
Mereka masih berdebat dengan mertuaku.
aku tak tahu jika mertuaku sedari siang berada di rumah. jika maling itu masuk pagi saat mertuaku datang ke toko. pasti saat dia masuk ke rumah dia tahu rumah kemalingan.
ada kejanggalan disini.
saat ibu ibu itu sudah pergi meninggalkan mertuaku. aku memutuskan untuk masuk dan membereskan kamar ku.
tak ku sadari saat tengah membereskan barang barang dan pakaian ku. mertuaku masuk ke kamar.
"Kamu ngapain sih pake teriak teriak maling segala? Biar apa biar dapat simpatisan dari orang orang gitu?"
"Tidak Bu, Tari teriak karna memang ada maling yang masuk"
"Alah, emang berapa sih yang di ambil sampai segitu nya miskin banget!"
"Ya, Memang tidak banyak cuma itu untuk membayar listrik dan air"
Mertuaku hanya diam. dia tidak menjawab ucapan Ku.
"Apa ibu ada di rumah seharian ini?"
"Apa maksud kamu? kamu nuduh saya yang ngambil!"
"Loh, kok ibu marah marah. saya cuma nanya apa ibu ada di rumah seharian ini?"
"Kalau iya kenapa?"
"Apa ibu tidak lihat ada yang masuk?"
Aku heran? karna rumah ini hanya memiliki satu pintu. itupun berada di depan. jika ada yang masuk pasti ada yang tahu? dan jika mertuaku ada di rumah pasti dia tahu. tidak mungkin jika tidak tahu?
"Kamu itu jadi menantu cerewet banget ya, Cuma uang segitu di permasalahkan"
"Tari kan cuma tanya Bu?"
"Uang itu saya yang ambil"
Seketika mataku membulat, tak percaya rasanya mertuaku yang mengambil uang ku layak nya maling. sampai barang barang ku berserakan begini.
"Apa? Tari gak salah dengar Bu"
"Kenapa memang nya? uang kamu kan uang saya juga, dan Oh iya, ini tidak ada apa apa nya di banding pengorbanan saya dan anak saya pada keluarga kamu?"
"Pengorbanan apa?"
"Oh, jangan pikir kamu sedang hamil jadi pura pura lupa? keluarga kamu termasuk kamu berhutang jasa pada saya, karna anak saya mau menikahi kamu!"
Aku masih tidak percaya dengan apa yang ku dengar, mana ada pernikahan seperti ini?
"Tari tidak pernah meminta pernikahan ini?"
"Memang, tapi kalau anak saya tidak menikahi kamu. apa kamu pikir ada laki laki yang Sudi menikahi wanita depresi seperti kamu"
Jllleeebbb
__ADS_1
seketika dadaku mulai memanas. mengapa ibu begini? ucapan nya kian hari kian menyakiti hati.
bahkan tanpa rasa iba sekalipun dia mempermalukan ku di depan umum. hanya demi mendapat pujian dari mereka.
"Saya tidak Gila Bu"
"Oh iya, saya lupa mana ada orang gila yang mengakuinya"
"Sekali lagi, saya tidak Gila"
"Lalu apa? Oh mungkin keluarga kamu itu pembawa sial, buktinya tunangan kamu mati kan sebelum kalian menikah?"
Nafas ku semakin sesak saja, ingin rasanya ku tampar beliau berkali kali,
Aku pun berdiri dan menghampiri mertuaku dengan tatapan yang tak lepas sedikitpun.
"Saya tidak pernah menginginkan pernikahan ini, dan Oh iya satu lagi. Uang saya tetap uang saya. karna saya tidak memiliki kewajiban menafkahi anda, Dan untuk keluarga saya. saya rasa orang tua saya lebih terhormat di banding anda, karna tidak bisa mendidik anak anda sendiri sampai lupa kewajiban menafkahi istri ya"
Sengaja ku tekan kan sedemikian, agar dia tahu sabar manusia itu ada batasnya. jangan karna aku selalu diam. dia semakin semena-mena padaku.
"Dan satu lagi, Jika Anda menganggap pernikahan ini sebagai hutang, Itu urusan Anda dengan Ayah saya, karna saya tidak tahu apa apa?"
Ku lihat tatapan nya mulai marah,
"Jika anda begitu sayang pada anak anda, mengapa tidak anda ambil kembali anak anda, saya tidak merasa rugi sedikitpun berpisah dengan dia, "
"Tari!".
Ku dengar teriakan seseorang, Rupanya Adit ada dan menyaksikan perdebatan ku dengan ibu nya,
"Apa apa an kamu Tari? berani beraninya kamu berbicara begitu pada ibuku!"
"Memang nya apa yang di perbuat ibuku?"
"Dia mengambil uang ku untuk membayar listrik dan air, bahkan dia menghinaku"
"Hanya masalah itu kamu sampai berani berbicara begitu?"
"Baik, kalau begitu bayarkan listrik dan air baru bicara begitu? kamu saja tidak bisa memenuhi dapur walau sekedar untuk makan kamu sendiri"
"Sombong sekali kamu, anak saya bukan pembantu kamu, jadi kalau kamu mau apa apa beli sendiri jangan mengandalkan anak saya"
"Saya tidak mengandalkan anak ibu, malah anak ibu yang mengandalkan saya"
"Itu sudah kewajiban kamu,"
"Itu bukan kewajiban saya menafkahi Adit"
"Anggap saja itu hutang kamu pada kami, karna tanpa kami kamu bukan apa apa?"
" Saya bisa hidup tanpa kalian"
"Wanita seperti kamu mana ada yang mau? Kamu itu kaya sampah yang tidak di butuhkan"
"Lalu apa sikap anda sudah lebih terhormat di banding saya"
__ADS_1
Plak.
Tanpa ada basa basi, dan aba aba sebelum nya. pipiku di tampar begitu keras, sampai meninggalkan Darah di sudut hidungku.
Adit menamparku tepat di hadapan ibunya.
Sudah tidak membelaku saat ibu nya menghinaku, sekarang bisa bisa nya dia mengangkat tangan nya padaku.
Ku lihat wajah nya. nampak kemarahan yang begitu menyeramkan. dia seperti harimau yang siap menerkam mangsanya.
Adit yang dulu pernah membuatku bisa melupakan Roni, semua sudah tidak ada?
kini hanya Adit yang setiap harinya hanya meminta uang padaku, sampai menggeledah isi tasku bahkan uang untuk ojek pun dia ambil.
"Jaga bicaramu pada ibu ku, atau Ku buat kamu menyesal"
"Kamu menamparku?"
"Aku bisa melakukan yang lebih dari ini, Jika aku mau"
"Semacam apa? tidur dengan dua wanita sekaligus?"
Aku tak kalah tajam menatapnya.
Kali ini dia hanya diam. mungkin dia tidak menyangka jika aku tahu apa yang dia lakukan di rumah ini?
Ibu mertuaku hanya diam tidak berbicara apapun. malah ku lihat ada senyum di sudut bibirnya. Senyum tanda kepuasan.
"Bicara apa kamu?"
"Kamu pikir aku tidak tahu? beberapa Minggu yang lalu kamu melakukan perbuatan menjijikan di rumah ini dengan dua wanita"
"Kamu berbohong padaku, kamu bilang kamu menginap di rumah Ayahmu?"
"Iya"
Plak
Satu tamparan lagi mendarat di pipiku yang satu lagi. kali ini bukan darah di sudut hidung melainkan di sela gigiku. karna kurasakan ada rasa asin darah di dalam mulutku.
Mertuaku hanya diam bersidekap melihat anak nya menamparku sampai berdarah. tidak ada kata apapun yang dia ucapkan hanya senyum yang dia perlihatkan.
Ku lihat kembali Adit. Kali ini amarahnya semakin memuncak.
"Berani beraninya kamu membohongiku!"
"Apa kamu sadar telah menamparku?"
"Wanita pembohong seperti kamu pantas mendapat tamparan begini,"
"Lalu, apa yang kamu perbuat itu pantas"
"Jangan pernah menghakimiku,"
"Jadi, menurut kamu apa yang kamu lakukan itu benar?"
__ADS_1
Bruk...
Kali ini bukan tamparan. melainkan satu tinjuan tepat mengenai pipiku yang membuatku jatuh tersungkur ke lantai. kali ini bukan perih lagi ku rasa. melainkan sakit, sakit sekali. sampai aku tidak bisa mengangkat wajah ku ke atas.