
Saat tengah asik berbincang dengan dua sahabat ku, tiba tiba ibu mertua datang dan menghampiri kami.
"Heh Tar, bisa bisanya kamu bilang ke orang orang kalau saya tidak suka sama kamu?"
tanpa salam ataupun undangan mertua ku yang satu ini memang memiliki sikap yang unik, entah apa lagi yang akan terjadi sekarang.
"Apa maksud ibu?" jawabku. karna sejujurnya aku tak mengerti apa yang di maksud beliau.
"Alah, gak usah berlaga lugu kamu!"
Ku lirik Desi nampak membuang nafas panjang, mungkin dia sudah lelah dengan perlakuan mertuaku ini.
dan Anita yang hanya kebingungan. karna dia belum pernah bertemu mertuaku dan tahu ucapan atau pun sikap nya padaku.
"Tari Benar-benar tak mengerti apa yang ibu maksud?"
"Kamu kan yang bilang ke ibu ibu itu kalau saya tidak suka ke kamu?"
"Tidak, Tari tidak bicara begitu"
"Jangan berbohong kamu! kamu yang bilang kalau orang yang menyebarkan kabar kemandulan kamu, bahwa dia membenci kamu"
"Oh, jadi ibu yang menyebarkan kabar bahwa saya mandul"
sekejap kemudian wajah mertuaku ini langsung pucat, mungkin dia tidak memikirkan sebelum datang ke sini untuk memarahi ku.
Desi nampak menikmati kejadian kali ini. sampai ku lihat ada kepuasan di wajah nya.kala melihat tingkah gugup dari mertuaku ini.
hal yang berbeda dari Anita, dia masih tetap setia dengan memasang wajah bingung.
Adinda yang di gendong nya pun turun dan duduk sambil memainkan mainan yang di bawanya dari rumah.
"Saya tidak memfitnah, hanya bicara kebenaran"
"Tapi kebenaran yang ibu katakan itu salah, buktinya saya hamil"
"Jangan mengada Ngada kamu, Mana mungkin kamu hamil"
"Kenapa tidak mungkin, kan ibu selalu mengatakan bahwa saya mandul. kemudian Allah sendiri yang membuktikan kebenaran nya"
"Jangan sok bawa bawa Tuhan kamu!"
"Hemm"
Berdebat dengan ibu ibu satu ini. hanya akan membuang waktu, tidak akan ada kemenangan. karna beliau tidak akan mudah menerima kekalahan.
"Maaf Bu, Tapi Tari benar sedang hamil. Cucu ibu kan?" ucap Desi.
kali ini dia bangkit dan menghampiri kami berdua. ku rasa Desi sengaja menghampiri kami.
"Kalau memang dia hamil, mana buktinya?"
"Loh, kok ibu aneh. menantu hamil bukan nya senang kok malah minta bukti?"
"Bisa saja kan dia itu hanya sandiwara biar dapat simpati dari semua orang. dan orang orang malah membenci saya dan anak saya"
"Memang nya apa yang di lakukan Ibu dan anak ibu? kenapa orang orang harus membenci kalian?"
__ADS_1
ku lihat ada kemenangan yang Desi ciptakan, wanita satu ini memang jago kalau masalah berdebat. ku nikmati sejenak wajah mertuaku yang mulai memucat, tidak mungkin dia mengatakan kelakuan dirinya dan putra nya pada Desi.
"Loh, kok ibu diam? " Desi masih bertanya
"Tidak, saya dan anak saya tidak melakukan apapun"
"Terus, kenapa ibu takut kalau orang orang marah?"
"Ya itu, Bisa saja kan si Tari ini menjelekan saya dan anak saya"
"Oh, begitu?"
"Maaf Bu, Tari tidak pernah menjelekan kalian, bahkan sekedar bicara yang sebenarnya pun tidak"
Nampak sekali ketidak suka' an yang mertuaku perlihatkan padaku.
"Ibu senang kan Tari hamil?" tanyaku lagi.
"Saya tidak Sudi memiliki cucu dari rahim wanita Gila seperti kamu"
"Jleebb"
Seketika jantung ku rasanya berhenti berdetak, seperti ada Samurai yang memutus jantung ku dari tempatnya.
tidak ku sangka, Jawaban itu yang keluar dari mulut mertuaku,
Ku kira dia hanya membenciku, tidak pada anak yang ku kandung. namun rupanya perkiraan ku salah.
tadinya ku pikir, ibu mertuaku akan bersikap baik padaku. setelah dia tahu bahwa aku hamil. tapi ternyata angan angan ku terlalu tinggi.
Apa kah se Hina itu kah aku? sampai mertuaku tidak Sudi menerima anak ku?
apa aku se Hina ini? sampai anak ku harus ikut menanggung semua nya?
"Tar, " serentak kedua teman ku menghampiriku. kala aku duduk.
"Iihhh, wanita tua itu benar benar ya, kalau tidak takut dosa. sudah ku sumpal mulutnya pake gilingan cabe" celetuk Desi yang marah.
Aku masih belum bisa bicara sepatah katapun.
"Tar, sabar ya. apa itu mertuamu? " tanya Anita.
"Iya, dia mertuanya Tari, namun dia tidak pantas menjadi mertua siapapun"
"Kok, dia tega Tega nya bilang Tari gila! dan sampai tidak Sudi mengakui cucu nya"
"Bukan tari yang Gila, Tapi dia yang tidak waras" Desi masih tersulut emosi.
"Kamu yang sabar ya Tar," Anita mengusap bahu ku sambil menenangkan ku.
"Biar ku susul saja lah, Geram kali aku sama wanita tua itu"
Secepat kilat ku tarik tangan Desi. kala dia sudah berdiri dan hendak menyusul mertuaku.
bukan apa apa, aku takut nya ini malah akan berdampak tambah buruk kalau dia sampai berdebat dengan mertuaku.
bisa saja mertua ku mengadu pada orang tuaku. entah apa yang akan terjadi jika sampai itu terjadi. sudah jelas Ayah akan semakin murka padaku.
__ADS_1
"Biarkan saja Des" ucapku yang menarik Desi untuk duduk kembali.
"Kamu yang sabar ya,"
"Kamu gak apa apa Tar?" tanya Desi memastikan
"Aku tidak apa apa"
"Ya sudah, kamu duduk tenangkan dulu diri kamu. jangan banyak beraktifitas dan memikirkan hal yang tidak penting"
"Iya, lebih baik kamu duduk Tar"
Aku pun duduk dan menyandarkan tubuh ku pada kursi kasir.
tidak ku sangka. ucapan ibu mertuaku dapat membuat ku sesakit ini.
dia memang sering membuatku sakit dengan ucapan nya. tapi tidak ku duga. dia sampai tidak Sudi mengakui cucunya
******
Sore itu. aku dan Desi kembali ke rencana awal. kami sepakat sore ini akan melihat lihat rumah yang Desi maksud.
Toko sengaja ku tutup lebih awal. agar aku tidak ke sore'an kala pulang ke rumah.
Sekitar 15 menit di perjalanan. kami pun tiba di satu rumah. yang memiliki halaman depan yang rindang karna di penuhi pohon mangga. dan beberapa tanaman bunga,
dari luar ku lihat rumah ini masih sangat bagus. terlihat dari kayu kayu pintu dan jendela yang tidak ada lapuk.
"Sebentar aku ke rumah yang punya ya" Ucap Desi
tak lama Desi pun kembali bersama seorang pria yang sudah lumayan tua, dan wanita yang seusia ibuku.
"Assalamualaikum" ucap mereka kala memasuki pekarangan rumah.
"Waalaikumusallam" Jawab ku .
"Ini yang mau melihat lihat rumah nya?" tanya si bapak. sambil menyodorkan tangan padaku.
"Iya, Pak. semoga cocok kalau cocok kita lanjut"
"Iya neng, Silahkan lihat lihat dulu rumah nya." ucap beliau sambil membuka pintu yang terkunci.
Aku dan Desi pun mengikuti pemilik rumah dan masuk ke dalam.
rumah ini memiliki satu ruang tamu, dua kamar tidur. satu ruang keluarga. dapur dan kamar mandi.
tidak ada halaman belakang rumah, mungkin karna halaman depan rumah cukup luas.
ku lihat dari sudut sampai sudut tiap ruangan dalam rumah ini.
bangunan nya nampak masih sangat kokoh.
Aku merasa suka dengan rumah ini. bukan karna lebih besar dari rumah yang sekarang ku tempati bersama Adit. melainkan ada rasa nyaman yang ku dapat dari rumah ini. hanya saja aku tidak suka Cat nya,
menurutku CAT nya terlalu gelap. dengan menggunakan warna oranye. membuat rumah ini seperti redup dan tidak terang.
Apa aku akan membeli rumah ini?
__ADS_1