Benang Merah Per-Hutangan

Benang Merah Per-Hutangan
Bab 70


__ADS_3

Sosok yang ditunggu-tunggu kedatangannya, akhirnya muncul juga. Wanita bertopeng itu langsung mengepalkan tangannya melihat pasangan suami istri yang menjadi bulan-bulanannya selama ini tampak berjalan sambil bergandengan tangan melangkah menuju lobi hotel.


"Sebentar lagi kalian akan hancur. Bersiaplah dengan pembalasanku, aku tidak akan membiarkan kalian bahagia di atas penderitaanku. Teruntuk kamu wanita tua, terima kejutanmu setelah ini." ucapnya menyeringai licik sambil mengepalkan tangannya.


Wanita itu membuka topengnya hingga tampaklah wajah cantiknya dan wanita itu tidak lain adalah Vivian, mantan kekasih Alfhat. Vivian sudah menjalani operasi plastik tanpa merubah wajahnya dan juga identitasnya, dia tetap Vivian yang dikenal oleh Alfhat.


Vivian membuka dasboard mobilnya lalu mengambil sebuah amplop berwarna coklat.


"Ini akan menjadi senjata utamaku untuk menghancurkan mereka." ucapnya menyeringai hingga tergelak tawa memandangi amplop coklat tersebut.


*


*


*


"Siapa yang akan menikah?" tanya Etha yang sedang berdiri di lobi hotel sambil menatap disekelilingnya yang tampak ramai.


"Aku juga tidak tahu, sayang. " Elak Alfhat berpura-pura tidak tahu. Padahal mereka lah yang akan merayakan pesta pernikahannya.


"Lalu kenapa kamu membawaku ke sini?" tanya Etha dengan tatapan penuh curiga.


"Aku hanya ingin kita sekali-kali main ke hotel. Disini tempatnya bagus dan kamu pasti akan betah berlama-lama di hotel." ucap Alfhat sambil menyentuh tengkuknya dan kehabisan alasan jika berurusan dengan istrinya.


"Sebaiknya kita pulang saja, aku tidak begitu menyukai dengan keramaian." ucap Etha memelas.


"Kita baru saja sampai sayang, masa kamu mau langsung pulang. Ayo, aku akan membawamu ke ruangan pribadiku." ajak Alfhat dengan senyuman hangat menghiasi wajahnya. Dia menggandeng tangan istrinya lalu berjalan bersama-sama menuju lift yang akan membawanya ke lantai tertinggi hotel tersebut.


Etha yang tidak begitu memperhatikan disekelilingnya hanya mampu mengikuti langkah kaki suaminya.


Sementara itu kerabat terdekatnya sudah berkumpul di ballroom hotel sembari menunggu pesta tersebut dimulai. Terlihat Tuan David dan Nyonya Lexa tampak bahagia bergabung bersama dengan keluarganya. Mereka duduk bersama dengan suasana kekeluargaan sembari menunggu pesta dimulai.


"Apa mereka sudah tiba?" tanya Nyonya Ziva kepada saudaranya.


"Iya, mereka tengah bersiap-siap." jawab Nyonya Lexa tersenyum.


"Syukurlah." ucapnya tersenyum dan juga bahagia atas pesta pernikahan ponakannya.


"Oma, pengantinnya mana?" ucap anak kembar laki-laki yang dengan kompaknya bertanya kepada Omanya.


"Belum muncul nak, karena mereka harus didandani terlebih dahulu biar cantik dan tampan." ucap nyonya Ziva kepada cucu kembarnya.


Anak kembar laki-laki itu tampak kompak manggut-manggut yang sudah mengerti ucapan Omanya. Mereka adalah anak kembar pasangan Adelio dan Rania.

__ADS_1


"Oma, yang pengantin bunda etha kah?" tanya salah satu anak kembar itu yang bernama Zaki.


"Iya sayang." Jawab nyonya Ziva dengan gemesnya dan Nyonya Lexa tersenyum mendengar pertanyaan cucunya.


"Kalau begitu, Zaki juga mau pengantin seperti bunda etha." ucap anak laki-laki itu dengan antusiasnya.


Membuat Nyonya Ziva dan Nyonya Lexa langsung tersenyum lebar mendengar ucapan si kembar.


"Ha ha ha...sayang kamu itu masih kecil, kelak ketika kamu sudah dewasa baru boleh menjadi pengantin dan kamu harus menikah dengan gadis yang kamu cintai." timpal wanita bercadar yang diyakini adalah Rania, ibu dari si kembar.


Rania sampai tergelak tawa mendengar ucapan putranya. Sontak pria yang duduk di sebelahnya langsung menegurnya.


"Kenapa lagi ini?. Rania, jangan mengajari anak-anak yang tidak-tidak. Mereka masih kecil." ucap suara berat sosok pria tampan yang duduk di sampingnya.


"Jangan salah paham, suamiku. Aku tidak mengajari anak-anak hal yang melenceng. Dengar, anakmu pengen nikah, cepat carikan jodoh untuknya." ucap Rania terkekeh kecil.


"Jangan berbicara ngaco, kamu itu selalu saja bercanda." ucap Pria tampan yang duduk di sampingnya dan pria itu adalah Adelio, suaminya.


"Karena kamu selalu bermode serius, jadi perlu diajak bercanda." ucap Rania cepat lalu tertawa kecil. Sementara anak kembarnya kompak buka suara.


"Stop! jangan berantem terus." ucap si kembar dengan kompaknya. Lagi membuat orang tersenyum melihat tingkah lucu anak balita itu.


*


*


*


"Siapa kalian?" tanya Etha menatap satu persatu ketiga wanita itu.


"Maaf nona, anda tidak perlu tahu siapa kami. Kami datang untuk membantu anda bersiap-siap." ucap salah satu wanita itu yang menenteng tas besar.


"Membantu bersiap? memangnya apa...."


"Maaf nona, kami akan membantu anda bersiap. Kami hanya menjalankan perintah dari tuan Alfhat. Tolong bekerja sama lah, nona." ucapnya sambil menundukkan pandangannya.


Etha menjadi bingung, apalagi mereka membawa-bawa nama suaminya. Bahkan suaminya tidak mengatakan sesuatu kepadanya sebelum keluar dari kamar.


Sehingga mau tak mau Etha membiarkan wanita itu membantunya bersiap. Mereka terlebih dahulu merias wajah Etha senatural mungkin. Karena Etha memang tidak menyukai berdandan berlebihan ataupun menor.


Ketika tirai di buka dan memang sengaja di pasang dalam kamar tersebut, seketika tampak gaun pengantin yang sangat indah terpajang di patung lilin. Etha langsung menutup mulutnya melihat gaun pengantin yang sangat indah. Dia tidak bisa berkata-kata.


Dua wanita tadi bergerak cepat mengambil gaun tersebut, lalu membantu Etha memakai gaunnya. Mata Etha berkaca-kaca melihat gaun yang sudah melekat di tubuhnya, namun dia tidak ingin merusak riasan wajahnya dengan perasaannya yang sulit digambarkan saat ini.

__ADS_1


"Masya Allah, sungguh luar biasa, anda sangat cantik." puji wanita itu yang merupakan makeup artist.


"Terima kasih." ucap Etha tersenyum sambil menatap penampilannya di dalam cermin. Dia memang tampil berbeda berkat tangan terampil wanita tadi yang membantunya bersiap.


*


*


*


Sementara itu, beberapa pria misterius yang masih berkeliaran di luar gedung sudah diamankan oleh para anak buah Alfhat. Dan mereka semua langsung dibawa oleh pihak yang berwajib.


Sementara pria misterius lainnya yang berhasil menyelinap masuk ke dalam ballroom hotel dan sudah bergabung bersama tamu undangan, masih dalam incaran para anak buah Alfhat.


Para anak buah Alfhat tidak tinggal diam, mereka semua tampak siaga mengamankan tempat tersebut. Mereka tidak akan membiarkan musuh memporak-porandakan pesta pernikahan bosnya.


"Tahap siaga satu di area belakang." ucap Richard yang memakai earpiece untuk memberitahu kepada rekan lainnya.


Earpiece digunakan sebagai alat penolong yang begitu berguna untuk komunikasi rahasia. Dengan alat tersebut memudahkan mereka berkomunikasi dengan rekan-rekannya.


"Siap!." ucap seseorang dengan tegasnya kepada Richard dan Richard mampu mendengar lewat earpiece yang terpasang di telinganya.


Sementara itu, Vivian sudah berhasil masuk ke dalam hotel menggunakan identitas palsu, yakni salah satu tamu undangan yang berhasil digantikan olehnya.


Vivian dengan santainya berjalan melenggak-lenggok di sepanjang lorong kamar hotel untuk mencari keberadaan Etha. Namun langkahnya terhenti, ketika wanita yang dicarinya tampak berjalan bersama para bridesmaids.


"Aku akan memberikan kejutan untukmu, wanita tua." ucapnya menyeringai dengan sorot mata tajam.


Vivian memilih berbalik badan, dia tidak ingin gegabah. Dia masih perlu mengulur waktu sebelum meledakkan genderang perangnya.


"Kamu menjadi keberuntungan bagiku sayang." ucap Vivian sambil mengelus perutnya yang sedikit menonjol. Lalu melangkah dengan penuh semangat menuju ballroom hotel.


***


Sementara itu di belakang gedung hotel, kembali Richard berhasil menggagalkan rencana penyerangan yang akan dilakukan oleh anak buah Lucas.


Namun diluar dugaan, terdengar suara tembakan memberondong ke arahnya. Richard dan beberapa anggota The Posse balik menembaki orang-orang yang bersembunyi di balik gedung tua yang sudah terbengkalai.


"Ayo, sebagian kepung mereka dari arah barat. Sebagian lagi ikut denganku." ucap Richard dan segera berlari ke samping gedung. Dan tiba-tiba saja dari atas rooftop hotel tampak tiga pria misterius menembaki mereka dari atas rooftop hotel.


Richard bersama anak buahnya langsung berlari dan bersembunyi ke tempat aman. Sementara ketiga pria tadi mendadak jatuh dari atas gedung dan tubuh mereka tergeletak bersimbah darah tidak jauh dari tempatnya bersembunyi.


Richard mengalihkan pandangannya hingga terhentak melihat Kendrick melambaikan tangannya ke arahnya yang sedang memegang pistol. Richard langsung mengangguk cepat hingga tersenyum tipis kearah Kendrick, untungnya adik ipar bosnya bergerak cepat membantunya.

__ADS_1


Bersambung.....


Jangan lupa dukungannya teman-teman 🤧


__ADS_2