Bahagiaku Setelah Berpisah

Bahagiaku Setelah Berpisah
"BAHAGIA YANG DI KIRIM TUHAN"


__ADS_3

Beberapa kali aku sengaja memberi wanita itu kejutan yang membuatnya marah padaku, bukan karna apa? aku begitu menyukai kala dia memasang wajah marahnya padaku. terlihat begitu cantik dan imut.


aku selalu memikirkan wanita itu, tidak pernah sekalipun terlintas dalam benak ku dapat melupakan setiap ucapan dan amarah Tari padaku. beberapa kali aku membuatnya marah, dari mengirim banyak paket. memberi dia kejutan dengan datang ke acara kenaikan kelas adinda. hingga memberinya kejutan berjumpa dengan mamah.


Memang, aku tidak menceritakan pada mamah, kalau aku masih belum mendapat kan hati Tari, namun rasa ingin jumpa mamah pada Tari. tak kuasa membuat ku akhirnya mengabulkan keinginan mamah. aku pun membawa mamah berjumpa dengan Tari di salon barunya itu.


Namun, kala tari membawa ku berbicara empat mata di luar, dia marah luar biasa padaku. dia tidak menyangka bahwa aku akan membawa mamah berjumpa dengan nya. kemarahan jelas terlihat. kala aku berjongkok sembari berteriak mengungkapkan isi hatiku padanya.


Yang mengundang banyak manusia untuk mencari tahu apa yang terjadi, dia sampai berucap ingin sekali menembak ku.


Ah, wanita itu luar biasa berbeda dengan wanita lain nya. setelah hal tak terduga kembali terjadi. kala aku datang ke kantor untuk bertugas. aku mendapati Tari tengah duduk bersama pak Bambang.


rupanya dia tidak main main dengan ucapan nya. dia benar benar melaporkan ku ke kantor polisi. namun ku lihat ada keterkejutan yang luar biasa kala Tari mendapati aku yang tengah menggunakan seragam kepolisian.


Bukannya luluh melihat lelaki yang selama ini mengejar cinta nya adalah seorang polisi. dia malah membuang wajah nya dari ku. hal itu sontak membuatku semakin bersemangat untuk mengganggu dirinya.


ku dekati dia. dan bertanya apa yang terjadi. awalnya pak Bambang menolak karna yang di laporkan wanita di hadapan nya adalah atasan nya sendiri.


Namun demi membuat wanita kecilku bahagia. aku akan mengabulkan apapun yang dia kehendaki. aku pun meminya pak Bambang memasukan ku ke dalam sel. namun dengan Tari tentunya.


aku sangat bahagia kala berada satu sel dengan wanita kecilku. walau dia berulang kali marah marah, sampai membuang wajah nya dariku.


namun, kala kami saling tatap dengan jarak yang tidak begitu jauh. obrolan serius pun terjadi. Luka yang pernah dia rasakan. mungkin tidak mudah untuk dia lupakan. bahkan. luka hati yang pernah tergores akan penghianatan. rasanya tidak akan mudah untuk segera membuka hati.


Terlebih untuk orang asing yang baru di kenal nya? aku pun pernah merasakan apa yang Tari rasakan. Namun hanya aku jauh lebih beruntung dari Tari, aku hanya mendapati Sinta calon istriku bermain api dengan banyak lelaki, bukan seperti yang Tari alami. suami sah nya memiliki hubungan dengan orang terdekatnya.


Yang lebih menyayat, hubungan itu sampai melahirkan seorang bayi yang kini di rawat layaknya anak oleh Tari,


jika aku saja memerlukan waktu panjang untuk menjalani hidupku. mengapa tidak dengan tari?


Ku sodorkan sebuah pistol milikku pada wanita yang kini duduk sambil memeluk lutut nya. sebelumnya karna marah, dia sangat ingin menembak ku? itu sebab nya ku berikan pistol itu untuk dia tembakan padaku.


Namun, bukan nya mewujudkan impian nya. dia malah melempar pistol ku ke sembarang arah, dan mengatakan bahwa aku sudah gila.


entah kenapa? aku sangat nyaman dengan amarah nya padaku. hingga satu masa. aku harus pergi dari tempat itu dan bertugas jauh.


aku mengatakan pada Tari, dan dia mengatakan sangat senang karna akan segera terbebas dari gangguan ku padanya.


Hingga, 7 bulan lamanya. aku pun kembali mengejutkan wanita itu, rasa rindu yang sudah lama ku bendung. akhirnya aku bisa bertemu dengan nya lagi. walau Desi selalu mengirimkan foto Tari padaku. dan memberi kabar tentang Tari, namun rasanya sangat jauh berbeda,


Deru dada ku yang semakin bergemuruh hebat, tak sabar sekali ingin berjumpa dengan dirinya. hingga sengaja ku bawa beberapa mobil odong odong dan mengangkut beberapa orang dewasa dan kecil. ku minta mereka mengenakan kostum badut hewan.


sebenarnya aku tidak ingin melibatkan mamah,Namun dia terus saja memaksaku. hingga akhirnya ku biarkan mamah ikut serta dengan rombongan ku.


di tengah perjalanan baru ku tahu, bahwa mamah membawa kalung turun temurun itu, kalung yang dia dapatkan dari mertuanya dulu. dan sempat hendak di berikan pada Sinta.


"Mengapa mamah membawa kalung itu? Bima dan Tari belum tentu menikah mah, mengingat Tari masih dingin pada Bima" ucapku pada mamah. kala dia terus memandang kalung itu dengan penuh senyum bahagia.


"Entah lah nak, mamah merasa Tari akan mengenakan kalung ini. dan akan menjadi menantu mamah" jawabnya.


"Mamah terlalu yakin," ucapku.


"Dengar Nak, Tari wanita yang baik. langka di dunia ada wanita sebaik dia. kamu harus terus mengejar dia sampai dia luluh dan menerima kamu, pokonya mamah gak mau kalau bukan Tari yang jadi menantu mamah" jawabnya dengan bibir yang sedikit di majukan.


"Lah, kalau tari terus menolak Bima, itu artinya bima tidak boleh menikah dengan wanita lain dong?" ucapku


"Biarkan saja kamu jadi jomblo tua, dari pada kamu memberi mamah menantu yang salah" jawabnya seraya tertawa.


Beberapa lama mobil yang kami tumpangi, hingga kami tiba di kawasan pasar, klakson mobil sengaja di bunyikan hingga menimbulkan bunyi yang sangat bising. Ku lihat Tari keluar toko dengan wajah yang sangat bingung, terlebih kala pasukan badut hewan ku turun dan memenuhi halaman tokonya.


Hingga tanpa terduga dan tanpa mengikuti skenario ku, mamah menghampiri Tari dan memasangkan Kalung itu lehernya.


Aku pun menghampiri Tari, dan ada rasa ingin sekali berteriak kencang kala aku berhasil melihat wajah nya lagi,


Tari marah kala aku memintanya untuk bersedia memarahiku sepanjang hidupku.


"Dek,"

__ADS_1


"Apa"


"Pegal, bisa gak nyuruh aku bangun. aku lagi pake celana ketat"


Hal tak terduga kala kesakitan ku membuat wanita yang tidak pernah memberi senyumnya padaku. akhirnya menunjukan tawa nya padaku.


Itu adalah hal yang sangat membahagiakan bagiku, tak apa, kaki ku terasa keram. asal aku bisa melihat dia tertawa begitu.


Setelah kejadian tersebut, Tari mulai melerai jarak di antara kami. dia tidak sering memarahiku. bahkan setiap perjumpaan kami. dia sudah mulai terbiasa.


Hingga satu hari... aku memutuskan untuk mencoba melamarnya kembali, ya, walau aku tidak begitu yakin dia akan menerima ku.


dan sungguh tidak ku sangka sebelumnya. dia menerima lamaran ku padanya. dia mengatakan meminta ku mengajarinya cara membuka hati untuk ku.


air mataku tak kuasa menetes. sujud syukur ku atas apa yang telah Tuhan berikan. dengan mempertemukan ku dengan wanita sebaik tari. dan mengijinkan ku menjaga nya dengan sepenuh jiwa.


Obrolan antara dua keluarga pun terjadi. antusias dari anggota keluarga nampak jelas terlihat, hingga tiba masanya.


Aku meng halal kan tari menjadi istriku.


suara ijab qobul menggema di setiap sudut gedung yang ku sewa untuk menjadi saksi betapa bahagianya aku hari ini.


upacara demi upacara kami selesaikan dengan baik. walau kala upacara pedang Pora. Tari nampak begitu gemetar, ku pegang tangan nya dengan lembut, dan memberinya dukungan. hingga acara pun selesai dengan yang kami harapkan.


Jangan tanya? di mana kami berbulan madu.


Tari bukan wanita yang royal untuk dirinya sendiri. dia memasrahkan semua urusan itu padaku.


Beberapa bulan usia pernikahan kami, aku terus menggoda dan mengganggunya.


hingga kami di percayakan untuk menimang seorang bayi.


"Sayang, kamu mau melahirkan?" tanyaku kala tari merengut kesakitan


"Iya, aku kontraksi. cepat bawa aku ke rumah sakit" jawabnya di sela nafas nya.


"Ya ampun, Bima bawa saja uang untuk biaya aku bersalin" jawabnya di sela wajah memerahnya.


"Iya iya, ayo sayang." ucapku menuntun tari masuk ke mobil.


Karna kondisi malam, aku meminta mamah datang ke rumah dan menemani Dinda yang tengah tertidur lelap di kamarnya. .


"Sayang, kamu masih sakit?" ucapku


tidak ada jawaban dari wanita ku, yang membuatku semakin ketakutan.


"Sayang, kamu jangan pingsan disini ya?" ucapku sembari mengelus pucuk kepala nya.


"Berisik, bisa gak kamu nyetir saja yang benar, agar cepat sampai" jawabnya dengan wajah yang terus menahan sakit.


"Baik baik" ucapku


25 menit di perjalanan, akhirnya mobil kami pun tiba di salah satu rumah sakit di kota kami tinggal, aku membawa tari masuk dan meminta bantuan perawat di sana. hingga tari pun di bawa ke salah satu ruangan bersalin.


Namun, karna Tari pernah memiliki riwayat sesar sebelumnya, dan kebetulan menurut dokter bayi kami sedikit besar, akhirnya dokter pun melakukan tindakan oprasi sesar untuk mengeluarkan bayi kami.


Saat berada di dalam ruang oprasi, sungguh aku tidak ingin berada di sana untuk kedua kalinya.


Tari menjalankan operasi sesar, perut nya di belah untuk mengeluarkan bayi, kalian tahu? aku sampai menahan diri agar tetap sadar, rasanya aku ingin sekali pingsan.


Perut manusia di belah sedemikian rupa untuk mengeluarkan bayi. dan di jait kembali. bayangkan saja bagaimana rasa sakit itu.


Hingga. haru bahagia terpancar dari seluruh anggota keluarga, Ayah, Ibu dan mamah serta Bapak menangis bahagia.


Aku bahagia, sangat bahagia. karna tuhan telah memberikan ku seorang wanita berhati malaikat yang sangat peduli akan banyak orang.


Wanita yang menjadi jiwa dan kehidupan bagi kalangan orang, serta putra dan putri. yang selalu menyambut kepulangan ku dengan cerita dan tawa mereka.

__ADS_1


aku tidak pernah membedakan antara Dinda dan putra kandung ku, bagiku mereka sama. sama sama anak ku. anak yang sangat ku sayangi.


Kebahagian terus meliputi kehidupan ku. walau telah memiliki anak, namun aku masih merasa seperti pacaran dengan Tari, rasa Cinta ku pada nya semakin hari semakin membara saja. aku tidak bisa jika tidak bertemu dengan nya walau satu hari.


"Bima........"


"Iya sayang ku"


"Kamu jahil banget sih, masa kamu ngasih kado kaos kaki bau!"


"Ya ampun, aku salah kasih hadiah sayang"


"Kamu itu benar benar ya, lama lama aku darah tinggi"


"Jangan dong sayang"


Tuhan tahu mana yang terbaik buat kita, mungkin kita pernah merencanakan sesuatu. yang kita anggap sebagai salah satu kebahagiaan bagi kita. Namun sejujurnya. tuhan jauh lebih tahu.mana yang baik dan buruk bagi hambanya?


"Bima...."


"Iya sayang"


"Bisa gak kamu berhenti ngirim bunga ke rumah"


"Kenapa? memang nya kamu gak suka"


"Aku emang gak suka Bima!"


"Papah, udah tahu mamah takut ulet, malah bawa Bunga yang ada uletnya"


"Ya ampun sayang, aku lupa"


"Lama lama ini rumah jadi toko bunga"


"Iya deh iya, aku gak kirim bunga dulu"


Terima kasih, terima kasih banyak. hanya ucap syukur yang mampu ku utarakan pada sang pencipta.


"Happy Birthday sayang ku"


"Siapa yang ulang tahun?"


"Kamu lah, masa aku"


"Bima, sejak kapan aku ulang tahun dua kali dalam setahun?"


"Oh iya ya?"


"kamu ini benar benar ya, ada saja hal yang buat aku marah"


"Jadi bagaimana dong, mana kue nya gede banget lagi?"


"Kamu makan saja sendiri"


"Bisa kembung aku sayang kalau ngehabisin kue Segede meja"


"Bodo amat"


"Nak, ayo bantu papah"


"Enggak ah, Ade mau tidur"


"Kakak juga mau tidur pah"


begitu lah kehidupan ku, kehidupan yang sangat harmonis dan romantis di setiap harinya. walau menurut tari itu bukan romantis. karna menurutnya aku selalu jahil padanya. namun Tari selalu bisa membuatku bahagia. setiap ku membuka mata di pagi hari. dia selalu menyuguhi ku dengan senyum manisnya.


😊😊😊😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2