
Semua mata terfokus pada Anita, Adit menunjuk Anita. apa dia juga terlibat dalam upaya membunuhku?
"Apa yang kamu katakan?" aku memberi penekanan pada Adit.
"Ya, jika aku di tahan, maka Anita juga harus di tahan karna dia yang memberikan ide itu"
"Apa yang kamu katakan, aku hanya memberi saran untuk melukai Tari bukan membunuh anak nya!" Anita membela dirinya.
"Jangan ngelak Anita, kamu tahu Tari sedang hamil besar, jika Tari mati maka anak nya pun akan mati. bukan nya kamu bilang bahwa anak itu adalah penghalang"
Plak...
Satu tamparan mendarat di pipi Anita. Desi menampar Anita begitu keras. sampai meninggalkan tanda merah di pipi wanita itu.
aku sendiri masih tidak menyangka bahwa teman yang ku kasihi, bisa bisa nya dia bersekongkol dengan suamiku untuk membunuhku.
"Gila kamu, Bisa bisanya kamu berbuat itu pada Tari, kamu lupa dia sudah sangat baik padamu. sampai menyelamatkan nyawa putrimu!" ucap Desi murka.
"Jangan ikut campur kamu Desi!" jawab Anita
"Dasar perempuan tak tahu diri, sudah di tolong malah menghancurkan. Lihat Tar, wanita yang kamu kasihi, yang kamu pikirkan nasib nya setiap saat. bisa bisanya dia berusaha membunuhmu"
Aku masih tidak menyangka bahwa Anita terlibat. dua polisi itu kini sudah berada di belakang Anita dan Adit. mungkin mereka takut jika salah satu dari mereka kabur keluar.
"Sayang, ku mohon bebaskan aku. aku hanya di jebak oleh wanita ini"
"Apa apaan ini, kamu menyalahkan kesalahan ini padaku? jelas jelas kamu yang menabraknya"
"Iya, tapi kamu dalang nya"
"Aku hanya ingin kamu membunuh Tari, bukan malah anaknya"
Plak..
kali ini aku sudah tidak tahan. ku tampar Anita tepat di hadapan semua orang yang ada di dalam ruangan ini. bahkan karna keributan ini. beberapa orang berdiri di balik pintu mencari tahu apa yang terjadi.
nafas ku memburu, ingin rasanya ku cabik cabik wanita ini, wanita yang ku tolong tanpa pamrih, wanita yang pentingkan segalanya bahkan sampai mendapat amarah dari mertua demi membelanya.
ini kah yang aku dapat, setelah selama ini bersikap baik pada wanita ini?
bukan cuma racun yang dia balas kan. melainkan kematian ku. dan berhasil merenggut bayiku yang tiada dosa.
"Tutup mulut kotormu Anita!"
kata kata ku berhasil membuat wanita yang ku tampar diam tidak berkutik.
"Berani kamu ya, selama ini aku membantumu tanpa pamrih. menyelamatkan anakmu dari kematian, tapi kamu berusaha membunuhku? untuk apa?"
Hanya tatapan yang tak berpaling sedikitpun.
"Aku iri sama kamu, hidupmu lebih baik dari aku, kamu lihat aku sampai kelaparan karna tidak ada makanan. sedangkan kamu kamu bisa mencari uang sendiri"
"Apa itu yang membuat kamu berniat membunuhku?"
__ADS_1
"Ya, dengan kamu mati. Adit hanya akan menjadi milikku.dan uang yang kamu miliki juga akan menjadi milikku"
"Hhaaa,, dasar wanita bodoh. kamu pikir lelaki ini begitu baik? tanpa kamu tahu dia telah tidur dengan banyak wanita!"
"Apa?"
"Kenapa? kamu tidak tahu, tapi tenang keinginan mu akan ku penuhi. kau akan bersama dengan nya di dalam sel"
"Tidak sayang, aku tidak mau di penjara. kalau ada yang di penjara bukan aku tapi dia" Adit memohon yang membuatku semakin jijik.
"Kamu yakin ingin memperkarakan aku Tar?" kali ini Anita yang bertanya.
"Tentu saja, menurut mu perbuatan mu pantas kah di maafkan?"
"Kamu harus pikirkan lagi Tar, aku ada Adinda yang masih membutuhkan aku"
"Adinda tidak butuh ibu sejahat kamu Anita, bahkan kamu tidak pantas menjadi teman, sahabat ataupun ibu siapapun"
"Kamu jangan sejahat ini padaku Tar"
"Jahat, apa kah kata kata itu pantas untuk mu? setelah semua yang aku lakukan untuk mu, kamu justru berniat membunuhku"
"Aku khilaf Tar,"
"Baik, aku akan membebaskan kalian, dengan syarat"
"Apa, apa itu"
"Iya, apa itu sayang, Aku akan memenuhinya"
"Itu tidak mungkin"
"Maka tidak mungkin pula aku membiarkan orang yang membunuh anak ku hidup bebas"
Muak sekali aku melihat wajah dua manusia ini. Kurang apa aku selama ini menjadi istri.
ku penuhi segala kebutuhan nya bahkan tanpa dia memberi kan uang sepeserpun.
dan kurang apa aku menjadi seorang teman,
aku berusaha baik. namun dia tega teganya berniat membunuhku.
"Pak, bawa dua manusia laknat ini, saya sudah selesai"
Aku pun memberi perintah pada dua polisi ini tanpa melihat ke arah mereka.
"Tar, aku mohon maafkan aku, kasihan Adinda"
"Sayang, aku mohon bebaskan aku"
Tak ku hiraukan panggilan dua manusia itu.
Baik, jika kalian ingin kematian. kalian sudah mendapatkan nya.
__ADS_1
kematian bayi kecilku harus kalian bayar mahal.
Tidak akan ku biarkan kalian keluar dengan mudah, akan ku buat kalian mengemis meminta kematian padaku.
"Tar, kamu gak apa apa?" Desi memastikan aku baik baik saja.
"Tidak, aku baik"
"Eemm, bagaimana dengan Adinda?"
Benar, gadis kecil yang tidak tahu apa yang barusan terjadi pada ibu dan Ayah nya.
dia tidak tahu apa apa, sampai kedua orang tuanya di bawa polisi pun dia masih tenang dengan mainan nya di pojokan ruangan rumah sakit ini.
"Entah lah Des, aku sendiri tidak tahu?"
"Kedua orang tua Anita telah meninggal, kemana kita akan mengantar Adinda?"
"Mungkin ke rumah orang tua Adit"
"Iya, hanya itu satu satunya kerabat Adinda saat ini"
"Iya,"
Ku lihat gadis kecil itu. sangat tidak terurus. pakaian yang di kenakan nya sangat lusuh. rambut acak acakan.
apa Anita tidak mengurusnya dengan benar?
andai bayiku masih hidup. aku akan merawatnya dengan sepenuh jiwa. tapi sayang. keberuntungan tidak berpihak padaku.
aku kehilangan buah hatiku sebelum aku bisa melihat dan memeluknya,
hanya foto mungil yang Desi ambil sebagai kenang kenangan.
********
hari ini aku di ijinkan untuk pulang, aku di bantu Desi pulang ke rumah ku. rumah yang sebelumnya ku beli. jika hari itu aku tak memutuskan untuk membeli rumah ini. sudah pasti saat ini aku kebingungan. akan pulang kemana?
Kami pun sampai di rumah. aku Desi dan Adinda sampai di rumah. aku langsung duduk di karpet tamu yang memang belum ada kursinya. di susul dengan Desi yang membawakan segelas air untuk ku.
dan Adinda yang anteng dengan mainan nya.
"Kapan kita antar kan adinda ke rumah mertuamu?"
"Tunggu aku benar benar pulih ya Des, paling dua harian lagi. sementara itu biarkan saja dia di sini"
"Iya, tapi kali ini aku tidak bisa menginap maaf ya, aku harus pulang karna rumah sudah terlalu lama aku tinggalkan"
"Iya tidak apa apa Des, aku malah banyak berterima kasih kamu sudah sangat membantuku"
"Jangan di pikirkan, paling besok siang aku bisa kesini"
"Iya,"
__ADS_1
Hari hari pun berjalan dengan sesuai ketentuan nya. Adinda tidak lagi menanyakan keberadaan ibunya semenjak pulang dari rumah sakit.
aku berencana untuk mengantar Adinda ke rumah kakek nenek nya, karna itu memang hak dirinya.