Benang Merah Per-Hutangan

Benang Merah Per-Hutangan
Bab 54


__ADS_3

"Ha ha ha...silahkan lanjutkan kembali di dalam tenda." ucap Pria paruh baya itu tertawa, kemudian meninggalkannya.


Refleks Etha langsung berhambur memeluk tubuh Alfhat lalu menyembunyikan wajahnya di dada bidang Alfhat, karena dia merasa malu. Sementara Alfhat hanya mampu tersenyum sambil mengeratkan pelukannya.


Aku menyukaimu wanita tua. Batin Alfhat tersenyum bahagia. Perasaannya tidak salah lagi, dia benar-benar menyukai wanita pelunas hutang yang sudah sah menjadi istrinya.


Sesuai janji dari si ketua perampok, mereka membawa Etha dan Alfhat keluar dari hutan. Sebuah mobil pickup pengangkut sayuran sudah terparkir di pinggir jalan yang berhasil mereka berhentikan untuk membawa Etha dan Alfhat ke kota.


"Terima kasih tuan atas bantuannya." ucap Etha tersenyum sambil mengatupkan kedua tangannya.


"Sama-sama nona cantik, kami juga berterima kasih kepada kalian. Karena kalian mau mengembalikan lahan yang sudah di rampas paksa oleh Lucas." ucap Pria paruh baya itu bernama Dato.


Seluruh lahan pertaniannya di rampas paksa oleh Lucas dan dijadikan sebagai ladang ganja untuk memuluskan bisnis terlarang yang digeluti oleh Lucas. Maka dari itu mereka semua berakhir menjadi perampok yang sadis.


"Hemm, secepatnya anak buah ku akan mengurus lahan kalian." ucap Alfhat sambil merangkul pinggang istrinya.


"Iya tuan, sekali lagi terima kasih." ucap Pria paruh baya itu dengan bahagianya dan anak buahnya tampak bersorak gembira mengangkat senjatanya.


"Kalau begitu kami permisi, sampai jumpa." ucap Etha berpamitan. Kemudian bergegas naik ke atas mobil dibantu oleh Alfhat, setelah itu Alfhat ikut bergabung bersamanya. Hingga mobil yang membawanya mulai melaju.


"Alhamdulillah, akhirnya kita bisa keluar dari hutan." ucap Etha penuh syukur.


"Hemm." timpal Alfhat tersenyum.


Terima kasih ya Allah, semua pasti atas izinmu, engkau memberikan sebuah keajaiban kepada kami, dibalik semua ujian yang engkau berikan kepada kami, pasti tersimpan sebuah rencana yang paling indah bagi kami. Batin Etha tersenyum.


"Sampai jumpa kembali, dah...dah..." ucap mereka dengan kompaknya sambil melambaikan tangannya melihat kepergian pasangan suami istri itu.


Sementara Etha dan Alfhat hanya mampu tertawa dan ikut melambaikan tangannya ke arah mereka. Alfhat lalu menarik tubuh istrinya masuk ke dalam pelukannya.


Sontak membuat Etha terhentak lalu mendongak menatap wajahnya. Alfhat ikut menundukkan pandangannya menatap wajahnya, hingga langsung mendaratkan ciuman di keningnya. Mendadak raut wajah Etha merona memerah.


"Kenapa pipimu memerah?" tanya Alfhat sambil mencolek hidungnya yang sedang menggodanya.


"Itu karena kamu." jawab Etha cepat sembari buang muka.


"Ooh... karena aku rupanya." ucap Alfhat tersenyum dan kembali mencolek hidungnya.


"Berhenti menggodaku! aku menjadi canggung jadinya." ucap Etha kesal sambil memukul dada bidang Alfhat. Aksinya itu mengundang gelak tawa bagi Alfhat.


"Ha ha ha...kamu terlihat menggemaskan kalau sedang marah. Apa marahmu itu bisa di redam dengan sebuah ciuman?" Kembali Alfhat menggodanya.


Bughhhh

__ADS_1


Etha tidak tahan, dia langsung memukul keras lengan Alfhat. Sementara Alfhat hanya tertawa lepas, baru kali ini dirinya bisa tertawa lepas hanya melihat tingkah menggemaskan istrinya.


"Dasar mesum, memang pantas aku menjulukimu pria cabul." kesal Etha dan perlahan ingin menjauh dari Alfhat.


Tapi, dengan sigap Alfhat menarik tangannya, refleks Etha langsung mendorong tubuh Alfhat. Bersamaan pula mobil pickup yang mereka tumpangi merem mendadak, membuat Etha dan Alfhat terpental di atas sayuran kol.


Dimana posisi tubuh Etha berada di atas tubuh Alfhat. Sontak mereka langsung bertemu pandang, buru-buru Etha buang muka sambil berusaha menggeser tubuhnya untuk menjauh dari Alfhat. Namun, dengan jailnya Alfhat langsung mendekap erat pinggangnya.


"A-apa yang kamu lakukan?" Etha merasa gugup dibuatnya.


"Memeluk tubuhmu, nona debat. Biarkan saja seperti ini, sungguh aku sangat suka memelukmu." ucap Alfhat jujur.


"Kamu yang senang, tapi aku yang tersiksa kesulitan untuk bernafas." ketus Etha sambil mengatur debaran jantungnya yang tiba-tiba berdebar-debar kencang.


"Baiklah, aku melepaskanmu, nona debat. Jangan marah-marah lagi, karena kamu terlihat menggemaskan kalau sedang marah." ucap Alfhat tersenyum.


"Aneh, mana ada orang marah terlihat menggemaskan. Sungguh otakmu perlu di refresh, tuan Alfhat." ucap Etha dengan tatapan sinis.


"Terserah apa katamu, yang jelas aku suka berdebat denganmu." ucap Alfhat senyum-senyum.


"Sikapmu sangat-sangat aneh, tuan. Kamu suka memelukku, kamu suka berdebat denganku. Padahal kamu itu sangat membenciku. Apa kamu memiliki maksud terselubung di balik sikap anehmu ini? dibalik sikap aneh seseorang tersimpan sebuah rahasia besar!" ucap Etha penuh curiga, kedua matanya memicing menatap manik mata Alfhat.


"Ya aku menyimpan sebuah rahasia besar. Dan aku akan membongkarnya sekarang." ucap Alfhat serius menatap dalam manik mata istrinya, dimana jantung sedang berdebar-debar kencang di dalam sana.


Karena biasanya dia tidak merasakan hal seperti itu selama berdekatan dengan lawan jenis. Apakah istrinya memberikan pengaruh buruk kepadanya? namun akhir-akhir ini dia begitu bahagia bisa bersamanya. Apakah sikapnya memang aneh seperti yang dikatakan oleh istrinya? pikirnya bermonolog.


Perlahan Etha bangun dan memilih untuk duduk kembali, karena ia pun merasakan perasaan aneh dengan jantung berdebar-debar kencang.


Pergerakannya diikuti oleh Alfhat. Kini mereka duduk saling berhadapan. Tatapan Alfhat tidak lepas dari wajah istrinya.


"Sejujurnya aku menyukaimu, nona debat." ucap Alfhat dari lubuk hatinya.


"Apa!" Etha terkejut bukan main mendengar ucapannya. Namun dia hanya menanggapinya biasa-biasa saja. "Sepertinya kamu sedang mabuk perjalanan, tuan Alfhat. Sampai-sampai kamu berbicara aneh-aneh." ucap Etha sambil menepuk-nepuk pipi Alfhat.


"Tidak, aku sama sekali tidak mabuk. Aku sungguh menyukaimu." ucap Alfhat dengan tatapan sendunya lalu memegang tangan Etha.


Sontak Etha langsung menarik tangannya dan perlahan menggeser tubuhnya menjauhi Alfhat. Wajahnya mendadak merona memerah dengan detak jantung memompa lebih cepat layaknya akan copot dari tempatnya hanya mendengarkan ucapan Alfhat barusan.


Sadar Etha, jangan percaya dengan ucapannya. Bisa saja dia berbohong. Batinnya sambil memukul kecil kepalanya.


Melihat tingkah laku Etha yang menjauhinya, membuat Alfhat menggeram kesal lalu kembali menggeser tubuhnya untuk mendekati Etha. Mereka hanya mampu saling diam-diaman dan sesekali saling curi-curi pandang sepanjang mobil melaju.


"Apa kamu tidak nyaman dengan ucapanku tadi?" tanya Alfhat yang mulai buka suara. Karena dia tidak nyaman jika terus didiamkan seperti ini.

__ADS_1


"Tidak" jawab Etha singkat dan padat.


"Kalau begitu lupakan saja" ucap Alfhat memelas, seolah cintanya sedang di tolak. Sedangkan Etha hanya buang muka tanpa ingin melihat kearahnya.


Suasana kembali hening tanpa adanya obrolan yang mereka ciptakan. Hingga akhirnya Etha mulai teringat dengan para anak buah Alfhat.


"Tuan Alfhat!" ucap Etha memanggilnya.


"Hemm." Alfhat hanya mampu meliriknya sekilas.


"Bagaimana dengan para anak buahmu yang masih mencari kita?" tanya Etha sambil menoleh kearahnya.


"Biarkan saja! dia terlalu lambat bergerak." ucap Alfhat terdengar kesal. Raut wajahnya tiba-tiba berubah masam.


Etha memilih untuk diam, setelah melihat perubahan wajah Alfhat yang berubah masam. Sementara Alfhat yang masih kesal langsung menarik tubuh Etha masuk ke dalam pelukannya.


"Aku benar-benar menyukaimu, jangan pernah meragukan perasaanku!. Kamu wanita pertama dan paling beruntung yang sudah aku sukai, ingat itu!" tegas Alfhat yang tidak bisa tenang jika perasaannya tidak dibalas. Dia tidak akan melepaskan pelukannya, sebelum Etha membalas perasaannya.


Sementara Etha hanya mampu bungkam dan tidak tahu dengan perasaannya sendiri. Apakah dia menyukai Alfhat atau tidak? pikirnya. Dia hanya mampu membiarkan Alfhat memeluknya sepanjang perjalanan.


Sedangkan Alfhat kembali tersenyum, dia tidak peduli jika istrinya tidak menyukainya. Yang jelas dia akan bekerja keras untuk mengejarnya sampai istrinya juga menyukainya.


*


*


*


Sementara di tempat lain....


Richard bersama rombongannya mulai tersebar di dalam hutan. Mereka belum menemukan jejak bosnya. Untuk itu mereka kembali melanjutkan perjalanannya menyusuri hutan belantara. Sementara rombongan lainnya sudah menemukan mobil bosnya yang terparkir di dalam hutan.


Richard bersama rombongannya masih bergerak mencari keberadaan bosnya, mereka tidak akan pernah meninggalkan hutan sebelum menemukan bosnya. Hingga mereka bertemu dengan para perampok yang sempat membantu bosnya keluar dari hutan.


Mereka langsung saling menodongkan pistol. Namun Richard bergerak cepat untuk bertanya kepada mereka.


"Hei, apa kalian melihat sepasang suami istri tersesat di dalam hutan" tanya Richard kepada para perampok.


"Kami akan buka suara sebelum kamu memberikan kami imbalan" teriak salah satu perampok.


"Baiklah, aku menyerahkan jam tangan milikku. Ini jam tangan asli harganya lumayan mahal, kalian bisa menjualnya." ucap Richard.


Seketika itu ketua dari si perampok melakukan negosiasi dengannya, hingga berkata jujur karena mereka memanglah anak buah orang yang baru saja ditolongnya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2