Bahagiaku Setelah Berpisah

Bahagiaku Setelah Berpisah
"SOSOK SUAMI ANITA"


__ADS_3

jam menunjukan pukul tujuh malam. aku dan Desi pun memutuskan untuk pulang.


setelah pamitan pada Anita. aku dan Desi pun berjalan pulang.


"Kamu merasa aneh gak sih. masa Anita gak tahu rumah mertuanya?"


"Ya aku juga merasa aneh"


setelah berjalan beberapa meter dari rumah sakit. akhirnya kamipun menemukan ojek pangkalan.


kamipun menaikinya dan pulang ke rumah masing masing. sepanjang perjalan pikiran ku terganggu akan ucapan Anita.


bagaimana mungkin dia tidak tahu siapa mertua nya?


sesampainya di rumah. aku pun menghidupkan semua lampu dan bersiap untuk membersihkan diri.


*********


satu bulan ini toko akhirnya ramai oleh pengunjung. malah aku sampai harus memesan paket usaha pada Anggi 2 hari sekali. karna saking ramainya.


jika di bandingkan dengan pengeluaran ku membantu Anita dulu. ini sungguh lebih banyak.


Allah memang tidak akan tidur. jika kita bersedekah dengan ikhlas tanpa mengharapkan balasan. pasti Allah akan mudahkan rejeki kita. malah akan menggantinya berlipat ganda.


aku sungguh bersyukur. karna aku bisa menabung untuk keperluan masa depan Ku.


karna kondisi toko yang selalu ramai pengunjung. akhirnya aku meminta Desi untuk stay membantuku di toko.


tanpa ada penolakan Desi pun menerima nya. tentunya dia sambil berjualan menjadi reseller.


saat keadaan toko sedikit sepi. hanya meninggalkan beberapa pengunjung. tiba tiba Desi menarik tangan ku.


"Itu itu suami nya Anita" ucap Desi sambil menunjuk seorang lelaki yang tengah berdiri di sebrang jalan.


"Yang mana?"


"Itu yang pake jaket hitam"


setelah mataku berkeliling. akhirnya aku pun menemukan sosok yang tengah berdiri di sebrang jalan. dan membelakangi toko kami.


tapi kenapa jaket itu mirip jaket yang di pake Adit tadi pagi?


ahh jangan berpikiran yang bukan bukan. jangan sampai aku melakukan kesalahan yang sama satu bulan lalu. yang mencurigai Anita karna box makan.


.


"Aku gak bisa lihat wajah nya? kamu yakin dia orang nya"


"Iya. soalnya tadi dia menghadap ke mari. jadi aku kenal"


saat tengah pokus melihat lelaki itu. aku malah di kaget kan dengan tangan yang menyentuh bahuku.


ternyata itu pengunjung yang ingin membayar.


akhirnya acara detektif ku berakhir.

__ADS_1


setelah selesai dengan pembeli. aku berjalan ke depan dan sosok itu sudah tidak ada di tempat nya.


"Habis cari apa Bu?" ucap Desi sambil meledek.


"Ahh tidak. aku hanya penasaran dengan suami Anita?"


"Mau di apakan memang nya kalau ketemu?"


"Mau ku tampar dia pake sendal jepit. biar dia tahu derajatnya jangan seenaknya menelantarkan anak istri"


"Waduh. serem juga hhee"


kami pun bercanda sambil merapikan beberapa pakaian yang tadi sempat berantakan.


"Des. apa sebaiknya ku pekerjakan Anita disini ya? dari pada dia nganggur. lagipun disini juga ramai terus."


"Ya itu mah terserah kamu. kan kamu yang bayar."


"Menurut kamu gimana?"


"Ya bagus juga sih kalau Anita ada kerja. jadi dia bisa membiayai anak nya"


setelah berbicara dengan Desi dan meminta saran nya. aku akan pikirkan kembali sebelum mengambil keputusan.


setelah toko tutup. aku dan Desi berpisah di persimpangan jalan.


sesampainya di rumah. sudah ada ibu mertua ku di teras rumah.


ya ampun aku harus menyiapkan mental untuk mendengarkan celotehan nya.


"dari mana kamu?"


bukan nya menjawab salam ku. beliau malah bertanya?


"Tari habis pulang kerja Bu"


ku buka pintu rumah. dan masuk serta mempersilahkan mertuaku untuk masuk juga.


"Adit kemana? apa dia belum pulang?"


"Adit tidak akan pulang jam segini bu. dia selalu pulang dini hari"


"Apa? Adit pulang dini hari. apa kamu gak cari dia atau khawatir gitu. kok malah santai gini?"


"Tari harus gimana Bu?" ucapku sambil berjalan ke dapur. untuk mengambil air minum untuk beliau.


"Ya sebagai istri perhatiin dong suaminya. masa suami pulang larut malam gak ada itikad buat nyariin"


"Adit baik baik aja kok Bu"


"Tahu dari mana kamu?"


"Kalau ibu penasaran. coba ibu cari di pasar nanti ada warung kopi di persimpangan Adit pasti ada di sana"


seketika mertuaku diam. dia tidak menjawab atau menyalahkan ku lagi.

__ADS_1


"Makannya kamu kalau jadi istri itu yang benar jadi suami gak keluyuran"


"Yang benar itu bagaimana Bu?"


"Ya kamu harus nurut sama patuh ke suami"


memang nya aku kurang apa coba? punya suami tapi mencari makan sendiri. mencari kebutuhan diri dan dapur sendiri.


malah satu bulan ini Adit tidak memberiku uang Sama sekali. dia tahu aku bekerja dan memiliki gajih 300 ribu. lalu dia tak memberiku nafkah.


"Selama ini Tari kurang apa Bu? bekerja mencari uang untuk makan Tari dan suami, mencari kebutuhan rumah sendiri. malah sudah satu bulan Adit tidak memberi nafkah"


sengaja aku bicara begitu. agar mertuaku sadar. bahwa kesalahan yang anak nya perbuat. tidak harus selalu di benarkan.


dan kebenaran yang ku lakukan. tidak seharusnya di rendahkan.


"Kamu kok jadi istri perhitungan sih Tar?"


"Tari gak perhitungan. hanya bicara yang sebenarnya"


"Apa salah nya kalau kamu cari uang untuk makan kamu dan Adit?"


"Gak salah. yang salah itu pemikiran anak ibu. bisa bisanya memberi nafkah bahkan tidak sampai seperempat dari gajih nya"


"Kamu masih saja membahas itu"


"Andai ibu tidak begini. Tari pun enggan membahas nya"


ku lihat wajah mertuaku yang merah padam. itu menandakan bahwa beliau sedang marah.


itu bukan hal yang aneh. pasalnya setiap beliau datang pasti selalu begitu.


"Akan saya adukan kepada orang tuamu. sikapmu yang tidak sopan pada mertua"


dengan ucapan yang meninggi. beliau berjalan keluar rumah dan entah akan pergi kemana?


jujur aku mulai lelah. lelah dengan pernikahan ini. bagaimana tidak lelah. selama ini aku yang mengeluarkan dana untuk kebutuhan rumah dan makan.


padahal aku memiliki suami. tapi dia seolah tak mau memberi kan nafkah padaku.


di tambah lagi dengan sikap nya yang sekarang membuatku mulai geram.


dia sudah menikah. apakah pantas jika tiap harinya hanya kumpul kumpul dengan teman teman nya. sampai pulang larut malam.


bahkan disaat gajih nya yang lumayan besar itu. dia tak sedikitpun berpartisipasi untuk membantuku walau sekedar untuk membayar listrik.


dan di tambah lagi dengan sikap ibu mertua. yang setiap waktu menghinaku, merendahkan ku, dan selalu saja menyalahkan ku dalam segala hal.


ingin ku akhiri semua. tapi apa yang akan ku katakan pada Ayah. dia tidak akan menerima nya.


aku tahu ayah. tidak mudah percaya dengan ucapan orang lain. sebelum dia melihat nya sendiri.


tapi bagaimana?


aku pun menjatuhkan tubuhku ke kasur. berharap semua ini akan berakhir dengan baik.

__ADS_1


semoga pernikahan ku akan baik baik saja. dan semua berubah.


__ADS_2