Bahagiaku Setelah Berpisah

Bahagiaku Setelah Berpisah
"GOSIP TETANGGA"


__ADS_3

"Jikapun di dunia ini hanya tersisa kamu sebagai lelaki satu satu nya, aku akan berpikir beribu ribu kali untuk menikahi mu"


Adit hanya memandangku.


"Se marah ini kah kamu padaku. hanya karna aku tidur di rumah orang tuaku, sampai kamu mempermalukan ku di hadapan orang orang!"


"Aku tidak akan marah jikapun kamu memilih pergi dan tinggal bersama mereka"


"Ini rumah ku, aku tidak akan meninggalkan rumah ini"


"Oh iya, bagus jika kamu masih ingat, dan satu lagi. tolong kamu cuci seprai kamar sebelah ada banyak noda di sana,"


Adit nampak terkejut dengan ucapan ku. mungkin dia pikir aku tidak akan se jeli itu bisa melihat beberapa noda kuning di seprai berwarna cream itu.


"Itu tugas kamu sebagai istri, masa aku harus mencucinya"


"Kalau begitu buang saja, aku tidak akan menyentuh barang barang yang sudah ternodai"


"Apa maksud kamu Tar?"


aku pun menyalakan musik dengan keras. hingga membuat Adit pergi keluar kamar.


entah bagaimana caraku untuk menghadapi semua nya?


melupakan semua yang kamu perbuat, rasanya itu hal yang mustahil Dit,


aku masih bisa menerima mu. jika kamu hanya tidak bertanggung jawab atas nafkah mu. tapi ini?


Perbuatan mu sungguh lah menyakiti ku.


walau kamu bermain di belakang ku. tapi kebenaran itu tetap lah menyakitiku.


Hari ini ku putuskan untuk pergi ke Toko. mungkin aku akan membaik jika berada di luar rumah ini.


aku lupa bahwa pagi ini aku belum makan apa apa. ku putuskan untuk membeli nasi uduk dan membawanya ke Toko,


selepas mengunci pintu. aku pun berjalan dan melihat warung sebelah tidak begitu ramai, hanya ada dua pembeli.


"Ehh Neng, mau beli apa?" tanya salah satu ibu itu.


"Mau beli Nasi Uduk Bu"


" Bu, biar si Neng Tari saja duluan. Kayak nya mau keluar" ucap salah satu pembeli.


"Neng Tari mau beli berapa Nasi Uduk nya?" tanya si ibu penjual.


"Mau satu saja Bu, sama gorengan nya juga"


"Eemm, Neng maaf ibu boleh tanya?"


"Iya Bu, silahkan"


"Kemarin Lusa, ibu lihat Suami Neng bonceng dua wanita dari dalam rumah, itu siapa?"


Ya ampun, berarti ibu penjual mengetahui Adit pergi keluar rumah bersama dua wanita itu, bagaimana aku harus menjawab nya?


baru saja aku keluar rumah untuk sedikit melupakan kejadian itu. nyatanya pagi pagi sekali sudah ada pertanyaan begini!.


"Oh itu Bu, Eemm itu Saudara suami Bu"

__ADS_1


Akhirnya kata kata itu yang keluar dari mulut ku.


"Oh Syukurlah, Kirain siapa? soalnya pakaian nya minim sekali. dan Pergi sebelum Subuh"


"Iya saya juga ketemu, pas saya mau buang sampah"


"Cuma saya yang gak lihat ya"


"Gak apa apa Bu. itu Saudara Suami. mereka harus bekerja jadi harus pulang dini hari"


Ku harap kebohongan ku adalah kebohongan yang baik. tidak mungkin juga jika aku berkata bahwa Suamiku berzina di rumahku.


bukan saja Adit. mungkin aku juga akan kena imbasnya. karna membiarkan perbuatan itu terjadi di kampung sini.


Aku harus mencari jalan keluar atas kehidupan ku.


"Ini Neng, semua nya 20 ribu"


Aku pun menyarahkan selembar 20 ribu ke ibu penjual itu.


"Eh Neng, Tadi kami dengar kalian ribut. apa benar yang kami dengar, bahwa Suami Neng kerjanya minta uang terus? bahkan makan pun Neng Tari yang mencari nya?"


Benar dugaan ku. mereka mendengar perkataan ku tadi. sekarang apa yang harus ku jawab?


"Eemm itu Bu, Tidak kok Bu mungkin kalian salah dengar"


"Masa sih Neng? Tapi yang dengar kami semua Loh"


"Oh Iya kah Bu, tapi saya gak bilang begitu kok"


"Oh iya Neng, Apa benar Bahwa Neng Tari itu Mandul? Sampai Suami Neng Tari main di warung sana?"


"Ah tidak kok Bu. Buktinya sekarang saya sedang Hamil, Mungkin yang bicara begitu tidak suka pada Saya Bu"


Aku tahu Pasti ibu yang menyebarkan kabar bahwa aku Mandul. mungkin dia bicara di sini bersama beberapa ibu ibu ini.


demi menyelamatkan anak nya. yang ketahuan sering berada di warung sana.


diapun menjadikan ku kambing hitam. demi menutup kelakuan putra nya.


"Oh Neng Tari sedang hamil? sudah berapa bulan"


"Baru berjalan dua bulan Bu"


"Semoga ibu dan anak nya sehat sehat ya, sampai melahirkan"


"Aamiin Ya Allah, terima kasih Bu"


"Neng Tari sering keluar rumah, masih jualan atau enggak?"


"Sudah tidak Bu, saya bekerja sekarang"


"Duh, jangan cape cape Neng Tari, kan sekarang lagi Hamil"


"Iya Bu, Saya cuma bekerja di toko pakaian kok, jadi gak begitu cape"


"Iya, Harus jaga kesehatan sekarang"


"Iya Bu. kalau begitu saya permisi. takut nya telat nanti"

__ADS_1


aku pun pamit ke ibu ibu itu, dan mulai berjalan meninggalkan warung.


biar lah aku bicara tentang kehamilan ku, agar ibu mertua tak lagi mengatakan bahwa aku Mandul.


Aku ingin Tahu? apa sikap beliau akan berubah setelah mengetahui aku tengah mengandung Cucu nya?


Hal yang selama ini dia permasalahkan. dan selalu menjadikan ku pusat perhatian dengan Ucapan nya itu.


Baru beberapa langkah ku meninggalkan warung tersebut. telingaku menangkap beberapa percakapan.


"Itu Dia hamil, kata mertuanya dia mandul"


"Iya, kasihan banget ya. di bilang Mandul terus. padahal nyatanya enggak"


"Punya mantu baik gitu kok sikap nya gitu ya. padahal Neng Tari mendiri sampai bekerja juga"


"Mungkin dia bekerja karna memang gak di kasih nafkah sama Suaminya"


"Iya juga sih, sekarang kalau uang belanja cukup ngapain coba harus bekerja apalagi sedang hamil"


"Iya dia baik banget ya, sampai menyembunyikan sikap suaminya"


"Iya, Kasihan sih. udah punya suami kayak si Adit, eh dapat Mertua yang tiap hari ngomongin dia"


"Kalau aku sih udah ku Tinggalin, buat apa punya suami dan mertua kayak gitu"


"Tapi, Aku pernah memergoki si Adit, sedang ciuman sama perempuan lain di dekat kebun pisang nya pak Jamal"


seketika mataku melebar, apa yang ku dengar tidak salah?


itu artinya Adit sudah melakukan ini bukan cuma satu kali?


dan jika mereka sudah mengetahui? kenapa mereka masih diam, dan tidak melakukan apapun.


kali ini aku mendengarkan percakapan mereka di samping rumah warga. yang bersebelahan dengan warung tadi.


"Ahh masa sih? "


"Iya, malam itu saya ingin membeli lilin. ibu ingat saya beli lilin malam malam sekitar seminggu yang lalu, Nah saya lihat ada si Adit di sana"


"Iya saya ingat kamu beli lilin malam malam"


"Saya mau bilang, tapi takut jatuhnya fitnah"


"Sebenarnya, Tiap kali saya belanja ke pasar. saya sering lihat si Adit ada di warung itu. sama perempuan"


"Kalau begitu, kasihan banget istrinya. dia cape cape bekerja buat mencari makan. eh suaminya malah enak enak sama perempuan lain"


"Pasti uang si Adit habis buat di kasih ke perempuan itu, karna mereka juga gak akan mau kalau cuma gratisan"


Satu Minggu yang lalu, ku ingat ingat Yah. kala itu Adit pulang pagi .


Apakah benar yang di lihat ibu itu?


berarti uang Adit habis untuk membayar wanita wanita itu?


pantas saja dia tidak memberiku uang nafkah. rupanya bukan hanya habis untuk minum. tapi untuk di berikan pada wanita itu?


Tak sanggup mendengar percakapan mereka. aku pun melajutkan langkah ku menuju Toko.

__ADS_1


__ADS_2