
" Tok Tok Tok...
Dari dalam kamar ku dengar pintu rumah ku di ketuk. entah siapa yang berkunjung.
sedangkan Desi mengabari akan berkunjung sore setelah toko tutup. dia juga akan menginap dan menemaniku.
lalu siapa yang berkunjung di tengah hari ini?
Aku pun berjalan ke pintu depan. dan meninggalkan Adinda yang tengah tidur siang.
"Assalamualaikum "
terdengar suara salam yang tidak asing bagiku. Desi?
"Waalaikumusallam " jawabku dari dalam.
Aku pun lekas membuka pintu. dan alangkah terkejutnya aku. melihat Desi berkunjung.
bukan hanya Desi melainkan ada Ayah dan Ibu.
beberapa waktu kami saling diam.
ada rasa ingin memeluk mereka. namun rasa takut dan mengingat amarah Ayah. aku mengurungkan niat untuk melakukan itu.
"Tari" ucap Ibu seraya memelukku erat.
Mengapa Ibu menangis. apa yang telah terjadi? mengapa Desi bisa mengenal dan bersama mereka?
Aku memeluk Ibu erat, ku tumpahkan semua rindu yang tersimpan selama ini.
Namun tiba tiba Ayah pun ikut larut dan memeluk kami.
Tangis Ayah pun pecah, entah apa yang terjadi?
namun aku sangat bahagia. kemarahan orang tua ku telah redam.
"Ayo masuk" aku pun mempersilahkan kedua orang tuaku dan Desi masuk.
"Maaf ya,belum ada kursi jadi duduk nya hanya di tikar ini"
"Tidak apa apa Tar," jawab Ibu seraya duduk.
"Eemm, Ayah ibu mau Tari buatkan minum apa?"
"Tidak apa apa"
"Kamu duduk aja di sini, biar aku yang buatkan minum" Desi menyuruhku duduk.
"Nak, Apa semarah itu kamu pada kami, sampai kamu tidak menemui kami saat kamu sedang menderita?"
Ayah membuka pembicaraan.
"Apa yang Ayah katakan?"
"Kami sudah tahu semuanya Tar,"
"Bagaimana bisa?"
"Aku yang memberi tahu mereka kebenaran nya, Aku gak bisa diam saja melihat kamu terus di salahkan." Desi datang sembari membawa air
"kenapa kamu diam saja? "
__ADS_1
"Semua sudah berlalu Yah, dan Adit pun sudah di tahan bagi Tari itu semua sudah selesai, sekarang Tari sedang mengurus surat surat perceraian di pengadilan"
"Iya, Ayah dukung,"
"Apa Ayah tidak marah dan menyesal jika Tari menceraikan Adit?"
"Tidak, sungguh Tidak. terlebih setelah Ayah mengetahui kebenaran nya. Ayah tidak ingin dia tetap bersama kamu"
"Makasih Yah"
"Tidak, seharusnya Ayah yang Minta Maaf, karna Ayah kamu sampai menderita begini"
"Tidak Yah, itu bukan salah Ayah. semua karna keadaan. Siapapun akan menganggap Adit adalah lelaki yang Sholeh. jika tidak terjadi seperti ini"
"Maaf kan Ayah, jika Ayah tahu semua lebih Awal. mungkin cucu Ayah masih bisa terselamatkan"
Aku menunduk sejenak. Kesedihan mulai menguasai ku kenangan akan buah hati yang ku nantikan. sirna sudah
jangan kan menggendong nya. sekedar melihat nya saja aku tidak bisa.
jika bukan foto yang Desi ambil. mungkin aku tidak akan pernah melihat sosok bayi kecil ku.
"Semua sudah terjadi Yah, Tari sudah mulai belajar ikhlas kan semua nya. mungkin Allah lebih menyayangi nya, jadi dia di tempatkan di surga tempat yang abadi akan keindahannya"
Ku lihat Ibu, Desi dan Ayah masih menunduk.
Desi mengelap sudut matanya. ku tahu dia menangis.
wanita yang biasanya tegar, dia meneteskan air mata setiap kali aku membicarakan bayiku.
aku bisa merasakan. betapa dia menyayangi anak ku. sampai aku sebagai ibunya pun tahu. bahwa dia juga sakit akan kepergian bayiku.
Aku beranjak berdiri dan mengambil sebuah bingkai dengan ukuran 10x10 R
Ayah menyambut bingkai yang ku beri. tangis pun pecah kala Ayah meraba foto bayi kecil itu. ibu menangis tersedu. begitu juga Desi.
tangis nya tak bisa lagi dia bendung.
"Cucu Ayah, begitu cantik. dia sangat putih bersih" ucap ayah di sela tangisnya.
"Dia memang cantik Yah, Tari yakin. dia akan menunggu Tari di pintu surga, semoga kita bisa bersatu di sana"
"Aamiin" .
tangis pun menguasai tiga manusia di depan ku. Ada rasa ingin ikut serta menangis. namun rasanya air mataku telah habis.
kini hanya ada beberapa rencana yang harus ku selesaikan segera.
"Bagaimana keadaan mu sekarang, Maaf ayah tak mengunjungimu di rumah sakit"
"Tari sudah mulai membaik, hanya belum bisa bekerja berat."
"Kamu harus banyak istirahat, jangan banyak pikiran jika ada apa apa kabari Ayah"
"Iya yah, terima kasih"
Sungguh bahagia ku hari ini. orang tuaku kembali kepadaku. meski beberapa waktu yang lalu. kesedihan menyelimuti ku.
tapi semua mulai kembali.
Saat tengah mengobrol. ku tangkap mata Ayah yang melihat ke arah kamar ku.
__ADS_1
Aku pun melirik ke belakang. dan ku dapati Adinda tengah berdiri sedikit mengumpat. mungkin gadis kecil itu takut akan orang asing. yang baru di lihat nya.
"Dinda, sini sayang" panggilku pada gadis kecil itu.
tak butuh waktu lama. gadis kecil itu menghampiri aku dan duduk di samping ku.
"Salim sama Ayah dan ibu Tante"
ku arahkan agar anak itu menghormati orang tua. karna adab itu yang selalu ku peragakan jika bertemu kedua orang tuaku.
gadis kecil itu awalnya ragu. namun setelah ku yakin kan. dia pun mengikuti arahan yang ku berikan.
"Ini.." Tanya ayah. sambil melihat Dinda.
" Ini Adinda Yah, anak Adit dan..."
"Anita"
Belum sempat aku bicara, Ayah telah memotong ucapan ku.
dari mana Ayah Tahu? apa Desi memberi Tahukan semua termasuk hubungan Adit dan Anita.
"Iya Yah"
"Mengapa kamu tidak antarkan dia ke rumah kakek dan nenek nya?"
"Sudah Yah, tapi mereka tak percaya jika Dinda ini anak nya Adit"
"Lalu,?"
"Karna Tari kasihan. Dinda tak tahu harus Tari antarkan kemana? sedangkan orang tua Anita telah meninggal. jadi Tari memutuskan untuk mengurusnya"
"Semudah itu kah Nak?" tiba tiba Ibu bertanya sambil menatapku
"Maksud Ibu?"
"Semudah itu kamu mengurus Anak dari suamimu. dan wanita yang hendak membunuhmu?"
Ya, ternyata dugaan ku benar, Ayah dan Ibu sudah mengetahui semua nya.
"Yang salah orang tuanya Bu, bukan Dinda. lagipun jauh sebelum Tari tahu siapa Anita. dia sudah menjadi teman Tari"
"Teman tidak akan tega membunuh dan merebut suamimu?" tatapan ibu nampak ada kebencian disana.
"Tari tidak tahu? karna hubungan mereka terjalin sebelum Tari menikah dengan Adit. atau malah bersamaan"
Aku tidak bisa menghakimi siapa yang salah disini. entah Anita yang merebut Adit. atau malah di hari yang sama Adit bersama dia. yang jelas ku tahu. Adinda usianya hanya beda sedikit dengan usia pernikahan ku.
yang berarti sebelum aku dan Adit menikah.
Anita telah berhubungan dengan Adit.
"Setelah bercerai, apa yang akan kamu lakukan?"
"Seperti rencana awal, Tari akan menuntut hukuman yang pantas untuk dua orang itu, Tari tidak akan membiarkan mereka bebas. karna kesalahan mereka kesalahan yang fatal"
Kebencian sudah merusak jiwa baikku terhadap mereka berdua. jika mereka hanya berniat membunuhku. mungkin aku bisa memaafkan dengan lambat waktu.
namun ini, mereka telah membunuh bayiku. dan aku sampai tidak bisa melihat anakku karna perbuatan mereka.
perbuatan mereka harus di bayar mahal.
__ADS_1
jika tidak dengan kematian. maka aku akan pastikan mereka akan terkurung seumur hidup mereka.
Nyawa haruslah di bayar dengan nyawa. baru setelah itu. jiwa ku akan tenang menjalani hidup...