
sumpah aku kaget luar biasa dengan apa yang ku dengar saat ini.
ternyata suamiku tak sebaik cerita orang. dia mengungkit uang yang sudah satu tahun dia berikan.
aku memilih untuk diam dan membiarkan nya keluar rumah.
aku sudah tahu dia pasti akan kumpul kumpul dengan teman teman nya di warung itu.
apa perlu aku cari tahu apa saja yang dia lakukan disana?
tapi untuk saat ini aku memilih diam dan menenangkan diri dan pikiran Ku.
aku tak mau jika harus menguras pikiran ku dengan kejadian tadi sore.
uang yang Adit berikan tadi akan ku berikan pada ayah nanti. dan untuk uang ku akan ku simpan.
mengapa aku memilih menagih semua nya. karna apa?
karna selama 7 bulan jika gaji dia 5 juta sudah kehitung berapa?
sedangkan dia hanya memberiku 300 ribu tiap bulan nya.
.sudah pasti dia memiliki uang.
dari pada dia melupakan hutang nya lebih baik ku tanyakan saja sebelum terlambat.
setelah ku simpan uang itu. aku pun memilih tidur.
biar kan saja apa yang terjadi tadi menjadi pelajaran bagiku agar tidak terlalu percaya pada orang.
***********
pagi itu aku masih bergelut dengan rutinitas ku di dapur. rutinitas yang biasa ibu ibu lakukan.
hari ini aku berencana akan mulai membuka toko. siapa tahu orang orang akan banyak yang datang. terlebih toko ku kan toko baru buka.
hari ini aku masak lauk ikan goreng. yang di temani sambal.
setelah selesai dengan kegiatan di dapur dan rumah.
aku memutuskan untuk menghubungi Desi.
siapa tahu dia mau ke toko menemani ku.
sungguh tidak di sangka. sebelum aku menelpon nya. aku malah menerima notifikasi dari nya.
bahwa dia akan ke toko untuk mengambil beberapa pesanan.
karna aku sudah mendapat jawaban dari pertanyaan ku. aku pun memutuskan untuk sarapan.
Adit masih tidur. semalam dia pulang larut malam. bisa di bilang hampir subuh. entah apa yang dia lakukan di luar sana.
akhir akhir ini sikap nya berubah drastis. dari yang dulu sering ke mushola. sekarang malah jarang sekali aku melihat nya.
setelah selesai sarapan. aku pun membangunkan Adit
takut nya dia menyalahkan ku karna telat membangun kan nya.
"Dit. bangun sudah jam 7 pagi"
"Iya"
__ADS_1
setelah mendapat jawaban dari nya aku pun berlalu.
hingga tak lama dia pun keluar dan masuk ke kamar mandi.
aku masih sibuk dengan ponsel ku. aku memberi kabar pada beberapa reseller ku. bahwa aku pindah. jadi jika mereka ingin mengambil pesanan bisa langsung ke toko.
saat tengah asik membalas pesan beberapa teman ku itu. Adit keluar rupanya dia sudah selesai mandi.
tak lama dia sarapan dengan nasi yang memang telah ku sediakan di meja makan.
"Kamu yakin gak mau usaha lagi Tar?" tanya nya saat aku tengah main ponsel.
"Nggak. buat apa aku usaha gaji kamu kan besar"
"Ya gak bisa gitu dong. nanti buat kebutuhan kita gimana?"
"Ya dari kamu lah. gaji kamu kan besar. masa gak cukup cuma buat makan berdua"
"Aku tuh banyak kebutuhan. gak bisa kalau kamu cuma ngandelin aku"
enteng sekali dia bicara. banyak kebutuhan apa. selama ini juga makan banyak dari aku.
"Ya jelas lah kamu kan suami aku. udah jadi kewajiban kamu lah"
"Kenapa kamu gak jualan lagi aja sih."
"Gak"
Adit pun berlalu meninggalkan ku. dari raut wajah nya dia nampak marah padaku.
terserah aku lah. mau usaha atau tidak.
dengan begini aku jadi semakin bulat untuk tidak memberi tahu usaha ku pada Adit.
"Aku mau kamu usaha lagi Tar. dari pada kamu gak ada kerjaan di rumah cuma diam aja"
"Gak. ngapain aku cape cape cari uang. orang aku udah ada suami"
"Kalau kamu gak kerja lagi nanti kita gimana?"
"Gimana apa nya?"
"Ya kebutuhan kita gimana? atau kamu pake aja uang ayah kamu buat modal lagi"
enak saja dia menyuruhku memakai uang ayah.
uang ini akan langsung ku kembalikan.
aku tak ingin menjawab ucapan nya.
karna lama tak mendapat jawaban dari ku dia pun memilih pergi.
punya suami kok pelit nya gak ketulungan. masa istri di rumah dia bilang gak ngapa ngapain. terus yang masak yang beresin rumah. yang nyuci baju dia siapa?
hantu gitu!
setelah 30 menit kepergian Adit. aku pun bergegas berangkat ke toko. dan Desi mengabarkan dia sudah berada di toko.
aku pun berjalan ke toko. namun saat hendak pergi langkah ku terhenti.
"Neng. mau kemana?" tanya ibu penjual nasi uduk.
__ADS_1
"Mau ke rumah teman Bu"
"Eemm neng maaf sebelumnya ibu mau tanya boleh?" ucap nya ragu ragu.
"Boleh Bu silahkan"
"Eemm itu neng. suami nya emang biasa ngumpul di warung kopi di pasar itu ya?"
kenapa ibu ini menanyakan itu ya?
apa ada sesuatu yang aku tak tahu?
"Kurang tahu juga sih Bu? memang nya ada apa?"
"Gini neng. ibu sering lihat suami nya neng. nongkrong di sana. dan sambil minum"
sumpah demi apa?
Adit mabuk. kenapa aku sampai tak tahu perihal ini.
"Masa sih Bu. kok saya gak tahu ya?"
"Iya neng ibu sering memergoki. malah..."
"Malah apa Bu?"
"Eemm gak jadi neng"
si ibu pun malah memilih berlalu masuk ke warung nya. tanpa melanjutkan ucapan nya tadi.
sebenarnya ada apa?
apa aku harus mencari tahu suamiku sendiri. apa benar yang di katakan ibu tadi. bahwa Adit sering mabuk mabukan.
aku memang tahu Adit suka ngumpul. tapi aku tak tahu apa yang mereka lakukan di sana?
aku harus percaya pada siapa?
ibu tadi atau suamiku.
sambil berjalan pikiran ku terganggu dengan ucapan ibu tadi.
sesampai nya di toko. aku bersikap biasa saja. takut nya Desi tahu ada yang mengganggu pikiran ku.
dia itu orang nya kepo badai. dan aku tahu dia pasti akan mencari tahu?
dan aku juga tak harus selalu memberi tahu perihal pernikahan ku.
entah mengapa akhir akhir ini. ada rasa curiga akan sikap Adit yang berubah drastis.
dari beberapa kebohongan yang ku ketahui. dan bahkan aku mendengar secara langsung.
apakah ini ujian pernikahan ku?
bukan nya kata orang ujian pernikahan itu sedikit rumit.
setelah membuka toko. Desi langsung memilih beberapa pakaian.
aku memulai nya dengan membaca basmalah.
semoga apa yang aku jalani sekarang. tak luput dari keberkahan yang Allah berikan.
__ADS_1
dan semoga usahaku menjadi ladang keberkahan bagiku dan orang lain.
aku pun melanjutkan dengan membereskan beberapa pakaian.