
Sengaja ku ucapkan sedemikian, aku ingin lihat bagaimana kata kebebasan menggoyahkan keberadaan mereka.
"Nak, bebaskan ibu saja, Adit dan Anita yang bersalah" ucap ibu mertua
"Tidak sayang, bebaskan aku saja, biarkan ibu dan Anita disini, kita akan memulai hidup kita dari awal" sungguh menjijikan. membayangkan hidup kembali dengan nya.
"Tidak Tari, Nak ibu sudah tua, ibu tidak betah disini nanti ibu bisa sakit"
"Bohong, Biarkan saja ibu disini dia sudah Tua. hidupnya juga paling tak akan lama"
"Apa yang kamu katakan Adit, kamu mau jadi anak yang durhaka"
"Adit kan gak salah, ibu sudah tua memang sepantas nya ibu disini"
"Kurang ajar kamu, ibu ini ibu kamu adit"
"Adit gak peduli, Tari tolong bebaskan aku saja. biarkan ibu dan Anita membusuk di sini"
"Enak saja, kenapa kamu harus bebas sedangkan aku harus disini bersama ibumu?"
"Istriku pasti akan membebaskan ku, kalian silahkan membusuk di sini, iya kan sayang?"
"Gak bisa gitu dong, Aku ini juga istrimu ibu dari anak mu?"
"Aku tidak peduli, mau kamu membusuk disini bersama ibu,"
"Adit, tega kamu bicara begitu pada ibu!"
Satu adegan yang sangat menyenangkan, mereka berdebat memperebutkan kebebasan yang tidak akan pernah ku kabulkan,
perdebatan yang mereka lakukan. apa kah sama sebelum mereka berusaha membunuhku?
Teman, Suami dan mertua tiada akhlak.
sekarang mereka berbondong bondong berkata baik padaku hanya demi sebuah kebebasan.
ku perhatikan mereka dengan seksama, ada kepuasan dalam jiwa. itu artinya mereka semua tersiksa di dalam sini.
"Cukup, cukup. aku tidak ada waktu silahkan kalian berdebat" ucapku melerai mereka.
"Nak, kamu mau kemana? ibu ikut ya?"
"Tidak, aku yang ikut bersamamu"
"Tidak ada satupun dari kalian yang akan ikut pulang denganku, kenapa? karna aku tidak pernah berniat membebaskan salah satu dari kalian!"
"Dasar perempuan jahat!" ucap Anita
"Seharusnya kamu berkaca, oh atau mau aku bawakan cermin kesini. agar kamu bisa mengkoreksi diri kamu? siapa yang jahat disini?"
Hampir satu tamparan mendarat di pipiku. namun segera ku tangkis,
__ADS_1
"Jangan pernah berani mengangkat tangan kotor mu padaku Anita! Atau aku akan buat kamu menyesal seumur hidup!"
Anita menarik kasar tangan nya, dia kira aku akan diam seperti dulu, di bodohi
dan di bohongi berkali kali,
"Memang nya kamu bisa apa? kamu hanya wanita bodoh"
"Aku bisa melakukan apapun yang aku mau, Jika aku berhasil membuat kalian berada disini. kenapa aku tidak bisa membuat kalian menderita sebelum...."
Ku gantung ucapan ku. agar tiga manusia di depan ku penasaran akan ucapan ku.
"Aku cape meladeni kalian, kita akan bertemu saat hari persidangan kalian di tentukan. saat itu aku akan melihat hukuman apa yang pantas untuk kalian semua"
Aku berjalan meninggalkan mereka. hanya suara panggilan Adit dan ibu mertua yang memintaku membebaskan mereka.
itu tidak akan mungkin.
"Ku kira tadi kamu mau membebaskan salah satu dari mereka?" Desi pun bertanya.
"Tentu tidak, apa yang mereka perbuat harus di bayar mahal"
"Bagus lah, Ayah kira kamu masih berat melihat Adit berada di sana dan hendak membebaskan nya?"
"Sudah lama sekali Tari sudah tidak memiliki perasaan pada Adit, apalagi setelah apa yang dia lakukan"
"Polisi mengatakan persidangan mereka paling akan di langsungkan satu bulan lagi, semoga mereka mendapat hukuman yang pantas dan sepadan dengan apa yang mereka perbuat," ucap ayah.
Kami pun sampai di rumah ku, Ibu yang sudah menunggu dari tadi merasa risau.
"Bagaimana? Apa semua baik baik saja?"
"Semua baik, Kita hanya butuh menunggu satu bulan lagi. agar tahu hukuman untuk mereka"
"Syukurlah,"
Setelah makan bersama, Desi memutuskan untuk pulang, sedangkan Ayah dan Ibu akan menginap disini,
Baguslah setidak nya aku ada teman malam ini,
Malam pun tiba, namun anehnya aku malah tidak bisa beristirahat dengan tenang, pikiran ku terganggu akan Dinda?
apa dia baik baik saja di rumah bapak,
Sepertinya karna sering bersama anak itu, aku merasa dekat dengan nya. jadi begini saat dia harus menginap di rumah bapak,.
Sampai pagi aku tak bisa memejamkan mataku,.
ingatan akan gadis kecil itu terus saja mengganggu pikiran ku.
08,30. pagi.
__ADS_1
Bapak dan Umaya mengantarkan Dinda ke rumah,
"Bagaimana, apa Dinda merepotkan kalian?"
"Tidak, hanya dia tidak bisa tidur. nanyain Terus Tante"
"Maaf ya, Tari merepotkan kalian?"
"Tidak, Bapak malah senang bisa mengurus Cucu bapak"
"Kakak hebat, bisa merawat anak yang lahir dari rahim wanita yang sudah menghancurkan rumah tangga Kakak, dan lebih buruk nya dia ikut andil dalam upaya pembunuhan itu"
"Tidak kok, Kebetulan Dinda ini memang sering bertemu kakak dulu, jadi mungkin dia sudah tidak asing lagi"
"Bukan begitu, Anak kecil tahu mana yang menyayanginya atau tidak? Dinda beruntung bisa bertemu kakak, kalau aku ada di posisi kakak, jangan kan mengurus anak wanita itu, melihatnya pun aku tidak Sudi"
"Manusia memang memiliki sikap dan sifat yang berbeda Umaya, ada kelebihan dan kekurangan juga, kakak juga memiliki kekurangan"
Kami pun saling bercerita, Ayah ada keperluan sampai mengharuskan nya pulang,
"Bapak, apa bapak tidak akan mengunjungi Ibu?" tanya ku kala bapak tengah menyesap kopinya.
"Tidak tahu Nak, bapak masih sangat kecewa akan perbuatan mereka!"
"Kalau kamu Umaya?"
"mungkin nanti saja Kak, Umaya malu atas perbuatan mereka, berita kejahatan mereka sudah menyebar sangat luas, sampai terdengar ke keluarga suamiku, dan aku jadi bahan gunjingan di sana"
"Maaf kan Tari pak, maaf Umaya"
"Tidak Nak, kamu sama sekali tidak bersalah, kamu adalah korban disini, dan mereka memang pantas di hukum"
Ada rasa kasihan pada Umaya, aku tahu apa yang dia rasakan. berita atas kejahatan yang di lakukan ibu dan kakak nya pasti membuat keluarga dari suaminya selalu membicarakan dirinya,
Namun, aku pun tak bisa berbuat apa apa, biarlah hukum yang menentukan apa hukuman yang pantas untuk mereka bertiga,
Mungkin dengan begini, mereka akan sadar akan perbuatan yang telah mereka lakukan,
Aku hanya akan pokus pada persidangan nanti, karna kemungkinan hakim akan meminta ku menjelaskan kronologi kejadian tersebut,
dan aku harus menyiapkan mental yang kuat agar tidak goyah kala mengingat semua yang telah mereka perbuat padaku.
terlebih saat mereka berupaya menghilangkan nyawaku dan berhasil membunuh anak ku,
itu akan membutuhkan tenaga, aku harus menahan diri agar tidak terpancing saat ber sitatap dengan mereka bertiga di persidangan.
Aku hanya berharap, semua berjalan lancar tanpa ada kendala. dan mereka mendapat hukuman yang pantas. atas apa yang mereka perbuat..
aku tidak akan berdoa atas kematian seseorang, Namun aku berharap hukuman yang di berikan sesuai dengan apa yang di alami putri kecilku.
Jika pun aku diharuskan menjadi manusia jahat dan tanpa belas kasih,
__ADS_1
demi keadilan putriku. aku akan melakukan itu...