
"Kamu gak apa apa Tar? apa Ibu tadi mertua kamu?" Desi akhirnya bertanya
"Iya"
"Mengapa dia bicara seperti itu? dan apa benar kalau kamu Mandul?"
"Dari dulu dia memang bersikap begitu padaku."
"Lalu, apa benar suami kamu main di warung itu?"
kulihat Desi nampak serius, wajah nya penuh dengan tanya begitupun beberapa reseller ku yang duduk di bawah.
mereka sudah seperti keluarga kedua bagiku.
mungkin karna kami lebih menghabiskan waktu bersama. itu yang membuat kami sangat dekat.
"Entah lah Des, aku baru tahu bahwa warung yang selalu di kunjungi suamiku. adalah warung remang remang"
"Kamu tahu dari mana, kalau suami kamu ke warung sana?"
"Aku sering memergokinya. dan dulu ada beberapa ibu ibu memberi tahuku. tapi ku kira itu hanya salah lihat. karna ku pikir warung itu hanya warung kopi"
kali ini aku bersikap seolah olah aku baik baik saja. karna aku gak ingin mereka ikut larut dalam masalahku.
"Kamu yang sabar ya Tar. aku cuma bisa mendoakan yang terbaik. tapi jika kamu butuh bantuan aku siap bantu kamu kapan saja"
"Iya Des, makasih banyak ya"
kami pun melanjutkan aktivitas kami masing masing.
hari ini aku lebih banyak diam. dan tidak memesan pakaian atau membalas pesan yang masuk di WhatsApp ku.
melihat sikap ku yang berubah membuat Desi mendekatiku.
setelah beberapa saat dia membujuk untuk menceritakan apa yang terjadi. akhirnya aku pun menceritakan semua permasalahan rumah tangga ku.
bahkan sikap suami dan ibu mertuaku.
aku tak ada pilihan lain. aku tak bisa menceritakan beban hidup ku pada orang tuaku. karna saat ini mereka tengah marah karna fitnahan yang di lontarkan oleh Adit dan ibunya.
namun, aku juga harus tetap menjaga mental ku agar tetap sehat. siapapun akan gila jika mendapat ibu mertua yang ucapan nya selalu saja menyalahkan kita.
dan suami yang tidak ada tanggung jawab nya sama sekali.
mendengar ceritaku. Desi sangat geram dan kesal. bahkan dia ingin sekali berjumpa dengan Adit. entah apa yang akan dia perbuat.
"Ihh! sumpah deh itu laki ya. kok gitu amat. masa dia ngasih kamu cuma 300 ribu? mana cukup coba"
__ADS_1
"Ya begitu lah Des,"
"Yang bikin aku greget. itu mamah mertua kamu kok gitu amat ya. sampai bilang kamu mandul dan gak bakal laku jika pisah dari anak nya"
"Biarin lah Des"
"Udah kaya anak nya paling cakep sedunia aja,"
aku tak terlalu menggubris ucapan Desi. sejujurnya pikiran ku masih terganggu. apa benar Ayah yang meminta agar Adit mau menikahi ku?
jika iya untuk apa? dan kenapa?
jika aku bertanya sekarang, aku yakin ayah akan tambah marah, tapi jika tidak ku tanyakan. sudah pasti pikiran ku akan terus terganggu.
"Tar, mending kamu pulang aja ke rumah orang tuamu. kalau aku gak bakal Sudi tinggal sama laki kayak gitu!"
"Gak bisa Des, orang tuaku marah karna tadi mertua dan suamiku memfitnahku demi uang"
"Hah! yang benar kamu?"
"Iya, itu yang aku tahu dan dengar"
"Kita racun aja yu? biar dia terbang ke alam baka. rasanya geram banget aku"
"Hush, gak baik bicara gitu"
Gak tahu kenapa? ucapan Desi nampak tembus langsung ke otak ku.
rasanya saran dia ada benar nya juga. aku harus mandiri,
********
Uang hasil dari penjualan terus ku kumpulkan demi mewujudkan impian ku.
tak apa memiliki rumah petakan asal punya sendiri.
seiring berjalan nya waktu. ibu sudah mulai mereda marah padaku. namun berbeda dengan Ayah. setiap aku berkunjung. Ayah memilih menghindar dan jika pun dia stay di rumah. pasti masuk ke kamar atau ucapan nya selalu mewaspadai ku.
sebegitu sayang nya ayah pada Adit. sampai sikap nya berubah padaku.
hari ini ku putuskan untuk mencari tahu kegiatan Adit di warung itu.
tentunya aku harus stay sepanjang malam.
setelah beberapa kali berpikir dan membulat kan niat ku. aku pun mengambil keputusan sedemikian rupa.
Mudah mudahan tidak ada hasil yang buruk. semoga apa yang di tuduhkan orang orang. dan apa yang selalu menggangguku tidak lah benar,
__ADS_1
tepat pukul 09,00 malam Adit belum pulang. memang pagi tadi dia bilang akan lembur. tapi aku sudah tahu bahwa apa yang dia ucapkan bohong.
karna hampir setiap hari. ibu penjual nasi samping rumah selalu memergoki Adit berada di warung itu.
sudah jelas jika Adit berbohong padaku.
jam sepuluh malam. ku putuskan untuk mulai berjalan. entah kenapa ada rasa ragu dengan apa yang aku lakukan. namun ada dorongan yang kuat juga. yang mengharuskan aku membuktikan semua prasangka pada Adit.
sekitar 35 menit berjalan. akhirnya aku pun sampai. tentunya aku tidak langsung ke warung itu. melainkan duduk di depan ruko yang sudah tutup.
tempat ini lebih cocok untuk menyelidiki Adit. karna memang posisinya yang saling berhadapan. hanya terhalang jalan.
ku lihat memang Adit berada di sana. dia dan beberapa laki laki tengah berbincang. dan memainkan kartu.
dari sini aku tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
namun tubuh Adit nampak jelas ku lihat.
sekitar pukul 12,00 malam. mataku mulai mengantuk. duduk disini sendiri sudah pasti membuat ku sedikit takut. jika ada orang jahat pastilah nyawaku jadi taruhan nya.
namun untung nya. lampu ruko ini mati. jadi Adit tidak akan menyadari kehadiran ku.
saat aku berniat untuk pulang karna lelah.
tiba tiba ada 2 wanita menghampiri mereka. dan yang satu langsung memeluk Adit dan duduk di pangkuan Adit.
kejadian itu sontak membuat mata ku yang mengantuk mendadak hilang.
dengan pakaian yang minim bahan.wanita itu di rangkul Adit tanpa ada perlawanan.
mataku makin pokus pada dua sejoli ini.
hingga nampak Adit memenangkan permainan kartu nya. tanpa rasa malu mereka berciuman di depan rekan rekan nya.
lekas ku ambil ponsel ku. ku kendalikan tangan ku yang bergetar karna apa yang ku lihat.
aku pun merekam kegiatan Adit yang tengah bercumbu dengan wanita itu di luar warung tanpa rasa malu dan sungkan.
dada ku rasanya sesak sekali. tak ku sangka suami yang di pilihkan untuk ku. dan yang membuatku yakin dia lah takdir ku. ternyata tak luluhnya seperti binatang.
yang tidak memiliki rasa malu hingga melakukan perbuatan menjijikan itu di luar ruangan.
ingin rasanya aku menghampiri nya. ingin ku Jambak ku cakar ku tendang. bahkan ingin rasanya ku potong potong mereka menjadi beberapa bagian.
namun aku tak boleh gegabah. bisa bisa aku yang mereka cincang. karna aku hanya sendiri.
ponsel pun ku matikan. karna ku rasa video menjijikan ini cukup untuk menunjukan pada Ayah siapa menantunya ini.
__ADS_1