Benang Merah Per-Hutangan

Benang Merah Per-Hutangan
Bab 74


__ADS_3

"Itu tidak mungkin terjadi, sayang. Aku selalu memakai pengaman. Jika wanita licik itu memang hamil, aku yakin itu bukan anakku. Mungkin saja anak dari pria lain. Secepatnya aku akan menyelesaikan masalah ini dan membongkar kebusukan Vivian." ucap Alfhat dengan penuh keyakinan.


"Ya sudah, buktikan ucapanmu. Tapi, untuk sementara waktu aku akan tinggal bersama kedua orang tuaku. Jadi jangan menghalangiku. Satu lagi, jangan menemuiku jika masalahmu dengan mantan kekasihmu belum kelar" tegas Etha.


Alfhat terpaksa mengangguk sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar. Sungguh dirinya tidak bisa jauh dengan istrinya. Tapi apa boleh buat, kedatangan Vivian di kehidupannya menimbulkan masalah baru bagi rumah tangganya.


Maaf mas, aku ingin melihat kesungguhanmu untuk mempertahankan rumah tangga kita. Karena masalah kembali datang menerpa rumah tangga kita. Kedatangan wanita dari masa lalumu seketika mulai memudarkan kepercayaanku kepadamu. Entah mengapa, aku kembali meragukanmu dan tidak ingin sepenuhnya percaya kepadamu, mas. Aku tidak tahu diantara kalian siapa yang benar dan siapa yang salah. Tapi, tetap saja aku masih berpihak kepadamu mas, karena suatu alasan yakni cinta, cinta diantara kita tidak akan pernah terpisahkan, walau cobaan datang bertubi-tubi menerpa rumah tangga kita, aku akan tetap berusaha untuk mempertahankan rumah tangga kita dan tidak akan membiarkan wanita dari masa lalumu merusak kebahagiaan kita. Namun ketakutanku saat ini adalah jika mantan kekasihmu benar-benar mengandung anakmu. Batin Etha sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar. Hal itulah yang menjadi penyebab munculnya keraguan dari dalam dirinya.


Perlahan Alfhat bangkit berdiri lalu melangkah menuju kamar mandi. Dia harus menghubungi Richard untuk menyelidiki masalah yang tengah dihadapi rumah tangganya sampai tuntas.


Sementara itu, Etha hanya mampu menatap punggungnya yang mulai menjauh dari pandangannya.


"Aku tidak ingin egois, mas. Jika memang mantan kekasihmu hamil anakmu. Dengan berat hati, aku ikhlas dan memilih mundur untuk mengakhiri pernikahan kita. Karena mantan kekasihmu bersama janinnya jauh lebih membutuhkanmu dibandingkan dengan diriku. Dan aku tidak ingin bayi dalam kandungan mantan kekasihmu terlahir tanpa seorang ayah. Jika aku berada di posisinya, kemungkinan besar aku juga akan melakukan hal yang sama seperti mantan kekasihmu." ucapnya sambil menghela nafas berat.


Etha yang sedang duduk di sofa mengalihkan pandangannya menatap ke arah cermin berbentuk oval berukuran besar. Kedua matanya menatap tajam wajahnya sendiri.


"Hanya saja, jika mantan kekasihmu hanya mengaku-ngaku mengandung anakmu demi bisa memuluskan rencananya untuk menghancurkan kehidupan rumah tangga kita, maka aku akan bertindak sebagai orang yang terdepan untuk melawannya. Karena aku masih merasa ada kejanggalan dengan masalah ini. Mendadak terjadi insiden penembakan, lalu kedatangan wanita dari masa lalumu yang mengaku hamil anakmu. Sebaiknya aku harus turun tangan untuk menyelidiki masalah ini. Wanita itu harus diwaspadai, dia pernah melakukan konspirasi bersama pria yang sudah menculikku. Jangan sampai mereka kembali bekerja sama untuk menghancurkan pernikahan kita, mas Alfhat." ucap Etha lalu memijat keningnya. Kemudian Etha memilih keluar dari kamar yang ditempatinya.


Sementara di dalam kamar mandi, Alfhat terlihat berbicara serius di ujung telepon. Setelah pembicaraan mereka berakhir, Alfhat memutuskan keluar dari kamar mandi.


Alfhat melihat disekelilingnya untuk mencari keberadaan istrinya. Namun sayangnya dia sudah tidak lagi menemukan keberadaan istrinya.


Alfhat bergegas keluar dari kamar hotel yang ditempatinya. Dia bergerak cepat mencari istrinya. Suasana diluar masih genting dan dia tidak ingin membiarkan istrinya berkeliaran seorang diri.

__ADS_1


"Sayang, jangan membuatku khawatir. Kenapa kamu harus keluar dari kamar. Seharusnya kamu beristirahat bersamaku." gumam Alfhat sambil menyusuri lorong hotel mencari keberadaan istrinya.


Sementara itu, Etha memilih kembali ke ballroom hotel untuk menemui kedua orang tuanya. Dia menggunakan lift yang sempat digunakan oleh Alfhat.


Tlingg


Pintu lift terbuka, Etha bergegas keluar dari lift. Baru beberapa langkah tiba-tiba Etha menghentikan langkahnya melihat pria dan wanita sedang berdiri saling berhadap-hadapan di dekat tangga darurat. Mereka tampak serius mengobrol bersama.


Etha merasa tidak asing dengan suara wanita itu. Dia pun semakin penasaran untuk menguping pembicaraan mereka.


"Bagaimana?" tanya pria berambut ikal menatap tajam wanita di hadapannya.


"Mereka percaya dengan kehamilanku." ucap wanita itu sambil bertolak pinggang.


"Ya, betul sekali. Aku sangat berterima kasih kepada tuan muda Lucas yang sudah memanipulasi hasil tes kehamilanku. Karena sejujurnya anak yang aku kandung adalah anak Hans, bukan anak Alfhat. Tapi, sepertinya semua orang sudah percaya bahwa aku mengandung anak Alfhat, termasuk wanita tua itu. Lihat sekarang, aku memang bisa diandalkan dengan rencana kita kali ini. Aku akan terus berusaha keras untuk mewujudkan impianku memisahkan mereka. Karena aku begitu menginginkan Alfhat kembali disisiku." ucap wanita itu dan tidak lain adalah Vivian.


Etha yang mendengar langsung pembicaraan mereka, seketika langsung menutup mulutnya. Sungguh licik wanita itu sampai-sampai memfitnah suaminya, pikirnya.


Jadi, dia hanya memfitnah suamiku dengan mengaku tengah mengandung anaknya. Aku tidak akan membiarkan kalian menghancurkan kehidupan rumah tanggaku. Batin Etha sambil mengepalkan tangannya.


Kemudian Etha bergegas pergi, takutnya keberadaannya di ketahui oleh mereka. Saat Etha berbalik badan, dia langsung membulatkan matanya melihat sosok pria berdiri di hadapannya.


"Selamat sore nyonya Sanders." ucap Pria berambut ikal memakai topi hitam. Pria itu tidak lain adalah Ares, orang kepercayaan Lucas.

__ADS_1


"Selamat sore." balas Etha gugup.


"Aku harap anda tidak mendengar apapun. Jadi, sebaiknya anda tutup mulut, sebelum peluru ini bersarang di kepalamu." ucap Ares dingin dengan sorot mata tajam.


"Kamu berniat mengancamku? sayangnya aku tidak tertarik dengan rencana busukmu." tantang Etha tanpa kenal takut.


"Etha!" Alfhat berteriak memanggil nama istrinya. Sementara Etha yang mendengar teriakannya, lekas buru-buru untuk pergi.


"Ingat baik-baik nona, anggap kamu tidak mendengar apapun!" tegas Ares.


Etha hanya menatap mereka dengan tatapan sinis, lalu melenggang pergi untuk menemuinya suaminya.


"Sayang, kamu darimana saja dan sedang apa kamu disini?." tanya orang itu. Etha segera menarik tangan pria itu lalu membawanya menjauh.


"Cepat selesaikan masalahmu hari ini juga. Karena jika tidak, aku akan menginap di rumah orang tuaku dalam waktu yang lama." ancam Etha tak main-main.


Aku ingin kamu berusaha sendiri membongkar kebusukan mantan kekasihmu. Batin Etha dengan sorot mata sendunya.


"Baik sayang, demi bisa membuatmu bahagia dan terus berada di sampingmu. Aku akan segera menyelesaikan masalah ini secepatnya. Tunggu sebentar, Richard sudah bergerak melacak informasi tentang kehamilan Vivian. Dan aku yakin seratus persen bukan aku yang menghamilinya." ucap Alfhat bersungguh-sungguh, lalu mendekati Etha.


"Hanya kamu yang pantas untuk melahirkan anak-anakku." ucap Alfhat tersenyum hangat sambil menyentuh perut rata istrinya. Sedangkan Etha mendadak raut wajahnya berubah dengan kedua mata berkaca-kaca.


Semoga saja di dalam rahimmu sudah tumbuh anak kita, sayang. Batin Alfhat tersenyum tipis.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2