
"Tapi Adit tidaklah sebaik yang ayah bicarakan"
Sebuah tamparan mendarat di pipi ku. yang membuat nya terasa panas dan pedih.
aku sampai tak percaya Ayah sampai menamparku. begitu marahnya dia hanya karna aku bicara bahwa Adit tidak lah sebaik yang terlihat.
.bagaimana jika aku mengatakan keinginan ku untuk bercerai. rasanya bukan hanya akan di hapus dari daftar keluarga. mungkin aku akan di bunuh oleh Ayah.
"Cukup Yah, apa yang Ayah lakukan, Tari itu anak kita" ucap ibu yang melerai amarah Ayah.
Dada Ayah naik turun dengan cepat. semarah itu kah dia padaku?
"Tari gak percaya Ayah sampai menamparku?"
"Itu pantas buat kamu. yang tidak bisa bersyukur. perbaiki diri kamu dan sadari kesalahan kamu baru kamu bisa menginjakan kaki di rumah ini lagi"
Satu kata yang ku takut kan! Ayah benar benar mengusir ku demi menantunya.
"Tari tidak akan mengakui kesalahan yang tidak Tari perbuat"
Ayah melebarkan matanya. dan nampak sekali kemarahan nya padaku yang mulai sampai puncak nya.
ibu hanya menggeleng. memintaku untuk diam.
"Ayah rela memutuskan dan membuang Tari demi lelaki yang Ayah anggap malaikat. padahal perbuatan nya sangat bejad"
Satu tamparan lagi mendarat di pipiku.
kali ini air mata benar benar keluar dengan deras nya.
tak hanya sakit dan perih yang ku rasakan di pipi ku. namun juga kenyataan yang ku tahu bahwa Ayah ku sampai rela membuang ku demi orang lain?.
"Jika suatu saat nanti, Ayah mengetahui beneran nya jangan cari Tari, tapi carilah Allah yang dengan baik nya menunjukan itu"
Aku pun pergi meninggalkan rumah Ayah dengan sesak di dada.
sepanjang perjalanan yang ku lalui. hanya ada air mata di sana. tak ku hiraukan orang orang yang melihat ku.
sesampai nya di rumah. aku langsung membanting kan tubuh ku di kasur ku. baru ku ingat bahwa aku belum makan seharian ini dan tidak ada nasi dan makanan di rumah.
baru ku ingat. aku hanya makan bubur setengah porsi tadi pagi. saat di suapi Desi. itu pun di paksa oleh nya.
walau perut ini tidak terasa lapar. aku tidak boleh menyiksa bayi ku. dia tetap butuh asupan agar terlahir dengan selamat dan menemani hari hari ku dengan tawa nya.
aku pun pergi ke warung sebelah. dan membeli mie instan untuk ku makan bersama calon anak ku.
dengan suapan yang ku paksakan setiap suapan mie ini pun berhasil masuk ke perut ku.
"Makan yang banyak ya Anak mamah, kamu harus sehat dan kuat agar bisa menemani mamah"
ucapku seraya mengelus perut ku yang tidak terlihat hamil ini,
berusaha menguatkan diri sendiri itu sakit.
apalagi menyembuhkan luka yang tidak ada obat nya.
bukan hanya perbuatan Adit yang masih membayang bayangi ku, Ucapan Ayah pun masih terdengar jelas di telingaku.
Ku raba pipiku. masih terasa sakit bekas tamparan yang Ayah berikan tadi.
Sekitar pukul 09,00 malam. Adit pun terdengar pulang.
__ADS_1
ku dengar dia membuka pintu kamar ku. dan kemudian membuka kamar yang sekarang ku tempati.
"Loh, kok kamu tidur disini? kenapa gak di kamar sana?" Adit menghampiriku yang tengah berbaring sambil memainkan ponsel ku.
"Gak apa apa"
"Kamu marah ya, karna aku kemarin gak pulang. maaf aku kemarin nginap di rumah bapak. setelah ku tahu kamu juga nginap di rumah Ayah"
pintar sekali kamu mengelak. tapi jika kamu tidak pintar bersilat lidah. maka tidak akan ada kebencian dari Ayah padaku.
"Oh kamu nginap? ku kira kamu disini soalnya kasur kamar sebelah berantakan"
pertanyaan ku membuat Adit salah tingkah.
jelas sekali terlihat dari wajah nya.
seperti maling yang tertangkap basah.
"Ah masa? Eemm aku kangen banget sama kamu"
Adit memelukku dan hampir mencium kening ku. lekas ku lepaskan pelukan nya. dan menjauh darinya.
melihat tingkah ku Adit nampak kebingungan, pasalnya aku tidak pernah menolak untuk memenuhi kewajiban ku.
"Aku sedang berhalangan, Aku minta kita tidur terpisah"
"Tidak apa apa lah sekali saja" dia tetap memaksaku dan berusaha merangkul pinggang ku.
"Tidak. kamu tahu kan itu dosa. harusnya kamu lebih paham apalagi kamu kan anak mushola?"
Adit melihat ku dan berjakan keluar,
aku merasa jijik jika harus berhubungan dengan lelaki yang telah berhubungan dengan wanita wanita itu?
jika sampai mereka memiliki penyakit yang mematikan. sudah pasti aku pun akan tertular. dan bagaimana dengan anak yang ku kandung.
tidak, aku tidak bisa membahayakan anak ku hanya demi melayani lelaki sebejad adit.
malam pun berlalu dengan aku yang tidur di kamar baruku.
aku hanya memasak nasi dari beras yang masih tersisa. kali ini aku tidak memasak sayur.
"Pagi sayang" ucap Adit yang hampir saja mencium kening ku.
"Kenapa sih? Kok gak biasanya gak mau aku cium?"
aku memilih duduk di teras dan meninggalkan Adit sendiri di dalam.
beberapa saat kemudian Adit memanggilku dari dapur.
"Tar, kamu gak masak? kok gak ada makanan"
sudah ku duga sebelumnya. dia pasti mencari makanan.
"Gak"
"Kenapa? terus aku makan sama apa?"
"Kamu beli aja mie di warung sana"
"Hem... Ya sudah kamu beliin dong aku laper"
__ADS_1
"Aku lagi males, kamu beli aja sendiri"
"Huh. ya sudah sini uang nya"
benar benar tidak tahu malu. sudah tidak memberi ku nafkah, kemudian berkhianat dan memfitnahku pada orang tuaku.
dia masih saja meminta uang untuk mengisi perutnya.
"Gak ada"
"Loh kok gak ada? kamu kan kerja"
"Aku belum gajian"
"Kamu harusnya peka Tar, kamu kan bisa kasbon dulu masa aku harus kelaperan gini"
"Kamu kan kerja, kenapa kamu gak pakai uang kamu sendiri untuk membiayai diri kamu, apa kamu gak malu tiap hari hanya bergantung padaku? sudah tidak memberi nafkah. makan pun harus aku yang tanggung"
ku tinggal kan Adit di luar, terlihat beberapa ibu ibu di warung yang sedang berbelanja melirik ke arah rumah ku.
Adit buru buru masuk kala menyadari tengah di pandang ibu ibu itu. aku lekas masuk ke kamar baruku dan menutup pintu.
"Kamu kok bicara begitu tadi? apa kamu mau buat aku malu?"
"Aku kan bicara fakta,"
"Harusnya kamu mengerti. aku tuh banyak keperluan. lagian apa salahnya sih kalau kamu yang menanggung dapur"
"Keperluan apa?"
"Yaa banyak. dan kamu gak harus tahu"
"Kalau begitu, kamu masih mampu mencari makan untuk kamu sendiri,"
"Egois sekali kamu Tar, kurang apa aku selama ini ke kamu?"
"Memang apa yang sudah kamu perjuangkan untuk ku?"
ucapan ku membuat Adit diam seketika.
apa yang dia korbankan untuk ku? . bahkan ibu nya menghinaku di hadapan nya pun. dia tidak sekali nya membelaku.
"Aku sudah berkorban demi menikahi mu."
"Dan aku tidak memintanya"
"Sombong sekali kamu, kamu pikir jika tidak bersama ku kamu bisa menikah!"
ucapan nya benar benar merendahkan ku. seperti yang ibunya katakan dulu. bahwa aku tidak akan laku jika tidak di nikahi anak nya.
dan sekarang, anak nya yang berucap sedemikian.
memang nya dia siapa?
kalau pun aku mau. aku bisa menikah dengan lelaki yang bisa menghargai ku.
terlebih jika tidak perlu memberi nafkah.
siapa yang tidak mau coba?
memiliki istri tanpa menafkahinya!.
__ADS_1