Bahagiaku Setelah Berpisah

Bahagiaku Setelah Berpisah
"KASIH SAYANG ADINDA"


__ADS_3

Saat Anita hendak melayangkan tamparan pada Umaya dengan cepat di hadang oleh tangan Umaya.


"Jangan pernah berpikir bisa menyentuhku dengan tangan kotormu! atau ku patahkan tangan mu!" helak Umaya.


Umaya melepaskan tangan Anita dengan cepat, sampai membuat Anita terjerembab.


"Sudahlah Nak, sebaiknya kita pulang. meladeni wanita seperti itu hanya membuang waktumu!" ucap bapak nya.


Anita membulatkan matanya, ia tidak terima dengan Ucapan Umaya dan bapak nya Adit. yang menganggap nya begitu menjijikan. padahal Tari lah yang harusnya di salahkan. karna dia telah memasukan istri , anak dan menantu nya,


Ya walau Tari juga istrinya Adit. namun Tari tidak memiliki anak yang berarti keturunan untuk nya,


"Ini tidak adil, Saya menantu anda mengapa anda lebih berpihak pada Tari?" ucap Anita mamasang wajah marah pada bapak.


"Kamu bukan menantu saya"


"Bagaimana bukan, saya telah memberi anda keturunan seorang cucu, sedangkan Tari, dia hanya wanita bodoh yang tidak berguna. dan dia sama sekali tidak memberi anda cucu!"


"Cucu, maksud mu anak yang lahir dari hasil zina? dan saya bahkan tidak tahu pernikahan kalian, untuk apa saya mengakui kamu sebagai menantu saya!"


"Kamu benar benar Buta! jelas jelas saya adalah menantumu. bisa bisa nya kamu membela si Tari wanita yang jahat itu?"


Plak..


bapak menampar Anita, karna menurutnya Anita begitu lancang berbicara dengan tangan menunjuk pada wajah nya.


"Jaga bicaramu, menantu saya tetap lah Tari, dan bukan kamu, kamu hanya wanita jahat yang telah membuat saya kehilangan cucu yang di kandung oleh Tari,"


"Dan kamu tahu? wanita yang kamu bilang jahat, dia lah yang selama ini mengurus anak mu tanpa pamrih. tanpa melihat siapa dan apa yang telah kamu perbuat padanya!"


Umaya tidak menyangka. ada wanita seperti Anita. dan bahkan dia lebih tidak menyangka wanita ini pernah menjadi teman kakak iparnya, dan selingkuhan kakak nya.


"Memang benar, sampah akan berjodoh dengan tong sampah. mereka sama sama menjijikan!" ucap bapak kembali.


"Ayo Umaya kita pulang, percuma kita berada disini. orang orang disini sudah tidak memiliki akal sampai lupa perbuatan nya!"


"Ayo pak,"


"Pak, pak tolong jangan tinggalkan ibu pak,".


"Pak, tolong bebasin Adit pak!"


Tanpa menghiraukan ucapan anak dan istrinya. beliau tetap melangkah sembari menggandeng tangan putrinya.


ya, benar yang di katakan Umaya tadi, bukan hanya menanggung malu karna di cemooh semua orang di sekitar rumah nya. Umaya juga harus di usir dan di pisahkan dengan anak nya. yang berarti dirinya juga akan terpisah dengan cucunya dari Umaya.


kesedihan mulai menguasai dada nya, hingga dia meminta Umaya untuk duduk di pinggir jalan dan menangis tersedu di sana,


semua kesedihan yang dia simpan tertumpah kan saat ini juga.


dia berharap kedatangan nya kesini. akan menemui penyesalan dari istri dan anak nya.


yang akan membuatnya meminta keringanan pada Tari menantunya.

__ADS_1


namun nihil, bukan nya menyesal. mereka malah tidak mengakui kesalahan nya. dan justru menyalahkan Tari karna telah memenjarakan mereka,


apa yang harus di perbuatanya sekarang, rasanya setelah melihat sikap tanpa rasa bersalah dari istri dan anak nya.


rencana akan meminta keringanan pada Menantunya tidak akan pernah terjadi.


karna jika mereka di bebaskan. sudah pasti mereka akan menyakiti Tari lebih dari yang pernah mereka perbuat,


"Pak, sudah ayo kita pulang" bujuk Umaya.


"Bapak tidak habis pikir. mereka masih tidak menyadari kesalahan nya. sampai menyalahkan orang lain"


"Umaya juga begitu pak, kita tidak ada pilihan lain selain mengikuti hukum yang berlaku. karna jika kita meminta kak Tari membebaskan mereka. itu malah akan membahayakan kak Tari!"


"Iya Nak, bapak juga berpikir begitu. jika mereka terbebas sebelum mendapat hukuman. malah akan sangat membahayakan pada Tari, mereka pasti akan menuntut balas"


"Iya, biarkan hukum yang bertindak pak, kita sudah berusaha namun jika mereka saja tidak menyadari letak kesalahan nya. lebih baik hukum yang menyadarkan"


"Iya, kamu benar,"


"Sekarang ayo kita pulang, kak Tari pasti cemas karna kita tadi hanya pamit ke pasar"


Mereka pun kembali pulang, dan melupakan rencana awal nya


karna melihat sikap mereka yang justru tidak merasa bersalah.


sepanjang perjalanan mereka hanya memikirkan sikap istri dan anak nya. yang benar benar membuat kepala bergeleng.


sesampainya mereka. mereka mampir sejenak di rumah Tari, sebelum mereka memutuskan untuk pulang. mungkin mereka akan pulang saat malam tiba. agar mereka tidak bertemu dengan orang orang di sekitar rumah nya.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumusallam"


Rupanya ibunya Tari yang membuka pintu, ada rasa malu kala berhadapan dengan orang tua Tari, malu karna perbuatan keluarganya pada Tari.


"Ayo masuk pak," titah ibunya Tari.


"Tari kemana Bu?"


"Oh dia sedang berada di toko. karna ada barang yang datang katanya"


"Tari sudah mulai bekerja lagi Bu? apa dia sudah sehat?"


"Tari tidak bekerja pak, sebenarnya toko yang dia kelola adalah miliknya"


Mendengar penuturan Ibu nya Tari, membuat nya merasa malu. menantunya berhasil dengan usaha nya. walau tidak mendapat nafkah dari Suami.


malah yang lebih memprihatinkan. Tari yang menafkahi Adit dan sering di peras oleh istrinya.


Sungguh bagaimana caranya dia akan meminta maaf pada menantunya itu?


malah sebelumnya dia berencana akan meminta keringanan hukuman untuk istri dan anak nya.

__ADS_1


sungguh itu rasanya sangat egois. karna selama ini Tari sudah sangat menderita. penyiksaan yang di lakukan Adit dan istrinya.


di tambah lagi kasus yang memalukan beberapa hari yang lalu.


Sore pun tiba. Tari kembali dari toko.


"Assalamualaikum" ucap Tari dari luar.


"Waalaikumusallam" jawab semua orang dari dalam.


Tanpa terduga. Adinda langsung menghabur memeluk Tari yang baru Tiba.


pemandangan yang tercipta membuat semua orang yang menyaksikan merasa heran? pasalnya pemandangan ini di lakukan oleh ibu dan anak.


Namun, Dinda bukan lah anak Tari. namun kasih yang di perlihatkan oleh anak ini begitu tulus.


"Eh, ada apa ini sayang? kenapa kamu memeluk Tante" tanya Tari sembari melepaskan pelukan Dinda.


"Udah pulang Nak, ?" tanya bapak mertua.


"Udah pak,"


Tari mencium tangan bapak dan Ibunya dengan takzim.


Sikap santun yang Tari perlihatkan membuat Dinda selalu mencontoh apa yang ia lihat,


Dinda selalu mempraktikkan apa yang Tari lakukan.


Dinda selalu mencium tangan orang yang lebih Tua dari nya.


Sungguh berbeda sebelum dia bersama Tari,


"Sepertinya dia menganggap kakak, ibunya." ucap Umaya.


"Aku bukan Ibunya Umaya, Tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi seorang ibu pada Anak nya"


"Tapi kakak lebih pantas di panggil ibu dari pada wanita itu!"


"Seperti apa pun kesalahan orang tua. tidak akan merubahnya dari julukan orang tua.


karna tidak akan ada bekas anak atau bekas ibu"


"Kamu benar Nak"


"Tari hanya menerapkan ajaran Ayah dan Ibu waktu Tari kecil"


"Kamu berhak bahagia Nak, Bapak akan mendukung apapun keputusan kamu"


"Terima kasih Pak"


Obrolan mereka pun berlanjut sampai petang, Dinda tidak akan tidur tanpa melihat Tari, dan sebaliknya Tari tidak bisa tidur tanpa melihat Dinda.


Hubungan yang tercipta antara keduanya. membuat siapapun yang melihat akan menganggapnya adalah anak dan ibu.

__ADS_1


namun Tari tidak pernah sedikitpun berusaha menggantikan posisi Anita dalam hidup Adinda.


itu sebab nya. dia selalu menjuluki bahwa dia adalah Tante nya. dan bukan Ibunya.


__ADS_2