
Semenjak hari itu, Aku membawa Ayah ibu, Dinda Bapak Umaya serta Desi dan suami nya, untuk makan bersama di CAFE yang pernah ku jajaki bersama Bima dulu.
Semenjak ku tahu Bima seorang polisi, Aku sedikit menjaga jarak dengan nya, jika bisa aku akan menghindar jika melihat dia berkunjung, Bukan apa takutnya ini akan menjadi masalah baru untuk ku
Selesai makan lekas aku membayar semua makanan yang ku pesan,
"Terima kasih atas kunjungan nya Bu" ucap seorang kasir CAFE tersebut.
"Sama sama, Eemm oh iya saya beberapa hari yang lalu pernah berkunjung kesini bersama teman saya, Bima namanya dia polisi dan kami lupa membayar! kalau boleh tahu berapa total yang harus saya bayar. saya masih ingat kok pesanan nya" jawabku.
Jujur saja aku merasa terganggu setiap saat, saat mengetahui Bima tidak membayar makanan yang kita makan, dengan mudah nya dia hanya mengatakan "Aku kan polisi jadi bebas mau makan disini"
Dia kira rumah makan ini punya nenek moyang nya, seenak jidat dia makan sebanyak itu tanpa membayar, dan Sial nya aku juga ikut menanggung malu akan kelakuan nyeleneh nya,
"Eemm, yang mana ya Bu? saya gak ingat" ucap kasir tersebut.
"Sebentar, saya ada fotonya" jawabku seraya menunjukan foto Bima pada karyawan CAFE tersebut.
"Ini mah bos saya Bu, dia yang punya CAFE ini, jadi gak perlu bayar" ucap kasir tersebut seraya tersenyum.
Seketika aku kaget sekaligus malu, ku kira Bima benar benar tidak membayar karna jabatan nya sebagai polisi, tahu nya ini rumah makan milik nya, Ya jelas saja jika dia tidak membayar.
Aku pun pergi meninggalkan rumah makan ini dengan perasaan sedikit malu,
********
Singkat cerita, semenjak silaturahmi yang di lakukan mamahnya Bima ke rumah Ayah, Banyak hal yang ku tahu dari Bima,
Selain dia seorang polisi yang memiliki sebuah pangkat yang lumayan, Bima juga memiliki usaha rumah makan yang lumayan rame tiap harinya,
dan satu lagi yang ku tahu. bahwa toko mas yang pernah ku kunjungi adalah milik nya,
Bima selalu menggangguku dengan kelakuan aneh nya, bahkan saat aku terbaring di rumah sakit karna terkena Demam berdarah,
bisa bisa nya dia datang menggunakan kostum badut hanya sekedar menghiburku saja.
Tiga bulan setelah kejadian itu, kami tidak lagi bertengkar. Aku mulai mengurangi mengomel pada Bima, Ya walau sifat aneh nya tidak bisa berkurang, tapi ku tahu semua itu untuk membuat ku tersenyum.
Walau terkadang, apa yang dia lakukan malah membuat ku kesal, karna dia seperti manusia tanpa rasa malu,
berteriak, berjongkok, bahkan membawa buket bunga yang besar nya melebihi badan ku.
Karna keseringan mendapat gangguan dari Bima, aku mulai terbiasa akan tingkah laku nya. bahkan saat dia harus pergi ke Jakarta untuk pekerjaan, aku merasa kehilangan kelakuan aneh nya.
Hari itu.....
"Kenapa tuh muka di tekuk gitu? gak enak banget buat di lihat" ucap Desi yang duduk di depan ku.
"Ah gak apa apa kok, Hanya sedang banyak pikiran" jawabku.
"Eemm, banyak pikiran atau lagi mikirin...." ucap Desi sambil tersenyum mengejek
"Mikirin siapa? Aku tuh gak lagi mikirin si Bima, cuma di salon lagi ada beberapa masalah" jawabku
"Ih, siapa juga yang mau bilang Kamu mikirin Bima, polisi bucin itu aku kan gak nyebutin dia" ucap Desi.
Seketika aku hilang akal, bukan nya Desi memang tidak menyebutkan nama Bima?
__ADS_1
kenapa juga malah mikirin lelaki itu.
"Udah ah," jawab ku.
"Kangen itu namanya, Kenapa gak bilang aja aku juga mau menikah dengan kamu, gitu aja kok susah banget!" ucap Desi menyolek dagu ku.
"Menikah terus, aku bosen baru juga hampir tiga tahun, lagian aku udah nyaman dengan hidup aku yang sekarang Des, aku takut semua nya terulang dan malah memakan korban lagi" jawabku lemas.
"Maaf, tapi apa kamu gak akan memulai hidup kamu? tidak semua lelaki seperti Adit, Bima lelaki yang baik. sudah dua tahun lebih dia mengejar kamu. kamu harus belajar membuka hati untuk orang lain" ucap Desi memandangku
"Bukan nya Adit sebelumnya juga baik, sebelum aku benar benar menerima dan menyerahkan segenap hati untuk nya, Tapi ternyata semua itu hanya Alibi, Bukan hanya berselingkuh, dia sampai tega hendak membunuhku!" jawabku.
"Tar, lupakan semuanya dan belajarlah untuk membuka hati, jika memang Bima bukan lah lelaki impian mu, tapi belajarlah untuk membuka lembaran baru, setidaknya suatu hari kamu akan membutuhkan keturunan!" ucap Desi meyakinkan.
"Aku sudah ada Dinda Des" jawabku.
"Dinda bukan anak kandung kamu, dia anak Adit dan Anita!" ucap Desi
"Apa bedanya? toh Dinda menyayangiku seperti ibunya" jawabku.
"Bedanya adalah, dia bukan cucu kandung kedua orang tuamu, apa kamu pernah bertanya pada mereka? seberapa mereka ingin cucu dari kamu? mungkin mereka tidak lagi memaksamu untuk menikah. tapi percayalah jauh di lubuk hati mereka. mereka ingin kamu bisa menjalani hari sebagai istri dan memberi mereka keturunan," ucap Desi.
Aku tertegun kala Desi menyebutkan kedua orang tuaku, Ya walau pun kini mereka tidak lagi memaksaku untuk menikah. Namun apa benar mereka menginginkan aku menjalani hidup normal selayaknya wanita pada umumnya?
"Aku tahu kamu sekarang bukan Tari yang dulu, kamu sekarang wanita yang sukses, yang memiliki beberapa toko hingga salon.
kamu bisa menyekolahkan adik adikmu sampai tinggi, menyekolahkan Dinda. bisa memberi ladang usaha untuk orang tua dan Mantan mertuamu, kamu juga banyak berjasa untuk ku kamu memberikan sebagian keuntungan toko ini untuk ku, yang tidak akan pernah di dapat jika bekerja di tempat manapun? Itu semua sudah cukup Tar, sekarang waktunya kamu memulai kehidupan baru mu," ucap Desi kembali.
"Aku takut Des!" jawabku tertunduk.
"Aku tak tahu Des," jawabku.
"Untuk sekarang tak apa, tapi tolong pikirkan lagi. kasihan kedua orang tuamu semakin hari akan semakin tua. harta bukan lah segalanya. sudah cukup kamu mengejar uang demi kebahagiaan mereka dan berhentilah disini. untuk memulai kembali kisah mu" ucap Desi.
Desi berjalan meninggalkan ku. dia kembali melanjutkan pekerjaan nya dengan perut yang sedikit membuncit. Ya Desi kini tengah Hamil 4 bulan namun karna tubuh bongsor nya. kehamilan nya begitu jelas terlihat.
Ya, beberapa hari yang lalu kala Desi berkunjung ke rumah Ayah. kedua orang tuaku begitu bahagia kala mengetahui Desi tengah mengandung. aku bahkan tidak pernah melihat kebahagiaan itu. sekalipun aku mampu memberikan segalanya untuk mereka. Desi memang bukan lagi sahabatku. dia kini telah menjadi anak angkat kedua orang tuaku. karna bakti dan kebaikan nya padaku dulu. kedua orang tuaku menyayanginya.
Apa yang Desi katakan barusan benar?
apa sebenarnya kedua orang tuaku menginginkan aku kembali berumah tangga?
Tapi aku sendiri tak yakin bisa kembali menjalankan Ibadah yang satu itu. sejujurnya aku takut, Takut jika kembali mempercayai dan mencintai seseorang, namun nyatanya dia tak sebaik yang kita harapkan.
Saat tengah berselancar dengan lamunan ku.
tiba tiba sebuah klakson mobil yang saling bersahutan terdengar bising dan berhenti di depan tokoku.
ku lihat ke belakang, Desi masih berada di gudang dengan seorang pegawai. aku pun berjalan ke arah depan. mungkin ada kunjungan dari beberapa orang untuk berbelanja disini.
Mataku terbuka secara sempurna. kala melihat mobil odong odong dengan membawa banyak penumpang yang mengenakan kostum beberapa hewan.
bukan hanya satu mobil, tapi ada tiga mobil yang ku lihat berhenti. semua penumpang itu turun, ada berbagai variasi disana. ada yang kecil dan besar, ku rasa bukan hanya orang dewasa yang memakai kostum ini.
Mereka semua turun dan membuat beberapa orang penasaran hingga kini tokoku kembali di kelilingi orang di pasar sini.
semua badut satwa ini berdiri di pekarangan toko. mereka semua hanya diam tak melakukan apapun. sampai mereka semua duduk di tanah dan meletakan setangkai Bunga mawar berwarna merah.
__ADS_1
Kejadian ini bukan hanya mengundang puluhan warga yang tengah berkunjung di pasar, namun juga Desi dan dua karyawan ku. ku lihat mereka juga keheranan.
Sampai ada seorang dengan tubuh tinggi keluar dari balik orang banyak. Dari tubuhnya aku tahu itu pasti Bima, ya walau aku tidak begitu menyukainya. tapi di ganggu oleh nya selama dua tahun lebih ini. membuatku tahu bahwa itu adalah Bima.
Tapi kenapa dia bisa ada disini? bukan nya dia telah di tugaskan di Jakarta oleh atasannya? lalu kenapa dia ada disini.
Bima berjalan melewati barusan Badut itu. sambil tersenyum dan tatapan elang nya. dia berjalan ke arahku.
sampai kamipun saling bertatapan. semua orang yang menyaksikan merasa bingung apa yang akan terjadi?
Tanpa terduga, Bima memakaikan sebuah kalung yang aku sendiri tak tahu model dan bentuknya. aku masih diam karna bingung. apa lagi kegilaan yang akan dia lakukan.
"MAUKAH KAMU MEMARAHIKU SEPANJANG HIDUPKU"
ucapnya seraya berjongkok kembali, dan memegang beberapa tangkai bunga mawar yang telah dihiasi hingga cantik.
"Kamu mau buat aku darah tinggi?" jawabku.
"Karna aku suka saat melihatmu marah padaku dek" ucapnya.
"Gila" jawabku.
Entah kenapa? sekarang aku tidak lagi merasa terganggu akan tingkah nya. kali ini ada rasa senang kala melihatnya ada disini,
"Dek," ucapnya membuyarkan lamunanku.
"Apa!" jawabku sambil berusaha cuek.
"Pegal, bisa gak suruh aku bangun, soalnya aku lagi pake jeans ketat" ucapnya.sambil merengut.
Seketika aku tertawa, begitupun dengan Desi yang berada beberapa langkah dariku.
"Terus begitu dek, dan jangan berhenti" ucapnya terus menatapku.
"Apa?" jawabku yang heran
"Teruslah tersenyum Kecantikan mu mampu mengalahkan senja mentari di mataku" ucapnya.
Seketika seluruh warga yang berada disini berteriak histeris.
"Apa lagi ini?" jawabku.
"Hanya sedikit kejutan untuk orang yang spesial" ucapnya.
"Kamu gak lelah, sudah hampir tiga tahun melakukan ini?" jawabku.
"Demi bisa menikah dan menjadikan kamu menantu mamah, aku tak akan. pernah lelah" ucapnya.
Seketika semua badut itu bangun. dan berjalan seraya memberikan setangkai bunga padaku. aku tak tahu siapa mereka?
namun saat mereka kembali ke tempatnya. mereka membuka penutup kepala berbentuk kepala satwa itu. aku tak mengenal siapa mereka?
hanya satu yang ku kenal. ya itu adalah Mamah nya Bima.
mengapa dia mau mau nya berpakaian begitu? dan mengikuti kegilaan anak nya.
Bu Maya yang tak lain adalah mamah nya Bima pun menghampiriku...
__ADS_1