Bahagiaku Setelah Berpisah

Bahagiaku Setelah Berpisah
"KEBENARAN YANG MENYAKITKAN"


__ADS_3

Setelah kejadian tersebut. membuatku takut bila Adit mulai marah,


Rumah yang sempat ku inginkan. sekarang sudah sah menjadi milikku. dan kehamilan ku sudah berjalan 7 bulan. bahkan setelah mengetahui kehamilan ku Adit tidak lah berubah sama sekali.


malah dia bersikap semakin arogan dan kasar. tamparan sudah menjadi makanan sehari hari bagiku.


malah dengan sengaja nya dia membawa wanita ke rumah. dan bermesraan di hadapan ku.


entah terbuat dari apa hati suamiku?


Atau memang ini lah sikap nya yang sesungguhnya. sikap yang tidak ku tahu dulu?


Sikap yang dia sembunyikan di balik Mushola?


kini tidak ada lagi Adit yang rajin beribadah, Apalagi bersikap baik dan lembut seperti dulu. melainkan Adit yang kasar dan mudah melayangkan tangan jika tidak ku turuti apa mau nya?


Hari itu...


terjadi pertengkaran hebat antara aku Adit dan ibu mertua.


uang yang sengaja ku cairkan untuk membuat syukuran 7 bulanan kandunganku. di rampas ibu mertua dan Adit.


Marah, sudah pasti aku marah.


sudahlah Adit tidak lagi menafkahi ku. Pukulan yang sering ia layangkan padaku.


bahkan hinaan yang selalu di lontarkan ibu mertua padaku. Tak tanggung tanggung. ibu mertua mempertanyakan siapa Ayah dari anak yang ku kandung.


di hadapan banyak orang. beliau mengatakan bahwa aku hamil anak hasil hubungan gelap dengan lelaki lain. hingga membuat sebagian warga mencemooh ku. bahkan meludah saat aku lewat di hadapan mereka.


Sumpah dan penjelasan selalu ku katakan namun fitnahan yang selalu di bumbui anak dan ibu itu. berhasil membuat penjelasan ku menjadi angin lalu.


Ayah semakin marah padaku. bahkan Nomor Telpon ku pun sudah di blokir


Aku tak tahu? Apa lagi fitnah yang kedua orang ini katakan pada orang tuaku.


Yang jelas semenjak kejadian hari itu.


Aku tidak lagi bisa menghubungi keluargaku.


"Kembalikan uang itu Bu, itu untuk tujuh bulanan bayiku. cucu ibu!" ucapku memohon.


"Gak usah lah pake acara tujuh bulanan segala. lagian anak itu kan anak haram. tidak pantas"


"Dit, aku mohon minta ibu mengembalikan uang ku" Aku memohon pada Adit.


"Sudahlah biarkan saja, lagian gak perlu lah buang buang uang untuk bayi itu"


"Dit, ini anak kamu. kenapa kamu bersikap begitu?"

__ADS_1


"Aku tak peduli, Mau anak itu hidup atau mati pun aku tak peduli"


"Apa maksud kamu? Tujuan setiap pernikahan itu untuk bayi Dit"


"Tidak, Kamu mau tahu apa tujuan ku Sudi menikahi mu?"


Ku lihat wajah Adit dengan seksama. sesekali ku lirik ibu mertua yang masih memegang uang ku dengan senyum sumringah melihatku.


"Apa?"


"Agar aku tak perlu cape cape mencari uang, dengan aku menikahi mu Ayah mu akan berhutang Budi padaku dan mau memberikan apa saja yang aku mau"


Tidak ku sangka, apa yang aku dengar itu yang Adit katakan. jadi selama ini dia hanya bersandiwara bersikap baik di hadapan Ayah dan aku. agar kami luluh padanya.


"Apa yang kamu bicarakan Dit?" aku masih bertanya. berharap yang ku dengar adalah kebohongan.


"Iya, itu semua benar. Tapi sayang nya sekarang Ayah mu sudah tidak lagi memberiku uang. Malah dengan entengnya bicara kerja yang rajin agar bisa membiayai kehidupan ku dan kamu!"


"Kamu berbohong kan Dit?"


"Kamu jadi perempuan ko bodoh nya kebangetan ya, Anak saya itu sudah bicara yang sesungguhnya. kenapa? kamu berharap Anak saya Mencintai kamu begitu?"


Ku lihat wajah ibu mertua. berharap ada pembelaan dari suamiku. bahwa apa yang di katakan nya dan ibunya adalah kebohongan.


"Dit?"


"Sudahlah Tar, Semua yang aku katakan itu lah kebenaran nya. dan satu lagi Mau anak itu anak aku atau pun bukan. aku tidak peduli.


"Jleebb"


Seketika hatiku benar benar sakit. pantas saja Adit seolah tidak peduli padaku. bahkan saat dia mengetahui aku tengah mengandung.


sampai tega nya membawa wanita lain ke rumah.


ternyata ini kebenaran yang mereka tutupi. pantas saja ibu mertua selalu mengatakan Aku dan Ayah berhutang padanya. rupanya tujuan pernikahan ini hanya sebatas uang?


Kemarahan mulai menggerogoti tubuh ku. tangis tak lagi terbendung. melihat dua manusia yang tersenyum puas di hadapan ku. dengan apa yang mereka perbuat. tidak kah mereka memiliki hati walau sedikit.


Aku bangkit dari duduk ku. yang sehabis memohon penjelasan pada suami yang ku hargai selama ini.


suami yang bahkan tidak pernah memberiku nafkah. yang setiap hari menamparku hanya demi uang.


Ku tatap kedua manusia yang tengah tersenyum atas kemenangan nya.


ku pastikan senyum itu tidak akan bertahan lama.


"Baik lah, Terima kasih atas semua nya. kalian berhasil membodohi ku dengan sandiwara kalian. Sekarang tidak lagi. Akan ku adukan perbuatan kalian pada Ayah ku."


"Adukan sana, Kami gak takut lagian orang tua kamu sudah jijik melihat kamu. mereka tak akan percaya"

__ADS_1


"Ya, tapi bukti rekaman dan video senonoh Adit. saya rasa itu sudah cukup"


Mereka memucat seketika kala aku katakan itu, Aku langsung menutup pintu kamar dan menguncinya.


tangisan ini benar benar tidak bisa ku bendung. dia mengalir dengan sendirinya.


masih tak percaya dengan apa yang ku dengar. Aku sudah tidak bisa bertahan lagi di rumah ini. aku akan pindah segera.


setelah melahirkan aku akan mengurus surat perpisahan.


untuk apa aku bertahan sekuat tenaga. melihat kedzaliman yang suami ku lakukan.


dengan keyakinan dia akan berubah demi anak kami. rupa rupa nya itu hanya angan yang terlampau tinggi.


bahkan suamiku tidak mengharapkan kehadiran anak ku ini.


Ku ambil ponsel dan menghubungi Desi.


"Des, tolong bawakan ojek barang. aku akan pindah segera.." begitu lah isi pesan yang ku kirim pada Desi.


Tidak butuh waktu lama. Desi membalas pesan yang kirim.


"Baik, Aku segera ke sana"


Tanpa pikir panjang. ku masukan semua baju baju ku yang tersisa. walau jumlah nya semakin berkurang. karna Adit tak segan membuang atau membakarnya jika tidak ku beri uang.


ini akan memudahkan ku pindah. karna tidak terlalu banyak barang.


satu koper penuh dengan baju dan tas ku. sedangkan koper yang satu penuh dengan sendal dan alat make up ku.


Setelah selesai berkemas. tidak lagi terdengar suara Adit dan ibunya. mungkin mereka sudah pergi.


tak berapa lama Desi pun tiba dengan Beca motor yang dia tumpangi.


aku pun mengeluarkan dua koper yang ku seret bersamaan.


"Ada lagi?" tanya Desi padaku dan mengambil alih koper yang ku pegang.


"Tidak,"


"Baik, ayo naik hati hati"


Aku menutup pintu rumah. dan naik ke Beca motor yang di pesan Desi. beberapa warga melihat ku. ada yang melihat kasihan dan ada yang membenci.


itulah manusia, dengan mudah nya mereka percaya apa yang mereka dengar. tanpa mengetahui kebenaran yang tidak terlihat..


Aku pun meninggalkan rumah. yang dulu ku anggap akan menjadi surga antara aku, Adit dan anak anak kami. tawa anak anak kami akan menghiasi seisi ruangan di rumah itu.


namun bukan nya cerita bahagia. melainkan rumah itu menjadi saksi bisu. kekejaman yang di lakukan Adit dan ibu mertua padaku..

__ADS_1


Sekitar 20 menit, Kami pun sampai di rumah ku. rumah yang ku beli dari hasil jerih payah ku berjuang mati Matian. memeras keringat demi memperjuangkan rumah tangga ku.


Semoga rumah ini akan membawa keberhasilan untuk ku. dan anak ku...


__ADS_2