Bahagiaku Setelah Berpisah

Bahagiaku Setelah Berpisah
"KEPUTUSAN HAKIM"


__ADS_3

"DALAM KASUS PEMBUNUHAN BERENCANA YANG DI LAKUKAN OLEH SAUDARA ADIT, SAUDARI ANITA DAN SAUDARI IDA. YANG MENGAKIBATKAN MENINGGALNYA SEORANG BAYI. KAMI MEMUTUSKAN UNTUK MENJATUHKAN HUKUMAN MATI DAN PENJARA SEUMUR HIDUP KEPADA KETIGA PELAKU."


Dentuman palu yang di pukul kan. seketika membuat kami kaget akan keputusan hakim.


Ku kira mereka hanya akan mendapat hukuman penjara beberapa tahun saja. namun ternyata aku salah.


Tangis bapak dan Umaya pecah. kala hakim ketua membacakan keputusan hukuman nya.


ketiga tersangka yang pernah berupaya membunuhku. dan seminggu yang lalu masih dengan ganas nya menghina Ku. kini ku lihat mereka hanya menunduk.


Ku tahu mereka pasti sangat sakit..


namun aku pun tidak bisa berbuat apa apa?


andai seminggu yang lalu mereka telah berubah. dan bersikap baik padaku.


mungkin aku bisa meyakinkan diriku dan Ayah untuk meminta keringanan akan perbuatan mereka.


Namun. entah mengapa mereka begitu membenciku. sampai aku pun tak ingin membantu mereka.


Ayah. mengusap pundak ku. tanda menenangkan ku. mungkin dia tahu. aku pun begitu terpukul akan keputusan yang di bacakan hakim barusan.


Kami masih duduk di kursi ini, bahkan rasanya kaki ku mati rasa setelah mendengar semua nya.


"Puas kamu Tari! Hidup kamu tidak akan pernah tenang, kamu akan selalu di hantui oleh bayang bayang kematian ku!" ucap Anita.


Beberapa orang di dalam gedung pengadilan ini. hanya melihat Anita.


mungkin dia begitu tertekan. bagaimana tidak saat keputusan kematian kita di bacakan oleh hakim. maka masih bisa kah kita mengendalikan diri?


Saat hakim dan jaksa telah meninggalkan ruang sidang. kami meminta waktu untuk bertemu dan berbicara pada tersangka.


tentunya dengan pengawalan dari pihak kepolisian.


ku lihat bapak. menangis tersedu. dia menghampiri ibu dan memeluknya. begitu juga Adit.


tangis keluarga di depan ku pecah. mereka saling peluk dan menumpahkan kesedihan mereka.


aku dan Desi pun menghampiri Anita yang hanya berdiri sendiri. di temani dua polisi.


Anita hanya menatapku tak suka. aku masih memaklumi emosinya.


bagaimana pun juga. Anita pernah menjadi teman ku dan Desi. selepas dengan apa yang dia lakukan. ini bukan saat nya menjatuhkan dan menghinanya.


"Maaf, aku tidak bisa berbuat banyak" ucapku penuh sesal.


"Puas kamu, Kamu sudah membuatku terpisah dari anak ku! dan sekarang kamu membuat ku mati!" jawab Anita penuh amarah.


"Aku sama sekali tidak ada niatan atas semua. andai beberapa hari yang lalu kamu bersikap baik. mungkin aku bisa mempertimbangkan nya"


Desi hanya mengusap pundak ku tanpa berucap apa apa. mungkin dia tahu aku juga begitu terpukul.

__ADS_1


"Kamu tidak akan tenang Tari, kamu akan selalu di hantui kematianku! aku bersumpah akan membuat kamu menderita bagaimana pun caranya!" teriak Anita .


Polisi pun memutuskan untuk membawa Anita kembali ke sel. karna kondisi nya yang memungkinkan akan mengamuk.


Aku tertunduk kala Anita terus menerus mengutuk ku. apa aku telah berdosa? karna menjadi jalan kematian orang lain?


Ayah dan Desi berusaha membawaku keluar ruangan persidangan.


Saat tengah berjalan. Adit menghampiri kami.


"Maaf kan aku dan Ibu, kami sudah sangat jahat pada kamu. dan Terima kasih. kamu sempat berupaya membebaskan kami. namun sikap kami tidak pantas di bebaskan" ucap Adit sambil tertunduk


Aku merasa semakin bersalah kala melihat penyesalan yang di perlihatkan Adit.


Ya Allah, andai waktu bisa ku putar, aku ingin memutarnya kembali. tidak sanggup rasanya melihat semua adegan ini.


"Tidak, aku yang seharusnya minta maaf, aku tidak bisa berbuat lebih untuk kamu dan ibu" jawabku.


Ayah mengusap pundak ku.


"Sekarang aku sadar, apa yang telah ku lakukan. memang tidak pantas di maafkan. aku memang suami dan Ayah yang buruk. sampai berniat melakukan itu!"


"Bertaubatlah, ku yakin Allah akan mengampuni semua kesalahan mu?"


"Iya, Terima kasih dan tolong maafkan aku"


"Aku sudah memaafkan kamu"


"Aku akan berusaha semampuku"


"Terima kasih"


Adit pun meninggalkan aku dan Ayah, ku lihat bapak beberapa kali memeluk dan mencium Adit. tidak sanggup aku melihat ini.


"Tari!" Suara yang tak asing bagiku.


ku balikan tubuh menghadap kebelakang.


"Ibu?" .


"Kamu benar, Yang bisa menyadarkan kami hanya hukum dan keputusan hakim." ucap ibu sambil tertunduk.


aku pun mensejajarkan tubuhku karna kondisi ibu yang masih duduk di kursi roda. aku pun berjongkok dan mensejajarkan tubuh.


"Maafkan Tari Bu, Tari tidak pernah berniat untuk.." ucapku menggantung. tak sanggup rasanya jika ku ulangi kata itu.


"Tidak, seharusnya saya yang meminta maaf, saya telah jahat pada kamu, saya sering menyiksa fisik dan mental kamu. bahkan saya telah membunuh anak dan cucu saya!"


Ibu menangis kala mengucap kata terakhir. ada kah penyesalan di sana? mengapa penyesalan selalu hadir belakangan?


Apa kah ini cara agar kami selaku Manusia berlaku sewajarnya. dan berpikir sebelum melakukan apapun?

__ADS_1


"Ibu tidak perlu meminta Maaf, Tari sudah memaafkan ibu. Maaf Tari tidak bisa melakukan apapun"


"Tidak, Kamu tidak salah. kamu orang baik. itu sebab nya kamu selalu beruntung. Ibu harap kamu bisa melupakan perbuatan jahat kami!"


"Iya Bu,"


Ibu pun kembali pada bapak yang menunggunya di belakang. ada rasa sesak dalam dada. sesakit inikah rasanya membuat orang lain kehilangan hidup karna kita?


apakah masih ada kata maaf. dari Tuhan untuk ku?


aku pun keluar gedung bersama Ayah dan Desi. kami semua tertunduk tidak menyangka bahwa hukuman ini yang akan menimpa mereka.


bagaimana caraku meminta maaf pada bapak dan Umaya?


kami duduk di luar gedung beberapa lama. tangis pun tak mampu ku tahan, ku lihat Ayah pun meneteskan air matanya.


dan Desi hanya tertunduk tak berucap dari tadi.


Hingga bapak dan Umaya pun keluar dengan langkah yang gontai.


ku tahu, mereka pasti sangat berat, menerima semua keputusan ini?


Ayah memeluk bapak yang ku tahu sangat membutuhkan dorongan. ku hampiri Umaya.


wanita itu hanya diam tak bersuara. pandangan nya kosong tak ku temui wanita yang beberapa hari tertawa dan memanggilku kakak,


"Maaf, Maafkan Tari" hanya kata itu yang keluar dari mulutku.


aku tertunduk. aku siap jika Umaya dan bapak aKan memakiku dan memarahiku. karna itu memang pantas ku dapatkan.


ku lihat bapak menghampiri ku.


"Kamu tidak salah Nak, semua ini sudah menjadi keputusan terbaik" ucap bapak mertua yang membuatku seketika memandangnya.


ada kesedihan yang tidak bisa kujelaskan di matanya. namun beliau berusaha tetap tegar di hadapanku.


"Ini semua salah Tari, andai Tari tak melaporkan kejadian itu ke polisi. mungkin ini tidak akan terjadi"


"Tidak, keputusan mu sudah benar, Kita sudah berusaha membebaskan mereka. namun sikap mereka yang keras yang membawa mereka ke persidangan"


Lagi lagi ucapan bapak mertua membuat ku kembali tegar,


"Maaf Umaya," ucapku pada wanita di depanku.


"Tidak kak, Bapak benar kakak tidak bersalah. aku memang berat harus kahilangan mereka dengan cara begini, namun kita sudah berusaha. jika ini hasil nya maka kita harus menerimanya"


mengapa mereka begitu tegar dan bisa berucap sedemikian. jikaa aku mungkin sekedar melangkahkan kaki saja aku pasti tidak sanggup.


rasa bersalah ku semakin membuatku berat.


apakah kata maaf ku bisa membebaskan mereka?

__ADS_1


__ADS_2