
tak lama ada dokter yang keluar dari ruang ICU. aku pun bergegas menghampiri nya. dan meninggalkan Desi dengan sejuta pertanyaan nya itu.
"Dok. bagaimana keadaan Adinda?"
"Anak itu sangat lemas Bu. dan saya terkejut saat bertanya pada ibu nya? bahwa dia tidak makan selama 3 hari sebelum sakit"
"Iya Dok. saya pun sama. lalu bagaimana sekarang?"
nampak Desi mendekat dan mendengarkan percakapan ku dan Dokter.
"Saya sedang berusaha memasukan makanan pada tubuh gadis itu. karna sebagian organ tubuhnya sempat tak merespon pengobatan"
"Saya mohon sembuhkan Anak itu Dok"
"Saya akan berusaha semaksimal mungkin. selebihnya kita pasrahkan pada yang kuasa"
Dokter itu pun berjalan pergi meninggalkan ku dan Desi yang masih berdiri di tempat kami.
akhirnya aku dan Desi kembali duduk di kursi yang memang sengaja di sediakan untuk menunggu pasien.
"Separah itu kah kehidupan Anita?"
tiba tiba Desi kembali berucap.
"Aku tak tahu Des. tapi dari kejadian ini. mungkin ucapan mu benar"
"Beruntung Anita bertemu dengan kamu Tar"
"Maksudnya?"
"Ya. beruntung dia bertemu orang sebaik kamu. yang dengan mudahnya memberikan bantuan yang tidak sedikit."
"Itu sudah menjadi kewajiban kita untuk saling membantu"
"Ya memang. tapi banyak orang di luar sana yang enggan membantu sesama. apa lagi dengan jumlah nominal yang tidak sedikit"
"Semoga saja ini menjadi jalan keberkahan buat ku dan keluarga"
"Aamiin"
sekitar setengah jam Anita belum juga kembali. entah kemana dia membeli makanan. biar lah dia juga butuh istirahat setelah semalaman dia berada di sini.
dan seketika aku teringat. dia pasti tidak ada air minum selama semalam. dan cemilan untuk menemani nya tetap terjaga.
akhirnya ku putuskan untuk pergi ke minimarket di depan rumah sakit. untuk membeli air mineral dan beberapa cemilan.
"Des. kamu tunggu di sini ya. aku mau keluar dulu buat beli air"
"Oh iya. "
aku pun berjalan ke luar rumah sakit.
saat berada di luar. tak ku temukan Anita. apa mungkin dia membeli makanan di tempat lain.
biarkan saja lah. lagipun ada Desi yang tengah menunggu.
sesampai nya di minimarket. lekas ku ambil keranjang dan memilih beberapa roti, cemilan dan minuman.
__ADS_1
setelah membayar barang yang ku beli. aku pun bergegas menuju rumah sakit. kasihan juga jika Desi menunggu sendiri.
namun saat hendak masuk area rumah sakit. ada penjual bakso tusuk. karna tergiur akan gambar yang terpasang pada Bender nya.
aku pun memutuskan untuk membelinya.
ku beli 3 porsi bakso tusuk itu. dan kemudian membayarnya.
gegas ku berjalan masuk menuju ruang ICU.
sesampai nya di sana. nampak Desi tengah duduk sambil memainkan ponsel nya. rupanya Anita masih belum kembali.
"Anita belum datang?" ucapku sambil duduk di samping Desi.
"Belum tuh"
"Oh iya"
aku pun mengambil 2 botol air mineral dan Snack di atas meja. dan memberikan Desi bakso tusuk yang ku beli tadi.
"Ini mau gak?"
"Wah kamu beli dimana? berapa ini?"
"Tadi di depan. udah makan saja"
aku pun memakan bakso tusuk bersama Desi. setelah menghabiskan makanan kami. sekitar satu jam kemudian Anita pun kembali.
dia membawa plastik besar di tangan nya. entah apa yang dia bawa?
"Udah makan nya?"
"Oh iya. ini ada air dan Snack untuk kamu nanti malam. dan ini bakso tusuk makan gih."
"Makasih banyak ya Tar. padahal gak usah repot repot. ini saja sudah Banyak merepotkan mu."
"Tidak kok"
kemudian Anita duduk dan meletakan plastik besar milik nya. dan sudah jelas aku dapat melihat apa yang dia bawa.
nampak seperti ada selimut dan ada box makan yang ku kenal?
"Apa yang kamu bawa ini?"
"Oh ini. aku bawa selimut buat malam. soalnya dingin di sini. sama bawa nasi. maaf ya tadi lama. soalnya aku pulang dulu dan masak nasi"
Anita mengeluarkan box makan yang berisikan nasi.
"Ini box kamu?" tanya ku yang mungkin membuat orang merasa aneh.
"Iya Tar. ini box yang di bawa suami ku dulu"
apa apa an aku ini. yang namanya box makan itu bukan di buat hanya satu. pasti satu pabrik akan ada ribuan dengan model dan warna yang sama.
dasar bodoh. kenapa aku ingat bahwa box itu yang di bawa adit dulu untuk membekal makanan.
Desi nampak melihat ku tanpa berkedip.
__ADS_1
"kenapa kamu Tar?" tiba tiba Desi bertanya.
"Oh tidak. box ini mirip punya ku waktu kecil dulu" terpaksa aku berbohong pada Desi.
"Ya ampun. yang namanya box itu ada banyak Tar. aku juga ada di rumah. cuma warna nya beda. kalau kamu rindu masa kecil nanti ku bawakan ya besok?"
"Ahh tidak. hanya aku tadi tiba tiba teringat akan masakan ibu ku dulu"
"Oh kangen masa kecil rupanya"
kami pun duduk sambil melita Anita makan nasi dengan bakso tusuk yang ku beli tadi.
setelah Anita selesai makan. aku pun bertanya.
"Kamu tadi belum makan?"
"Belum Tar uang yang tadi kamu kasih. aku pakai buat pulang. menurutku lebih baik aku bawa nasi saja dari rumah"
"Oh iya?"
"Suami kamu kemana? kok anak nya sakit parah dia gak ada?" tiba tiba Desi bertanya?
ku lihat Anita hanya diam sambil menunduk. ku senggol Desi karna takutnya pertanyaan nya malah membuat gaduh disini.
"Tadi aku sudah cari dia ke tempat biasa dia kumpul. tapi dia tidak ada."
"kenapa kamu gak cari dia di rumah orang tuanya?"
"Aku gak tahu di mana rumah orang tuanya"
seketika aku kaget. bagaimana mungkin Anita tak tahu rumah mertuanya. sedangkan dia sudah memiliki keturunan dari keluarga tersebut.
sebenarnya seperti apa pernikahan Anita dengan suaminya? aku dan Desi saling bertatap mata. merasa aneh dengan jawaban yang di lontarkan Anita.
"Bagaimana kamu tidak tahu di mana rumah mertuamu. apa suami kamu tak pernah mengajak mu?"
"Tidak"
"Lalu saat dulu kamu menikah? apa tidak ada pihak suami kamu yang datang?"
aku pun sedikit berbohong. pasalnya aku tahu cerita Anita dari Desi.
"Tidak ada"
"Seorang pun tak ada?"
"Tidak ada Tar."
sudah jelas dari ucapan Anita. bahwa apa yang di ucapkan Desi kala itu benar. entah dia menikah atau tidak kala dulu sebelum Adinda lahir.
bagaimana bisa seseorang menikah tanpa adanya saksi dari pihak pria maupun wanita?
paling tidak. harusnya Anita tahu. kampung dimana orang tua suaminya. jangan kan bertemu dengan mertuanya. nama mereka pun Anita tak tahu?
"Seharusnya suami kamu tahu keadaan anak nya"
Anita hanya melirik ku. sebelum akhirnya dia kembali menunduk. entah malu pada kami. atau menahan sedih yang tak kami tahu?
__ADS_1
nampak nya sudah jelas. bahwa Anita menyimpan rahasia dan tidak menceritakan nya pada kami.