Bahagiaku Setelah Berpisah

Bahagiaku Setelah Berpisah
"TINGKAH IBU MERTUA"


__ADS_3

setelah selesai mandi. aku pun membanting tubuhku di atas kasur.


dingin nya air. rupanya tak mampu membuat otak ku ikut dingin dan tenang.


pikiran ku masih berjalan ke segala arah.


belum cukup memikirkan suamiku yang ku tahu sikap nya sekarang bahwa dia bukan lah suami yang royal pada istri. malah lebih ke perhitungan.


di tambah masalah Anita yang baru ku hadapi. entah apa yang akan terjadi. jika hari ini aku menuruti hawa ku untuk tak pergi ke rumah Anita karna lelah. sudah pasti gadis kecil itu semakin tersiksa.


dan sekarang di tambah dengan ibu mertuaku yang bisa bisa nya men jelek jelek kan ku pada warga sini.


pikiran ku saat ini susah sekali ku kendalikan.


rasanya semua masalah ini menguras pikiran ku. sampai aku tak bisa berpikir jalan keluarnya.


*********


terdengar suara pintu depan di buka. lekas ku lihat ponsel di samping Ku dan menunjukan pukul 3 dini hari.


apa yang dia lakukan di sana sampai selalu pulang larut malam.


jika pun dia tidak pulang malam. dan stay di rumah. itupun jika dia hanya meminta hak nya.


selebihnya dia akan begini.


saat dia masuk.


aku pun langsung berpura pura tidur.


malas rasanya ingin bertanya prihal apa yang dia lakukan sampai pulang larut malam.


terkadang aku merasa lelah. dan ingin bertindak tegas akan sikapnya. namun aku takut dia malah mengadukan nya pada Ayah atau ibu. sudah pasti akan menjadi masalah bagiku.


alangkah lebih baik nya biar ku selidiki terlebih dahulu. apa saja yang dia perbuat di sana?


semoga saja apa yang di katakan ibu ibu hari itu. tidaklah benar.


biar ku selesaikan masalah Anita terlebih dahulu. karna pikiran ku masih risau akan nasib Adinda.


Pagi ini. aku memutuskan untuk membuka toko kembali. namun siang nanti aku akan menjenguk Adinda di rumah sakit.


seperti biasa aku menyiapkan sarapan untuk ku dan Adit. setelah persediaan dapur habis. aku berencana akan masak sesuai dengan uang yang Adit berikan. jika memang tidak cukup baru ku tambah.


setelah sarapan Adit langsung pergi bekerja tanpa mengucapkan sepatah katapun. aku pun malas rasanya jika bertanya apa apa padanya?


punya suami tapi seperti bujang. tiap malam kerjanya hanya kumpul kumpul saja. pulang larut malam bahkan pernah tak pulang.


setelah kepergian Adit aku pun mulai bersiap. tentunya setelah membereskan rumah.


"Assalamualaikum"


saat tengah membereskan dapur. ada suara salam yang tak asing di telingaku.


aku pun bergegas berjalan menghampiri letak suara tersebut.


"Waalaikumusallam"


dan benar saja dugaan ku. Ibu mertua sudah duduk di dalam rumah.

__ADS_1


"Ibu? kesini sama siapa?" tanya ku sok asik.


"Kemana kamu kemarin? "


bukan nya menjawab pertanyaan ku malah dia balik bertanya?


"Eemm kemarin Tari bantuin teman Tari anak nya kritis" jawab ku seadanya.


"Hebat ya. kamu ngurusin orang lain. sampai rumah di tinggal"


aku tak menjawab ucapan beliau. aku sedang berusaha mengatur emosiku agar tak terpancing.


"Ibu mau Tari buat kan minum apa? atau mau makan?"


"Gak usah sok peduli. dimana Adit? dia sudah makan belum"


"Adit sudah berangkat bekerja Bu. tiap pagi sebelum pergi Tari selalu memberinya makan"


jujur aku sudah mulai malas dengan sikap nya. entah tercipta dari apa mulut mertuaku ini. hingga tidak ada rem pengontrol nya.


"Kalau suami kerja itu. jangan malah keluyuran."


"Iya Bu"


"Kamu sudah gak jualan lagi? terus kamu mau ngandelin anak saya gitu?"


kemarin dia bilang bagus aku gak jualan. karna rumah ini bukan toko. katanya berantakan lah. apa lah. kenapa sekarang malah bicara begitu?


lagian kalau aku hanya mengharapkan uang dari Adit. itu kan memang sudah kewajiban anak nya.


"Tari udah gak jualan Bu. Tari kerja di teman Tari"


malas rasanya menjawab pertanyaan nya.


Tari siapin minum dulu ya Bu. ucapku sambil berlalu pergi ke dapur untuk membuatkan nya teh.


setelah selesai aku pun menyediakan teh tersebut berharap dia melupakan ucapan ku tadi.


"Gimana? kamu kerja di mana, dan berapa gajih kamu?"


kenapa mertuaku ini kepo banget.


"Kerja di toko pakaian Bu. gajih nya 300 ribu tiap bulan"


biarlah aku berbohong.


"Ya ampun kamu cuma kerja di toko baju. udah gitu gajih nya cuma 300 ribu"


"Memang nya kenapa Bu. bukan nya Adit juga yang memiliki gajih besar. hanya memberi Tari 300 ribu tiap bulan. jika Adit memberi nafkah yang cukup Tari juga gak akan bekerja banting tulang"


sengaja ku bicara begitu? dia merendahkan pekerjaan sebagai penjual baju. dan gajih yang 30l ribu. bukan nya anak nya juga hanya memberiku segitu.


"Apa maksud kamu bicara begitu? kamu tuh masih muda. jangan banyak bergantung pada suami. "


tetap saja dia tak akan mau kalah dalam segala hal.


aku memilih diam tak menjawab perkataan nya.


lebih baik ku tinggalkan saja ke warung.

__ADS_1


malas rasanya berdebat pagi pagi dengan beliau. biarlah aku durhaka.


dari pada harus memiliki luka batin.


"Bentar ya Bu Tari ke warung dulu. ibu mau nitip?"


"Gak"


aku pun berjalan ke warung. dan tak tahu harus beli apa?


karna tujuan ku hanya menghindari perdebatan dengan mertuaku. ..


sesampainya di warung. si ibu penjual sudah menyambut ku ramah.


"Neng mau beli apa?"


Nah loh bingung gak? aku mau beli apa ya?


setelah beberapa saat mataku berkeliling dan akhirnya ku putuskan untuk membeli gorengan saja.


"Ini Bu mau beli gorengan"


"Oh mangga neng"


aku pun memilih beberapa gorengan. biar lah akan ku bawa saja ke toko. untuk ngemil sambil berharap ada pengunjung yang memborong dagangan ku.


setelah membayar gorengan yang ku beli.aku pun berjalan kembali ke rumah. saat aku masuk rumah. aku malah tak menemukan sosok Ibu mertuaku itu?


kemana dia?


saat aku baru saja melangkah ke dalam rumah. dan hendak mencari mertuaku ke dapur. mataku malah menangkap beliau berada di kamar ku.


ku intip dari luar kamar. beliau sedang mencari sesuatu di dalam lemari?


bahkan dia pun membuka beberapa laci rak kosmetik.


saat dia membuka lemari tempat ku menyimpan baju dan buku tabungan. aku pun berjalan menghampirinya. dan seketika beliau nampak kaget akan kehadiran ku.


"Sedang cari apa Bu?"


"Eemm nggak kok. lagi cari sapu"


"Sapu adanya di dapur Bu. kok nyari sapu di dalam lemari?"


jelas sekali wajah nya memucat? aku mulai suka dengan integrasi ini. biasanya dia yang menginterogasi ku sampai aku kehabisan kata? tapi kali ini malah sebaliknya.


"Eemm itu. Ibu lihat kamu rapih gak nyimpan baju? "


"Tapi kok sampai rak kosmetik terbuka Bu?"


wajah ibu mertuaku yang pucat dan matanya berputar nampak sekali dia gugup bukan main.


"Apa maksud kamu? kamu curiga kalau saya mau nyuri gitu?"


"Loh kok ibu bilang gitu? kan Tari gak bilang apa apa?"


"Sudah lah saya mau pulang. dasar mantu durhaka"


ucapnya sambil berjalan keluar.ku perhatikan beliau pergi entah kemana?

__ADS_1


__ADS_2