
Bagaimana caraku menjawab ucapan mamah, Sinta beberapa kali menarik tangan ku memintaku untuk pergi saja. namun aku terus meyakinkan nya bahwa kita harus mendapatkan ijin mamah.
"Mah, Bima masih ada simpanan kok di bank. " jawabku pada mamah.
Seketika mamah menghadap ke arah kami berdua.
"Kamu sepertinya tidak merasa sedih sedikitpun, walau terpisah dari anak mu?" tanya mamah pada Sinta.
"Saya sedih kok Mah, tapi bagaimana lagi saya tidak di ijinkan bertemu mereka" jawab Sinta.
"Tapi saya sama sekali tidak melihat itu di mata kamu, seorang ibu. tidak akan bisa merawat dirinya. apalagi sampai bisa bertahan berada jauh dari anak nya, tapi rupanya kamu tidak. buktinya wajah kamu begitu terawat" ucap mamah terus melihat ke arah Sinta
"Mamah kenapa bilang begitu? Sinta sedih kok. hampir tiap malam Sinta menangisi anak Sinta." jawab Sinta.
"Saya bukan mamah mu, karna anak saya belum resmi menikahi mu" ucap mamah.
Sinta langsung terdiam, dia langsung memintaku untuk pergi.
"mah." ucapku.
"Dengar Nak, semua keputusan ada di tangan mu. tapi mamah hanya berpesan bijak lah dalam memilih keputusan" jawabnya seraya berjalan meninggalkan ku dan Sinta.
Aku tertunduk. apa mamah tidak merestui hubungan ku dengan Sinta?
padahal mamah sangat tahu, bahwa aku sangat mencintai Sinta..
"Mamah mu ngeselin banget sih Bim!" celetuk Sinta dengan suara sedikit tinggi. yang ku lihat mamah sampai berhenti melangkah sampai melanjutkan langkah nya kembali.
"Kenapa kamu bicara begitu? dia itu mamah ku. dan juga akan menjadi mamah mu" jawabku.
"Pokonya kalau kita sudah menikah. aku mau kamu belikan rumah untuk ku. aku gak mau tinggal dengan mamah mu," ucapnya.
"Sinta, kamu tahu biaya membeli sebuah rumah itu tidak sedikit? bukan nya kamu mau acara pertunangan dan pernikahan kita begitu meriah" jawabku.
"Ya sudah, kalau kamu tidak bisa membeli rumah tak apa, kita Carikan saja rumah kontrakan untuk mamah mu. atau kita minta mamah mu tinggal di panti jompo" ucapnya membuatku kaget.
"Sinta, kamu sadar sedang bicara apa?" jawabku yang membuat sinta kaget
"Eemm, maaf Bim. aku khilaf aku asal bicara tadi. maaf ya" ucapnya seraya bergelayut di tangan ku.
__ADS_1
Dan ini lah yang akan terjadi padaku. aku akan selalu luluh dengan kemanjaan Sinta. aku selalu tidak bisa marah padanya.
********
Aku beberapa kali membujuk mamah untuk memberikan restunya padaku. walau dengan kesabaran yang begitu besar.
hingga tiba saat hari dimana aku bertunangan.
gedung yang ku pesan lengkap dengan dekorasi dan hidangan dari catering ternama yang Sinta mau sudah siap.
mamah datang dengan ku. mamah begitu cantik mengenakan kebaya berwarna Moccha.
Namun, mamah masih tidak memberikan senyum nya di hari istimewa ku.
Sinta juga begitu cantik dengan kebaya yang dia pesan. keluarga kami telah kumpul semua.
"Kamu sampai menghabiskan biaya besar hanya untuk bertunangan," ucap mamah padaku.
"Tidak kok mah, ini hanya 35 juta" jawabku.
"35 juta berapa bulan gaji mu?" ucap mamah.
Memang selama ini, mamah tidak pernah tahu seberapa besar gaji ku. mamah tidak pernah memberatkan ku. namun memang setiap bulan nya aku akan mengirim uang pada rekening mamah. Namun mamah tetap tidak tahu seberapa penghasilan ku.
"Kamu bisa bilang tidak besar karna kamu tidak bekerja, karna kerjamu hanya meminta pada anak saya" jawab mamah seraya berjalan duduk di kursi tamu.
"Sin, aku minta kamu harus lebih sabar lagi menghadapi mamah. sebisa mungkin kamu jangan menjawab ucapan mamah" ucapku pada Sinta.
"Memang nya aku salah apa? emang benar kok yang aku bilang" jawab Sinta. sembari berjalan meninggalkan ku.
"Sin, aku mohon. setelah ini kamu berbaik baik pada mamah. dan berusaha mencuri hati mamah" ucapku menarik lengan sinta
"iya iya, nanti aku akan berusaha membujuk mamah mu. tapi kalau tidak berhasil jangan salah kan aku" jawabnya seraya berjalan menghampiri keluarganya
Acara pertunangan pun berjalan lancar, walau wajah mamah masih datar, dan mamah tidak ikut naik di atas panggung. namun acara ini sudah berjalan dengan lancar. aku beberapa kali meminta mamah untuk makan. namun dia menolak. dengan beralasan telah masak di rumah.
Acara pertunangan yang cukup meriah, lebih banyak di hadiri keluarga Sinta, keluarga ku tidak banyak yang datang. karna mamah hanya memberi tahu keluarga yang tinggal satu kota dengan kami. entah apa yang ada di pikiran Mamah?
Apa mamah masih belum memberi ku restu untuk menikahi Sinta?
__ADS_1
***********
Pertunangan ku dan Sinta sudah memasuki usia satu tahun lama nya, aku memang belum menikahi Sinta. selain tengah mengumpulkan uang untuk biaya pernikahan, karna Sinta menginginkan acara pernikahan kami berjalan begitu meriah.
Selain itu, biaya kebutuhan Sinta yang semakin hari semakin melejit membuat tabungan ku tidak bisa terkumpul dengan cepat. ada saja yang Sinta minta.
Mungkin jika hanya membeli pakaian atau kosmetik yang dia butuhkan tak jadi masalah bagiku. Namun tak jarang dia meminta untuk kumpul kumpul dengan teman teman nya. bahkan meminta uang untuk merenovasi rumah orang tuanya. yang biaya nya tidak sedikit.
Hari itu......
"Bim, rumah orang tuaku perlu di renovasi." ucapnya.kala kami tengah makan di sebuah cafe.
"Lalu?" jawabku.
"Ya aku mau minta uang untuk merenovasi rumah mereka, gak banyak kok. paling cuma 500 juta saja" ucapnya. yang seketika membuat ku tersedak.
"Apa?, Maaf sin aku tak ada uang sebanyak itu. kamu sendiri tahu gaji ku berapa? lagian bukan nya kamu mau acara pernikahan kita berjalan mewah" jawabku
"Kamu pelit banget si Bim, orang tuaku itu bakal jadi orang tuamu juga. masa belum apa apa udah perhitungan" ucapnya.
"Aku bukan perhitungan Sin, tabungan ku saja baru ada 250 juta. itu pun belum cukup untuk acara pernikahan yang kamu inginkan. yang bisa menghabiskan 450 juta" jawabku.
Sinta tidak menjawab ucapan ku.
"Kamu mau kemana?" tanyaku karna Sinta bangkit dari duduk nya.
"Aku mau pergi, males bicara sama kamu" jawabnya.
"Kamu jangan gitu dong sin, kamu tahu seberapa aku sayang sama kamu? itu sebab nya aku berusaha mewujudkan apapun yang kamu mau." ucapku menahan langkah Sinta.
"Ya sudah gak apa apa, tapi aku memang harus pergi. aku ada janji dengan teman ku. aku boleh minta uang buat tranportasi?" jawabnya sembari menadahkan tangan nya di hadapan ku.
"Ya sudah," ku ambil dompet dan membukanya. Namun hal tidak terduga kembali terjadi. Sinta mengambil semua uang di dompet ku.
"Sin, jangan di ambil semua. aku belum bayar makanan kita" ucapku
"Kamu bayar pake kartu saja sayang, aku pergi dulu ya" jawabnya seraya memberi senyum terindah padaku.
Ini lah aku, karna terlalu mencintai wanita itu. aku tidak pernah bisa marah padanya. kepercayaan ku padanya selalu sepenuhnya.
__ADS_1
Walau hubungan kami sudah berjalan satu tahun satu lamanya. Namun Mamah masih belum juga memberi kan restunya padaku..
Aku tak tahu lagi, harus meminta restu dengan cara apa pada mamah?....