
Hari demi hari terus berganti. Namun masa pemulihan ku kini membawa ke bahagiakan. karna kehadiran Ayah dan Ibu yang selalu membantuku dan menemaniku.
Desi pun pokus ke toko. karna dia tidak lagi harus bulak balik menemaniku dalam masa pemulihan.
luka jahitan di bagian perut bekas operasi sesar yang masih terasa basah. karna menurut dokter luka ini butuh waktu untuk menjadi samar dengan kulit.
nyeri di bagian kelapa. lambat laun sudah mulai tidak kambuh lagi. hanya sesekali ada rasa nyeri. tapi tidak seperti kemarin.
rasanya sampai membuat ku bercucuran keringat saking sakitnya.
Tepat hari ini aku akan melihat toko. sudah beberapa hari ini aku tidak mengunjungi toko.
Ibu dan Ayah sudah pulang dari kemarin. karna Ayah ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan.
dari pada aku bosan di rumah. aku pun memutuskan untuk pergi ke toko.
bersama Adinda yang kini mulai dekat denganku.
bahkan dia tak sungkan meminta sesuatu padaku.
terkadang ada rasa kasihan melihat anak ini.
Apakah aku berdosa telah memisahkan anak dari ibunya?
Adinda pasti membutuhkan ibunya. bagaimana tidak? ikatan batin antara anak dan ibu sangat kuat. aku yakin adinda juga merasa apa yang di rasa oleh Anita.
Namun, tidak bisa ku pungkiri. sakit hati yang teramat sangat yang di ciptakan oleh ibunya. membuatku gelap mata. Anita harus tetap mempertanggung jawabkan perbuatan nya.
mungkin lambat laun aku bisa memaafkan mereka. tapi tidak dengan mencabut gugatan tersebut.
apa yang mereka lakukan padaku sangat lah melukai hati dan jiwa. dengan kejam nya mereka berhasil merenggut belahan jiwaku.
dan aku akan membuat mereka menebusnya
agar jiwa ku kembali tenang..
beberapa lama berjalan. karna aku bisa tidak jalan cepat. aku harus menyeimbangkan langkah Dinda yang kecil. terkadang anak itu melirik ke segala arah. yang mengalihkan penglihatan nya.
dari jauh ku lihat, toko kedatangan beberapa pengunjung. Desi tengah melayani mereka.
karna bakti yang Desi berikan padaku.
dan banyak nya pertolongan yang dia berikan.
aku memutuskan untuk membagi hasil pendapatan toko dengan nya.
uang bukan lah segalanya. di banding apa yang dia lakukan untuk ku.
bukan hanya tenaga namun dia selalu siap siaga 24 jam jika aku butuhkan.
.
"Assalamualaikum" ucapku Kala memasuki toko
"Waalaikumusallam" jawab serentak dari pengunjung.
Aku pun langsung duduk di kursi kasir. dan Dinda mengekori ku di belakang.
__ADS_1
"Dinda, main disini dulu ya" ucapku pada gadis itu. agar main di dekat meja kasir.
Gadis kecil itupun menuruti apa yang aku perintahkan.
Sesekali aku membantu Desi melayani pengunjung. walau kadang aku minta bantuan jika ada barang yang sulit ku gapai.
sekitar satu jam akhirnya toko lenggang hanya tersisa kami bertiga.
"Kamu sudah baik kan, kok ke toko?"
,
"Aku sudah baik kok Des, bosen di rumah terus"
"Iya juga sih"
"Des, bagaimana semua baik baik saja"
"Aman"
Aku pun membuka buku catatan penjualan dan pesanan. semua keuangan yang masuk tidak ada yang salah.
saat tengah pokus Desi membuka suara.
"Tar, sudah beberapa hari aku lihat mertuamu mundar mandir di jalan melihat kesini?"
Tiba tiba pokus ku teralihkan. apa lagi yang akan di lakukan ibu mertua. namun ada rasa curiga dari hatiku pada wanita itu.
semoga apa yang aku khawatirkan tidaklah benar.
"Lalu, apa dia mengatakan sesuatu?"
"Biarkan saja lah Des, cape juga kalau terus memikirkan nya"
Baru saja beberapa waktu aku membicarakan nya dengan Desi. tanpa sadar beliau sudah berada di toko dengan muka yang sangat marah. .
"Heh, ketemu juga kamu,"
"Ada apa lagi Bu?" pasalnya aku sudah bercerai dengan anak nya. mau apa lagi dia kemari.
" Masih pura pura lugu kamu ya! Apa yang kamu katakan pada orang tuamu?"
Rupanya ini tujuan nya ke sini. mungkin Ayah dan Ibu sudah tidak berpihak lagi padanya. atau mungkin Ayah dan Ibu menyatroni ke rumah nya. sampai dia murka seperti ini.
"Tidak mengatakan apa apa. hanya kebenaran nya saja"
"Bohong kamu, dasar mantu jahanam.gak tahu diri kamu. kamu jelek jelek kan saya kan!"
"Mantu? maaf ya Bu kita sudah tidak ada hubungan lagi. karna saya sudah resmi bercerai dengan anak ibu. dan buat apa saya cape cape ngomongin Ibu. gak penting juga"
"Sombong kamu ya, dasar wanita pembawa sial"
"Kalau saya sombong memangnya kenapa? itu urusan saya bukan urusan Ibu"
"kenapa dulu Adit sampai gagal menyingkirkan kamu, Benci aku lihat kamu masih hidup sedangkan anak saya malah tertangkap"
Seketika mataku membulat kala mendengar ucapan ibu mertua. UPS lebih tepat nya mantan mertua.
__ADS_1
apa yang dia katakan? apa jangan jangan dia juga terlibat atas upaya pembunuhan ku.
ku lihat Desi pun sampai bangkit dari duduk nya mungkin dia juga menyadari ada keanehan dari ucapan wanita tua ini.
Aku langsung menyuruh Desi menghidupkan rekaman ponsel. dengan aba aba tangan.
"Apa maksud Ibu? mengapa Ibu mengatakan itu?"
"Kenapa memangnya? gak boleh"
"Kenapa ibu sangat membenci saya, dan apa ibu senang saya mati?"
"Ya, bagi saya kamu adalah wanita pembawa sial. dan kematian kamu sangat saya harapkan"
"Apa ibu terlibat akan upaya hari itu?"
"Ya, saya memang terlibat, kenapa? saya sudah senang kala Adit berhasil menabrak kamu. namun sial nya kamu malah selamat. dan hanya bayi setan itu yang mati"
Jleb..
seketika dada ku berdebar hebat. wanita yang sempat ku hormati dan berharap menyayangiku seperti Ibuku. dia sangat menginginkan kematian Ku. bahkan dengan rendahnya dia mengatakan hanya anak ku yang mati!
apakah se benci itu dia pada anak ku? cucu nya sendiri.
"Jadi ibu terlibat"
"Iya, Bahkan saya yang mengabari Adit saat kamu sudah menyebrang jalan. padahal saya sudah berharap kamu mati"
Aku menyuruh Desi untuk mematikan rekaman nya. karna sudah tidak tahan dengan apa yang di katakan nya. aku tak tahu apa aku masih bisa sabar menghadapi orang yang membunuh anak ku masih berkeliaran bebas di sini.
Plak...
Plak..
Ku tampar wanita yang pernah menjadi mertuaku. bukan hanya satu kali melainkan dua kali.
tidak hanya itu, aku gegas berjalan mengambil air di meja kasir dan menyiramkan nya ke kepala wanita itu.
Dia menatapku dengan amarah yang penuh. aku pun tak kalah melihat nya dengan penuh kebencian.
"Berani kamu ya"
belum sempat dia melayangkan tangan hendak menamparku. aku lebih dulu menangkap tangan nya dan membuang ke segala arah. sampai membuat tubuh nya jatuh terjerembab
ku hampiri dia dengan amarah yang mulai menguasai pikiran ku.
ku tarik wanita itu dan memaksa nya untuk bangun.
ku usap rambut nya yang sedikit berantakan.
ku usap pipinya yang meninggalkan bekas merah selepas ku tampar.
"Sakit? ini hanya awalan saja. Saya akan buat anda menyesali perbuatan anda!"
ku lepaskan pegangan ku sampai membuatnya mudur beberapa langkah.
ku lihat ada kebingungan di matanya. mungkin dia tidak pernah melihat Tari yang sekarang.
__ADS_1
Sayang nya Tari yang sekarang di hadapan nya. dia sendiri yang mengubahnya menjadi iblis.
Akan ku hancurkan kamu Bu..