
Bukti demi bukti Desi perlihatkan. bahkan bukti perbuatan yang menjijikan Adit, Desi mengambil tanpa sepengetahuan Tari, Desi memang merencanakan akan memberikan pada orang tua Tari, jika Tari meminta bantuan nya. Namun Tari hanya lah wanita yang menerima semuanya dengan kata kata baik.
itu terbukti, kala Tari datang ke toko dengan muka penuh lebam. di tampar dan di pukul setiap hari oleh suami dan mertuanya. tak luluh membuat Tari bertindak tegas atau melawan.
dia tetap mengalah dengan beralasan masa depan anak dalam kandungan nya.
saat fitnah membuatnya di buang kedua orang tuanya pun. tidak sedikitpun dia memberikan bukti untuk membersihkan namanya. selain pasrah dan pasrah akan kehendak yang telah di pilihkan untuk nya.
Catatan:..
Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik bagi anak nya,
Tapi, bukan berarti keputusan yang di ambil adalah jalan terbaik.
Semua bukti yang di berikan Desi pada kedua orang tua Tari. membuat dua manusia itu terkejut. mereka tidak menyangka menantu yang baik di hadapan mereka. rupanya menyiksa anak nya setiap hari.
"Apa anda tahu? bahwa Tari mencari uang untuk menghidupi suaminya! Tari tidak pernah mendapatkan nafkah. malah dia yang menafkahi suaminya! tak jarang Mertuanya selalu memerasnya"
"Apa"
"Ya,Dan apa kalian tahu..."
Desi men jeda ucapan nya. ada bulir bening di sudut sana. dia tak sanggup kala menantikan bayi yang dia sayang sebelum lahir.
harus terenggut akibat kekejaman lelaki yang tak lain adalah Ayah nya.
Bayi yang dia nantikan kehadiran nya. yang dia peluk dan dekap dalam keadaan sudah tidak bernyawa.
Desi tak sanggup jika mengingat masa itu,
"Tahu apa?" tanya ibu Tari yang semakin penasaran.
sedangkan Ayah Tari hanya mendengarkan sambil menenangkan istrinya yang mulai rapuh.
"Adit menghilangkan nyawa anak nya. yang masih dalam kandungan. demi membunuh ibunya"
"Apa? apa itu artinya Tari?"
"Ya, Tari tengah hamil dua bulan. kala mengetahui Adit bermain gila dengan perempuan lain di rumahnya. namun Tari tetap bersabar. berharap bayinya akan merubah semua. namun nahas. sebelum bayi itu lahir. Adit tega menghabisinya demi melancarkan rencananya membunuh Tari"
"Maksud mu, Cucu kami sudah.."
Ayah Tari kini mulai bertanya.
__ADS_1
"Ya, anak Tari sudah meninggal. Semua itu karna Adit dan Anita, Manusia terkutuk itu harus di hukum mati. sesuai perbuatan nya?"
"Anita?" ..
"Ya, Anita adalah wanita yang di tolong oleh Tari, namun di belakang nya dia memiliki hubungan dengan Adit. sampai memiliki anak. dan Anita juga terlibat dalam upaya pembunuhan Tari"
Mendengar penjelasan yang di jelaskan Desi. membuat ibu Tari jatuh. ia tak sanggup mendengar penderitaan yang di alami anak nya.
entah seberapa rasa sakit yang di rasakan putrinya. bukan hanya raga yang di siksa oleh suami dan mertuanya. melainkan jiwa.
Ayah Tari hanya tertunduk melihat sang istri menangis tersedu. tanpa dia sadar air mata pun mengalir di sudut matanya.
dia bersalah, sangat bersalah. bahkan dia sampai membuang dan menampar putrinya demi orang lain. dia tidak mendengar penjelasan anak nya.
andai saat itu dia tidak egois. putrinya tidak akan menjadi seperti sekarang. dan sudah pasti Cucu yang dia nantikan akan hadir di tengah tengah kehidupan mereka.
kini dia teringat akan ucapan terakhir putrinya.
"Jika ayah mengetahui semuanya. jangan cari Tari. tapi carilah Tuhan yang sudah dengan baiknya memperlihatkan semuanya" ..
Harusnya dia sadar, putrinya tidak akan pernah berbohong padanya. dan sudah sangat berbaik hati mewujudkan kehendaknya untuk menikah dengan lelaki yang belum pernah dia temui.
namun rasa bakti itu lenyap. dikala dirinya mempercayai ucapan menantu yang dia anggap seperti malaikat.
lantas kata apa yang pantas tersematkan pada Adit yang dengan tega membunuh anak nya yang belum sempat lahir.
"Lalu, dimana sekarang putri kami" Ayah tari membuka pembicaraan setelah tangis menguasai mereka bertiga.
"Tari, dia sudah memiliki rumah. dan dia tinggal bersama anak Adit dan Anita"
"Apa, Tari mengurus anak gelap suaminya"
"Ya, saat Adinda di tolak oleh keluarga Adit. Tari memutuskan untuk mengurus anak itu"
"Ya Allah, ampuni hamba Ya Allah. hamba telah dzolim pada putri hamba, dia begitu baik namun hamba..." Ayah Tari menangis tersedu sambil memohon ampun pada sang pencipta.
"Apa, kamu bisa mengantar kami bertemu Tari?" Ibu Tari memohon.
"Bisa, dengan syarat jangan guncang jiwanya. saya sudah tidak sanggup melihat dia tersiksa kembali"
"Baik, baik kami berjanji, ayo sekarang antar kami. tapi sebelumnya kamu tutup dulu toko mu takut kemalingan"
Desi hanya tersenyum tak bersuara. ada kelucuan disini. sejak kapan toko ini menjadi milik nya. jika orang tua akan tahu setiap seluk beluk anak nya. tidak dengan kedua orang tua di depan nya. bahkan saat anak nya sukses setelah meniti karir yang tidak mudah.
__ADS_1
mereka tidak tahu apa saja yang di lalui anak nya. bahkan kesusksesan anak nya pun tidak mereka ketahui.
"Ini bukan toko saya. tapi toko Tari"
Kedua manik orang tua itu membulat. mereka tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. mendengar anak nya sudah memiliki rumah saja itu sangat membanggakan. namun ternyata bukan cuma rumah tapi anak nya juga memiliki toko yang terbilang ramai.
"Apa, ini Toko Tari?"
"Ya," Desi menjawab sembari menutup buku catatan yang sebelumnya dia buka. dan membereskan beberapa pakaian yang tergeletak di bawah.
"Bukan nya Tari bekerja disini,"
"Itu hanya Alibi. karna mertua dan suaminya selalu meminta uang padahal mereka tahu Tari hanya memiliki gaji 300 ribu. jika mereka tahu toko ini milik Tari, sudah pasti mereka akan mengambil alih semua"
"Lalu, apa Adit tidak pernah memberi Tari nafkah, lalu di kemana kan uang yang selalu dia minta pada kami?"
"Tanyakan itu pada Adit dan ibunya. karna mereka yang tahu"
"Bodoh sekali kami, sampai tidak tahu kebusukan yang mereka ciptakan demi menjatuhkan anak kami"
"Ya, benar itu"
"Kebodohan yang kalian buat, membuat semua nya terungkap setelah ada korban.
jika saya di berikan kesempatan menjadi orang tua. saya akan lebih mempercayai anak yang saya jaga selama hidup saya. dari pada mendengar ucapan orang yang baru singgah di hidup saya"
ucapan Desi membuat kedua orang tua Tari tertunduk. mereka seperti mendapat tamparan keras. mereka tahu, apa yang Desi ucapkan semua nya benar. itu sebab nya mereka tak menjawab sepatah katapun.
terlebih, mereka tahu Desi pasti yang menolong Tari di saat saat terendahnya.
"Ayo, ikuti saya" Desi memimpin di depan dan di ikuti kedua orang tua Tari.
mereka berjalan tanpa ada pembicaraan di sana. sampai Desi menunjuk satu rumah
rumah yang terlihat kokoh dengan beberapa tanaman di halaman depan. yang membuatnya nampak rindang.
tidak di sangka, putri yang mereka buang demi membela menantunya.
bisa sesukses sekarang tanpa campur tangan siapapun.
kaki mereka berjalan sendiri. tak sabar rasanya ingin segera menemui putri nya. dan bisa memeluk putri nya seperti dulu.
mereka pun tiba di pagar depan rumah nya...
__ADS_1
pintu depan tertutup. dan Desi memimpin menuju pintu depan.