Bahagiaku Setelah Berpisah

Bahagiaku Setelah Berpisah
" TERTANGKAP NYA IBU MERTUA"


__ADS_3

Ku lihat Adinda masih berada di belakang meja kasir. itu tandanya dia tidak akan melihat adegan yang tidak patut di contohnya.


.Desi masih melihatku dengan tatapan heran. mungkin dia pun tak menduga amarahku sampai begini.


ku ambil mangkuk yang berada di atas meja. ku hampiri ibu mertua yang panik. karna melihat ku membawa mangkuk. ku pukul kan mangkuk itu ke pipi dan pelipis bibirku.


hingga meninggalkan darah segar yang mengalir. ku acak acak rambut ku.


ku ambil dua tangan ibu mertua dan memaksanya memegang kepalaku.


lekas aku pun berteriak histeris. sampai membuat beberapa orang di pasar berkumpul. dan berupaya memisahkan kami.


aku terus memegang tangan ibu mertua. agar dia tidak melepaskan pegangan nya dari kepala ku. beberapa orang ku dengar berusaha membujuk dan memegang tangan kami memisahkan.


hingga beberapa waktu aku pun melepaskan tangan ibu mertua.


"Ibu, kenapa ibu jahat sama saya. Saya selalu memberikan ibu uang tapi sekarang saya sudah bercerai dengan anak ibu. mengapa ibu masih saja memeras dan memukul saya"


Aku pun berpura pura menangis. hingga beberapa ibu ibu memeluk ku dan kasihan padaku.


ku lihat ibu mertua hanya kebingungan dengan apa yang aku lakukan. Desi pun nampak kebingungan dengan apa yang dia lihat.


"Jangan gitu dong Bu, sudah tua bukan nya bertaubat malah dzolim pada mantu"


"Iya, saya sering.lihat ibu. bikin onar disini"


"Jahat banget sih jadi orang, sampai anak orang berdarah gini"


"Dia itu udah cerai dengan anak ibu, harus nya sadar dong. jangan memeras gini"


Beberapa umpatan kebencian Mertua ku dapatkan dari orang orang yang merasa iba padaku.


"Bukan, saya tidak memukul nya. dia yang menampar saya" bela ibu mertuaku.


"Jangan bohong, jelas jelas saya lihat tadi ibu sedang menjambak mbak ini"


"Iya, saya juga lihat, dan ini ya ampun sampai pecah begini mangkuk nya"


"Jangan jangan mbak nya di pukul pake mangkuk ya?"


"Tidak, Saya tidak melakukan apapun. wanita ini berbohong dia itu pembawa sial"


"Udahlah bawa saja ke kantor polisi pak, sudah melakukan penganiayaan. masih saja bilang orang pembawa sial"


Beberapa bapak bapak pun memegang tangan ibu mertua. dan hendak membawanya ke kantor polisi.


"Jangan pak, saya mohon jangan bawa ibu ke kantor polisi, saya tidak apa apa kok saya ikhlas" ucapku sambil memohon pada beberapa bapak bapak yang hendak membawa ibu mertua.

__ADS_1


"Jangan gitu mbak, nanti dia malah semena mena"


"Gak apa apa kok Bu, mungkin ibu akan berubah. tolong lepaskan dia"


"Tuh, lihat menantu nya baik gini tapi dia nya jahat banget"


"Tau, masih ada aja orang kaya gini, udah tua bukan nya bertambah baik malah bikin onar"


"Kalau saya jadi mantunya, udah saya kasih racun"


umpatan demi umpatan mertuaku dapatkan. ku lihat ada raut malu yang teramat sangat di wajahnya. dia pun pergi meninggalkan toko dengan di iringi sorak dan umpatan dari beberapa orang ini.


Lihat Bu, Tari yang ibu buat kini bisa melawan ibu.


Itu yang pernah ibu lakukan padaku. tamparan, pukulan, dan juga fitnahan yang membuatku di benci dan di cemooh orang orang di sekitar rumah itu. rumah yang sempat ku tempati.


bagaimana? apakah enak di benci oleh orang banyak?


malu, tentu itu akan sangat malu.


"mbak mau saya antar ke klinik?" ucap salah satu ibu ibu.


"Oh, tidak usah Bu. di toko ada P3K. saya akan mengobatinya. lagian ini hanya luka kecil"


"Oh, ya sudah kalau begitu. kami pamit ya"


mereka pun pergi meninggalkan toko.


aku berjalan masuk ke toko. ada rasa sakit di bagian pipi dan bibir ku.


dan pusing di bagian kepala ku. karna aku tadi memutar kepala ku ke segala arah agar nampak di Jambak.


"Gila kamu Tar, gak nyangka kamu bakal bertindak begitu"


ucap Desi seraya membawa kotak obat menghampiri ku.


"Adinda gak lihat kan adegan tadi?"


"Tidak, tadi dia sempat terpancing lalu aku langsung membawanya ke belakang"


"Bagus lah,"


"Dari mana kamu dapat ide gila begitu?"


"untuk membuat ikan terpancing, kita membutuhkan umpan bukan?"


"Ya, tapi aku puas melihat wajah mertuamu tadi begitu, dia pasti malu luar biasa hhaa"

__ADS_1


"Ya, biarkan dia merasakan apa yang pernah ku rasakan."


tawa kemenangan menyeruak di antara kami berdua. Adinda menghampiri kami. dia melihat wajah ku berdarah. alangkah satu hal yang tidak terduga sebelumnya. dia memeluk ku erat, dan mengelap darah di bibir ku seraya menangis.


sesekali dia mencium pipiku. lalu kembali memeluk ku erat, pemandangan yang di lakukan gadis kecil ini. membuat ku dan Desi saling tatap dan di penuhi kebingungan.


apa Adinda menyayangiku?


"Sayang, Tante gak apa apa, kamu main lagi di sana ya!" ucapku seraya menyuruh nya menjauh.


aku tak ingin dia mendengar kata kata jahat dan kotor yang kami keluarkan dan di dengar olehnya. karna ku tahu anak kecil akan sangat cepat menangkap apa yang dia dengar dan lihat.


aku tak ingin Dinda melakukan dan menirukan apa yang aku lakukan dan ucapkan.


"Harusnya kamu biarkan wanita tua itu di bawa ke kantor polisi tadi. biar sekalian membusuk bersama anak nya"


"Tidak, bukan saatnya"


"Lalu kapan? kan kamu tahu dia juga terlibat. bukti sudah ada di tangan"


"Aku pasti menyeretnya ke penjara, tapi dengan cara yang berbeda"


"Bagaimana? apa kamu memiliki rencana? ayo libatkan aku"


Wanita cantik ini begitu ambisius menyiksa mertuaku. aku yang tersakiti. tapi dia yang sangat membencinya.


"Kamu akan tahu, ayo sekarang telpon polisi dan kirim bukti rekaman itu pada mereka"


Desi pun melakukan apa yang aku perintahkan. nampak nya dia masih bingung dengan apa yang aku rencanakan.


"Lalu, apa rencananya?"


"Nanti kita akan tahu"


Polisi mengabari bahwa mereka tengah menuju rumah mertuaku. sengaja aku tidak membuatnya di bawa warga tadi.


agar polisi menjemputnya di rumah nya. dan di saksikan oleh suami dan anak nya.


Semua itu agar membersihkan namaku. dengan begitu. polisi akan menjelaskan pada mereka dan namaku akan kembali bersih.


beda jika tadi ku biarkan dia di bawa ke kantor polisi. wanita dengan mulut ular ini bisa saja membalikkan kata di sana. dan bapak mertua semakin membenciku.


malah imbasnya namaku akan semakin jelek.


beberapa waktu berlalu. pesan masuk dari polisi yang menjemput mertuaku. dia mengabari sudah menangkap ibu mertua walau dengan beberapa drama.


itu lah mertuaku. apa menurut mereka mudah mengalahkan dirinya. tidak hanya orang bodoh yang berusaha mengalahkan nya dengan otot.

__ADS_1


kita harus bermain cantik menggunakan otak, jika ingin mengalahkan orang yang licik seperti mereka...


__ADS_2