
Tanpa menunggu lama, Etha melangkah mendekat ke arah pintu kamar tersebut. Dia merasa yakin kamar tersebut adalah kamar yang akan ditempatinya.
Etha langsung saja menyelonong masuk hingga secara mendadak dia berteriak histeris melihat sesuatu yang tidak sepantasnya harus ia lihat.
"Astaghfirullah, naudzubillah min dzalik." teriaknya dan terlonjat kaget mendapati dua insan sedang bermesraan di atas ranjang.
Etha langsung berbalik badan menghadap ke arah pintu. Lagi-lagi kedua matanya ternodai dengan aksi pasangan mesum tersebut.
Sementara itu, pasangan yang dianggap mesum itu tidak lain adalah Alfhat dan Vivian. Alfhat berdengus kesal menggulingkan tubuhnya di samping Vivian lalu memakai kembali kemejanya, padahal mereka akan melakukan penyatuan. Namun, aksinya digagalkan oleh Etha.
Begitu halnya dengan Vivian, dia langsung menutupi tubuhnya yang polos dengan selimut sambil menggerutu kesal dan memberikan sumpah serapah kepada wanita berhijab itu.
Sialan, aku tidak akan mengampunimu!. Batinnya penuh kebencian.
"Apa kalian tidak takut kena azab, melakukan perbuatan zina terus menerus. Padahal kalian bukanlah pasangan suami istri. Sungguh akhir Zaman. Sebaiknya kalian berdua menikah saja, daripada terus berbuat dosa" ucap Etha yang menyindir mereka. Kemudian Etha melangkah keluar dari kamar tersebut.
"Al, mau kemana kamu! berhenti Al" teriak Vivian sambil mengepalkan tangannya melihat Alfhat melangkah tergesa-gesa keluar dari kamar, sepertinya dia akan menyusul Etha.
"Arrgghhh, sialan! ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus segera menyingkirkan wanita tua itu." gumamnya kesal.
Sementara Alfhat bergerak cepat menyusul Etha, setelah jaraknya cukup dekat dia langsung menarik tangan Etha.
"Lepaskan tangan kotor mu! jangan sekali-kali menyentuhku, tuan Alfhat!" tegas Etha dengan nada penekanan. Sorot matanya begitu tajam menatap pria yang sudah sah menjadi suaminya itu. Dia bertindak sebagai wanita yang baru saja memergoki suaminya berselingkuh.
"Bagaimana bisa kamu berada di sini...hah!" ucap Alfhat dingin tanpa melepaskan cengkraman tangannya.
"Tak perlu kamu tahu, tuan. Yang jelas aku memberi pelajaran kepada tukang pukulmu." ucap Etha lalu menghempaskan tangan Alfhat yang memegangi tangannya dengan cara kasar. Kemudian Etha kembali melangkahkan kakinya untuk mencari kopernya.
Alfhat mengepalkan tangannya dan bergegas menyusul Etha. Sementara Etha berlari kecil menuruni anak tangga dan ingin segera meninggalkan tempat tersebut.
Alfhat tidak tinggal diam, dia pun berlari mengikuti Etha, mereka terlihat seperti sedang saling kejar-kejaran menuruni tangga yang bergaya melingkar.
"Berhenti!" teriak Alfhat.
__ADS_1
Etha tak menggubris teriakannya, dia bergerak ke dapur untuk mencari minum. Sungguh tenggerokannya terasa kering dan butuh minuman dingin.
Pelayan yang tengah menghidangkan makan malam di atas meja, terkejut mendapati wanita berhijab sedang membuka kulkas.
"Astaghfirullah, apakah tidak ada minuman lain di kulkas ini, kenapa isinya semuanya hanya miras dan minuman bersoda." ucap Etha.
"Maaf nona, kulkas ini memang khusus untuk minuman tuan." ucap salah satu pelayan wanita.
"Ooh." Etha bergerak membuka kulkas yang satunya dan dia mulai menemukan air mineral dalam kulkas tersebut.
Kemudian Etha menarik kursi lalu mendaratkan bokongnya duduk di kursi. Ketika akan meneguk air mineral, tiba-tiba Alfhat merebut air mineralnya dan langsung meneguknya hingga tak tersisa.
Etha menggerutu kesal dan kembali mengambil air mineral di dalam kulkas. Setelah itu, barulah dirinya bisa meminumnya.
"Kenapa masih mengikuti ku, tuan. Apa kamu berpikir aku akan kabur?" ucap Etha dengan ketusnya.
"Karena kamu belum menerima hukumanmu. Bersiaplah, setelah ini tubuhmu akan lebam-lebam karena sikap pembangkang mu." tegas Alfhat.
"Apa kesalahanku! sampai kamu ingin menghukumku dengan hukuman cambuk, apakah aku mencuri di kediamanmu atau merampok segala hartamu hah?" tantang Etha.
"Benarkah? aku sungguh takut dengan kata-kata mu itu, tuan. Tapi, kurasa kamu bukan Tuhan yang akan mengatur hidup dan mati ku. Asal kamu tahu tuan, aku bukan anggota keluarga Alexander, aku hanyalah anak angkat. Kamu salah besar jika ingin balas dendam kepada anak yatim piatu seperti diriku" tegas Etha tanpa kenal takut.
"Wah, baru kali ini aku mendapati seorang wanita pemberani dan memiliki semangat tinggi untuk melawanku." ucap Alfhat dingin
dengan sorot mata tajam.
Etha tersenyum sinis mendengar ucapannya.
"Aku tidak akan tinggal diam, ketika seseorang menindasku. Aku memiliki dua tangan yang bisa digunakan untuk memukulnya dan aku memiliki dua kaki yang bisa digunakan untuk menendangnya, jadi apalagi? apa aku harus berdiam diri atau menangis saat seseorang menindasku." Etha memutar bola matanya jengah melihat pria cabul itu.
Pelayan yang baru saja menghidangkan makanan di atas meja, berbondong-bondong meninggalkan ruangan tersebut karena mendapati tuan mudanya sedang berdebat dengan seorang wanita berhijab.
Alfhat menyeringai licik mendengar ucapan Etha, dia mengulurkan tangannya mengambil pisau dapur. Etha yang melihat gerak-geriknya terlihat santai lalu memakan buah apel yang tersaji di atas meja.
__ADS_1
Alfhat memainkan pisau dapur yang dipegangnya sembari mendekat ke arah Etha. Sedangkan Etha hanya asyik memakan buah apel, maklum perutnya sudah keroncongan. Tidak mungkin juga jika dia langsung menyantap hidangan di depannya, sementara sang tuan rumah sama sekali tidak mempersilahkannya untuk makan.
"Kurasa pisau ini cukup tajam untuk menyayat wajahmu. Dan kamu akan menjadi wanita perawan tua yang buruk rupa." ucap Alfhat menyeringai licik yang sudah berdiri di hadapan Etha.
"Lakukan saja, aku sama sekali tidak takut." tantang Etha yang terlihat santai. Padahal dia begitu waspada, bahkan jantungnya memacu lebih cepat jika dirinya berada dalam bahaya.
Alfhat membungkukkan badannya di hadapan Etha, senyuman jahat terpancar di bibirnya dan siap melancarkan aksinya. Sedangkan Etha terlihat waspada, bahkan salah satu tangannya sudah mencari sesuatu di dalam tasnya. Saat menemukan alat perlindungan dirinya, tanpa basa-basi Etha langsung menyemprotkan ke wajah Alfhat.
"Aaahhhh...panas..panas.." Alfhat menjerit-jerit histeris bahkan sudah berguling-guling di lantai, merasakan pedasnya cairan cabai mengenai seluruh wajahnya dan juga matanya.
Sementara Etha tersenyum puas dan kembali menghabiskan buah apelnya. Dia terpaksa melakukannya demi melindungi dirinya sendiri dari kekejaman pria yang sudah sah menjadi suaminya itu. Biarlah dirinya dianggap sebagai istri durhaka, karena sesungguhnya suaminya lah yang seorang bajingan.
"Ini belum seberapa, kamu akan mendapatkan siksaan jauh lebih kejam daripada ini. Jadi bertobatlah sebelum terlambat." ucap Etha sambil bangkit dari duduknya.
Sedang Alfhat masih saja berteriak histeris persis yang dilakukan oleh kedua anak buahnya. Pasalnya Etha juga melakukan hal yang sama kepada anak buahnya, menyemprotkan cairan cabai ke wajahnya.
Para pelayan berdatangan menghampirinya, begitu halnya Vivian. Tangan Etha langsung dicekal oleh Vivian.
"Apa kamu yang melakukannya?" tanya Vivian penuh amarah.
Etha hanya mampu mengidihkan bahunya dengan malas, lalu menghempaskan tangan Vivian. Sedangkan Vivian tidak terima dengan perlakuan Etha kepadanya.
"Dasar wanita tak tahu diri, menjijikkan, mati saja kamu!" maki Vivian.
Etha mengepalkan tangannya mendengar ucapan Vivian. Dia maju satu langkah dan langsung melayangkan tangannya menampar wajah Vivian.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi mulus Vivian. Vivian hanya mampu memegangi pipinya yang kebas akibat tamparan keras dari Etha.
Ketiga pelayan terkejut, dua diantaranya tersenyum tipis, karena baru kali ini ada seorang wanita yang memberi pelajaran kepada Vivian. Kedua pelayan itu sama sekali tidak menyukai Vivian, karena sifatnya yang arogan dan selalu berbuat semena-mena kepada para pelayan.
"Tutup mulutmu, kamulah wanita yang menjijikkan!" tunjuk Etha dengan tatapan dinginnya.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa like, love, komen, hadiah dan vote ya teman-teman 🙏🤗