Bahagiaku Setelah Berpisah

Bahagiaku Setelah Berpisah
"PENDERITAAN ANITA"


__ADS_3

saat aku tengah membereskan beberapa pakaian. Desi membuka pembicaraan.


"Ehh Tar tahu gak?"


"Apa?"


"Si Anita kemarin nangis. karna dia gak makan 3 hari. dan anak nya ya ampun kurus banget kaya kurang gizi gitu"


seketika kegiatan ku terhenti. mendengar penuturan Desi tentang Anita.


"Masa sih. lalu suaminya kemana?"


"Yaa gitu lah kalau nikah sama lelaki yang gak tepat. untuk makan saja harus minta sama tetangga"


sebegitu susah nya kah Anita. sampai dia harus meminta makan pada orang?


untuk apa dia memiliki suami jika hanya membuat nya kesusahan.


"Kasihan juga ya?"


"Iya sih. aku juga kasihan lebih ke anak nya"


"Iya anak nya masih kecil. kasihan"


aku pun berencana untuk menelpon Anita setelah pulang dari toko nanti.


aku akan memberi dia beras dan sembako. kasihan juga mendengar dia kesusahan begitu.


yaa walau pun nafkah ku tak begitu banyak. tapi aku masih memiliki uang dari hasil ku sendiri.


hari ini toko sepi. tidak ada pengunjung yang datang ke toko.


mungkin toko ini masih baru. jadi belum banyak orang yang tahu.


sore itu aku dan Desi memutuskan untuk pulang. kami memilih makan sebelum kami pulang.


setelah selesai dengan bakso yang kita pesan. kami pun melanjutkan perjalan nan.


aku dan Desi terpisah di tempat biasa.


dan aku mulai melanjutkan perjalanan ku.


saat aku melewati warung. nampak banyak ibu ibu tengah mengumpul. namun saat aku lewat. mereka nampak memandang ku


pandangan yang sulit untuk ku artikan.


aku memilih melanjutkan perjalanan ku.


hingga sampai di rumah.


setelah mandi dan berganti pakaian. aku pun berniat pergi ke warung untuk membeli sembako yang akan ku berikan pada Anita.


saat aku keluar. nampak ibu ibu sudah mulai berkurang. hanya ada 3 ibu ibu yang masih duduk di sana


aku pun menghampiri mereka.


"Sore Bu." tanya ku pada semua nya.


"Sore juga neng" jawab mereka serentak.


"Bu mau beli beras 3 kg. telur 1 Kg mie instan rebus nya 5. sama gula seperempat dan teh celup nya 2."


aku memesan beberapa sembako yang memang akan ku berikan pada Anita nantinya.


"Banyak amat belanjanya neng?"

__ADS_1


"Iya Bu"


"Oh iya neng. kalau punya suami di jaga. jangan sampai keluyuran malam malam. takut nya ada yang ngampihin" ucap salah satu ibu.


"Saya gak begitu menekan suami Bu. yang penting saling percaya dan saling jaga aja"


seketika si ibu itu terdiam.


"Ini neng semua nya jadi 75 ribu"


aku pun menyerahkan uang yang di sebutkan ibu penjual tadi.


dan bergegas pergi kembali ke rumah.


saat aku berjalan pulang tak sengaja telinga ku menangkap obrolan mereka.


"Kasihan ya dia percaya ke suaminya. tapi suaminya malah.."


"tak ada lagi yang ku dengar. lagi lagi ucapan mereka terhenti.


entah apa yang tidak ku ketahui?


tapi aku tak boleh terlalu percaya dan terhasut oleh omongan orang.


takutnya itu malah akan membuat rumah tangga ku tergoyahkan.


setelah pulang. aku memutuskan untuk menelpon Anita. karna kebetulan aku amat lelah seharian ini. walau tidak ada pembeli. tapi hari ini cukup membuat pikiran ku lelah.


namun no Anita malah tidak aktif.


berulang ulang aku menelpon nya. dan jawaban nya tetap sama.


akhir nya tak ada pilihan lain.aku harus pergi kesana. Aku menelpon ojek yang biasa mengantarku.


setelah membawa ponsel dan dompet. aku menenteng sembako yang ku beli tadi.


aku pun menaiki ojek yang ku pesan. dan sekitar 5 menit aku pun sampai di gang rumah Anita.


setelah membayar ojek. aku pun berjalan ke rumah nya.


dari luar. rumah Anita nampak makin kumuh.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumusallam"


tak lama pintu depan pun terbuka.


pemandangan yang tidak pernah ku bayangkan. Anita keluar dengan daster yang sangat lusuh dan bolong di bagian perut. dan robek di bagian ketiak.


"Tari? ayo masuk"


aku pun masuk. karna takut jika Desi memergokiku berada di rumah Anita.


Anita makin hari makin kurus ku lihat.


dari tangan nya yang semakin kecil. dan wajah nya yang amat tirus itu.


"No kamu kenapa gak aktif?"


"Ponsel nya sudah ku jual"


"Oh pantas saja"


"Kamu ada apa kok tumben kesini? tapi maaf aku gak bisa menjamu kamu. cuma ada air putih" ucapnya sambil tertunduk.

__ADS_1


"Gak apa apa. aku mau kasih ini buat kamu"


"Apa itu Tar?"


aku pun memberikan sembako pada Anita. dan saat dia membukanya. nampak ada bulir bening di sudut matanya.


sebegitu menderita kah dia?


jika memang pernikahan nya membuat nya begini? apa perpisahan tidak terlintas di pikiran nya.


"Kenapa kamu nangis?"


"Gak apa apa. makasih banyak ya Tar. kamu selalu bantu aku"


kali ini suara nya mulai berat karna menahan tangis.


"Kalau ada masalah. kamu cerita saja biar sedikit lega"


"Gak ada masalah kok Tar. hanya aku belum makan dan terharu karna di saat aku gak ada beras kamu malah kasih apa yang aku perlukan"


"Bagaimana dengan Adinda? apa dia baik baik saja. dan Dimana dia?" tanya ku karna sedari tadi aku tak melihat putri nya.


"Eem dia"


Anita nampak menunduk. seolah menyembunyikan sesuatu.


"Kenapa?"


"Ayo ikut aku"


aku pun mengikuti langkah Anita. yang membawa ku ke satu kamar di rumah nya.


saat dia membuka gorden sungguh aku tak bisa berkata apa apa. pemandangan yang tidak pernah terlintas dalam pikiran ku.


kamar tersebut hanya di terangi oleh sebatang lilin di bawah. dan anak kecil yang terbaring yang hanya mengenakan kaos oblong.


ku tatap Anita. dia hanya menunduk sambil menahan tangis.


ku langkahkan kaki menghampiri gadis kecil yang dulu ku curigai karna memiliki wajah yang mirip dengan suamiku.


gadis itu tak menyadari kehadiran ku dia masih terlelap. dalam tidur nya. yang hanya di selimuti sebuah kain jarik yang sudah usang.


Anita masih menunduk di pintu kamar.


sikap Anita yang seperti menahan kesedihan. membuat ku spontan memegang tangan gadis kecil itu.


sungguh aku terkejut. pasalnya. tangan nya begitu dingin. saat ku pegang kepala nya teramat panas.


ku goyangkan tubuh kecil itu. berharap dia akan bangun. namun nihil beberapa kali aku menggoyangkan tubuh kecil itu.


gadis kecil itu tetap tidak mau bangun


aku pun menghampiri Anita yang masih tertunduk.


"Ada apa Anita?"


dia masih diam. tak menjawab pertanyaan ku. hanya sebuah tangisan yang ku dengar.


"Ada apa Anita?"


ku ulangi lagi pertanyaan ku? berharap mendapat sebuah jawaban.


"Ada apa Anita?" kali ini aku mengguncang tubuh nya.


kemudian dia menatap ku lekat. dengan air mata yang terus mengalir.

__ADS_1


__ADS_2