Benang Merah Per-Hutangan

Benang Merah Per-Hutangan
Bab 59


__ADS_3

Etha langsung mengulurkan tangannya dengan mata berkaca-kaca. Dengan cepat Alfhat memasangkan cincin berlian di jari manis istrinya.


"Terima kasih." ucap Etha tersenyum memandangi cincin berlian melingkar di jari manisnya.


"Sama-sama. Istriku" balas Alfhat tersenyum. "Ingat baik-baik, mulai sekarang kamu harus persiapan dirimu dengan baik. Karena mulai sekarang aku akan bersungguh-sungguh belajar agama." ucap Alfhat tersenyum sambil mengelus puncak kepala Etha, membuat Etha hanya manggut-manggut dengan senyuman menghiasi bibirnya.


"Iya aku tahu. Tapi, seenggaknya aku akan melihat perjuanganmu mulai dari sekarang." ucap Etha tersenyum sambil mengulurkan tangannya mengelus rahang kokoh sang suami.


Alfhat dengan gemesnya malah mencium punggung tangan istrinya yang tersemat cincin berlian.


"Siap istriku" ucapnya antusias.


Mereka tertawa bersama yang sedang diselimuti perasaan bahagia. Dengan liciknya, kemudian Alfhat kembali modusin istrinya dengan terus memepetnya guna untuk melancarkan aksinya. Hingga akhirnya dia berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya.


*


*


*


Sementara di tempat lain..


Dilan menggebrak meja kerjanya setelah baru saja selesai membaca deretan pesan masuk di ponselnya. Pesan tersebut berasal dari nomor tak dikenal. Anehnya seluruh pesan yang dikirimkan ke nomor ponselnya berisi tentang rahasia dibalik pernikahan saudaranya. Dia pun langsung tersulut emosi.


"Alfhat! kamu benar-benar bajingan! keparat kamu!" ucap Dilan yang tersulut emosi.


Bagaimana tidak, dia mengetahui semuanya, alasan dibalik pernikahan saudaranya. Ternyata Alfhat yang sudah merencanakan segalanya, membuat perusahaan ayahnya jatuh bangkrut, melobi ayahnya agar kakak perempuannya dijadikan sebagai alat pelunas hutang, hingga akhirnya menikahi saudaranya. Sungguh pria bajingan itu benar-benar licik, pikirnya.


Dilan tidak peduli siapa orang yang sudah mengirimkan pesan kepadanya. Yang jelas dia akan memberikan perhitungan kepada Alfhat dan kalau perlu membalas balik kelicikan pria bajingan itu.


****


Sementara di tempat lain, tepatnya di sebuah mansion mewah. Tampak dua pria tertawa terbahak-bahak mendengar laporan tangan kanannya.


"Bagus, bagus... Ares. Rencanamu sungguh berhasil. Pesan yang kamu kirimkan kepada pria bodoh itu akan memunculkan api perang. Kita lihat saja, dengan mengadu domba mereka, keduanya akan saling bertarung hingga akhirnya hancur tak tersisa, ha ha ha..." ucap pria berbalut kain perban di kedua lengannya dan orang itu tidak lain adalah tuan Lucas.


"Benar tuan, rahasia yang disembunyikan oleh musuh anda akan memberikan keuntungan bagi kita. Jika seperti ini, kita bisa melobi ketua anggota The Tiger untuk bergabung bersama kita dan menghancurkan kelompok anggota The Posse." ucap Ares dari sudut pandangnya.


"Jangan terlalu gegabah. Masih ada wanita materialistis yang akan menjalankan rencana berikutnya setelah selesai melakukan operasi plastik. Kurasa dia cukup diandalkannya untuk menghancurkan kehidupan Alfhat bersama istrinya." ucap tuan Lucas dengan seringai licik diwajahnya.


"Tapi tuan muda, masih perlu berjalan beberapa bulan nona Vivian menjalani perawatan pasca operasi. Apa perlu kita menunggu waktu selama itu" protes Ares mendengar ucapan tuan mudanya.


"Tidak masalah, kurasa akan sangat mencurigakan jika wanita itu mendadak masuk di kehidupan Alfhat. Setelah beberapa bulan berlalu, seolah Alfhat sudah melakukan semua tentangnya, barulah wanita itu kembali muncul di hadapannya dan menghancurkan pernikahan mereka." ucap tuan Lucas tersenyum licik.


"Saya setuju dengan rencana tuan muda. Anda memang sudah memperhitungkannya dengan matang." ucap Ares tersenyum tipis.

__ADS_1


"Ya, instingku tidak pernah salah. Cepat, tuangkan lagi anggur di gelas ku." ucapnya menyeringai.


"Baik tuan muda." Dengan cepat Ares bergerak menuangkan anggur merah di gelas milik tuan mudanya.


Setelah itu mereka saling bersulang, seolah sedang merayakan keberhasilan atas rencananya.


*


*


*


Pagi harinya, terlihat Etha membantu sang suami bersiap-siap untuk berangkat ke pesantren untuk menimba ilmu. Mereka terlihat mengenakan pakaian couple serba hitam hingga keduanya tampak serasi.


"Perlengkapanmu sudah siap. Perlukah kita membawanya sekarang?" tanya Etha sambil merapikan kerah kemeja suaminya.


"Ya, jangan sampai guru-guru di sana langsung menyuruhku untuk menginap." jawab Alfhat.


"Baiklah, aku yang akan membawanya." ucap Etha tersenyum.


"Tidak perlu, nona debat. Biar aku saja yang membawanya" protes Alfhat.


"Ya sudah bawa saja sendiri." ucap Etha tersenyum tipis.


"Ayo, jangan mengulur-ulur waktu. Aku tidak ingin kamu datang terlambat." ucap Etha lalu menarik tangannya untuk membawanya turun ke lantai dasar. Dan Alfhat hanya mampu patuh mengikuti langkah kaki istrinya sambil menenteng tas besar yang berisi segala perlengkapannya.


Sementara di lantai dasar, terlihat Richard sudah menunggu mereka di ruang tamu. Saat melihat kedatangan bosnya, Richard bergerak cepat mengambil tas besar yang ditenteng oleh bosnya.


"Aku akan menyimpannya di bagasi mobil, tuan" ucap Richard dengan sopan.


"Hemm" balas Alfhat. Kemudian membawa istrinya ke ruang makan untuk sarapan bersama.


Mereka harus sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat ke pesantren. Selesai sarapan, mereka pun berpamitan kepada kepala pelayan yang sempat mengantarnya ke teras depan.


"Maaf tuan, nyonya. Anda mau kemana?" tanya kepala pelayan sambil menundukkan pandangannya.


"Kami akan pergi berbulan madu." jawab Alfhat cepat yang menimpali ucapan kepala pelayan. Membuat wanita paruh baya itu mengangguk tanda mengerti.


Etha langsung melirik ke arah Alfhat, karena ucapan Alfhat barusan tidaklah benar.


"Kalau begitu kami pergi." pamit Alfhat dan Etha kepada kepala pelayan.


"Iya tuan, nyonya, hati-hati di jalan. Semoga bulan madunya berjalan lancar dan secepatnya anda diberikan momongan." ucap kepala pelayan.


Sontak Alfhat dan Etha saling pandang hingga mereka senyum-senyum mendengar ucapan kepala pelayan. Kemudian mereka bergegas masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Setelah itu, mobil yang membawanya mulai melaju meninggalkan kediamannya. Sepanjang perjalanan hanya keheningan yang terjadi di dalam mobil.


Alfhat begitu setia menggenggam tangan sang istri dan tidak pernah sekalipun melepaskan genggaman tangannya. Sedangkan Etha sesekali melirik ke arahnya sambil mengelus lembut lengan kekarnya.


"Selama tinggal di pesantren, kamu harus rajin belajar dan tekun mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru-guru di sana. Jangan sekali-kali membuat keributan, lebih baik diam dan biasakan bersabar dalam menjalaninya." ucap Etha memberi nasihat kepada Alfhat.


"Baik nona debat, aku akan selalu mengingat kata-katamu ini." ucap Alfhat dengan anggukan kepala.


"Anak pintar" ucapnya sembari menepuk-nepuk pelan pipi sang suami.


Richard yang fokus mengemudi tak sengaja mendengar obrolan mereka hanya mampu tersenyum tipis. Dari kaca depan mobil, Richard mampu melihat raut wajah bosnya tampak berseri-seri dipenuhi kebahagiaan dan ke bucinan akut terhadap istri tercinta. Dia ingin selamanya mereka bahagia hingga maut memisahkan.


****


Sekitar satu jam perjalanan akhirnya mobil yang membawa mereka tiba di pondok pesantren Kiai H.Ibrahim Yusuf. Richard bergegas turun dari mobil dan bergerak cepat membukakan pintu mobil untuk bosnya.


Alfhat bergegas turun dari mobil, lalu disusul oleh Etha. Mereka bertiga langsung memandangi bangunan kokoh dua lantai dengan pekarangan yang luas dan ditanami berbagai macam sayuran hijau.


Terlihat dua anak remaja berpakaian muslim, berpeci hitam bertengger di kepala mereka masing-masing. Diyakini mereka adalah santri di pondok pesantren tersebut. Mereka tampak membawa keranjang sambil berjalan mendekat ke arah kebun sayuran.


"Mari tuan, nyonya." ucap Richard dengan sopan lalu berjalan terlebih dahulu sebagai petunjuk jalan. Etha dan Alfhat bergerak mengikuti langkahnya.


Tampak pria paruh baya berpenampilan alim. Peci hitam bertengger di kepalanya menutup sebagian rambutnya yang sudah beruban. Baju kokoh berwarna putih dan sarung bermotif kotak-kotak melekat di tubuhnya. Diyakini pria paruh baya itu adalah pemilik dari pesantren tersebut.


"Assalamualaikum." ucapnya menyambut kedatangan mereka.


"Waalaikumsalam." ucap Etha mendahului salamnya, kemudian diikuti oleh Alfhat dan Richard.


Richard bergerak cepat menyalami tangan pria itu, lalu disusul oleh Alfhat karena Etha yang memintanya untuk bersikap sopan. Kemudian mereka berjalan bersama-sama masuk ke ruangan khusus untuk para tamu yang datang berkunjung.


Mereka pun saling mengobrol bersama, sedangkan Richard menyelesaikan pendaftarannya. Dan mereka langsung diterima menjadi santri di pondok pesantren tersebut.


"Sesuai peraturan di pondok pesantren. Hanya kalian berdua diperbolehkan untuk menginap di pondok pesantren. Sementara istri di persilahkan untuk pulang." ucap Pak Kyai H.Ibrahim.


"Apa! ini tidak adil!" bantah Alfhat cepat. Dia sungguh tidak ingin berpisah dengan istrinya.


"Tolong ikuti ucapan Pak Kiai. Ini demi kebaikanmu." bujuk Etha.


"Tapi..."


"Kamu sudah berjanji kepadaku, sekarang buktikan." ucap Etha sambil menaikkan alisnya.


Mau tak mau Alfhat hanya mampu pasrah dan patuh segala aturan di pondok pesantren.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2