Bahagiaku Setelah Berpisah

Bahagiaku Setelah Berpisah
"KISAH ANITA"


__ADS_3

PERSI ANITA,


Aku seorang anak Yatim yang di tinggal kedua orang tuaku karna sakit. terlahir dari keluarga yang miskin dan serba kekurangan.


semenjak kepergian orang tuaku. aku hanya tinggal sendiri di gubuk peninggalan orang tuaku. aku tidak memiliki sanak saudara karna kebetulan orang tuaku adalah pendatang di kampung sini,


dan aku hanya tahu kampung halaman orang tuaku. tanpa tahu saudara mereka.


setelah kepergian mereka aku banting tulang mencari makan untuk ku sendiri.


Desi, dia adalah teman ku sedari kecil. hanya dia bernasib jauh berbeda dengan ku. karna terlahir dari keluarga yang berada. membuatnya bisa bersekolah sedangkan aku tidak.


kami selalu bermain bersama dari kecil hingga dewasa. bahkan Desi sering mengajariku berhitung dan membaca.


Satu hari...


Desi memiliki kekasih yang tampan dan berada juga. awalnya aku merasa bahagia karna teman ku bahagia.


namun lambat laun kami jadi jarang bersama karna kesibukan nya.


Desi mulai membuka usaha, dan walau jualan nya hanya jajanan anak anak. usaha nya berjalan lancar. beda dengan ku yang hanya bekerja serabutan di pasar.


Hingga aku pun bertemu dengan lelaki. yang membuatku bergetar kala melihatnya.


Adit, dia lelaki yang membuat hari hari ku berubah, entah mengapa aku selalu bahagia kala bertemu dengan nya.


dia memberiku semangat baru dan harapan baru. ku tahu dia bukan dari keluarga miskin sepertiku. namun dia selalu membuatku yakin bahwa dia adalah lelaki yang baik dan bisa membuatku seperti Desi dan yang lain.


Namun ternyata, kekasih Desi bukan orang sembarangan dia sampai membelikan Desi ponsel keluaran terbaru. sedangkan aku. Adit hanya bisa membelikan ku baju dan makan.


tapi aku juga tak bisa meninggalkan Adit. karna hubungan kami yang terlalu jauh,


sebenarnya aku takut hamil. hanya kata kata Adit yang selalu bisa meyakinkan ku.


dan membuatku luluh di pelukan nya.


melihat Desi semakin maju dan mendengar bahwa kekasih nya akan melamar nya dengan mahar yang tidak sedikit. membuat hatiku iri. ada rasa tak suka di dalam sana.


.hingga tanpa pikir panjang aku pun menyebarkan berita bahwa Desi berhubungan dengan suami orang,

__ADS_1


tanpa lama. berita yang ku sebar menyebar tanpa jeda. hingga Desi di benci dan di caci oleh banyak orang. entah kenapa ada rasa puas dalam sana.


hingga keluarga Desi memutuskan hubungan dengan kekasih Desi. walau mereka menjelaskan namun keluarga Desi tak pernah mendengarkan nya. dan semua barang barang yang Desi terima dari kekasih nya. di lempar kan kembali oleh orang tua Desi.


hingga Desi mengetahui bahwa aku yang menyebar berita bohong itu. dan hubungan kami terputus.


aku tak merasa sedih. karna aku memiliki Adit


Hubungan ku dengan Adit semakin jauh. kami sering melakukan hubungan terlarang tersebut atas dasar suka sama suka.


hingga perbuatan kami tercium beberapa warga. yang sering memergoki Adit keluar rumah malam malam.


Aku meminta Adit untuk menikahi ku. karna warga sudah tahu apa yang aku dan Adit lakukan. namun adit menolak menikahi ku. karna dia sedang merintis usaha. jadi harus pokus.


" Bagaimana ini Dit, warga sudah tahu apa yang kita lakukan. aku harus bilang apa. aku bisa di usir Dit!" ucapku pada lelaki yang amat ku cintai dan telah memilikiku seutuhnya.


"Aku sedang merintis usaha, jadi harus pokus. bagaimana kalau kamu jelaskan saja bahwa kita sudah menikah!"


"Bagaimana caranya?"


"Bilang saja kamu sudah menikah denganku di rumah orang tuaku"


beberapa bulan memadu kasih yang tak wajar. ketakutan ku pun terjadi. aku positif hamil. malam itu, bagaimana caraku memberi tahu Adit kabar gembira ini.


dia harus menikahi ku. sebelum bayi yang ku kandung semakin besar.


Tepat pukul 9 malam, adit datang dengan membawa dress dan sendal baru untuk ku.


"Dit, aku hamil" ucapku kala kita selesai berhubungan.


"Apa? Kamu gak salah"


"Gak, kita kan sering melakukannya. jadi pasti hamil, aku minta kamu nikahin aku biar anak kita sah memiliki ayah"


Adit tidak menjawab ucapan ku. dia hanya mencium pucuk kepala ku dan memeluk ku.


"Kamu akan nikahin aku kan?"


"Iya, tapi tidak sekarang. kamu kan tahu aku sedang berjuang untuk masa depan kita"

__ADS_1


"Kapan?"


"Kalau aku sudah kumpulkan uang nya dan memiliki rumah, agar kamu tidak tinggal di gubuk ini lagi"


entah kenapa aku selalu yakin akan ucapan Adit. hingga akhirnya kehamilan ku pun terdengar oleh semua warga kampung.


dan sudah jelas. berita yang sempat hilang. kembali ter ungkit.


Dengan susah payah pun aku meyakinkan semua warga yang datang ke rumah ku. bahwa aku telah menikah. namun suamiku kerja dan tinggal di kota. itu sebab nya dia tidak selalu berada di rumah. dan jika pulang pasti harus langsung pergi lagi. .


ada yang percaya dan pastinya ada yang tidak. salah satunya Desi.


dia selalu mencari tahu tentang kehidupanku.


"Hamil di luar nikah ya,"


tanpa perduli akan perasaan ku dia berucap di hadapan orang lain. yang sudah pasti membuat aku menjadi pusat perhatian.


hubunganku dengan nya semakin buruk. dia selalu membuat ku menjadi bahan ejekan orang banyak. ku kira dia adalah teman ku. rupanya dia tidak pantas di jadikan teman.


Hari itu, untuk pertama kalinya aku bertemu Tari,


Wanita yang memilki paras seperti Desi. yang memiliki senyum dimana yang melihatnya akan tertarik. Tari memiliki kulit putih mulus. dengan rambut yang terawat dan tubuh yang ideal dalam kalangan gadis desa.


Tari tidak memilki kekurangan dalam fisik. dia terlihat sempurna bahkan apapun yang ia kenakan akan nampak serasi dengan badannya.


beda dengan ku yang semakin hari semakin kurus saja. mungkin karna sedang hamil jadi apa yang aku konsumsi terbagi dua dengan bayiku.


Tari membantuku memunguti belanjaan ku yang berserakan di jalan. bahkan tanpa sungkan ia bersedia membawakan belanjaan ku ke rumah.


dia melihat rumah ku yang jauh dari kata layak. namun tidak sedikitpun dia memperlihatkan ketidak nyamanan. dia terbilang wanita yang sopan dan baik.


bahkan saat aku berkunjung ke rumah nya. dia begitu baik. sampai memberi hidangan yang tidak sedikit. bahkan memberiku baju baju yang tidak sedikit. malah semua nya masih sangat bagus dan baru.


dia juga membekaliku dengan sembako dan uang. ada rasa tidak enak dengan apa yang di kasih Tari, namun aku pun tidak bisa menolaknya.


Beberapa kali kami bertemu, dan berbicara di telpon. bahkan Tari mau mengantarku periksa kehamilanku.


walau dia sering bertanya tentang suamiku. yang membuatku tak suka. karna aku bingung harus bicara apa?

__ADS_1


namun dia selalu reda dengan sendirinya...


__ADS_2