
"Sekarang di mana dia Des, aku ingin melihatnya untuk yang terakhir"
Ucapku setelah tangis menguasai ku dan Desi beberapa menit.
Desi mengangkat kepala nya dan melihatku.
"Dia sudah di kebumikan Tar"
"Apa? Kamu mengebumikan anak ku tanpa menungguku bangun"
"Maaf Tar, aku tak ada keputusan lain, disini hanya ada aku. aku tak tahu di mana orang tuamu. bahkan nomor telpon nya tak ku temui di ponselmu!"
"Lalu, apa kamu berhak melakukan itu padaku Des"
"Aku tidak ada keputusan lain, Kasihan anak mu jika terlalu lama menunggu kamu bangun"
"Memang nya berapa lama aku tak sadar?"
"Satu Minggu"
Sungguh terkejut. aku sampai koma selama 7 hari, dan karna itu pula aku tidak bisa melihat wajah bayiku.
"Jadi, aku tidak akan bisa melihat dirinya?"
"Ini, aku Foto kan putri kecil kita. dia sangat cantik seperti kamu?"
Desi menyerahkan ponselnya yang ku tahu. rupanya dari tadi dia tengah memandang foto bayiku.
Bayi kecil yang memiliki kulit yang putih bersih, hidung yang mancung dan halis yang lebat seperti Adit,
Jika bayiku selamat, alangkah bahagianya aku. bisa memeluk dan mencium bayi ku yang cantik ini.
Namun rupanya Allah, berkehendak lain.
rasa sayang ku pada bayiku. tidak lah ada apa apa nya di banding rasa sayang beliau pada bayiku.
itu sebab nya dia menginginkan anak ku berada di surga. tempat yang abadi yang ke indahan nya tidak ada yang menandingi.
"Terima kasih Des, kamu banyak membantuku"
"Tidak apa apa, Kamu tahu yang menabrak kamu itu Suaminya Anita"
Jleb..
Belum hatiku pulih karna kehilangan buah hatiku. sekarang apa lagi ini?
"Apa maksud kamu?"
"Iya, Dia sempat kabur. Aku akhirnya melaporkan nya ke kantor polisi. dan tertangkap"
"Apa kamu yakin bahwa dia suami Anita?"
"Iya lah, aku kan pernah melihat dia di rumah Anita. dan pas aku ke kantor polisi kemarin. ya dia orang nya? aku tak tahu, mengapa dia sengaja menabrak mu? kalian tidak saling kenalkan? "
"Bisa tolong ambilkan ponselku?"
Aku meminta Desi mengambil ponsel ku. dan tanpa menunggu lama Desi sudah kembali bersama benda yang ku minta.
"Kamu mau menghubungi siapa?"
Aku tak menjawab ucapan Desi, tangan ku rasanya mulai bergetar, aku terus berusaha menguasai diri.
"Apa ini orang nya?" ku perlihatkan Desi pada foto Adit.
"Iya, ini orang nya. dia suaminya si Anita, Oh iya. pas kamu kecelakaan aku menghampiri si Anita, tapi tidak ada simpati sedikitpun. padahal kamu sudah banyak berkorban buat dia"
Seketika dada ku mulai terasa sesak.
__ADS_1
"Ini Adit, Suamiku Des"
"Hah, apa?"
Desi nampak sama hal nya dengan ku. dia terkejut sampai membuka mulut lebar.
jadi Suami Anita adalah Adit?
berapa lama mereka berhubungan?
jadi sebelum aku menikah, mereka. sudah berhubungan?
dan benar dugaan ku dulu, mengapa Adinda memiliki wajah yang mirip dengan Adit. itu karna dia anak nya?
Ya Allah, kebenaran semacam apa ini? mengapa rasanya sakit sekali.
Desi mengusap pundak Ku yang mulai terguncang.
"Kenapa kamu sampai tak sadar, bahwa Suami mu?"
"Aku tak tahu Des, ku kira hanya sikap nya berubah, apa itu artinya Adinda?"
"Iya, Adinda adalah anak suamimu"
Seketika aku teringat akan kenangan dulu. saat Adit pulang larut malam dan bau minyak telon bayi.
mengapa aku sampai tidak kepikiran ke sana?
dan saat box makan yang Anita bawa, kenapa aku sampai Tak merasa curiga.
bahkan Allah sudah memberiku banyak petunjuk, dengan memberi Adinda wajah yang mirip dengan Adit.
namun aku masih saja bodoh, tidak bisa melihat kebenaran hanya karna terlalu percaya pada suami seperti Adit.
*******
Desi tiba dengan Anita, ku lihat Anita tidak seperti biasanya. dia terlihat cuek padaku. bahkan tidak ada satu kata pun yang keluar.
"Apa kabar kamu Anita?" aku membuka percakapan.
Desi hanya melihat aku dan Anita bergantian.
"Baik"
"Kenapa kamu jarang menemui ku?"
"Aku sibuk"
"Baik, Kemana suamimu? apa dia ada berkunjung?"
"Kenapa kamu tanya begitu?"
"Tidak, hanya memastikan Adinda tidak kurang kasih sayang"
"Kamu tidak usah khawatir, Ayah adinda selalu berkunjung"
"Adit kah namanya?"
Anita terlihat terkejut kala aku menyebutkan nama lelaki yang menjadi suaminya dan suamiku.
"Dari mana kamu tahu, Oh jadi benar kamu Pelakor, tega kamu ya Tar, kamu berbuat baik padaku karna kamu ingin merebut suamiku?"
Ku lihat Desi hendak maju, aku berusaha meminta nya agar tetap tenang.
"Aku tak tahu, Siapa yang salah disini"
"Kamu jangan ngelak lagi, Ku kira kamu wanita baik baik rupanya kamu itu murahan!"
__ADS_1
"Hey, jaga ucapan kamu pada Tari, kamu lupa dia yang sudah menyelamatkan nyawa anak mu!" Desi maju dan menjawab ucapan Anita.
"Dia memang menyelamatkan anak ku, tapi apa kah pantas jika dia merebut suamiku"
"Tari tidak merebut suami kamu, Memang nya sebelum anak ini lahir kamu sudah menikah dengan pria itu? tidak bukan, kamu tidak lebih terhormat di banding teman ku"
Anita mulai tersulut emosi. hampir saja satu tamparan mendarat di pipi Desi. namun dengan cepat dia menyangkalnya.
"Jangan ciba coba sentuh aku, atau ku patahkan tangan mu yang kotor"
bukan nya takut, Desi malah semakin berani tak segan dia sampai mengancam Anita sampai wanita kurus itu kini telah diam.
"Aku minta Desi membawamu kesini bukan untuk keributan, tapi untuk meminta penjelasan"
bukan nya tenang, Anita malah melangkah hendak pergi meninggalkan ruangan ku. namun langkah nya terhenti kala ada dua polisi yang membawa Adit masuk ke dalam ruangan ku.
"Adit, kamu kenapa? kenapa sampai di bawa polisi?" ucap Anita pada Adit. dan berusaha memeluk lelaki itu.
"Maaf pak, saya meminta waktu dengan dia sebentar" aku meminta ijin pada polisi yang membawa Adit.
"Kenapa kamu tega melakukan itu padaku Dit?" aku membuka percakapan.
Anita, Desi dan dua polisi itu hanya melihat ke arah kami.
"Tar, aku mohon bebaskan aku, kamu sayang kan sama aku. aku minta cabut laporan kamu"
"Kenapa kamu tega melakukan itu padaku?"
"Sayang, aku minta maaf, tolong bebaskan aku"
"Kenapa kamu melakukan itu?"
"Aku gak ada pilihan lain, aku marah kamu pergi dari rumah dan tak lagi memberiku uang, karna bayi itu kamu jadi berani padaku. aku tak ada pilihan selain berusaha membunuh kamu dan anak itu"
"Kamu telah berhasil membunuh anak ku"
"Apa?"
"Ya, dan sebagai seorang ibu, Aku tidak akan membiarkan orang yang menghabisi anak ku hidup bebas"
"Apa, jadi kamu keguguran?" tanya Anita tiba tiba.
"Menurut mu? untuk apa aku memanggil kalian?"
Adit dan Anita hanya menunduk,
"Aku mohon bebaskan aku sayang, kita mulai hidup dari awal lagi"
"Sebelum kamu menikahi ku? apa kamu sudah menikahi Anita?"
"Tidak"
"Lalu, bagaimana hubungan kalian sampai terciptanya Adinda?"
"Aku hanya ingin bermain, tapi Anita malah hamil" penuturan Adit yang membuat Anita terkejut.
"Sungguh menjijikan, kamu menipuku dan keluargaku hanya demi uang? dan kamu tega menghabisi anak mu sendiri hanya demi kebebasan!"
"Aku..."
"Apa?"
"Jika kamu mau menghukum ku. hukum juga wanita ini, dia yang memberiku Ide untuk melukaimu"
Seketika aku terkejut. begitupun dengan Desi dan dua polisi di dalam ruangan ini.
apa yang di katakan Adit?
__ADS_1