
"Sore"....
Suara seseorang yang sangat ku kenal?
"Sore juga pak" jawab polisi di depan ku seraya berdiri dan memberi hormat
Siapa orang yang datang? mengapa aku begitu mengenal suaranya? aku lekas bangun dan berbalik. sungguh mataku rasanya mau keluar semua.
Bima, datang dengan mengenakan seragam kepolisian, sungguh berbanding terbalik dengan penampilan nya yang sering ku lihat satu tahun belakangan ini.
Dia terlihat gagah dengan seragam coklat yang begitu ketat di tubuhnya...
"Ada apa ini pak?" tanya Bima seraya menghampiri kami.
"Eemm, bagaimana ya pak, ibu ini melaporkan...." jawab polisi di depan ku dengan gugup.
Mengapa polisi di depan ku begitu canggung bertemu Bima?
dan apa bima benar benar seorang anggota polisi?
"Apa?" tanya bima kembali, dia kini berdiri di samping ku.
Aku berusaha untuk tidak terpengaruh akan kehadirannya, memalingkan wajah adalah jalan utama.
"Gimana ya pak, maaf sebelumnya. ibu ini melaporkan bapak" jawabnya bingung.
"Oh, jadi kamu melaporkan aku?" tanya bima padaku.
"Iya!" jawabku tanpa melihat ke arah nya.
"Lihat sini" ucapnya.
"Gak!" jawabku.
"Ih, lihat sini dulu dong." ucapnya seraya memegang pundak ku
"Jangan pegang pegang,!" jawabku ketus.
Ku dengar dia malah tertawa, jika Bima polisi apa dia akan dihukum?
"Galaknya, nanti cepat tua loh" ucapnya.
"terserah" jawabku.
"Ya udah pak Bambang, apa hukuman untuk saya, karna saya memang tidak bisa jika tidak mengganggu dia. "
Seketika aku berbalik, masih bisa bisanya dia bicara begitu. aku semakin kesal saja di buat orang ini.
"Tapi pak" jawab polisi di depan kami.
"Ayo hukum saya pak, sesuai dengan undang undang, tapi sebelum itu saya juga mau Nona di samping saya ikut di hukum karna melaporkan saya tanpa bukti" ucapnya.
Seketika aku kaget bukan main, kenapa aku juga harus di hukum.
"Baik, ayo kalian masuk" jawab polisi di depan Ku.
Bima di gandeng masuk ke sel, dan sialnya kenapa aku juga ikut di gandeng. beberapa kali aku meminta untuk di lepaskan namun tak ada yang mendengar, mereka malah seperti orang yang tuli. sedangkan Bima hanya santai berjalan mengikuti arahan dari rekan nya.
Kami pun di masukan di satu sel, dan di kunci dari luar. ada satu petugas yang menjaga di luar.
"Gila kamu ya, benar benar lelaki gila!" ucapku.
"Kenapa marah marah? kan kamu mau aku di penjara? ini aku turutin" jawabnya ringan
"Aku memang mau kamu di penjara, tapi kenapa aku malah ikut di penjara?" jawabku.
"Hehe, gak apa apa, biar kita bersama disini. dan saat keluar kita langsung menikah indah bukan" ucapnya seraya tersenyum
"Ih, MIT amit siapa juga yang mau menikah dengan kamu!" jawabku
Bima berjalan mendekat, itu membuat ku sedikit ketakutan.
__ADS_1
kini dia berada tepat di hadapan ku. dengan tatapan elang nya dia terus menatapku tanpa berkedip.
ku dorong dia sekuat tenaga, karna kebetulan tubuhnya yang jauh lebih besar dari ku. aku harus mengeluarkan banyak tenaga untuk mendorongnya.
"Gak tahu kenapa aku bisa begitu tergila gila padamu" ucapnya seraya duduk di lantai.
"Kamu memang sudah Gila!" jawabku.
"Ya, sebelum aku bertemu dengan kamu aku masih sangat waras, hanya setelah bertemu entah kenapa aku bisa Gila" ucapnya.
"Dasar!" jawabku
"Padahal banyak sekali wanita di luar sana, tapi di mataku kamu wanita tercantik, dan aku benar benar tidak bisa melupakan kamu walau hanya semenit" ucapnya.
"Sudah ya, gak usah gombal aku gak suka lelaki gombal" jawabku ketus
"Hehe, ini salah satu yang aku suka dari kamu, kamu unik beda dengan yang lain. jika wanita di luar sana begitu mengejar ngejar lelaki berseragam, kamu beda, malah aku yang harus ngejar ngejar kamu!" ucapnya sambil tertawa.
"Aku gak minta" jawabku
Dia berjalan mendekat, dan duduk di dekat ku kami saling berhadapan saat ini. hanya terhalang beberapa jarak saja.
"Aku tahu apa yang kamu alami, ya memang semua nya berat karna aku juga pernah diposisi kamu. hanya saja beda cerita. Namun sikap kamu yang memiliki jiwa besar, membuat ku luluh padamu" ucapnya.
"Apa maksud kamu?" jawabku.
"Kamu tahu, aku bertugas disini kala hakim memutuskan hukuman untuk mantan teman, mantan suami, dan mantan mertuamu.
sebenarnya aku hanya di tugaskan untuk satu Minggu, namun setelah ku tahu alasan mereka di hukum dan Sikap kamu yang tenang bertemu para pelaku, terlebih saat kamu selalu mengunjungi mantan mertua mu tiap dua Minggu sekali, seraya membawa makanan kesukaan nya dan banyak buah untuknya membuat ku merasa penasaran tentang kamu" ucapnya.
"Hhmm" jawabku.
"Lalu, aku mencari tahu tentang kamu, dan kamu dengan mudahnya mau merawat anak dari perselingkuhan suami dan teman mu, sejak saat itu, aku mengajukan untuk bertugas disini. dan setelah permohonan ku di kabulkan. aku semakin penasaran, sebulan setelah ku tahu semua tentang mu, aku pun melamar kamu" ucapnya sambil tertawa.
"Jadi kamu benar polisi?" jawabku.
"Iya," ucapnya.
"Kenapa kamu mau di penjara begini? kan kamu bisa bebas minta pada rekan rekan mu?" jawabku.
"Gila!" jawabku.
"Oh iya, bukan nya tadi siang kamu marah dan mau menembak ku, ini tembak aku sekarang" ucapnya seraya menyodorkan sebuah pistol di lantai.
"Gila, kalau mau mati sendiri saja, ngapain nyuruh aku buat lakuin dosa, Dasar polisi gila!" jawabku seraya melempar pistol itu menjauh.
Bima masih saja memandangku, kadang ada senyum di sudut bibirnya.
itu membuatku merasa canggung karna terus di perhatikan.
"Pak, aku mohon bebaskan aku, ini sudah sangat sore ya ampun" ucapku pada petugas di luar.
"Kamu mau pulang?" tanya Bima.
"Iyalah, siapa juga yang mau di penjara, apalagi dengan kamu!" jawabku.
"Pak Bambang, buka sel nya dan bebaskan Nona ini" ucap Bima pada petugas itu.
dan tanpa menunggu lama, sel pun di buka, aku segera keluar begitupun dengan Bima.
aku bergegas untuk pulang ke rumah, rasanya berada tak lama disini hampir membuatku gila.
namun saat aku berjalan hendak pulang, mamah nya Bima malah sudah berdiri di depan.
"Loh, Nak Tari kok ada disini? Eemm oh iya mamah paham. kamu habis menemui Bima ya?" tanya mamah nya Bima.
"Eemm, itu eemm nggak kok Bu" jawabku bingung seraya mencium tangan beliau
"Eh mamah, kok kesini? ada apa?" tanya Bima menghampiri kami.
"Ini mamah mau anterin bekal buat kamu, tapi kayaknya mamah telat, udah ada seseorang yang selalu buat kamu kenyang jika melihatnya kan?" jawab mamah nya Bima.
__ADS_1
"Mamah tahu aja," ucap Bima.
Bagaimana ini, aku malah terjebak di obrolan mereka berdua. gimana caranya aku lari.
"Eemm, Bu maaf saya pamit mau pulang ini udah sore sekali takut kemalaman kasihan Dinda saya harus menjemputnya" ucapku berusaha pamit agar bisa terhindar dari Bima dan mamah nya.
"Oh iya sayang, Bima kamu anterin Tari, jangan biarkan dia pulang sendiri!" jawab mamah nya.
",Eemm tidak usah Bu, saya pulang sendiri saja" ucapku berusaha menghindar.
"Tidak, kamu tidak boleh pulang sendirian, ini hampir malam nanti kalau di jalan ada orang jahat gimana? Udah biar Bima yang anterin kamu pulang ya. dan mamah titip salam buat orang tua mu dan Dinda, mungkin dalam waktu dekat mamah akan main ke rumah orang tuamu" jawabnya.
Seketika aku kaget, mau apa mamah nya bima ke rumah ayah ku.
"Ya udah mah, Bima anterin calon mantu mamah dulu ya!" ucap Bima seraya mencium tangan mamah nya.
"Ayo sayang, kita pulang" ucapnya kemudian menarik tanganku.
"Eemm, Bu saya pamit pulang dulu Assalamualaikum" ucapku seraya mencium tangan beliau.
Akhirnya aku pulang di antar Bima, dengan motor sport yang kami tumpangi, membuatku kesulitan bergerak, karna Jok motor ini begitu kecil. jika aku terus mundur. bisa bisa aku jatuh ke aspal,
tapi sulit sekali untuk duduk tegak,
Satu tangan ku memegang bagian belakang jok motor ini untuk menahan ku agar tidak jatuh. dan tangan yang satunya ku gunakan untuk menahan tubuh ku agar tidak menyentuh Bima.
Tanpa aba aba, Bima menarik satu tangan ku dan dia genggam, membuatku semakin kesulitan untuk duduk tegak.
"Lepas, berani berani nya kamu pegang aku!" ucapku seraya menarik paksa tanganku.
"Diam, nanti kamu jatuh, aku tidak bisa memukul aspal jika kamu sampai terluka karna nya" jawabnya terus memegang tanganku.
Aku pun diam, hingga Bima membelokan motornya ke salah satu rumah makan dengan nuansa rindang di bagian depan.
"Ngapain kita berhenti disini?" tanyaku.
"Ayo turun dulu, aku lapar belum sempat makan, apalagi habis di penjara tadi. bisa bisa aku pingsan nanti gak bisa anter kamu pulang" jawabnya seraya tetap memegang tangan ku.
"Ya sudah, kamu makan saja aku pulang sendiri!" ucapku seraya berusaha berjalan. namun dengan cepat Bima menarik tanganku.
"Di penjara saja sudah menakutkan, jangan buat aku di hukum mamah jika dia sampai tahu aku tidak mengantar kamu sampai rumah dengan selamat" jawabnya.
Bima terus menarik tanganku masuk ke dalam. rumah makan tersebut.
saat masuk rumah makan ini, sungguh indah, rupanya bukan hanya rindang di bagian luar, namun saat masuk ke dalam nya. begitu nyaman dengan deretan kursi dan lesehan di bawah setiap lesehan terdapat kolam ikan mas yang jernih dan indah.
Bima memilih duduk di lesehan. dengan kolam ikan mas di bagian bawah yang sangat jelas terlihat, karna kita harus menyebrang jembatan pendek saat hendak duduk.
tempat nya sangat indah, karna begitu banyak bunga bunga berderet menghiasi setiap lesehan.
aku akan membawa ayah kesini nanti. pasti dia akan sangan senang.
Kami pun duduk, tak lama ada pelayan yang membawa menu, Bima memesan makanan yang ingin dia makan,
tidak ada obrolan di antara kami, sampai makanan yang Bima pesan tiba.
Aku tertegun kala pelayan membawa begitu banyak menu makanan, dari ayam dan ikan Bakar. ada tumisan serta bermacam jenis sambal.
"Kamu pesan ini semua?" tanyaku
"Iya, ini semua adalah menu andalan di CAFE ini" jawabnya.
"Kamu sering makan disini?" tanyaku.
"Iya, dan sudah jangan banyak bertanya? kita makan sekarang" jawabnya
Awalnya aku tidak ingin ikut makan, karna tidak terlintas di benakku untuk makan berdua dengan lelaki yang setahun lalu ku anggap musuh ku.
Namun, Bima malah hendak menyuapi ku jika aku tidak makan, membuat sebagian pengunjung melihat ke arah kami, dari pada aku harus menahan malu karna tingkah konyol nya. aku pun makan bersama dengan nya....
Beberapa lama makanan yang Bima pesan telah tandas, Bima sempat menawariku dengan Dessert namun aku sudah tidak sanggup untuk memakan nya.
__ADS_1
kami pun hendak pulang, namun saat berada di meja kasir. Bima malah berjalan sambil menggandeng tangan ku tanpa membayar, membuat ku kebingungan serta malu, karna tidak sedikit orang yang melihat ke arah kami,
dia hanya melambaikan tangan pada pelayan itu...