
Tepat hari ini adalah hari kelahiran bayiku, bayi hasil hubungan ku dengan Adit.
seorang bayi perempuan yang cantik dan sehat. Adit menemaniku bersalin dan sempat mengadzani anak nya.
namun karna pekerjaan nya yang membuatnya sangat sibuk dia sempatkan menemaniku.
namun aku bahagia. semenjak kelahiran bayi kami. setiap malam Adit berada di rumah. walau kadang permintaan nya yang aneh
karna aku baru saja melahirkan..
Berita lahiran ku pun di ketahui teman baik ku. yaitu Tari, beberapa hari setelah melahirkan. Tari berkunjung dan membawa banyak buah tangan. ada baju bayi ada perlengkapan bayi. dan dia juga membawa beberapa buah untuk ku.
Aku beruntung memiliki teman sebaik dia. tak apa aku kehilangan Desi. karna sudah ada Tari sebagai gantinya.
Hubungan ku dengan Tari semakin hari semakin baik. sikap Tari yang memilki jiwa yang penuh dengan belas kasih membuatku nyaman berteman dengan nya.
beberapa kali berkunjung ke rumah nya sikap nya tidak pernah berubah sedikitpun. dia selalu membekaliku dengan banyak barang dan makanan. bahkan tidak lupa dengan uang nya.
Satu Hari...
semenjak melahirkan Adit jarang sekali berkunjung dan memberiku uang untuk kami makan. hingga aku tidak lagi memiliki beras untuk di makan.
ada rasa kasihan pada anak ku. yang baru berusia sekita 8 bulan. dia sering kelaparan
aku merasa bingung harus bagaimana?
meminta bantuan pada Tari terus rasanya Malu, ya walau dia pasti akan membantuku. namun aku malu. takut ketahuan suaminya.
aku pun meminta nasi bekas pada beberapa tetangga. walau dari mereka memberi sembari mencibir ku. beberapa hari kegiatan meminta makan ku lakukan.
satu hari selama tiga hari. tidak ada yang memberi kami makan. karna kami terlalu sering meminta. aku dan anak ku hanya bisa minum air putih saja. sampai akhirnya putriku terserang demam. suhu tubuhnya sangat panas. aku tak tahu harus berbuat apa?
dia menangis sepanjang malam.
pagi itu, Desi datang ke rumah, dia membawa baju baju bekas keponakan nya untuk anak ku. dan nasi di piring.
namun karna rasa benciku pada wanita itu. aku pun membuang nya tepat di hadapan nya.
"Dasar tak tahu terima kasih. sudah di kasih malah di buang"
umpatan yang Desi katakan membuatku semakin kesal. apa menurutnya aku membutuhkan bantuan nya?
Semakin hari Suhu tubuh putriku semakin tinggi, aku berusaha mencari Adit kala putri ku tengah tidur. ku bawa dia berkeliling mencari keberadaan Adit, hingga ku temui dia di satu tempat tengah berkumpul dengan teman teman nya,
"Dit, Tolong putri kita sakit. kita harus bawa dia ke dokter" ucapku.
__ADS_1
"Apa sih, aku gak ada uang kamu kompres saja nanti juga sembuh. manja banget sih"
Jawaban adit seketika membuatku tak percaya dengan apa yang aku dengar,
"Dit, Aku mohon kasihan Adinda"
"Berisik sekali, ini ambil ini udah sana pergi ganggu saja!"
Adit mengusir ku dan hanya memberi uang 10 ribu saja. mana cukup untuk membawa Anakku ke dokter.
.aku pulang dengan perasaan yang hancur.
aku pun memutuskan untuk meminjam pada tetangga.
namun satu pun dari mereka tidak ada yang meminjamkan uang padaku. mereka hanya menyuruhku untuk meminta pada suami atau mertuaku.
Beberapa hari Adinda tidak kunjung bangun. bahkan menggerakkan tubuhnya pun tidak. suhu tubuhnya sangat dingin. sedangkan kepala nya sangat panas.
ku periksa setiap saat. apa Adinda masih bernafas..
jika ku temukan masih ada nafas di tubuh Adinda. aku pun tenang kembali.
hidup dalam kesusahan membuatku tak bisa berbuat apa apa. ku kira dengan menyerahkan seluruh hidup ku pada Adit. semua akan berubah karna ku tahu Adit berasal dari keluarga yang berpunya.
Tiada harapan. ku pasrahkan hidup Adinda pada yang di atas,
namun di hari ke sepuluh. Tari datang berkunjung. dia membawakan apa yang aku butuhkan. makanan dan jajanan anak ku.
Seperti malaikat bagiku, dia selalu hadir di saat aku mulai lelah dengan hidup. namun dia mencari keberadaan putri ku yang tidak terlihat.
dengan berat hati, aku menuntunnya pergi ke tempat di mana putriku tidak bangun selama sepuluh hari.
dengan wajah yang mulai tak bisa ku artikan. Tari terus bertanya apa yang terjadi.
mulutku rasanya berat untuk berucap. namun akhirnya ku katakan apa yang terjadi.
tanpa terduga. Tari dengan cekatan membawa Adinda ke rumah sakit. padahal kami tidak ada hubungan darah apapun.
Dia membayar semua biaya pengobatan Adinda. dan bahkan memberiku sejumblah uang untuk makan.
*********
Hari ini adalah hari pernikahan ku. dengan Adit. walau hanya menikah secara siri. namun aku merasa bahagia.
pernikahan ini di hadiri ketua RT dan RW dan beberapa warga yang memaksaku menikah di hadapan mereka sebagai bukti. karna aku tak bisa menunjukan buku pernikahan.
__ADS_1
Malam pertama kami berjalan selayaknya pengantin baru. namun itu tak bertahan lama.
Walau Adit kadang berkunjung dan membawakan beras atau Nasi goreng.
itu tak apa. setidak nya ada makanan untuk di makan putriku.
Hingga satu hari. aku mengetahui bahwa Adit telah menikahi Tari, Ya walau usia pernikahan mereka lebih dulu dari pernikahan ku.
namun hubungan ku jauh berjalan lebih dulu dari mereka.
kesal sudah pasti aku kesal. aku mencari tahu kehidupan mereka dan mengetahui bahwa pernikahan mereka karna di jodohkan.
ada rasa lega di hati. bahkan saat ibu Adit tak menerima Tari, Semakin jauh ku tahu bahwa Adit tidak begitu mencintai Tari, dia hanya menjadikan Tari sebagai alat untuk memeras mertuanya.
Aku pun menemui Adit dan mulai menjalankan rencana licik ku.
"Aku tahu kamu sudah menikah dengan Tari!" ucapku yang sontak membuatnya membulatkan mata.
"Dari mana kamu tahu?"
"Itu tak penting, tapi yang pasti dia tidak Tahu tentang hubungan kita!"
"Jangan coba coba kamu!"
"Aku akan menyimpan rahasia ini, asalkan kamu selalu pulang ke rumah dan memberiku uang. maka rahasia ini akan aman"
"Gila kamu!"
"Aku hanya meminta Hak ku, aku berhak memiliki kamu kapan aku mau, dan berhak meminta uang yang Hak ku pula"
Ku lihat Adit tengah berpikir.
"Bayangkan saja. jika mertuamu Tahu hubungan kita, ku yakinkan Tari akan langsung menceraikan mu. dan kamu tidak akan mendapat uang lagi dari mereka"
"Baik, aku akan mengikuti mau mu. tapi jangan sekali kali memberi tahu mereka!"
Aku pun meninggalkan Adit setelah mendapat jawaban atas keinginanku.
aku tidak peduli bagaimana Adit memperlakukan Tari. yang penting aku hidup bahagia dengan uang yang ku punya...
Aku tahu Adit dan Ibu mertua terus memeras Tari, karna aku yang menyarankan itu. agar apa? Agar Tari tersiksa batin. namun sialnya dia malah hamil..
Dan sudah jelas. dia tidak akan mengambil keputusan yang egois demi bayi yang di kandungnya..
dan benar saja dia terus bertahan walau pukulan sering dia dapatkan. padahal aku berharap dia mundur dan keguguran..
__ADS_1