Bahagiaku Setelah Berpisah

Bahagiaku Setelah Berpisah
"HILANG RESPEK"


__ADS_3

"Kita makan dulu ya Des" ajak ku pada Desi yang berjalan di samping ku.


"Oke" jawab nya.


"Kita makan apa?"


"Nasi saja ya"


aku pun mengiyakan permintaan Desi.


setelah beberapa lama berjalan kita pun berhenti di warung nasi ayam penyet.


tak butuh waktu lama aku dan Desi pun langsung memesan makanan yang kita inginkan.


"Gimana pernikahan kamu? semoga semua nya baik baik saja ya. aku gak sabar ingin timang ponakan. hhee"


"Semua baik Des. makasih ya doain saja ya"


"Iya pasti itu. gimana mertuamu baik gak? atau rewel kaya di film film?"


"Begitulah"


"Lah kok gitu. jangan bilang rewel"


"Iya"


Desi pun melongo tak lama setelah itu dia tertawa terbahak bahak.


tak lama makanan yang kami pesan pun tiba. kami pun langsung menyantap nya tanpa menyisakan sedikit makanan pun.


tak lupa aku pun memesan satu porsi nasi dan ayam goreng untuk Adit nanti. kebetulan aku tidak masak hari ini.


acara pindahan membuat ku kerepotan untung saja Desi ada kalau tidak. aku yakin tidak akan kelar satu hari.


keinginan ku agar memiliki sebuah toko akhirnya terkabul juga. tak terbayang kan betapa bahagia nya aku hari ini.


usaha yang ku mulai dari membeli baju 5 setel saja kini aku bisa menyetok banyak baju dan tas.


setelah makanan kami habis. aku pun langsung membayar nya. dan berjalan pulang bersama Desi.


tak lupa aku memberi Desi sejumlah uang sebagai rasa terimakasih.


dia nampak bahagia. baginya dia hanya membantu ku. namun aku pun tak bisa jika membiarkan tenaga seseorang habis tanpa upah.


setelah beberapa waktu berjalan. aku pun berpisah dengan Desi di persimpangan jalan.


aku berjalan sambil di iringi rasa bahagia.


entah mimpi apa aku semalam. sampai Allah memudahkan usaha ku.


beberapa saat kemudian aku pun tiba di rumah.


"Ehh neng dari mana?" tanya tetangga ku.


"Dari pasar Bu" jawab ku.


"Gimana usaha nya lancar? eh iya kok neng jualan si. apa gak di kasih uang nafkah?"


"Di kasih kok Bu. hanya saja saya suka jika ada kegiatan"


"Oh iya neng. semoga lancar ya usahanya"


"Makasih banyak Bu"

__ADS_1


aku pun masuk ke rumah. melihat ruang tengah yang berantakan bekas ku tadi.


rasanya gerah sekali.


aku pun mengambil sapu dan menyapu nya.


kini ruang tengah ku. sudah rapih lagi. tanpa banyak rak yang berjejer dari sudut sampai sudut.


setelah membereskan semua nya. aku pun mandi agar badan ku bersih.


ku lihat jam menunjukan pukul 04,30 sore.


tak lama Adit pun terdengar pulang.


nampak dari wajah nya yang lusuh. mungkin dia lelah.


Adit langsung berjalan ke kamar mandi. rupanya dia ingin langsung membersihkan dirinya.


setelah beberapa saat dia pun keluar. dan menatap sekeliling rumah.


"Dimana barang jualan mu?"


"Kenapa?"


"Gak apa apa. hanya saja kenapa kosong"


"Aku menitipkan nya di rumah teman ku"


"Kenapa?"


"Gak apa apa. biar gak berantakan"


Adit pun berjalan ke kamar untuk memakai baju.


saat aku tengah memainkan ponsel ku. tiba tiba mertua dan ipar ku datang berkunjung.


"Assalamualaikum" ucap serentak dari luar.


"Waalaikumusallam" jawab ku.


adit masih tetap makan. dan tak menyadari siapa yang datang.


aku pun keluar dan meyambut kedua mertuaku. serta ipar dan suaminya.


"Ayo masuk" ucapku.


mereka pun masuk dan duduk di dekat jendela dan pintu.


Adit nampak terkejut dengan kedatangan keluarganya.


"Bapak?" ucap Adit seraya memasang wajah pucat.


"Sedang makan kamu Dit.?"


"Makan sama apa kamu Dit? apa Tari kasih makanan yang layak?" ucap ibu mertuaku.


"Hush ibu jangan bicara begitu" bela bapak mertuaku.


aku pun pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman dan cemilan.


mengapa mereka kesini. bukan nya tadi pagi adit sudah mengantarkan beras dan uang.


aku pun meletakan minuman dan cemilan.

__ADS_1


"Ini bapak habis giling padi. bapak mau kasih beras buat Tari masak"


"Kalau masak nasi. secukupnya saja. jangan boros boros." ucap ibu mertuaku.


bapak mertua nampak bengong dengan ucapan istrinya itu.


ku ambil bingkisan dari tangan bapak mertua. nampak ada beras telur. dan mie instan.


bukan nya tadi pagi mereka baru meminjam uang dan beras. kenapa sekarang di kembalikan.


"Sama ini kebetulan bapak habis panen ikan. gak banyak. ini ikan dan sedikit uang buat Tari belanja" ucap bapak mertua sambil memberikan ikan dan sejumlah uang.


aku semakin bingung di buat nya. ku lirik adit nampak salah tingkah.


aku pun mengambil ikan dan menaruh nya di kulkas. takut busuk jika kelamaan di luar.


karna penasaran aku pun mulai bertanya banyak hal.


"Kenapa rumah rapih. gak biasanya di kemana kan baju baju jualan kamu?" ucap ibu mertua.


belum sempat aku bertanya. eh aku malah di interogasi lebih dulu.


"Tari udah gak jualan di rumah Bu. tari jual online saja jadi gak stok barang. biar gak berantakan"


Nampak ibu mertua memandangku tak suka.


biarkan saja lah. sekali kali aku bicara biar dia tak selalu memandang ku buruk. lagian apa yang ku ucapkan benar.


"Baguslah kalau begitu. lagian rumah ini kami kasih buat tempat tinggal. agar Adit nyaman bukan toko pakaian"


"Hush ibu ini kenapa?" ucap bapak mertua menengahi.


Adit pun selesai makan dan mencuci tangan nya. dia kemudian duduk di dekat ibunya. dan berada tepat di hadapan ku.


"Bapak kok. beras nya udah di kembalikan. padahal baru tadi pagi meminjam nya?" ucapku yang langsung membuat Adit pucat.


sengaja aku bertanya. pasalnya aku heran mengapa seperti ada keanehan dalam keluarga ini.


"Gimana maksud kamu Tar?" tanya bapak heran.


"Apa maksud kamu. kita meminjam beras ke sini. kamu mau menghina mertua mu?" ucap ibu mulai naik pitam.


"Maaf pak bu. bukan begitu. hanya saja tadi pagi kan Adit bilang katanya bapak gak ada beras dan lauk untuk di masak.


dan uang untuk membawa anak Umaya ke posyandu" ucapku yang langsung membuat semua mata menatap Adit.


nampak Adit seperti orang ketakutan


"Apa yang Tari bilang itu benar Adit?" ucap bapak.


"Eemm itu pak. eemm sebenarnya ini salah paham" jawab adit nampak gugup


"Coba kamu jelaskan?" bapak nampak memberi penekanan pada Adit.


"Sebenarnya beras dan uang itu. di pinjam teman ku dia gak ada uang untuk makan keluarganya. jadi aku meminjam atas nama bapak"


"Makannya Tar. jadi istri itu jangan pelit ke suami. selama ini kan uang yang kamu terima juga dari adit. harusnya kamu kasih kemudahan dong buat suami kamu. jadi dia gak perlu berbohong gini" ucap ibu mertua yang malah menyalahkan ku.


entah kenapa aku kurang respek pada ibu mertuaku ini. dia selalu saja meninggikan anak nya.


seperti aku tak akan bisa hidup jika tidak dengan anak nya.


aku harus memberi mertuaku ini penekanan.

__ADS_1


agar dia tidak selalu merendahkan ku.


__ADS_2