Bahagiaku Setelah Berpisah

Bahagiaku Setelah Berpisah
"KEMALINGAN"


__ADS_3

Setelah berbincang cukup panjang lebar dengan pemilik rumah ini, dan melihat lihat seluruh sudut bangunan dan mengetahui harga dari rumah tersebut.


aku meminta Desi untuk bicara pada pemilik rumah untuk meminta waktu satu bulan. karna aku sendiri tidak tahu uang simpanan ku di bank jumlah nya cukup atau malah kurang jauh,


Setelah di rasa urusan kami selesai. aku dan Desi pun pamit.


"Gimana kamu jadi beli rumah itu?"


"Aku pribadi sih suka tempatnya"


"Lalu?"


"Aku belum Cek tabungan ku di bank, entah jumlah nya cukup atau malah kurang banyak"


"Oh, rencana kamu kapan mau ngecek tabungan kamu?"


"Paling besok Des, soalnya sekarang udah sore juga bank pasti tutup"


"Kalau tabungan kamu gak cukup gimana?"


"Itu yang jadi PR nya, Tapi aku harus cari tambahan nya."


"Iya, Rumah nya enak adem"


"Iya, selain rumah nya adem aku harus memiliki rumah, kamu lihat sendiri mertuaku sikap nya tidak berubah bahkan setelah dia tahu aku tengah mengandung"


"Kamu yang sabar ya, semoga rejeki kamu bertambah lancar dengan sikap mereka"


"Aamiin"


kami pun berjalan ke rumah masing masing.


sesampainya di rumah. ku lihat ibu mertua tengah berada di warung sebelah bersama dengan beberapa ibu ibu.


Aku pun hanya berjalan karna seharian ini aku merasa lelah. mungkin karna sekarang tengah hamil. jadi mood dan tenaga ku mulai berkurang,


"Tuh Lihat katanya menantu yang berbudi. tapi gak ada sopan sopan nya ke mertua"


Ucap ibu mertua pada beberapa ibu ibu yang melihat ku lewat. aku rasa dia sengaja berkata begitu, agar mereka memandangku buruk.


entah dimana pola pikir mertuaku ini. apa tidak cukup tadi dia marah marah dan membuat onar di toko. sekarang dia berulah di sini.


Aku masih berusaha tenang. walau kaki ini terasa berat untuk di langkahkan.


saat aku berusaha untuk melanjutkan perjalanan.


"Padahal kurang apa coba saya, saya masak dan membereskan rumah dia. tapi dia malah bersikap begini ke saya"


lagi lagi mertuaku berucap kebohongan. sejak kapan dia membereskan rumah ku.


rasanya aku ingin segera pindah dari sini. agar mertuaku tidak mengusik hidupku.


"Masa sih Bu. Ibu yang membereskan semua pekerjaan?" tanya salah satu ibu.


"Iya, padahal saya sudah tua. tenaga saya sudah tidak seperti dulu tapi mau bagaimana lagi"

__ADS_1


"Ya, kan Neng Tari sedang hamil dan dia juga bekerja Bu."


"Itu bukan alasan. Lagian dia kerja juga agar bisa menghindar dari kewajiban. padahal kurang apa anak saya memberi dia nafkah yang besar tiap bulan nya"


"Ya ampun. kasihan sekali ibu ya"


"Ya mau gimana lagi. mungkin itu karna didikan orang tuanya yang tidak bisa menasehati anak nya. jadi menantu saya begitu"


Cukup sudah. aku sudah tidak tahan lagi dengan kebohongan mertuaku ini. dia bisa menghinaku dan memfitnahku. tapi, tidak untuk orang tuaku.


"Maaf ya Bu. Tapi saya kan tidak pernah meminta ibu untuk membereskan rumah. karna sebelum saya pergi sudah saya bereskan"


Seketika ibu mertuaku memasang wajah merah padam. mungkin dia tidak berpikir aku akan menjawab dan menghampiri dirinya.


"Masa sih. tadi bukan nya ibu bilang ibu yang selalu membereskan semua?" jawab salah satu ibu. bertanya pada mertuaku.


"Jangan dengarkan dia. dia itu pembohong besar" ucap ibu mertuaku dengan nada sedikit meninggi.


"Iya, benar yang di katakan mertua saya. jangan percaya pada manusia Bu. karna itu bisa saja musyrik"


Ku lihat wajah mertuaku yang siap meledakan amarahnya.


"Dan satu lagi, saya tidak tahu penilaian orang lain pada keluarga saya. tapi menurut saya orang tua saya cukup baik mendidik saya sebagai anak, apa lagi tentang tanggung jawab"


Semua orang yang ada di sana hanya diam dan menatap ku. kemudian beralih menatap mertuaku,


Tanpa menunggu jawaban aku berlalu meninggalkan mereka dengan keheningan yang tercipta.


tidak peduli seberapa tersinggung nya ibu mertua saat ini. tapi aku tidak akan pernah terima jika ada orang yang menghina orang tuaku.


aku pun masuk ke rumah. saat aku masuk ke kamar untuk beristirahat sungguh terkejutnya aku. semua barang barang ku berceceran di lantai.


ku lihat isi lemari ku semua nya berantakan.


bahkan laci laci meja hias pun terbuka.


seketika aku teringat akan uang yang ku simpan di bawah lipatan baju ku. uang yang sengaja ku simpan untuk membayar air dan listrik.


dan benar saja uang tersebut hilang.


aku pun berjalan ke luar.


"Maling, ada maling" teriakku yang membuat beberapa ibu ibu berlari ke arahku.


bahkan ada beberapa bapak bapak yang ikut menghampiri ku.


"Mana maling nya Neng"


"Saya tidak tahu pak. tapi barang barang saya berantakan. dan uang untuk membayar listrik dan air hilang"


Mereka pun saling bertanya dan saling tatap. tidak sama dengan mertuaku dia hanya diam di tempat semula tanpa memiliki empati sedikitpun


Tapi ku lihat ada kepanikan di wajah nya. apa jangan jangan?


"Tapi kami tidak lihat ada yang masuk"

__ADS_1


"Saya tidak tahu Bu. ayo lihat kedalam"


aku pun masuk dan di susul semua warga yang penasaran akan ceritaku barusan.


saat masuk mereka semua saling mengobrol


"Ih, iya benar sampai berantakan begini?"


"Tapi, kapan maling itu masuk ya?"


"Saya dari tadi di teras, tidak lihat ada yang masuk?"


"Itu lihat, sampai berceceran begitu?"


"Berapa yang hilang Neng?"


"Coba cek takut nya ada surat surat penting hilang"


"Tidak ada Bu, hanya uang saja yang hilang" tegasku.


"Hilang berapa?"


"Sekitar 300 ribuan Bu. itu untuk membayar listrik dan air. dan sisanya untuk belanja"


"Ya ampun,"


"Perasaan tidak ada yang masuk, Cuma mertua kamu"


"Iya benar, dari tadi siang bukan nya dia yang ada di rumah ya?"


"Iya iya benar"


Mereka semua saling bertanya?


tapi apa benar jika mertuaku yang tega mengambil uang? untuk apa.


mengapa dia tega sekali.


Akhirnya semua warga yang masuk pun kembali ke luar dan pulang masing masing. tapi aku mendengar mereka berbicara saat keluar rumah.


Aku pun pergi ke teras. ibu mertuaku masih duduk di tempat yang sama.


jika benar dia yang melakukan. sungguh terlalu.


"Bu, itu menantunya kemalingan kok diam saja?"


"Lalu saya harus apa? mungkin itu azab karma dia pelit sama saya dan anak saya"


"Tapi, bukan nya dari siang ibu yang ada di dalam ya?"


"Itu, Saya eemm tidak tahu?"


sengaja aku tidak menghampiri mereka. aku ingin melihat jawaban yang di lontarkan mertuaku.


apa benar dia yang mengambil uang ku?

__ADS_1


__ADS_2