
Diluar dugaan diam-diam Richard sudah bergerak cepat menghubungi para bodyguard Alfhat yang bertugas mengawasi cctv di kediaman mewah bos nya. Dan para bodyguard Alfhat dengan cepat sudah meringkus pelakunya.
Mereka hanya perlu melakukan interogasi, apakah orang itu penyusup yang sengaja bekerja di mansion mewah bos nya, ataukah hanya semata-mata dibayar oleh orang lain untuk mencelakai bos nya.
*
*
*
Kini Richard berada di sebuah ruangan pembantaian. Tampak sosok wanita berambut pendek dengan kedua tangan dan kaki terikat di sebuah tiang dalam ruangan tersebut.
Richard melangkah mendekati wanita itu. Wanita yang bekerja sebagai pelayan di kediaman bos nya. Terlihat wajah Pelayan itu sudah babak belur karena terus memberontak saat akan diamankan oleh bodyguard Alfhat.
Melihat kedatangan Richard, membuat pelayan itu tampak ketakutan sambil memberontak untuk lepas.
"Aku tidak berniat untuk meracuni tuan Alfhat. Tolong ampuni aku tuan Richard." ucapnya memohon.
"Berbicaralah dengan jujur, karena jika kamu berkata jujur bisa saja aku mengampunimu." ucap Richard dengan tatapan dingin.
Dengan takut-takut pelayan itu mulai buka suara dan berbicara sejujurnya membongkar kebusukan Vivian.
"Sejujurnya, nona Vivian yang memberiku pekerjaan tambahan. Nona Vivian menyuruhku untuk menaburi makanan nona Etha dengan obat bius. Aku sama sekali tidak tahu jika obat itu adalah racun, hingga tadi pagi diam-diam aku mencampuri masakan nona Etha dengan obat itu, dan...tuan lah yang menjadi sasarannya." ucap pelayan itu dengan jujurnya. Namun tiba-tiba saja pelayan itu mengalami kejang-kejang hingga tak sadarkan diri. Mulut dan hidungnya mengeluarkan darah.
Richard meminta anggota The Posse untuk melepaskan tali yang mengikat pelayan itu lalu segera membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan pertama. Namun diluar dugaan, pelayan itu sudah meninggal dunia.
"Dia sudah tiada." ucap anggota The Posse yang sempat memeriksa denyut nadi pelayan itu.
"Segera bereskan pelayan itu dan kuburkan dengan layak. Satu lagi, berikan kompensasi kepada keluarga yang ditinggalkannya." ucap Richard lalu meninggalkan tempat tersebut.
Richard tidak menyangka bahwa yang menjadi dalangnya adalah Vivian, kekasih bos nya sendiri. Tapi, siapapun wanita itu, dia harus memberitahu kebusukannya kepada bosnya.
*
*
*
__ADS_1
Di rumah sakit...
Etha duduk di kursi samping ranjang pasien. Kedua matanya memandangi wajah pria yang sangat dibencinya. Dia diminta oleh Richard untuk menjaga Alfhat. Richard bahkan memohon-mohon kepada-nya agar mau menjaga Alfhat, mengingat pria itu akan keluar sebentar mengurus pekerjaan.
Sehingga mau tak mau Etha setuju menjaga Alfhat. Dia bahkan tidak berangkat kerja hari ini. Bisa dikatakan ini salah satu bentuk terima kasihnya kepada Alfhat, karena pria itu masih mengizinkannya untuk bekerja selama kurun waktu satu tahun. Setelah itu, dia harus siap berhenti bekerja dan meninggalkan pekerjaannya.
"Ini salah satu bentuk teguran Allah kepadamu. Selagi masih sehat, berbuat baiklah kepada sesama manusia. Jangan hanya berbuat semena-mena." ucapnya sambil menghela nafas.
Tak disangka Alfhat mulai siuman, kedua matanya mulai mengerjap melihat disekelilingnya yang tampak kabur, hingga dia meringis kesakitan saat tak sengaja menggerakkan tangannya yang terinfus.
"Jangan banyak gerak, kamu baru saja siuman." tegur Etha dan Alfhat masih saja mengamati disekelilingnya.
Alfhat sadar sedang berada di tempat lain, membuat dia langsung mengalihkan pandangannya ke arah wanita berhijab yang tengah duduk di samping ranjangnya dan dia tahu betul siapa wanita itu.
"Kamu? sedang apa kamu disini?. Mana Richard dan Vivian" ucap Alfhat mencari keberadaan mereka. Nada bicaranya sudah terdengar kesal.
Alfhat merasa mendapatkan kesialan semenjak menikahi Etha. Ini sudah kesekian kalinya dirinya kena sial jika berurusan dengan wanita perawan tua itu. Mulai dari tragedi cabai merah hingga membuat kedua matanya memerah dan bengkak, lalu kejadian di dalam mobil hingga membuatnya babak belur dengan luka cakaran di wajahnya akibat perlawanan wanita tua itu.
Kemudian aset berharganya mendapatkan tendangan bebas dan butuh istirahat selama seminggu dan terakhir diracuni hingga dirinya berakhir di rawat di rumah sakit.
Alfhat benar-benar kesal dan tidak terima selalu saja kalah dari wanita itu. Tugasnya untuk balas dendam, mengapa dirinya lah yang kena apes.
Alfhat menghela nafas panjang sambil melirik jarum infus yang tertancap di punggung tangannya. Dia ingin melepas jarum infusnya, namun Etha langsung menghentikannya.
"Setelah kamu sudah baikan, kamu boleh melepas infusnya dan membuangnya ke tempat sampah. Tapi, untuk sekarang infus ini sangat berguna bagi tubuhmu." jelas Etha. Sontak Alfhat menghentikan aksinya.
"Ambilkan aku air." ucap Alfhat sambil mengubah posisinya bersandar.
"Tunggu sebentar." ucap Etha dan bergerak membuka air mineral yang tersedia di atas nakas, lalu menuangkannya di gelas kaca.
Setelah itu barulah menyerahkan segelas air putih kepada Alfhat. Tampak Alfhat mengambilnya dan langsung meminumnya cepat layaknya seseorang yang kehausan habis melakukan lari maraton.
"Tuangkan lagi." perintah Alfhat dan Etha kembali menuangkan air mineral di gelas Alfhat. Dengan cepat Alfhat kembali meminumnya hingga tak tersisa.
Etha mengambil gelas kosong di tangan Alfhat lalu meletakkan kembali di atas nakas. Terdengar suara pintu kamar terbuka, membuat Etha mengalihkan pandangannya ke arah pintu.
Muncullah sosok wanita cantik dan seksi yang sedang menutup kembali pintu ruangan tersebut. Wanita itu tidak lain adalah Vivian.
__ADS_1
Raut wajah Vivian seketika berubah masam melihat Etha masih berada di ruangan menemani kekasihnya. Namun Vivian berusaha terlihat biasa-biasa saja yang sedang membawa parsel buah untuk sang kekasih.
Vivian berjalan melenggak-lenggok ke arah ranjang pasien. Tanpa basa-basi Vivian langsung merangkul pundak Alfhat dan memberikannya ciuman di pipi kanannya.
"Aku sangat senang kamu sudah sadar, sayang. Aku sungguh mengkhawatirkanmu hingga tak fokus mengikuti pemotretan." ucap Vivian tersenyum sambil mengelus pipi Alfhat yang kini sudah duduk di sisi ranjang pasien.
Etha begitu muak melihat kelakuan mereka. Dia memutuskan untuk keluar dari ruangan itu, daripada melihat mereka bermesraan.
"Mau kemana kamu?" tanya Vivian bermode galak melihat ke arah Etha yang sedang berbalik badan.
Etha langsung berbalik badan menghadap ke arahnya.
"Aku ingin pulang, sekarang giliran kamu yang menjaganya." jawab Etha dengan tegasnya.
Vivian tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mengkambinghitamkan wanita tua itu. Walaupun pelayan yang pernah dia bayar sudah tertangkap oleh anak buah Alfhat, tapi seenggaknya dia ingin merubah keadaan bahwa wanita tua itu adalah pelakunya.
"Wah wah wah, apa kamu ingin berusaha kabur setelah apa yang kamu perbuat kepada kekasihku." sindir Vivian.
Etha mengepalkan tangannya, karena wanita itu masih saja menuduhnya.
"Berapa kali aku katakan, bahwa aku tidak melakukannya. Dan jangan main tuduh jika kamu tidak memiliki bukti yang kuat." tegas Etha dengan tatapan dingin.
"Sayang, dialah pelakunya, dia yang sudah meracunimu dan berencana untuk membunuhmu. Masakan yang kamu makan adalah masakan buatannya, jadi dia tidak bisa mengelak lagi, karena bukti begitu nyata mengarah kepadanya." jelas Vivian dengan seringai licik diwajahnya.
Rahang Alfhat mengeras, salah satu tangannya dikepal kuat dan sorot matanya begitu tajam menatap ke arah Etha. Ucapan Vivian membuatnya langsung terprovokasi.
"Jika kamu terbukti melakukannya. Aku pastikan keluargamu menjadi gelandangan dan kamu akan terkurung selama-lamanya di tengah hutan, hingga tubuhmu membusuk" tegas Alfhat tak main-main dengan ancamannya.
"Terserah apa katamu, yang jelas aku tidak berencana untuk membunuhmu." tegas Etha menatap tajam ke arah mereka.
Alfhat mengepalkan tangannya dan langsung berteriak keras memanggil bodyguardnya yang berjaga-jaga di luar ruangan. Lalu meminta bodyguardnya membawa Etha ke markas besarnya untuk membuat wanita itu mengakui perbuatannya.
Vivian tersenyum penuh kemenangan melihat Etha dibawa pergi oleh bodyguard Alfhat.
Rasakan akibatnya, jangan coba-coba bermain denganku wanita tua, lihatlah akibatnya. Batinnya menyeringai.
Bersambung.....
__ADS_1
Mohon maaf baru update 🙏
Jangan lupa dukungannya teman-teman 🙏