
Seketika aku dan Desi terkejut bukan main,
Kami sampai mundur beberapa langkah.
Ku kira isi nya hewan buas, ternyata Manusia tidak tahu malu! mau apa dia masuk ke dalam Dus besar ini.
"Ya ampun" ucap Desi seraya terus menatap heran pada Lelaki di dalam dus itu.
Mau apa sebenarnya orang ini?.
"Surprise..." ucapnya seraya keluar dari dus besar itu.
Ku lihat Desi melihat ke arahku dengan tatapan heran dan ada senyum di sudut bibirnya.
"Ini buat kamu dek" ucapnya seraya memberikan kotak kado dengan pita di atas nya.
Aku tak menggubris ucapan dan kotak yang dia sodorkan.
"Ayo di ambil dek" ucapnya seraya memaksaku mengambil kotak pemberian nya.
"Eemm, Maaf, aku masuk aja ya silahkan kalian ngobrol" pamit Desi seraya pergi meninggalkan ku.
"Kok diam aja sih? kok muka nya di tekuk gitu?" ucapnya karna aku masih belum bicara dan masih melihat nya dengan tatapan tak suka.
"Eemm, ayo dong di buka" ucapnya lagi.
Bagaimana caraku menghadapi manusia ini? baru saja hidupku membaik setelah terjerumus dalam kehidupan yang palsu dan penuh derita, sekarang aku harus berhadapan dengan Lelaki asing yang memiliki sikap yang aneh luar biasa.
"Kok diam aja?" ucapnya kemudian.
"Maaf ya mas, Apa mas yang ngirim paket Bunga dan coklat ke toko saya!" jawabku kesal.
"Iya, kamu suka dek?" ucapnya seraya tersenyum.
"Saya minta tolong anda bawa lagi semuanya, saya tak suka toko saya berantakan karna bunga Bunga ini!" jawabku.
Lelaki itu hanya diam, dia terus melihatku tanpa berkedip sedikitpun
"Cantiknya..." ucapnya seketika aku kaget.
"Tolong jaga batasan anda ya mas, Kita gak saling kenal dan saya minta berhenti bersikap begini. saya sudah menanggung malu beberapa hari yang lalu karna perbuatan anda!" jawabku dengan suara sedikit meninggi.
"Aku suka liat kamu marah, semakin imut kelihatan nya!" ucapnya.
"Astaga! saya minta anda pergi dari sini sekarang, dan saya tidak mau tahu bawa semua ini bersama anda, atau saya laporkan anda ke polisi, karna sudah mengganggu saya!" jawabku semakin kesal di buatnya.
"Siapa yang berani menangkap ku?" ucapnya.
"Dasar gila!" jawabku kesal.
Aku pun meninggalkan nya dan masuk ke dalam toko.
__ADS_1
lekas aku duduk di kursi kasir dan menggantikan Desi yang sedang duduk.
Bukan nya pergi, lelaki itu malah ikut masuk ke dalam.
"Ngapain anda masuk kesini? saya sudah minta anda pergi kan? kenapa belum pergi juga!" ucapku semakin marah.
"Galak amat sih?" jawabnya.
Desi hanya melihat kami, begitupun dengan dua pegawai ku, karna kebetulan pengunjung sudah pergi tadi.
"Des, tolong suruh orang ini pergi. atau aku panggilkan keamanan" ucapku pada Desi.
"Eemm, maaf mas, mas nya bisa pergi gak? kami sedang sibuk" ucap Desi pada lelaki yang tengah berdiri menghadap ku.
"Mbak, kalau mbak nya sibuk silahkan lanjutkan pekerjaan nya, saya disini hanya ingin menemui Tunangan saya" jawabnya ringan.
Mata ku semakin membulat, Desi terlihat salah tingkah di buat orang ini.
"Saya bukan Tunangan anda, kita saja tidak saling kenal bagaimana bisa tunangan?" ucapku dengan suara sedikit meninggi.
"iH, kamu mah suka gitu, kan baru juga beberapa hari yang lalu kita bertunangan di depan sana" jawabnya seraya menunjuk halaman toko.
"Dengan ya mas, saya sudah memiliki anak dan saya tidak berminat untuk menikah. jadi saya mohon jangan ganggu saya!" ucapku
"Aku tahu, dan aku yang akan jadi bapak nya!" jawabnya.
"Bisa gila aku bicara dengan anda, buat pusing saja!" ucapku.
"iH, mau kemana? ini kadonya belum juga di buka" ucapnya yang memegang stang motor ku.
"Kamu bawa lagi semua yang kamu bawa kesini, dan untuk cincin akan saya taruh di sini. silahkan nanti kamu ambil!, dan saya mohon jangan ganggu dan temui saya lagi," jawabku berusaha menahan emosi.
Aku pun meninggalkan toko dengan sejuta kesal. ku kira hidupku sudah tenang ternyata masih saja ada gangguan untuk ku.
Aku pun pergi ke toko kosmetik untuk melihat kondisi di sana?
"Bu, coklat nya ada di meja" ucap karyawan ku kala aku baru memasuki toko ini.
"Iya," jawabku seraya terus berjalan masuk.
Dan saat ku lihat, meja yang di maksud nya, mataku melebar sempurna. karna coklat dengan berbagai ukuran memenuhi meja dan bahkan sampai menumpuk.
"Tia, kok banyak banget?" tanyaku pada Tia karyawan ku.
"Kan ada lima dus Bu!" jawabnya.
"Dus? " ucapku kaget.
"Iya Bu, kok tumben ibu beli coklat sebanyak itu?" tanya nya.
"Tolong bantu saya untuk memasukan semua coklat itu!" jawabku.
__ADS_1
Tia pun menuruti perintahku. dia memasukan semua coklat kedalam dus nya kembali.
ku kira hanya ada 5 batang coklat bukan lima dus, dan kemudian aku mengirim semua coklat itu toko pakaian. untuk di serahkan pada lelaki itu oleh Desi.
Lelaki itu benar benar Gila, apa sebenarnya tujuan nya? dan siapa dia sebenarnya?
************
6 Bulan telah berlalu, hari ini adalah hari kenaikan kelas Dinda. ya dia akan naik ke kelas dua sekolah dasar,
Aku, Ayah, Ibu bapak serta Umaya menghadiri acara tersebut. ada beberapa pentas yang bawakan oleh para murid dan ada pertunjukan permainan Calung.
Saat tengah menyaksikan tiap acara, tiba tiba seorang Guru memanggil Dinda ke atas panggung.
Sontak itu membuat kami sekeluarga terkaget kaget.
Rupanya Dinda mendapat peringkat tertinggi dari yang lain, aku memang belum sempat memeriksa buku lapor Dinda. karna kesibukan ku dengan beberapa usaha ku. terlebih aku tengah berencana membuka Salon di pasar yang kebetulan belum ada di desa ku,
Dinda mendapat beberapa hadiah. dan Dinda di berikan sebuah pengeras suara.
"Dinda mau berterima kasih pada mamah Tari, karna dengan baik nya mau merawat dan membesarkan Dinda layaknya anak mamah, Dinda tahu mamah Tari bukan mamah Dinda. Tapi mamah begitu baik dan sayang pada Dinda, Dinda sayang mamah" ucapnya seraya menunjuk ku yang tengah duduk di kursi wali murid.
Tak ku sangka gadis yang ku besarkan dulu, dengan polos nya berucap sedemikian rupa. Sejak dulu kami memang tidak merahasiakan siapa ibu kandung nya Dinda dan Ayah nya.
Menurut ku itu lebih baik, karna jika kita merahasiakan sesuatu. kelak pasti dia akan tahu. dan aku sama sekali tidak berniat untuk menggantikan ibu kandung nya.
beberapa kali aku meminta Dinda untuk memanggilku Tante, namun dia hanya bisa melakukan nya beberapa kali saja.
Terlebih saat dia sudah lancar berbicara dan telah bersekolah, dia terus memanggilku Mamah,
Dinda turun dari atas panggung, dan langsung berlari menghampiriku dia mencium tanganku kemudian memeluk ku erat, .
semua orang yang hadir di acara ini, bertepuk tangan akan apa yang mereka lihat,
"Ini buah dari yang kamu tanam Nak," Ucap Ayah seraya mengelus kepala ku.
"Ibu bangga padamu Nak, Selain karna kamu telah sukses dan merubah hidup kami sampai bisa menyekolahkan adik adik mu, kamu juga dengan sabarnya mampu merawat Dinda tanpa mempermasalahkan masa lalu ibunya" ucap ibu seraya memegang pundak ku.
"Iya benar Bu, Kak Tari adalah wanita yang hebat. Umaya saja belum tentu bisa melakukan apa yang dia lakukan" jawab Umaya.
"Bapak selalu bangga padamu Nak, kamu telah berhasil membuat bapak merasa bangga dengan menjadi Putra bagi bapak," ucap bapak mengelus kepala ku.
"Terima kasih, semua berkat doa dan kasih sayang serta kepercayaan kalian pada Tari, Tari tidak akan bisa sesukses sekarang tanpa doa kalian" ucapku.
"Dinda Sayang Mamah" ucap Dinda seraya mencium pipiku.
"Iya, Tante juga sayang pada Dinda," jawabku.
Saat tengah larut dalam situasi mengharukan ini, mataku malah menangkap sosok yang tak asing di mataku.
"Apa aku gak salah lihat?.....
__ADS_1