
Sesampainya di Toko. ku lihat Desi sedang melayani beberapa pembeli.
Alhamdulilah Ya Allah, Usaha yang ku rintis dari Nol. berjalan lancar sampai sekarang.
"Assalamualaikum" ucapku kala masuk ke dalam Toko.
"Waalaikumusallam" jawab serentak dari semua orang yang ada di toko.
Aku pun langsung duduk di kursi kasir.dan menaruh makanan yang ku beli tadi.
.bagaimana Caraku menjalani hari?
jika kenyataan nya sungguhlah menyakiti batin ku.
setelah beberapa saat. Desi pun selesai dengan para pembeli tadi.
"Hey, Diam saja masih pagi udah melamun, ingat ada Bayi di dalam sana"
Desi pun menunjuk perut ku yang belum membesar ini.
"Ah, tidak Des. aku hanya lelah"
",Ya udah istirahat, kamu udah makan?"
"Belum, Oh iya tapi aku beli ini"
.aku pun mengeluarkan nasi dan gorengan yang ku beli tadi.
Desi langsung menyambar gorengan Tahu. yang masih hangat itu.
"Udah cepat di makan. keburu dingin"
"Iya,"
aku pun makan nasi yang ku beli. walau tidak ada nafsu makan sama sekali. tapi aku harus memaksakan demi calon Anak ku ini.
Selesai makan. aku memeriksa Rak pakaian dan hijab.
ku tulis semua nya. agar mudah memesan barang yang sudah habis.
lekas ku ambil ponsel dan menghubungi Anggi. untuk memesan stok yang sudah kosong di toko.
Aku pun melakukan pembayaran dengan M-Banking. dengan begini aku tidak perlu ke bank atau pergi ke minimarket untuk membayar pesanan ku.
Kemudian aku pun di sibuk kan dengan membalas beberapa pesan yang masuk di WhatsApp ku.
Rata-rata mereka adalah reseller aktif ku.
"Eh Tar, Gimana dengan keputusan kamu tentang suami kamu?"
Desi memulai percakapan kami. setelah melihat ku selesai dengan pekerjaan ku.
mungkin dia juga penasaran dengan keputusan ku.
"Aku tak tahu Des, aku tak bisa mengorbankan anak ku jika berpisah dengan suamiku."
"Lalu, bagaimana?"
"Mungkin aku akan belajar melupakan perbuatan nya,demi anak ku"
"Kenapa kamu gak bicara pada orang tuamu, tentang suamimu. Aku yakin mereka tidak akan marah lagi"
__ADS_1
"Kamu salah Des, Aku sudah tidak bisa menginjakan kaki ku di sana lagi"
"Kenapa?"
ku lihat Desi nampak terkejut dengan ucapan ku.
"Kemarin aku kesana, aku ingin bertanya tentang ucapan ibu mertuaku kala itu yang mengatakan bahwa Ayah yang meminta anak nya untuk menikahi ku"
"Lalu?"
"semua di luar dugaan ku. kemarahan ayah atas Fitnah yang di buat suami dan mertuaku. membuat ku menjadi orang lain di sana"
"Kemudian?"
"Kami berdebat, Ayah sampai menamparku. karna aku bicara bahwa suamiku tidak sebaik yang terlihat, dan lebih parah nya lagi. Ayah mengharamkan ku untuk menginjak rumah nya. sebelum aku menyadari kesalahan dan memperbaiki diriku"
"Ya ampun, aku gak habis pikir deh. Kamu kan anak nya? kenapa mereka lebih percaya ucapan suami kamu?"
"Entah lah. mungkin karna mereka berhutang karna suamiku Sudi menikahi ku"
"Sudi? apa maksud kamu"
"Karna keterpurukan ku kehilangan Roni dulu. yang membuat orang orang mengatakan bahwa aku Gila, dan Ayah memohon agar mereka menerima ku sebagai istri dan menantu"
"Ya ampun, se picik itu kah pemikiran mereka?"
"Aku tak tahu Des, yang jelas sekarang aku tidak bisa pulang ke rumah orang tuaku. apalagi sampai membongkar perbuatan suamiku, sudah pasti akan bertambah buruk"
"Apa mereka tahu kalau kamu sedang Hamil?"
"Tidak, kemarin aku belum sempat mengatakan kehamilan ku"
"Iya Des terima kasih"
kami pun diam dalam beberapa saat,
pikiran ku masih kalut dan tak tahu jalan keluarnya. bahkan keputusan ku untuk tetap menerima Adit sejujurnya hati ku sudah mati rasa.
Semua yang ku lakukan demi calon buah hatiku, rasa sayang ku pada calon bayi ku.
mampu membuatku rela melakukan apapun itu.
"Eh Tar, bagaimana kalau kamu beli rumah saja"
"Maksud mu, aku harus pindah rumah"
"Ya tidak juga sih, cuma kan kalau kamu punya rumah, jika kamu lelah dengan suamimu kamu bisa pulang ke rumah mu"
"Bagaimana ya"
"Ya, semoga saja suami mu akan berubah. tapi kan kita sebaiknya berjaga jaga, kalau kamu tidak bisa pulang ke rumah orang tuamu. maka pulang lah ke rumah mu sendiri" .
Benar juga yang Desi katakan. aku sendiri tidak tahu sampai kapan kesabaran ku bertahan, terlebih mengetahui semuanya secara bertahap.
dan jika suatu saat aku tidak bisa bertahan. aku bisa kembali ke rumah ku sendiri,
karna Saat ini tidak lah mungkin aku menginjakan kaki ku di rumah Ayah,
setelah beberapa saat berpikir. aku pun mengiyakan ucapan Desi.
"Benar juga kamu Des, kalau kamu tahu tentang yang mau jual rumah. kabari aku"
__ADS_1
"Baik, tapi kalau gak salah di kampung sana ada yang mau jual rumah, tapi gak tahu sudah terjual atau belum. nanti aku lihat"
"Iya Des"
keputusan ku sudah bulat. memang sebelumnya aku berencana membeli rumah walau kecil. tapi setelah mengetahui bahwa aku hamil, aku sempat melupakan rencana awal ku. karna mungkin Adit akan berubah setelah mengetahui bahwa aku hamil.
tapi nampak nya ada benar nya juga. bukan kah ini aset yang tidak akan merugikan.
lagipun jika suatu saat aku butuh biaya besar. aku bisa menggadaikan nya.
"Des, besok kamu bilang ke Anita suruh kerja disini. biar dia ada pemasukan"
"Iya Tar"
"Kasihan juga Adinda. dengan bekerja disini. mudah mudahan mereka tidak mengalami hal yang kemarin"
"Besok aku bilang ke Anita ya"
"Iya Des. makasih ya"
"Oh iya ini ada Tar, tadi aku nanyain rumah yang mau di jual"
"Masih ada?"
"Ada, kapan mau lihat rumah nya?"
Aku pun merencanakan untuk melihat rumah yang akan di jual. baiklah keputusan ku sudah bulat.
*********
Ke esokan harinya aku dan Desi akan berencana melihat rumah yang mau di jual itu.
"Tar, tadi aku ke rumah Anita. tapi kosong gak ada siapa siapa?"
"Mungkin dia sedang keluar"
Saat kami sedang melayani beberapa pengunjung. Anita datang ke toko.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumusallam" jawab kami serentak.
"Eh, Anita?"
Kami pun masih melayani beberapa pengunjung. hingga selesai dan hanya meninggalkan kami bertiga.
"Aku mau Cari daster Tar"
"Kamu punya uang ?" tanya Desi membuat Anita sempat tertunduk
gadis yang satu ini memang tidak bisa menjaga ucapan nya.
"Ada, sekarang aku sudah bekerja cuci gosok di tetangga. jadi udah ada pemasukan"
"Alhamdulilah, Silahkan kamu lihat lihat. mau daster yang mana?" ucapku seraya mempersilahkan Anita untuk memilih.
"Makasih Tar"
"Kamu sudah kerja. padahal baru saja aku meminta Desi untuk menyuruhmu bekerja di sini"
"Udah Tar alhamdulilah"
__ADS_1