Bahagiaku Setelah Berpisah

Bahagiaku Setelah Berpisah
"KEMARAHAN AYAH"


__ADS_3

aku pun pergi ke kamar untuk mengambil uang tersebut. terpaksa aku berbohong bahwa uang tersebut sudah terpakai.


karna ada rasa curiga dalam hati yang tidak mengijinkan nya.


setelah beberapa saat kemudian aku pun kembali dengan membawa uang di tangan Ku.


"Ini Yah uang nya" ku serahkan uang tersebut pada Ayah ku.


"Sini" Ayah pun menerima nya. ..


"Ini Dit uang nya kamu bawa bapak kamu berobat. dan jangan terlalu di pikirkan cara untuk menggantinya" .


"Baik Yah terima kasih banyak atas pertolongan nya"


"Iya Pak. saya juga mau berterima kasih sudah mau membantu meminjamkan uang"


"Kalau gitu Adit pamit dulu ya Yah. Adit harus membawa bapak segera"


"Baik lah"


setelah kepergian mereka. aku ingin menanyakan pada Ayah mengapa dia bisa bisa nya meminta ku untuk memberikan uang yang bukan hak Adit.


setelah ayah kembali dari mengantar kepergian Adit dan ibu nya di teras.


"Yah Tari mau bicara"


"Apa lagi Tar. Ayah gak habis pikir. kamu tahu mertuamu sedang sakit. dan kamu justru tidak mau meminjamkan uang pada suami mu"


"Apa maksud ayah?"


"Adit tadi sudah bicara semua nya. kamu lebih memilih berbelanja pakaian dari pada meminjamkan nya untuk berobat"


apa yang ayah ku bicarakan. mengapa dia seolah olah meragukan ku? dan apa benar Adit kesini berbicara yang tidak tidak?


"Tari gak belanja Yah! Adit memang kemarin meminjam uang pada Tari. tapi Tari memang gak ada uang."


"Sudah Tar jangan mengelak. kurang apa Adit sama kamu? dia sampai meminjam uang pada Ayah untuk modal usaha kamu? dan sekarang. apa ada hasil nya? kamu malah bersikap arogan seperti ini?"


"Ayah menyalahkan Tari?"


"Ya, karna memang kamu salah."


"Ayah lebih percaya pada orang luar dari pada anak Ayah sendiri?"


"Cukup Tari, Adit bukan orang lain dia suami kamu"


suara Ayah mulai meninggi. tak habis pikir ayah lebih mempercayai ucapan Adit yang belum tentu kebenaran nya. dan meragukan ku sebagai putri nya?


ku rasakan ada cairan hangat yang mengalir dari sudut mataku. sakit sekali rasanya.


di fitnah oleh suami sendiri. dan lebih sakit lagi kala orang yang kita sayang, kita hormati meragukan kita?


"Maafkan Tari jika Tari salah Yah, tapi Tari tidak melakukan apa yang di ceritakan oleh Adit"


Ayah masih memandangku dengan tatapan marah nya. seolah olah aku telah melakukan kesalahan yang fatal.

__ADS_1


aku pun masuk ke kamar dan mengambil sisa uang yang ada di lemari. akan ku simpan di bank bersama keuntungan ku nanti.


rasanya sekarang rumah ini sudah tidak aman buat ku.


dan untuk Adit. akan ku cari tahu yang sebenarnya? mengapa dia bisa bisa nya memfitnah ku demi uang?


"Tari pamit, rasanya sudah tidak ada kepercayaan pada Tari dari orang rumah ini?"


aku pun menghampiri ayah dan ibu ku. lalu mencium tangan mereka.


dan melangkah keluar rumah tanpa menoleh kebelakang.


kemarahan mereka jelas terlihat. bahwa mereka lebih mempercayai orang yang mereka bilang menantu. dan justru meragukan darah daging mereka sendiri.


kaki ini terus melangkah. bahkan aku tak memesan ojek untuk mengantarku. sepanjang perjalanan air mata tak henti henti nya menetes. rasa sakit yang ku rasakan seperti ada belati yang tepat menghujam jantungku.


mengapa Ayah tega?


selama ini aku berkorban perasaan demi kebahagiaan nya?


bahkan aku rela di jodohkan tanpa perantara terlebih dahulu. dan harus hidup dengan orang yang tidak ku kenal sebelumnya?


apakah apa yang aku lakukan semua ini tidak lah ada artinya?


sampai sampai ayah lebih mempercayai ucapan orang lain?


saat di tengah perjalanan aku malah teringat akan bapak mertuaku. kemudian aku menelpon ojek langganan ku untuk menjemput ku dan mengantarku ke rumah orang tua Adit,


sesampai nya di area rumah orang tua Adit. ku lihat tidak ada motor Adit di sini.


ku intip dari jendela tidak ada siapa siapa? hanya ada bapak mertua ku yang sedang berbaring di ruang tengah.


aku pun memutuskan untuk masuk.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumusallam" jawab bapak mertua dari dalam.


"Bapak, sakit apa?"


"Eh Tari, kesini sama siapa nak?"


"Sendiri pak, bapak gimana keadaan nya?"


"Ya begini lah nak. penyakit orang tua"


"Bapak udah berobat?"


"Udah kemarin, kata dokter nya cuma lambung bapak kambuh. karna sering minum kopi hhee"


"Bapak jaga kesehatan ya, ini Tari ada sedikit uang untuk bapak jajan, dan jangan bilang siapa siapa Tari kesini yah Pak"


ku berikan sejumblah uang pada bapak mertua.dan sengaja aku meminta beliau untuk tidak memberi tahu siapapun bahwa aku kesini.


"Memang nya kenapa nak?"

__ADS_1


"Tidak apa apa pak,"


"Oh begitu. baik lah nak"


"Kalau begitu Tari pamit yah pak. Tari harus kerja"


"Tari udah gak jualan lagi?"


"Enggak pak, sekarang Tari kerja di teman pak"


"Iya. kamu jangan cape cape ya"


"Iya pak. Tari pamit"


aku pun mencium tangan bapak mertua dan pergi meninggalkan rumah ini.


kemana Adit dan ibunya?


bukan nya tadi mereka harus buru buru untuk membawa bapak berobat?


mengapa mereka justru tidak ada di sini?


aku pun kembali menaiki ojek untuk menuju toko ku.


namun sebelum aku pergi ke toko. aku mampir ke rumah untuk mengambil buku tabungan dan uang keuntungan hasil dari toko ku.


sesampainya di rumah. aku segera masuk ke kamar. dan mengambil koper yang berisikan uang simpanan ku itu.


ku ambil semua nya dan memasukan nya ke tas. beserta uang sisa pemberian Roni dulu.


segera aku menuju bank dan menyimpan nya.


setelah selesai menyimpan semua nya. alhamdulilah uang ku lumayan besar. terlebih uang yang dari Roni. jumlah nya ada 14 juta.


uang yang dia simpan dulu untuk pernikahan kami. lebih baik ku simpan.


setelah selesai menyimpan uang uang itu. aku memutuskan untuk pergi ke toko. dan langkahku terhenti kala aku mengingat bahwa Adit pernah menghabiskan uang sampai 3 juta untuk servis motor.


aku pun berjalan menuju bengkel motor yang lumayan ramai. ku lihat beberapa pegawai sibuk dengan motor yang mereka tangani.


aku pun menghampiri bagian kasir.


"Maaf pak. boleh ganggu waktunya sebentar?"


"Iya neng ada apa?"


jujur aku bingung, harus memulai nya dari mana?


"Eemm begini pak? apa orang ini pernah servis motor disini?"


terpaksa ku serahkan foto Adit. karna aku tak tahu harus bertanya apa? pasalnya ini sudah berjalan beberapa bulan lalu.


namun jika aku kembali pun rasanya tidak bisa karna aku terlanjur bertanya?


nampak bapak ini mengingat ngingat.

__ADS_1


dan kemudian dia memanggil semua pegawai nya untuk melihat foto Adit.


ya ampun semoga tidak terjadi masalah.


__ADS_2