Bahagiaku Setelah Berpisah

Bahagiaku Setelah Berpisah
"SALON BARUKU"


__ADS_3

Setelah enam bulan lamanya menghilang. mengapa dia kembali lagi?


Kupikir enam bulan yang lalu ucapan ku berhasil membuatnya sadar dan benar benar pergi. namun mengapa dia ada disini?


Nafas ku mulai sesak karna Dia berjalan ke arah kami, Jangan sampai dia berbuat ulah karna aku tak mau keluarga ku tahu kekonyolan apa saja yang dia perbuat dulu.


Aku memalingkan wajah ku. saat dia benar benar sudah dekat.


"Hai sayang..." ucapnya.


Seketika mataku melebar sempurna? laki laki ini benar benar meresahkan.


Saat aku hendak berbalik untuk memarahinya dan menjelaskan pada keluargaku. Sial nya aku salah,


"Om," jawab Dinda.


Om? apa Dinda mengenal Lelaki ini? Kenapa aku sampai tidak tahu?


"Selamat ya atas kenaikan nya, Ini Om ada hadiah" ucapnya seraya memberikan Buket coklat pada Dinda.


"Makasih Om" jawab Dinda seraya mengambil buket tersebut.


Ku lihat lelaki itu menatap ke arah ku dan tersenyum.


siapa lelaki ini? bagaimana Dinda bisa mengenalnya?


"Nak Bima, Padahal gak usah repot repot bawain hadiah buat Dinda" ucap Ayah.


Apa? Ayah juga mengenal nya?


"Iya Nak, kami jadi malu kalau Nak Bima selalu memberi hadiah pada Dinda dan kami" ucap Bapak.


"Iya, Kami jadi merepotkan" jawab ibu.


"Tidak repot kok Bu, ini hanya hadiah kecil untuk bidadari kecil" jawabnya sambil mengelus kepala Dinda.


Jadi keluarga ku sudah mengenal dia? dan dia juga sudah mengenal keluargaku?


kenapa aku sampai tak tahu.


"Kak Bima, memang gak kerja kok sempatin datang ke sini?" tanya Umaya


"Tidak kok, aku sengaja mengambil ijin agar bisa datang kesini" jawabnya.


Aku hanya duduk dan mendengarkan obrolan mereka, sebenarnya aku merasa terganggu dengan kehadiran nya.


"Nak Bima, kapan mau kenalkan Calon nya pada kami, katanya dulu sudah melamar berarti tinggal menikah ya,?" ucap ayah.


"Kalau Menikah jangan lupa undang kami ya" ucap ibu kemudian.


"Iya, kalau gak ngundang bapak marah" jawab bapak.


Aku semakin tidak nyaman saja dengan kehadirannya.


"Pingin nya sih secepatnya Pak, cuma saya di tolak sama tunangan saya, dia marah marah pas saya bawain Bunga dan coklat lima Dus" jawabnya..


Mataku mulai melebar, jantung ku mulai berdebar, entah kenapa keringat terasa mengalir deras ada apa sebenarnya.


"Lah, kok marah tapi hubungan kalian baik baik saja kan?" tanya Ibu


"Nah itu lah Bu, sudah enam bulan ini saya tidak bertemu dengan nya" jawabnya.


"Kenapa gak di datengin saja kalau memang sayang" tanya bapak.


"Dia sibuk sekali kaya artis pak, susah buat di temuin. baru sekarang bisa lihat dan bertemu dengan nya" jawabnya seraya tersenyum ke arah ku.


"Oh iya? bagus dong kenapa gak sekalian di kenalin ke kami" tanya Ayah.


"Dia ada disini kok Pak," jawabnya.


Seketika jantung ku bukan hanya berdebar. melainkan seperti hendak terputus, keringat sudah tak terbendung.


mengapa seketika nafas ku terasa berat, jika dia mengatakan bahwa aku wanita itu?


apa yang akan di pikirkan orang tuaku?

__ADS_1


dan di pikirkan bapak?


"Oh iya, mana Nak, yang mana orang nya bapak ingin bertemu" tanya bapak.


"Dia ada di sini di antara kita" jawabnya tetap menatapku.


"Hah, siapa?" Tanya ayah seraya melirik semua.


"Eemm, Ini...." jawabnya.


Dia menarik Umaya, sejenak aku berpikir dia akan menunjuk ku, awas saja dia jika membuat onar disini.


aku akan benar benar memasukan dia ke dalam penjara.


"iH, ngaco aja kenapa aku?" tanya Umaya.


"Memang nya kamu gak mau menikah dengan ku?" jawabnya.


"Gak Ah, orang kak Bima orang nya kebanyakan bercanda gak cocok dengan aku!" ucap Umaya.


"Tuh pak, jika Umaya saja menolak saya, apalagi Wanita sekelas T, pantas jika dia menolak saya" jawabnya.


"T?" tanya Ayah.


"Iya, namanya wanita pujaan saya. Tiara" jawabnya.


Aku tahu sekali dia sedang meledek ku,


"Wah, pasti orang nya cantik secantik namanya?" tanya Ibu.


"Sangat, sangat cantik, dia begitu cantik sampai saya tidak bisa melihat wanita lain selain dia, hanya ada satu yang bisa mengalahkan kecantikan nya?" jawabnya seraya menatapku sebelum akhirnya menatap semua.


"Oh iya? siapa yang lebih cantik dari dia?" tanya bapak.


"Ibu" jawabnya seraya memegang tangan ibuku .


"Lah," ucap ibu dengan wajah kebingungan.


"Ibu memiliki wajah secantik pujaan hati saya" jawabnya.


"Eemm, acaranya sudah selesai kan ayo kita pulang" ucapku pada keluargaku. aku tak ingin mereka terlalu lama mengobrol dengan lelaki aneh ini.


"Oh iya, kita sampai lupa mau ngenalin sama kamu" jawab Ayah,


"Nak Bima, ini Tari dia anak saya dia yang merawat Dinda," ucap Ayah memperkenalkan ku pada lelaki ini.


"Hai, aku Bima" ucapnya seraya mengulurkan tangan kanan nya.


Ku lihat ada senyum di wajahnya. dasar tukang drama.


"Tari" jawabku tanpa memegang tangan nya.


"Udah Ayo kita pulang sekarang, Tari ada urusan soalnya" ucapku pada keluargaku.


"Oh ya udah ayo kita pulang" jawab ibu.


"Ayo" jawab Umaya.


"Nak Bima mau mampir ke rumah saya?" Tawar Ayah yang membuatku tak suka.


"Mau nya sih pak, cuma kayak nya anak bapak tidak suka jika saya mampir" jawab nya.


seketika aku kaget, menyebalkan sekali lelaki ini. dan semua melihat ke arah ku.


"Ah tidak kok, jangan Sok deh kalau mau mampir ya mampir aja, lagian aku ada urusan di luar!" jawabku ketus.


Ibu memegang tangan ku agar aku menjaga sikap.


"Beneran boleh?" tanya nya padaku. yang membuat semua melihat ke arahku.


Apa dia tuli? aku kan sudah bilang tadi kenapa harus di perjelas lagi sih!


"Pak, Tari titip Dinda ya, soalnya Tari ada urusan di luar nanti Tari jemput" ucapku pada bapak tanpa menjawab pertanyaan nya.


"Dinda mau ke rumah Kakek Ayah" Ucap Dinda.

__ADS_1


"Ya udah Dinda biar ikut Ayah saja Nak, nanti kamu jemput di rumah Ayah" ucap ayah padaku.


"Ya sudah, kalau gitu nanti Tari jemput kalau urusan Tari sudah selesai" jawabku pada Ayah.


Aku pun mengelus pucuk kepala Dinda.


"Dinda jangan nakal ya di rumah kakek Ayah, nanti Tante jemput kalau sudah selesai kerja" ucapku pada gadis di depan ku.


"Iya mah" jawabnya.


Aku pun mencium tangan keluargaku dengan takzim. Dinda dan Umaya mencium tangan ku. saat aku hendak berjalan ke arah parkiran


"Eh, kamu belum jawab? beneran aku boleh main ke rumah orang tuamu?" tanya lelaki itu.


"Terserah, apapun yang kamu mau lakukan jangan pernah bertanya padaku, mengerti!" jawabku penuh penekanan.


ku lihat Ayah dan semua hanya bergeleng kepala melihat tingkah ku.


Aku pun meninggalkan keluargaku menuju parkiran motor.


setelah menemukan motorku aku pun hendak mengambil dan mengendarainya.


namun saat aku menaiki motorku hendak pergi tiba tiba .


"Apa kabar tunangan ku yang cantik?"


mengapa suara itu malah ada lagi?


aku melihat ke arah belakang ku. dan benar saja lelaki ini tengah berdiri di belakang Ku.


"Minggir saya mau pergi" ucapku karna dia berada tepat di belakang motorku.


"Kamu makin cantik saja, aku jadi susah move on dari kamu" jawabnya.


"Cukup, berhenti berkhayal saya bukan Tunangan kamu, dan saya tidak suka dengan kamu!" ucapku membuang muka darinya.


"Tapi aku suka kamu, malah tergila gila gimana dong?" jawabnya.


Ya ampun, terbuat dari apa manusia ini?


apa dia tidak mengerti bahasa manusia berapa kali aku tegaskan kalau aku bukan Tunangan nya, dan berniat untuk menikah.


lama lama aku bisa kena darah tinggi jika di hadapkan dengan dia!


"Itu buka urusan saya, mau kamu Gila atau apapun itu, yang jelas saya tidak menyukai kamu dan dengarkan ucapan saya baik baik, saya bukan Tunangan kamu dan saya tidak ingin menikah dengan kamu atau dengan siapapun!" ucapku penuh penekanan.


"Aku memang sudah Gila, jangan kan senyum marah saja kamu begitu cantik" jawabnya.


rasanya percuma bicara dengan manusia seperti ini?


"Tolong minggir, saya mau pergi" ucapku.


"Baik ratuku," jawabnya.


namun sialnya motorku susah sekali di mundurkan, kemana lagi tukang parkir.


ini kan sudah tugas nya.


"Perlu bantuan sayang?" ucapnya mendekat.


"Tidak" jawabku


bukan nya pergi dia malah membantuku mengeluarkan motorku


setelah motor ku keluar aku pun segera mengambil alih dan menaikinya.


************


Alhamdulilah, salon yang ku idam idamkan sudah selesai di bangun dan mulai beroperasi hari ini,


semoga banyak pengunjung, karna kebetulan di desa sini belum ada salon yang berdiri,


Desi pun sudah menikah dengan lelaki idaman nya, aku sempat menawarkan jika dia ingin pokus mengurus rumah aku tak apa,


tapi dia tolak katanya kapan lagi kerja dengan gajih besar,

__ADS_1


aku senang karna dia tetap membantu toko ku dan tidak berhenti....


__ADS_2