adit menikahi ku?"


"Kamu pikir, apa akan ada yang menikahi kamu dengan kondisi kamu yang terus memikirkan pria yang sudah meninggal?"


"Tari hanya butuh waktu untuk melupakan itu Yah"


"Sampai kapan, sampai Ayah mati karna menanggung malu"


"Malu? Ayah malu memiliki Tari?"


"Kamu tahu, mereka membicarakan bahwa Ayah memiliki putri yang gila"


" Dan Ayah percaya bahwa Tari gila?"


Ayah ku hanya diam. dan tidak menjawab pertanyaan ku. Ibu hanya tertunduk tak berucap sepatah katapun.


bulir bening yang sedari tadi ku tahan. akhirnya tak bisa lagi ku bendung.


dia mengalir dengan sendirinya.


tak ku sangka, Ayah menganggap ku Gila!


Aku hanya butuh waktu, untuk menerima semua kenyataan pahit. atas kehilangan Roni.


apa sampai harus, Ayah menikahkan ku dengan lelaki se bejad Adit.


"Tari tak habis pikir, Ayah yang Tari hormati dan sayangi. menganggap Tari tidak sehat dan menikahkan Tari dengan lelaki seperti Adit"


brugh...


Ayah menggebrak meja di depan kami. yang membuat ku kaget begitu pun ibu. dia sampai melebarkan matanya dan menatap Ayah.


"Cukup Tari, Adit pria yang baik dan Sholeh. dia sampai rela menikahi kamu yang selalu terikat dengan orang yang sudah meninggal.


bahkan dia sampai rela melakukan apapun demi kamu, bahkan untuk tidur di kamar terpisah, dan sekarang bisa bisanya kamu bicara begitu"


Tak ku sangka, Adit menceritakan semua pada Ayah. bukan nya dia bilang biar kami hanya yang tahu, ternyata bukan hanya bermain di belakang ku. tapi dia juga menjelekan ku dan menceritakan aib rumah tangga kami,


Hebat kamu Dit!


aku sampai tidak tahu kebenaran tentang kamu?

__ADS_1


kamu bisa menciptakan celah antara anak dan orang tua?


Apa aku bisa mempertahankan pernikahan ku. setelah apa yang aku dengar!


__ADS_2